
Hari itu makan malam pertama bagi Ninu dan Haris yang dilalui dengan suasana canggung untuk Haris dan menegangkan untuk Ninu. Tidak ada suara obrolan apalagi canda tawa. Keduanya sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing, Haris dengan kecanggungannya dan Ninu dengan ketakutannya. Sementara pak Otang dan Tanti hanya memperhatikan mereka dari dapur kalau-kalau majikannya itu membutuhkan sesuatu.
Setelah makan Haris segera berlalu menuju ruang kerjanya sambil memberi isyarat agar pak Otang mengikutinya.
“Suruh dia kemari” perintahnya pada pak Otang setelah mereka memasuki ruang kerja, "Dan bawakan aku buah"
“Baik tuan” pak Otang undur diri kembali ke ruang makan.
Kenapa dia tidak mengajaknya saja tadi sekalian, batin pak Otang.
“Nona, tuan menunggu anda di ruang kerja” ucap pak Otang.
Ninu sontak berdiri, haduh… dia mau apalagi dari aku, rasa gugup kembali menghinggapinya dan itu terlihat jelas oleh pak Otang dan Tanti.
“Nona anda tidak perlu takut. Tuan orang yang baik” hibur pak Otang membuat Ninu sedikit menyunggingkan senyumnya lalu mengatur nafas, “Iya pak” dia melangkah menuju ruang kerja.
Tok tok tok…
Pintu ruang kerja tidak tertutup rapat sehingga Ninu dapat mengintip melihat Haris yang duduk di sofa sambil membaca buku. Entah buku apa.
Dia sangat tampan dan gagah, sayang dia sombong dan menakutkan.
Haris melirik ke pintu membuat Ninu tercekat, dengan terpaksa dia masuk, "Abang memanggil saya?” sekarang dia lebih bisa menguasai diri.
“Duduk” suara datarnya kembali terdengar.
Dia senang sekali menyuruhku duduk.
“Aku ingin membicarakan sesuatu yang penting, jadi kamu dengarkan baik-baik” suaranya tidak sedingin tadi.
Ninu menganggukkan kepala.
“Jawab kalau aku bicara!”
“Iya, iya bang” kamu bicara sama aku tapi matamu melihat buku, menyebalkan sekali.
“Aku mungkin tidak bisa setiap hari pulang karena banyak urusan di pool yang harus aku kerjakan”
Yes!! Tanpa sadar Ninu tersenyum.
“Kenapa? Kamu senang aku tidak pulang?” rupanya Haris melihat perubahan ekspresi di wajah Ninu.
“Eh.. tidak bang, tidak begitu” elaknya terkejut sendiri.
__ADS_1
Huh.. rupanya dia senang kalau tidak bertemu denganku, batin Haris.
“Tapi kalau mama atau papa menanyakan, katakan saja kalau aku pulang setiap hari”
“Berarti kita akan berbohong terus” sahut Ninu.
“Kamu keberatan?”
“Saya hanya tidak mau terus-menerus berbohong bang. Saya takut dosa, apalagi yang dibohongi adalah orangtua” jawab Ninu tertunduk.
Itulah yang diajarkan ibunya dulu, lebih baik berkata jujur walau pahit daripada bermanis-manis tapi bohong, walaupun sekarang dia terjebak di dalam kebohongan besar bersama Haris, itu semata-mata hanya karena kebodohannya.
Haris menghela nafas, dia betul juga sih. Sebetulnya aku juga enggan berbohong pada mama dan papa, takut ketahuan.
“Jadi apa kamu punya usul, sebaiknya bagaimana?” tanya Haris sambil menatap Ninu untuk pertama kalinya sejak dia pulang sore tadi.
Ninu terdiam. Dia juga tidak tahu harus bagaimana. Awal dari semua ini adalah kesalahan mereka terutama Haris yang mencoba mengelabui orangtua hanya karena enggan terus-menerus disuruh untuk menikah.
“Kamu juga tidak punya ide, bukan?” seolah mencibir, “Sudahlah, sebenarnya aku juga tidak mau membohongi mama dan papa, tapi tidak ada cara lain. Toh kalau mereka tidak bertanya kamu juga tidak perlu berbohong kan? Dan itu juga bukan kebohongan besar” imbuhnya.
Ninu diam saja.
Hening agak lama.
Karena Haris tidak berbicara lagi Ninu berniat pergi dari situ, dia berdiri sambil berkata, “Bang saya mau kem…”
Ninu kaget, kembali mendudukkan tubuhnya yang baru setengah berdiri.
“Kamu belum menjawab pertanyaanku tadi, apa yang kamu lakukan selama aku tidak pulang?”
“Tidak ada. Hanya belajar memasak bersama Tanti”
“Kamu tidak bosan? Bukankah dulu kamu adalah gadis pekerja keras? Yang setiap harinya bekerja sampai malam?” tanya Haris sambil kembali melihat buku yang dipegangnya.
Ninu terdiam.
“Apakah saya boleh kembali bekerja bang?” tanyanya ragu-ragu.
“Tentu saja tidak. Apa kata orang nanti kalau istri tuan Haris bekerja menjadi pelayan di toko sepatu. Dan aku yakin tante Sandra juga tidak akan menerimamu lagi”
Ninu tertunduk. Jadi maumu apa tuan?
“Sudahlah, kamu keluar, aku mau kerja” ucap Haris sambil berdiri menuju meja kerjanya.
__ADS_1
Hei dia itu maunya apa sih, ngomong kok menggantung seperti itu, gak ada ujungnya, gerutu Ninu sambil beranjak keluar menuju halaman belakang.
Dia sangat senang duduk di halaman belakang. Walaupun malam tapi keindahan taman yang ada di sana tidak berkurang bahkan memberi sensasi lain ketika lampu-lampu taman menyinari aneka tanaman hias di sana. Kolam ikan yang diberi lampu juga memberi sensasi tersendiri untuk Ninu. Ini memang indah untuknya.
Ninu terduduk sendiri membayangkan apa yang terjadi hari ini. Apa seperti ini ya pernikahan yang akan dijalaninya bersama Haris, sampai kapan? Apakah sampai mama dan papa meninggal? Itu entah kapan, bisa cepat bisa lama. Kalau lama tentu aku akan menjadi tua dan tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Atau sampai tuan Haris menemukan wanita yang dia cintai? Tapi itu juga entah kapan. Sedangkan aku butuh kepastian. Aku tidak mungkin hidup seperti ini dalam waktu yang lama. Ini buang-buang waktu namanya.
Tanpa sepengetahuan Ninu ada sepasang mata yang mengawasinya, memandanginya dengan rasa kasihan.
⚘
“Hai bang” sapa Budi yang baru saja masuk ke ruang kerja.
“Ketuk pintu dulu kalau masuk, jangan slonong boy kayak gitu” sergah Haris yang dibalas dengan tawa oleh Budi.
“Kok sendirian saja bang? Gak ditemani istri tercinta rupanya” Budi duduk di sofa sambil tersenyum menatap Haris yang mendelik padanya.
“Kasian lho bang, istrimu duduk sendirian di belakang, kayak lagi sedih” ucap Budi.
“Ada apa kamu kemari?” tanya Haris tidak menghiraukan ucapan Budi.
Dia pura-pura tidak peduli rupanya, Budi tersenyum tipis.
“Ini bang, aku mau ngasih tau besok mau ada kunjungan dari DLLAJ soal trayek kita yang baru, jadi abang jangan sampai gak datang ke pool besok”
“Emang siapa yang bilang aku gak akan ke pool besok? Sok tau kamu!”
“Ya kali aja abang kecapean malam ini, namanya juga pengantin baru, baru tiga hari” kembali Budi tertawa.
Haris berdiri menghampirinya dan menendang kaki Budi, “Berisik! Pulang kamu!”
“Hei.. hei…bang, slow bang gak usah emosi gitu” tawa Budi makin keras disambut wajah masam Haris.
“Pulang sana aku mau istirahat!”
“Ya..ya.. aku pulang. Permisi bang, assalamualaikum!” Budi keluar, tawanya masih terdengar.
Haris mendengus membuang nafasnya. Menyebalkan sekali, dia selalu menggodaku,
diraihnya intercom yang ada di atas mejanya, lalu dia menekan tombol no 4, "Pak Otang suruh Tanti menemani nona” perintahnya.
“Baik tuan” suara pak Otang dari dapur menjawab.
⚘⚘⚘⚘
__ADS_1
Happy reading all, semoga terhibur.
terima kasih atas support like dan komennya. Aku masih nunggu kiriman vote dari kalian 😍😍😍😍