
"Sejak kapan timun diacar kuning? Kamu bisa masak gak? Jangan-jangan beracun lagi!”
“Itu masakan khas daerah saya bang.”
“Hmm…paling juga masakan kampung, pasti gak enak!” Haris mendengus membuat Ninu kesal
“Rasanya enak kok bang, nanti abang coba saja.”
“Sudah keluar sana, aku mau istirahat sebentar!” Haris duduk di sofa lalu menyalakan televisi
Ninu beranjak pergi dengan hati sedih. Dia selalu merasa direndahkan dengan kata-kata dan sikap Haris.
⚘
Kalau dipikir-pikir kenapa ya tuan Haris sangat tidak bisa bicara lembut atau setidaknya manusiawi padaku? Padahal apa salahku padanya? Dulu dia menolongku bukan atas permintaanku. Aku sama sekali tidak pernah mengharap atau memohon bantuannya. Dan ketika aku dengan sukarela menawarkan bantuan padanya, itu hanya semata-mata untuk membalas kebaikan yang sudah dia berikan padaku, tidak lebih. Atau apa dia pikir aku memanfaatkannya untuk mendapatkan kesenangan atau keuntungan darinya karena dia kaya? Cih, pikiran yang picik. Tidak pernah terbersit sedikitpun hal seperti itu di benakku. Walaupun aku miskin aku bisa bekerja mencari uang yang halal, tidak dengan memanfaatkan keadaan seseorang.
Di sini aku benar-benar terdzolimi. Aku menolong dia tapi seolah aku yang salah. Tidak bisa aku biarkan. Harus aku lawan. Dia harus tahu di posisi mana dia dan di posisi mana aku!, Geram Ninu dalam hatinya. Dia sudah jenuh dengan keadaan ini.
Aku sudah seperti dikurung dalam penjara, lalu dia memperlakukanku dengan semena-mena, bicara tajam dan menyinggung, tidak mau menatapku juga. Hei Haris!! aku juga bisa melawan. Jangan kamu kira karena aku perempuan lalu kamu bisa seenaknya ya! Karena kamu kaya dan aku miskin lalu kamu bisa menindasku!
Tangan Ninu bertautan dan mengepal menahan amarah yang membuncah dalam hatinya.
Kalau kamu tidak suka aku di sini, kalau kamu merasa aku tidak pantas, kamu tinggal bilang saja. Aku juga tidak betah di sini, penjara berbentuk istana, seindah-indahnya tetap saja penjara. Aku akan pergi! Kamu hadapi saja mama dan papamu itu biar tahu rasa kamu!, kini wajah Ninu memerah dan matanya melebar. Sepertinya dia benar-benar kesal.
“Nona,” suara pak Otang membuyarkan kemarahan Ninu.
“Ya, ada apa pak?” dia segera melirik
“Tuan menunggu nona di ruang makan.”
Huh…biar saja pak orang sombong itu makan sendiri! Aku tak sudi menemaninya, teriak Ninu, tapi hanya dalam hati, hanya dalam hati
Pak Otang menatapnya. Ada rasa kasihan di matanya, "Ayo nona,” ajaknya
Huh… ninu mendengus sambil berdiri, hatinya masih dipenuhi amarah.
__ADS_1
Ninu melangkah mengikuti pak Otang menuju ruang makan. Dilihatnya Haris sudah duduk di kursi meja makan sambil menatap masakan yang tersaji di atasnya.
Mata Ninu mendelik, dasar menyebalkan! Itu masakanku yang ditatapnya dengan dingin. Kalau kamu tidak suka makan mie instan saja sana!, gerutunya lagi masih dalam hati.
Haris melirik ketika Ninu masuk ruang makan lalu menarik kursi yang ada di dekatnya.
“Ambilkan aku nasi dan lauknya,” ucap Haris.
Ninu melakukan perintah Haris dengan wajah masam tanpa berkata.
Haris menatapnya datar saja, “Itu juga,” tunjukkan ke piring ceper berisi timun acar kuning.
Ninu menyendoknya sedikit.
“Agak banyak!”
Ish…katanya takut keracunan tapi minta banyak.
Haris mulai menyuapkan nasi ke mulutnya lalu mengunyahnya perlahan.
Haris tahu Ninu memperhatikannya tapi dia pura-pura tidak tahu. Dia makan dengan tenang sampai makanan di atas piringnya habis.
“Kamu tidak makan?” tanyanya.
Ninu tidak menjawab, dia menyendok nasi dan lauk ke atas piringnya lalu makan. Sedangkan Haris yang telah menghabiskan makanannya berdiri dan pergi ke ruang keluarga.
Ninu mengelus dada, huh... apa itu artinya dia suka masakanku? Syukurlah, tidak jadi perang dunia ke empat.
⚘
Setelah makan Ninu segera beranjak ke halaman belakang. Dia ingin membaca buku yang baru dibelinya online sambil menikmati nuansa taman di malam hari. Dia tidak ingin berbicara dengan Haris karena hatinya masih kesal.
Dia mulai melihat cover buku itu dan membaca judulnya KEKUATAN DOA karya salah satu pemuka agama kondang. Ninu mulai membuka setiap halaman dan membacanya dengan sungguh-sungguh isi dari buku itu.
“Demi kemulian dan kebesaran-Ku dan juga demi kemurahan dan ketinggian kedudukan-Ku di atas Arsy, Aku akan mematahkan harapan orang yang berharap kepada selain Aku dengan kekecewaan. Akan Aku pakaikan kepadanya pakaian kehinaan di mata manusia. Aku singkirkan ia dari dekat-Ku, lalu Kuputuskan hubungan-Ku dengannya.
__ADS_1
Mengapa ia berharap kepada selain Aku ketika dirinya sedang berada dalam kesulitan? Padahal, sesungguhya kesulitan itu berada di tangan-Ku dan hanya Aku yang dapat menyingkirkannya. Mengapa ia berharap kepada selain aku dengan mengetuk pintu-pintu lain, padahal pintu-pintu itu tertutup? Padahal hanya pintu-Ku yang terbuka bagi siapapun yang berdoa memohon pertolongan dari-Ku.
Siapakah yang pernah mengharapkan Aku untuk menghalau kesulitannya lalu Aku kecewakan? Siapakah yang pernah mengharapkan Aku karena dosa-dosanya yang besar, lalu Aku putuskan harapannya? Siapakah pula yang pernah mengetuk pintu-Ku lalu tidak Aku bukakan?
Tidakkah mereka mengetahui bahwa siapapun yang ditimpa oleh bencana yang Aku turunkan, tiada yang dapat menyingkirkannya kecuali Aku? akan tetapi, mengapa Aku melihat ia dengan segala angan-angan dan harapannya selalu berpaling dari-Ku?
Mengapakah ia sampai tertipu oleh selain Aku?
Aku telah memberikan kepadanya dengan segala kemurahan-Ku apa-apa yang tidak sampai harus ia minta. Ketika semua itu Aku cabut kembali darinya, lalu mengapa ia tidak lagi memintanya kepada-Ku untuk segera mengembalikannya, tetapi malah meminta pertolongan selain Aku?
Apakah Aku yang memberi sebelum diminta, lalu ketika dimintai tidak Aku berikan? Apakah Aku ini bakhil, sehingga dianggap bakhil oleh hamba-Ku? Tidakkah dunia dan akhirat ini milik-Ku? Tidakkah semua rahmat dan karunia itu berada di tangan-Ku? Tidakkah dermawan dan kemurahan itu adalah sifat-Ku?
Apa pula yang diharapkan oleh orang-orang yang berharap, andaikan Aku berkata kepada semua penduduk langit dan bumi, “Mintalah kepada-Ku!” Akupun lalu memberikan kepada masing-masing orang, pikiran apa yang terpikir pada semuanya.
Dan semua yang kuberikan itu tidak akan mengurangi kekayaan-Ku meskipun sebesar debu. Bagaimana mungkin kekayaan yang begitu sempurna akan berkurang sedangkan Aku mengawasinya?
Tulisan di dalam buku itu sangat menyentuh hati Ninu, membuatnya terharu dan tanpa terasa meneteskan air mata. Dia menutup wajah dengan kedua tangannya.
Sudah lama sekali aku beribadah hanya untuk menggugurkan kewajiban saja. Aku telah terlena dengan kehidupan duniawi, keseharianku hanya untuk mencari uang dan uang. Aku lupa bahwa selama ini aku bisa hidup dan bertahan adalah karena kekuatan yang diberikan olehNya.
Ya Allah ampuni aku karena lalai kepadamu. Mungkin jatuhnya aku pada narkoba dan terjebaknya aku di sini adalah caraMu agar aku sadar.
Selama ini ada ibu yang selalu mendoakanku, tapi setelah ibu tiada siapa yang akan memintakan kebaikan untukku dan Ima kalau bukan diriku sendiri. Ninu tersedu-sedu dalam tangisnya. Hatinya pedih mengingat kehidupannya di masa lalu.
Aku berjanji mulai saat ini aku akan lebih mendekatkan diri padaMu ya Allah…, Ninu terisak.
Sementara itu, sepasang mata sedang menatapnya di balik pintu, kasihan sekali dia sampai menangis seperti itu, mungkin aku sudah keterlaluan padanya, batin si pemilik mata.
⚘⚘⚘⚘
Sedikit renungan di episode ini ya readers
Menurut aku ini adalah surat cinta paling mesra dari sang Pencipta kepada makhluknya. Dan sumpah, aku tuh nangis tiap baca ini, hati aku merasa terenyuh.
Semoga kalian juga begitu.
__ADS_1
😍😍😍😍😍😍😍