TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
HARI PERTAMA KURSUS


__ADS_3

“Jadi sekarang kamu kursus kecantikan Nin?” tanya Agis bersemangat.


“Iya Gis, baru mulai hari ini,” jawab Ninu tidak kalah bersemangat.


“Syukurlah, suamimu itu baik sekali ya. Dia sudah memenuhi kebutuhan sekolah Ima, ngasih kamu mobil dan supir dan sekarang mengijinkanmu ikut kursus kecantikan. Itu kan mahal ya?” suara bu Syarif menimpali obrolan mereka.


“Ngomong-ngomong terima kasih lho ini buah tangannya, gak apa-apa ya ibu suguhkan lagi sama kamu? soalnya kebetulan ibu lagi gak punya makanan kecil,” bu Syarif meletakkan beberapa piring kecil berisi brownies, kue kering dan buah yang dibawa Ninu sebagai oleh-oleh.


“Tidak apa-apa bu,” jawab Ninu tersenyum.


“Ibu tidak menyangka nasibmu beruntung sekali nak” bu Syarif duduk di samping Ninu, tangannya mengelus jemari Ninu, “Suamimu itu sudah kaya, tampan, baik pula.”


“Bersungguh-sungguhlah berbakti pada suamimu ya nak. Bagi seorang istri ridho Tuhan ada pada ridho suami. Layani dia dengan baik, jangan sampai membuat dia marah atau kecewa sama kamu.”


“Ya iyalah bu, Ninu harus betul-betul berbakti sama suaminya, mau cari suami kayak gimana lagi coba,” seru Agis mengangkat kedua alisnya.


Ninu tersenyum, semua orang mengira begitu bu, seperti ibu dan Agis juga. Kalian tidak tahu seperti apa pernikahanku yang sesungguhnya.


“Kamu belum isi Nin?” tanya Agis mengalihkan pembicaraan melirik perut Ninu, “Sudah hampir tiga bulan kan ya pernikahanmu? Apa kamu pake kontrasepsi?”


“Ih…jangan! Kalau baru menikah gak perlu pake kontrasepsi,” ibu menyela.


“Gak kok bu, memang belum dikasih aja sama Allah,” Ninu terkekeh.


Bagaimana aku bisa hamil tidur saja kami beda kamar, seru Ninu dalam hati.


“Iya sih, aku juga yang sudah dua tahun ini menikah masih belum dipercaya Nin,” suara Agis seperti mengeluh.


“Belum waktunya, sabar saja!” ibu menenangkan Agis.


“Oh ya Nin cerita dong gimana kehidupanmu di rumah besar itu, seru sepertinya ya,” kembali Agis mengganti topik pembicaraan. Sepertinya dia sangat ingin tahu kehidupan Ninu setelah dipersunting oleh orang sekaya Haris.


Selanjutnya mereka terlibat obrolan yang seru. Ninu bisa tertawa lepas dan melupakan kehidupan yang membosankan untuk sementara waktu.



Kira-kira pukul lima sore Ninu sampai di rumah besar. Dia kaget ketika melihat mobil Haris sudah terparkir di garasi.


“Assalamualaikum!” salam Ninu ketika dia memasuki rumah.


“Waalaikumsalam, selamat sore nona,” jawab pak Otang menghampiri Ninu.


“Tuan sudah pulang pak?” tanya Ninu.


“Sudah Nona sejak jam 4 sore tadi.”


Tenggorokan Ninu terasa kering, ini hari pertamanya keluar rumah dan dia pulang terlambat.


“Tuan dimana pak?” tanyanya lagi sambil mengedarkan pandangan.

__ADS_1


“Tuan di ruang kerja nona.”


“Ooh…” suara Ninu seperti berbisik sambil mengerucutkan bibirnya, “Saya ke kamar dulu ya pak, gerah pengen mandi,” dijawab dengan anggukan kepala pak Otang, “Silakan nona.”


Ninu melangkah menuju kamarnya dengan berjingjit seolah takut ketahuan. Setibanya di kamar dia segera meletakkan tasnya di atas meja lalu melepas kancing bajunya, “Haah…panasnya hari ini” ucapnya.


Tangannya meraih remote AC dan mengatur suhu sesuai dengan keinginan. Duduk sebentar di atas sofa sambil mengingat-ngingat yang dialaminya hari ini, Ninu tersenyum.


Sepertinya aku mulai senang, walaupun kehidupanku di sini hanya sebatas pura-pura tapi aku bisa mendapatkan manfaat. Aku bisa belajar dan menimba ilmu yang selama ini tidak pernah aku bayangkan sama sekali bisa aku dapatkan. Mudah-mudahan ini adalah jalan dari Allah bagiku untuk menemukan kehidupan yang lebih baik kelak, batinnya.


Setelah dirasa cukup beristirahat Ninu beranjak ke kamar mandi. Karena sebentar lagi memasuki waktu maghrib diapun mengambil air wudhu dan bersiap untuk menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslimah.


Digelarnya sajadah menghadap kiblat, duduk di atasnya sambil berdzikir mengingat sang Rabb. Hatinya penuh rasa syukur. Entah mengapa, hari ini sangat membahagiakannya.



Tok … tok … tok


“Nona...” suara Tanti terdengar dari balik pintu.


“Masuk saja Tan,” Ninu menyahut dari dalam kamar.


Pintu terbuka, “Nona, apakah anda baik-baik saja?” tanyanya, matanya menatap Ninu yang masih duduk di atas sajadah berbalut mukena.


“Ya, tentu saja. Kenapa?”


“Tidak apa-apa. sepulang tadi nona tidak keluar dari kamar. Saya khawatir anda sakit.”


“Tuan menanyakan anda nona, mungkin tuan khawatir juga dengan keadaan anda.”


Ah masa sih?, Ninu tertawa dalam hati.


“Ya nanti kalau sudah sholat aku pasti keluar”


“Baiklah nona, nanti saya sampaikan pada tuan,” Tanti kembali menutup pintu.


Ninu menatap pintu yang baru saja ditutup Tanti.


Mama dan Tanti mengatakan kalau dia selalu mengkhawatirkan keadaanku. Bahkan ibu dan Agis mengatakan kalau Haris sangat menyayangiku dengan memberi semua fasilitas ini. Tapi aku tidak pernah mendengar dia mengatakan sesuatu yang menunjukkan bahwa dia khawatir padaku. Sepertinya mereka salah sangka, batin Ninu.


Tapi tidak apa-apa, toh aku dan dia memang bukan suami istri yang sesungguhnya. Dia hanya menganggapku orang bayaran untuk mengikuti perintahnya. Jadi aku tidak perlu sakit hati, bahkan berharap lebih darinya. Ninu menghela nafas kasar. Dia membuka Qur’an yang sedari tadi ada di depannya, dan mulai melafadzkannya dengan khusyu.



Ninu keluar dari kamarnya langsung menuju ruang makan. Dilihatnya Haris sudah duduk di sana sambil memainkan gawainya. Haris segera mengangkat wajahnya menatap Ninu yang menghampirinya.


Ninu menyalami dengan mencium tangan Haris, “Assalamualaikum bang,” sapanya.


“Waalaikumsalam,” Haris menatap wajah Ninu lekat, “Kursusnya emang seharian sampai sore?” membuat Ninu tercekat. Ada rasa takut di sudut hatinya.

__ADS_1


“Tidak bang. Kursusnya sampai jam 2. Tadi saya ke rumah Agis.”


“Terus kamu kecapean hingga istirahat sampai malam kayak gini? Sampai aku harus nunggu kamu untuk makan malam?”


“Maaf bang…” Ninu tertunduk, “Saya menunggu waktu Isya.”


Hening.


Anda kan bisa makan duluan tuan, batinnya.


Tangan Haris terangkat mengisyaratkan agar Ninu duduk. Ninu dengan patuh segera menjatuhkan pantatnya di kursi yang ditunjuk Haris. Ninu mulai menyendokkan nasi ke atas piring Haris. Dia melayaninya dengan hati-hati.


“Apa yang kamu pelajari hari ini?” tanya Haris.


“Tadi baru belajar teori dasarnya saja, seperti mengenal jenis-jenis rambut dan kulit,“ jawab Ninu.


“Kamu bisa mengikuti?”


“Inshaallah bisa bang.”


“Kamu senang?”


“Ya bang, senang sekali. Ilmu baru buat saya,” Ninu tersenyum melupakan ketakutannya tadi.


“Baguslah kalau begitu,” jawab Haris, “Bagaimana kabar saudaramu itu?” tanya Haris lagi.


“Alhamdulillah mereka baik-baik saja. Oh ya, mereka kirim salam buat abang.”


“Waalaikumsalam, syukurlah kalau mereka sehat. Kamu boleh mengunjungi mereka kalau kamu suka. Tapi harus ijin dulu sama aku.”


Ninu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum


Coba bang dari dulu kamu baik begini, aku kan sukaaa…, seru Ninu dalam hati.


“Kalau saya ingin menjenguk adik saya di kampung apa boleh juga bang?” tanya Ninu agak ragu. Karena kalau dia pulang kampung tentunya dia harus menginap di sana.


Haris menatap Ninu seperti sedang berpikir, “Emang kapan kamu mau pulang?”


“Belum tahu sih bang, saya hanya bertanya saja.”


“Boleh, asal tidak mengganggu waktu belajar kamu,” jawab Haris.


‘Iya, terima kasih bang,” senyum Ninu mengembang, wajahnya terlihat senang. Sudah lama Ninu ingin mengunjungi keluarganya di kampung tapi dia tidak berani bilang sama Haris, takut tidak diijinkan.


Tidak terlalu sulit membuatnya bahagia, bisik Haris dalam hati, cukup membuatnya sibuk dan bertemu dengan saudaranya dia sudah senang sekali .


Alhamdulillah ya Allah, Engkau telah melembutkan hati tuan Haris untukku, batin Ninu.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Happy reading semuanya


Silakan like, dan komen 😍😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2