
“Nona,” suara Tanti mengagetkan Ninu, ia segera memutar kepalanya menatap Tanti.
“Tuan menunggu anda di ruang kerja.”
Ninu menarik nafas dalam, siap-siap deh dimarahi, bisik hatinya.
Ninu berdiri, membaca bismillah dan merapalkan doa sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.
Dengan langkah ragu perlahan Ninu menuju ruang kerja. Sepanjang langkahnya dia memikirkan banyak kemungkinan dan solusi.
Apa yang harus aku lakukan kalau dia marah dan mengusirku? Apa aku pergi saja ya. tapi bagaimana dengan kursusku sedangkan aku sangat menyukainya, bagaimana dengan kehidupanku.
Apa yang harus aku lakukan jika aku harus pergi dari sini, aku akan kemana? Tidak ada rumah, tidak ada pekerjaan, ya Tuhan….
Apa aku minta maaf saja padanya ya dan berjanji tidak akan melakukan kesalahan lagi? Aku akan berjanji mengabdi padanya dan menuruti semua keinginan dan perintahnya. Tapi.. kalau begitu dia akan menjadi semena-mena padaku nantinya, ya Allah… tolonglah aku, aku harus bagaimana…
Tangan Ninu terus mengelus dadanya menenangkan hati yang galau. Dia berhenti tepat di depan pintu ruang kerja yang tertutup. Penuh ragu diketuknya pintu itu pelan.
Tok tok tok….
“Masuk,” suara Haris dari dalam berhasil membuat goyah lutut Ninu, menarik nafas... menarik nafas... lagi dan lagi.
Diputarnya handel pintu dan didorong ke dalam hingga pintu terbuka, kakinya melangkah pelan. Setelah ada di dalam ruangan, dengan wajah tertunduk Ninu kembali menutup pintu. Dengan sudut matanya dia dapat melihat Haris sedang duduk bersender di atas sofa sambil menatapnya.
“Duduk.”
Ninu berjalan perlahan menuju ujung sofa lalu mendudukkan diri di sana. Wajahnya masih tertunduk.
Hening.
Haris masih terus menatap Ninu yang tertunduk, kalau diperhatikan dia memang cantik ya, bisik hatinya. Matanya memperhatikan rambut bergelombang Ninu yang sebagian jatuh di depan pundaknya. Kulitnya halus tanpa make up, hidungnya mancung walaupun tidak semancung orang-orang bule, bibirnya walaupun tidak berlipstik tetapi merona.
Sementara yang diperhatikan masih berkutat dengan kegalauannya.
“Katakan padaku apa yang kamu lakukan seharian ini di rumah?” suara datar itu menggetarkan jantung Ninu hingga berdegup kencang. Tangannya masih saling bertaut. Tidak ada suara yang mampu keluar dari bibirnya. Padahal kalau dia dengarkan baik-baik tidak ada amarah di suara Haris.
“Hei! Aku bertanya padamu,” seru Haris, pandangannya tidak mau lepas dari Ninu
“Mmm…bang saya... saya minta maaf,” suaranya bergetar.
“Aku tidak menyuruhmu minta maaf, aku tanya kamu seharian ini ngapain?”
“Sa..saya…” kenapa tiba-tiba jadi susah untuk bicara sih dan ini jantung kenapa terus berdetak kencang
“Saya… praktek memotong rambut,” akhirnya suara itu mampu lolos dari bibirnya.
“Itu ilmu yang kamu dapat dari kursus?”
Ninu mengangguk dalam tunduk, matanya kembali memanas, tapi dia berusaha sekuat tenaga untuk tidak menangis.
“Apa kamu pikir pak Otang pantas dengan model rambut seperti itu?”
Hening.
“Tanti dan dua pelayan lainnya juga pantas dengan warna dan model rambut seperti itu?” cecar Haris.
Ninu tertunduk makin dalam, sepertinya air sudah mulai merembes di ujung matanya.
__ADS_1
“Jawab!” suara bentakan Haris berhasil meloloskan air mata ke pipinya yang halus. Dia terisak pelan.
Haris terkejut melihat Ninu menangis, dia menceloskan wajahnya, huh… desahnya pelan, “Segitu aja nangis,” desisnya.
Sebetulnya dia tidak berniat membuat Ninu menangis. Dia hanya ingin mengerjainya saja. Toh dia juga tidak keberatan kalau para pelayan dijadikan model oleh Ninu.
“Kamu tuh ya, kalau mau potong rambut seseorang apa gak bisa lihat wajahnya, lihat umurnya, lihat pekerjaannya. Apa pantas pak Otang yang kerja sebagai juru masak dan berusia lima puluhan dikasih model rambut kayak gitu? Mana rambutnya diwarnai hijau lagi,” kembali Haris menatap Ninu yang masih terisak, bibirnya menyunggingkan senyum tipis membayangkan kembali penampilan pak Otang yang aneh.
“Coba kamu lihat Tanti, bi Siti dan Tinem, apa mereka pantas dengan model rambut kayak gitu? Okelah mereka tidak separah pak Otang, tapi tetap saja tidak cocok!”
Haris mendekatkan wajahnya pada Ninu “Besok kamu keluar dari kursus!” bisiknya tajam membuat Ninu terperanjat, bukan saja karena wajah Haris yang dekat tapi karena ucapan Haris.
Dia tidak ingin berhenti kursus.
Diangkat wajahnya sedikit menatap Haris. Pandangan mereka bertemu sejenak. Ninu buru-buru menunduk lagi.
“Maafkan saya bang,” suara Ninu hampir tak terdengar, “Mohon maafkan saya.”
Haris kembali ke posisi duduknya semula.
“Tapi saya tidak ingin berhenti kursus,” tangannya mengusap pipinya yang basah.
“Tempat kursus itu mahal tapi jelek!” suara Haris penuh penekanan, “Buktinya, kamu tidak bisa memilih model rambut yang sesuai untuk seseorang!”
“Bukan begitu bang...” disela isaknya Ninu mencoba menjawab, “Baru model rambut itu yang saya bisa,” tangannya kembali mengusap hidung dan pipinya yang basah, “Itupun belum sempurna.”
Jawaban itu membuat Haris mengerutkan kedua alisnya, oh… jadi dia baru bisa motong rambut model itu saja? Tapi masuk akal sih, dia kan baru satu bulan kursus.
“Hiks…hiks…hiks…” akhirnya Ninu tidak dapat menahan tangis yang dia kekang sedari tadi. Dia menangis di depan Haris.
“Kalau kamu memang masih ingin kursus, belajarlah lebih baik. Jangan asal-asalan. Aku sudah bayar mahal, jadi hasilnya harus bagus.”
Ninu mengangkat wajahnya yang basah menatap Haris, sedikit tidak percaya dengan yang didengarnya barusan.
“Jadi…saya masih bisa kursus bang?” tanyanya sambil segukan.
Haris menganggukkan kepalanya pelan, menatap wajah Ninu yang sembab. Ada rasa kasihan di sudut hatinya.
“Dan saya masih bisa tinggal di sini bang?” tanyanya lagi
“Tentu saja! Siapa yang menyuruhmu pergi?” Haris mengerutkan keningnya menunjukkan wajah heran.
Diusir dari rumah besar kan hanya skenario yang ada di pikiran Ninu.
Spontan Ninu menghambur memeluk Haris saking senangnya, “Terima kasih bang!” serunya tanpa sadar. Senyum mengembang di wajahnya yang basah oleh air mata.
Haris tersentak ketika tangan Ninu meraih dan memeluknya. Sempat memundurkan badannya karena terkejut, akhirnya Haris menerima pelukan pertama Ninu tanpa reaksi.
Ninu yang tersadar segera melepas pelukannya dan menggeser kembali duduknya ke ujung sofa, “Maaf bang, saya khilaf,” ucapnya pelan, dia mengambil tissue di dekatnya yang tadi Haris berikan, digunakannya untuk mengeringkan wajahnya yang masih basah, kemudian kembali tertunduk.
Ninu tidak tahu apa yang sedang Haris rasakan saat ini, jantungnya berdegup kencang, pori-pori kulitnya seolah melebar dan meremangkan bulu-bulu yang ada di atasnya. Tiba-tiba saja ada desir aneh di hatinya. Wajahnya memanas dan sepertinya berubah menjadi merah.
Andai saja Ninu tidak menundukkan kepalanya dia pasti bisa melihat perubahan pada wajah Haris. Tapi mau bagaimana lagi, toh sekarang Ninu juga sedang bergelut dengan perasaannya sendiri yang untuk pertama kalinya memeluk seorang pria, pria tampan pula. Pelukan yang hanya sekian detik itu mampu mengacaukan perasaan dan hati keduanya.
Aduh! Aku kok malah memeluk dia ya. menyebalkan sekali! Masalah baru lagi deh, gerutu Ninu dalam hati.
Cukup lama mereka sibuk dengan perasaan masing-masing sampai akhirnya ucapan Haris membuyarkan keheningan, “Sudahlah aku mau istirahat.”
__ADS_1
Kembali Ninu mengusap wajah yang selain sembab tapi kini juga memerah. dia mengangkat wajahnya namun matanya tak berani menatap Haris.
“Terima kasih bang,” dia bangkit dari duduknya, “Saya ijin ke kamar,” menganggukkan kepalanya sedikit dan berlalu meninggalkan ruang kerja.
⚘
Flashback on
Sepulangnya Budi, Haris beranjak hendak ke kamarnya, tetapi di depan tangga sudah berdiri pak Otang dan Tanti menunggunya.
“Maaf tuan,” mereka berkata bersamaan.
Haris berhenti menatap pak Otang yang masih tampak lucu dimatanya.
“Ada apa?” tanyanya.
“Maaf, saya hanya ingin memberitahukan perihal tadi tuan,” pak Otang menundukkan kepalanya.
“Kenapa?”
“Tuan jangan marah pada nona, karena bukan nona yang meminta para pelayan untuk berkumpul di dapur tetapi saya.”
Haris diam, menatap lekat.
“Untuk apa menyuruh mereka berkumpul seperti itu?”
“Maaf tuan, tadi saya melihat tuan dan tuan Budi tertawa terpingkal melihat penampilan baru saya ini. Saya pikir tuan akan lebih terkejut lagi kalau melihat bukan hanya saya yang berubah tetapi yang lainnya juga,” ucap Pak Otang, “Saya tidak menyangka kalau tuan akan marah. Maaf tuan, saya tidak ada maksud apapun.”
“Dan kami sama sekali tidak keberatan tuan dengan apa yang dilakukan nona,” sambung Tanti.
“Kalian pendukungnya rupanya ya?” sebelah sudut bibir Haris terangkat.
“Bukan begitu tuan, kami hanya tidak ingin tuan salah sangka terhadap nona,” jawab pak Otang masih menunduk.
“Dimana dia?” tanya Haris.
“Nona… nona sedang menangis di belakang tuan,” jawab Tanti.
Haris menarik nafas, “Panggilkan dia, suruh menemuiku di ruang kerja.”
Haris membalikkan tubuhnya dan melangkah menuju ruang kerja.
Flashback off
⚘⚘⚘⚘
Apakah cinta itu?
Apakah ia berwujud?
Tunjukkan padaku!
Tunjukkan agar aku dapat merasakan kehadirannya
Dan memeluknya!
Happy reading semuanya 😍😍😍😍
__ADS_1