
Ninu segera menutup pintu kamarnya setelah dia masuk, berlari menuju tempat tidur, melemparkan tubuhnya di sana dan menangis sejadi-jadinya.
Hatinya sakit. Sakit sekali.
Dia merasa betapa malang nasibnya. Nasib sebagai orang miskin yang harus rela ada di bawah kendali dan kekuasaan orang lain. Dia tidak punya kuasa apapun bahkan hanya untuk membela dirinya sendiri pun dia tak mampu.
Untuk melakukan sesuatu harus atas ijin, tidak punya kebebasan untuk melakukan sesuatu sendiri. Dia harus mengemis, memohon, dan meminta maaf untuk sesuatu yang bukan kesalahannya.
Malangnya nasibku ibu, rintihnya.
Apa salahnya coba aku memotong rambut pelayan dengan model dan warna seperti itu? aku hanya mencoba mempraktekkan apa yang telah kupelajari. Memangnya akan berdampak apa pada para pelayan kalau aku memotong rambut mereka dengan model seperti itu? toh mereka hanya tinggal di rumah, hanya sekali-kali saja Tanti atau pak Otang pergi berbelanja, Kan bisa pakai topi atau kerudung. Lagian juga warna rambut itu tidak permanen. Paling dua minggu ke depan juga sudah luntur.
Setelah puas menangis, Ninu bangun dan berjalan ke kamar mandi, mengambil wudhu lalu mengganti pakaian bersiap untuk tidur.
Berbaring kembali di atas tempat tidur, mata sembabnya menatap langit-langit kamar. Sekarang hatinya lebih tenang dan lega.
Kembali terbayang apa yang terjadi tadi di ruang kerja. Terngiang lagi semua ucapan Haris.
Apa yang diucapkan tuan Haris ada betulnya juga sih, model rambut seperti itu tidak cocok untuk pak Otang. Dia jadi tampak aneh, tanpa sadar Ninu tersenyum membayangkan wajah pak Otang yang baru disadarinya jadi lucu dengan model rambut barunya.
Bahkan Ninu tertawa kecil membayangkan tiga pelayan wanita yang tadi berbaris dekat pintu dapur dengan model dan warna rambut yang sama
Aku memang bodoh, tidak berpikir panjang, gumamnya.
Apa yang tuan Haris katakan memang benar, aku harus berpikir dulu sebelum melakukan sesuatu.
Ninu membalikkan tubuhnya.
Tanpa sadar dia terlelap.
Ninu bermimpi sedang berjalan di sebuah taman yang luas dan indah ditemani oleh seorang pria. Walaupun dia tidak bisa melihat wajah pria itu tapi dia yakin pria itu gagah dan tampan. Dia merasakan suasana hati mereka yang sangat bahagia dan penuh cinta. Tangan pria itu melingkar di bahunya, mereka berjalan sambil berbincang-bincang penuh kehangatan. Pria itu bicara terus, entah tentang apa, Ninu tersenyum mendengarkannya. Kepala Ninu bersandar di pundaknya. Aroma tubuhnya tercium. Aroma maskulin.
HAH!!! Ninu terbangun, astagfirullah haladzim…ucapnya.
Diliriknya jam dinding. Pukul 2 pagi. Dia menelentangkan badannya mengingat-ngingat mimpinya barusan.
Aroma maskulin itu, aroma tubuh Haris!
Mungkin karena tadi saat dia memeluk Haris dia mencium aroma tubuhnya dan melekat di ingatannya hingga terbawa mimpi.
Huh…. Ninu mendesah membuang nafas dari mulut, dia bangkit dari tidurnya, berjalan menuju kamar mandi. Dia hendak menunaikan sholat malam.
⚘
Haris’s pov
Setelah membersihkan badannya dan berganti pakaian, Haris membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lelah sekali hari ini. Matanya lurus menatap ke langit-langit kamar, bibirnya menyunggingkan senyuman.
Hari ini sungguh luar biasa. Mulai dari tertawa terbahak sampai sakit kulit perut dan batuk-batuk, marah, dan akhirnya melihat perempuan itu menangis tersedu-sedu.
__ADS_1
Gadis bodoh! Benar-benar bodoh! Bagaimana dia bisa berpikir aku akan mengusirnya dari sini? Bisa mati aku dimarahi mama kalau sampai itu terjadi.
Kembali Haris tersenyum mengingat bagaimana dia dan Budi tertawa lepas menyaksikan penampilan pak Otang yang nampak aneh. Dan sekarang dia juga tertawa membayangkan tiga pelayan wanitanya berbaris di dapur menghadap ke arahnya dengan model rambut yang sama dan berwarna coklat. Betul kata Budi seperti anggota paskibra tapi dengan wajah emak-emak.
Haris menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terkekeh sendiri, benar-benar gadis bodoh!
Tapi dari itu semua yang paling Haris ingat adalah wajah Ninu yang tertunduk di hadapannya sambil berurai air mata. Dia sungguh cantik, Haris meraba dadanya, sepertinya jantungnya berdegup lebih cepat.
Apa aku menyukainya ya?
Lalu rasa yang tadi mengaliri tubuhnya kembali muncul. Ketika Ninu tanpa sadar memeluknya karena bahagia. Wangi tubuhnya, wangi rambutnya, dan halus tangannya yang menyentuh leher Haris. Semua itu sungguh berbekas diingatannya.
Ah…tidak mungkin aku mencintainya. Aku hanya mencintai Tyara, gumamnya.
Hingga akhirnya dia tertidur.
Haris bermimpi sedang duduk berdua di taman bersama seorang wanita. Mereka duduk berdekatan dan saling berpelukan. Wanita itu, walaupun tidak terlihat wajahnya tetapi Haris tahu kalau dia sangat cantik. Tubuh dan rambutnya harum. Haris menikmatinya, dihirupnya aroma harum itu, terus dan terus hingga dia tersadar bahwa itu adalah harum tubuh Ninu.
Dia tersentak bangun, membuka matanya. Dirabanya kasar wajahnya sambil istigfar.
Aku mimpi rupanya, dia membalikkan tubuhnya mencoba untuk tidur lagi. Tapi tidak bisa. Diliriknya jam di atas meja.
Jam 2 pagi.
Haris bangkit dari tidurnya, berjalan menuju kamar mandi, mengambil wudhu dan segera sholat malam.
⚘
“Pak Otang, Tanti, aku minta maaf ya,” ucap Ninu ketika dia baru masuk dapur.
Pak Otang dan Tanti beralih menatapnya.
“Minta maaf untuk apa nona?” tanya pak Otang.
“Nona, nona tidak salah,” jawab Tanti. Sepertinya dia lebih paham maksud Ninu.
“Maaf aku telah membuat penampilan kalian jadi aneh.”
“Oh… tidak apa-apa nona. Ini pengalaman pertama saya punya potongan rambut seperti ini. Dulu saya sering nonton film action kadang saya membayangkan model rambut seperti si Murdock. Dan sekarang saya benar-benar memiliki model rambut seperti dia. Keren!” ucap pak Otang tertawa.
“Murdock itu badannya tinggi besar pak. Kulitnya hitam. Lah bapak, badan kurus gitu, ya gak cocoklah” sahut Tanti mencibir.
“Lho, bukan masalah badannya Tan, yang penting saya merasakan sensasi memiliki model rambut seperti dia,” sergah pak Otang, “Dan yang lebih penting lagi, rambut saya ini berhasil menghibur tuan,” lalu dia tertawa lebar.
Ninu meringis mendengar obrolan mereka. aku sudah gila membuat mereka jadi seperti ini.
“Nah, kalau kamu nanti tujuh belas Agustus sama Siti dan Tinem jadi tim pengibar bendera ya!”
“Boleh! Asal bapak yang jadi pelatihnya,” Tanti memonyongkan bibirnya lalu tertawa.
__ADS_1
“Gampang! Itu juga salah satu impian saya waktu muda, jadi pelatih paskibra. Nanti saya ajarkan caranya, nih gini jalannya, tu.. wa … tu… wa!” Pak Otang memperagakan langkah tegap maju dengan lucu karena ketika kaki kirinya melangkah tangan kirinya mengayun ke depan.
Ninu dan Tanti tertawa melihat gerakan pak Otang yang seperti robot.
“Ehemm….”
Jep! Semua suara tiba-tiba hilang. Tidak ada tawa dan pergerakan. Mereka bertiga saling lirik, dan tanpa komando segera kembali pada tempat dan tugasnya masing-masing.
Krekkkk… terdengar suara kursi ditarik, Ninu segera membalikkan badannya.
“Assalamualaikum bang,” sapanya menghampiri, “Mau minum kopi atau teh manis?” dia mencoba bersikap wajar.
“Kopi.”
Ninu segera membuatkan kopi dengan takaran yang biasa untuk Haris.
“Ini kopinya bang,” dia meletakkan gelas berisi kopi di depan Haris
“Kenapa tidak dilanjutkan ngobrolnya?”
“Hmm…sudah selesai bang.”
“Oh ya? padahal tadinya aku ingin ikut ngobrol. Sepertinya seru.”
Ini sindiran atau yang sebenarnya? Kenapa dia susah sekali ditebak sih?
Ninu menarik kursi di depan Haris lalu mendudukinya.
“Hari ini kamu berangkat kursus?” tanya Haris.
“Iya bang.”
“Kalau kamu mau praktek lagi lakukanlah sesuka hati, tapi ingat kata-kataku tadi malam, segala sesuatu harus dipikirkan dulu.”
“Iya bang, terima kasih,” Ninu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
⚘⚘⚘⚘
Ayolah cinta....
Jangan kau siksa aku seperti ini
Tunjukkan dirimu
Aku lelah mencari
Ingin segera merebah di pundakmu
😍😍😍😍😍😍
__ADS_1
Happy reading semuanya 🙏🙏🙏🙏