TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
KABAR DUKA


__ADS_3

“Mon, aku bisa minta tolong” suara Ninu pelan


Tadi setelah ditangani dokter dan diberi obat penenang, Ninu tertidur untuk beberapa jam.


“Apa Nin?” tanya Mona.


“Bisa kamu hubungi Agis? Kasih tau aku sakit dan dirawat di sini”


“Boleh. HP mu dimana?” tanya Mona.


“Tadi sih ada di tas”



Agis berjalan terburu-buru memasuki rumah sakit. Setelah mendapat telepon dari Mona dia bersama suaminya segera berangkat ke rumah sakit.


“Ninu…” suara Agis terdengar begitu memasuki kamar tempat Ninu dirawat, tangannya segera menggenggam tangan Ninu.


“Ya Allah Nin, sampai segininya ya jahatnya temanmu itu” ucap Agis geram.


Ninu hanya tersenyum getir.


“Kata dokter, karena Ninu baru menggunakan jadi inshaallah Ninu bisa lebih mudah diobati, apalagi sebetulnya Ninu juga tidak ingin mengkonsumsi obat itu” terang Mona.


Agis dan suaminya mengangguk mengerti.


“Aku akan mendatangi si Ira yang kurang ajar itu. Dia harus diberi pelajaran!” suara Arman suami Agis penuh emosi, “Yang begitu bisa dilaporkan ke polisi tuh, dia kan pengedar” lanjutnya.


Ninu hanya diam. Memang benar, bagaimana kalau Ira bukan hanya menjebak dirinya tetapi banyak Ninu Ninu yang lain yang jadi korban. Dan bagaimana kalau bukan hanya satu Ira yang melakukan itu tetapi banyak Ira Ira yang lain. Tidak terbayang berapa banyak korban yang berjatuhan menjadi pecandu narkoba.


“Mon, kamu sebaiknya pulang saja, kamu pasti cape seharian menjaga Ninu” suara Agis terdengar memecah keheningan.


“Iya teh, aku pulang dulu ya, nanti kalau ada apa-apa kabari ya” jawab Mona. Dia memang lelah, apalagi besok dia juga harus bekerja.



Jam menunjukkan pukul 4 sore. Agis duduk di kursi di samping tempat tidur Ninu, sedangkan Ninu tampak gelisah dalam tidurnya. Kata dokter itu akan terjadi mengingat Ninu belum sepenuhnya lepas dari kecanduannya.


Tiba-tiba telepon Ninu berdering.


Agis meliriknya.


Muncul di layar HP panggilan dari bi Tati. Agis tidak mau membangunkan Ninu yang sedang tertidur. Dia menjawab panggilan itu.


“Halo, assalamualaikum, Ninuuu…..” suara Bi Tati terdengar seperti orang yang sedang menangis.


“Ya halo, waalaikumsalam” Agis ragu.


“Ini Ninu?"


“Maaf bukan, saya Agis temannya”


“Oh, Agis anaknya pak Syarif bukan? Ninu nya mana?”


“Iya betul bi. Ninu sedang tidur. Ada apa ya?”


“Bisa tolong dibangunkan sebentar?”

__ADS_1


Agis ragu. Matanya menatap Ninu.


“Maaf, bukannya tidak mau tapi.. sebenarnya Ninu sedang sakit” ragu-ragu Agis mengucapkan itu.


“Ya Allah Ninu….” Suara di seberang sana berubah menjadi isakan.


“Ada apa Bi?” tanya Agis penasaran.


“Agis.., ibu Ninu baru saja meninggal dunia” isakan itu menjadi tangisan.


“Innalillahi wainnailaihi rojiun…” tubuh Agis lemas. Matanya menatap Ninu yang gelisah.


Kasian sekali kamu Nin, bisik hatinya. Tak terasa air mata menggenang.


“Gis, apa mungkin Ninu bisa pulang?” suara Bi Tati terdengar lagi.


“Entahlah Bi, Agis mesti tanya dokter dulu”


“Ninu sakit apa Gis? Kasihan sekali dia”


Agis terdiam. Apakah dia harus mengatakan bahwa Ninu kecanduan narkoba. Tapi itu tentu bukan hal yang baik untuk dikabarkan.


“Ninu dirawat di rumah sakit Bi, dia jatuh” akhirnya Agis berbohong, “Makanya Agis gak yakin dokter akan mengijinkan Ninu keluar dari rumah sakit”


“Ya Allah… bagaimana ini?” suara Bi Tati penuh kebingungan, “Kasian Ninu, kasian Ima”


Sejenak hening.


“Baiklah kalau begitu, kamu sebaiknya tidak perlu mengabarkan ini pada Ninu kalau keadaannya tidak baik. Di sini biar bibi dan paman yang akan mengurus” akhirnya Bi Tati mengambil keputusan


“Tapi kalau kesehatan Ninu sudah membaik, suruh dia pulang ya” lanjut Bibi.


Agis termenung sambil menatap Ninu, hatinya perih


Tak dinyana kehidupan yang Ninu alami. Hidupnya penuh perjuangan dan pengorbanan, tapi Ninu tidak pernah mengeluh, bekerja dari pagi sampai malam dia tetap bersemangat. Baru saja beberapa tahun ini dia bisa tersenyum lega, kini penderitaan datang kembali menyapanya. Dijebak dan dimanfaatkan oleh teman mengkonsumsi narkoba, dan sekarang harus kehilangan ibu yang menjadi penyemangatnya dalam bekerja. Entah apa yang akan terjadi bila Ninu mendengar berita ini.


Krekk…


Pintu ruang rawat terbuka. Arman muncul yang disambut Agis dengan berdiri menghampiri.


“Bagaimana?” tanya Agis.


....


Flashback


POV Arman


Dengan penuh emosi Arman berjalan cepat menuju kos-kosan Ninu. Niatnya dalah mendatangi Ira untuk meminta pertanggungjawabannya.


Setibanya di kosan Ninu, Arman langsung menuju rumah pemilik kosan.


Tok..tok..tok..


“Ya, siapa ya?” seorang perempuan muncul dari balik pintu.


“Permisi bu, saya mau tanya kalau kamarnya Ira yang mana ya?” tanya Arman tanpa basa-basi.

__ADS_1


“Kamu siapanya dia?” tanya perempuan itu dengan tatapan menyelidik.


“Saya temannya Ninu. Ada perlu sama Ira”


Mata perempuan itu masih menyelidik


“Dia sudah tidak ngekos lagi di sini” jawabnya.


“Oh ya? Ibu tidak sedang menutup-nutupi kan?” terdengar suara Arman keras.


“Tentu saja tidak!” suara perempuan itu ketus, “Dia sudah pindah”


“Pindah kemana?”


“Ke penjara!”


“Maksudnya?”


“Tadi pagi dia dijemput polisi. Dia ternyata pengedar narkoba yang sudah lama diincar” terang perempuan itu geram, "Bikin kotor nama kos-kosan saya aja!”


Arman terdiam.


Flashback off



Agis terdiam mendengar cerita Arman.



Ninu mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat dimana dia sedang berdiri sekarang. Padang rumput yang luas tanpa batas. Sejauh mata memandang hanya hijau yang dilihatnya. Matanya beralih ke atas, seperti tidak ada langit. Hanya warna putih kosong. Dia seperti sedang berdiri di sebuah ruang putih maha luas dengan beralaskan rumput hijau.


Angin semilir menyentuh wajahnya, rambut ikalnya yang digerai sepundak bergerak-gerak tertiup angin. Hatinya merasa hampa dan kesepian.


Di kejauhan dia melihat ibu dan Ima sedang duduk di atas tikar. Mereka seperti sedang berpiknik, berbincang diselingi canda tawa sambil menikmati makanan yang tersaji di atas tikar. Ninu ingin memanggil mereka, tapi udara tidak menghantar suaranya. Berteriak sekeras-kerasnya hanya sampai di tenggorokannya. Ini seperti ruang hampa udara.


Akhirnya Ninu memutuskan untuk menghampiri, mencoba berjalan cepat agar segera sampai di sana


Baru beberapa langkah kakinya berjalan tiba-tiba terdengar gemuruh. Angin besar datang menerpa. Bahkan angin itu terlihat seperti meliuk-liuk. Rambut Ninu berantakan tertiup angin, Sebagian menutupi wajahnya. Roknya hampir saja tersingkap bahkan tubuhnya ikut bergeser. Ninu membungkukkan tubuhnya mencoba bertahan.


Sudut matanya melihat ibu dan Ima dimana angin besar itu juga mengenai mereka. Terlihat Ima dan ibu terkejut lalu sontak berdiri. Ima segera berlari ke arah Ninu, dan ketika Ima melihat Ninu dia segera berteriak “Teh Ninuuu…. tolong kami!!”


Sungguh aneh, hanya dalam sekejap Ima sudah berdiri di samping Ninu, mereka berdua melihat ke arah ibu yang bukannya berlari malah berusaha membereskan barang-barang yang ada di atas tikar.


Angin semakin kencang bahkan berputar-putar tapi hanya di tempat ibu saja. Ibu seperti daun kering yang tertiup angin senja. Melayang bersama dengan tikar dan semua barang-barang yang ada di atasnya. Tapi ibu diam saja tidak berteriak meminta tolong. Ibu seperti pasrah.


Ibu seperti jauh tapi wajahnya seperti dekat. Matanya memandang Ninu dan Ima. Bibirnya seperti tersenyum. Ninu dan Ima tak henti berteriak memanggil-manggil ibu, tapi suara mereka tak keluar. Hanya di tenggorokan.


Akhirnya ibu lenyap.


Ninu dan Ima saling berpelukan sambil menangis.


Dari tempat ibu terbang terbawa angin muncul seorang pria. Wajahnya tidak jelas. Dia menatap Ninu dan Ima dengan matanya yang lembut tetapi tegas. Dia seperti menghampiri mereka.


Ninu tidak peduli. Yang ada di pikirannya saat ini hanya ibu. Dan bibirnya tak henti menggumam tanpa suara memanggil ibu.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Happy reading ......


__ADS_2