TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
KECANDUAN


__ADS_3

Akhirnya Ninu sadar penyakitnya hanya akan membaik setelah minum vitamin yang diberikan Ira. Karena seminggu setelah dia minum vitamin yang kedua, penyakitnya kumat lagi bahkan sekarang diikuti demam, dan tidak bisa diobati dengan obat-obat yang dia beli di apotek.


“Ra, Ira…” Panggil Ninu dari depan kamar Ira.


Ini pertama kalinya Ninu berkunjung ke kamar Ira semenjak mereka berkenalan. Walau sudah beberapa bulan berteman biasanya Ira yang rajin datang ke kamar Ninu.


“Eh ada Ninu, tumben datang ke sini, ada apa Nin?” Ira membukakan pintu, “Ayo masuk” ajaknya.


Dengan ragu-ragu Ninu masuk ke dalam kamar Ira.


“Ayo duduk Nin, jangan jadi patung kayak gitu” Ira tersenyum.


Ninu menganggukkan kepala dan segera duduk di atas karpet yang digelar Ira.


“Tumben nih kamu mau berkunjung ke kamar aku” kata Ira lagi.


“Ehm.. iya, aku mau nanya sesuatu” jawab Ninu ragu


“Apa boleh aku minta vitamin lagi” lanjut Ninu.


“Bagus ya vitaminnya? Aku bilang juga apa vitamin itu manjur banget!” seru Ira gembira.


“Nih aku kasih satu lagi buat kamu” Ira memberikan pil itu, “Ini yang ke tiga ya” senyumnya


“Iya. Maaf ya Ra aku merepotkan kamu lagi. Aku udah coba beli vitamin yang lain di apotek tapi kayaknya gak mempan, gak seperti yang kamu ini” terang Ninu.


“Iya tenang aja, kalau kamu butuh tinggal bilang ke aku, aku punya banyak kok” ucap Ira.


Ucapan Ira membuat Ninu senang. Dia senang karena Ira punya banyak vitamin itu dan dia akan memberi kalau Ninu butuh. Padahal kenyataannya tidak begitu.



Beberapa hari kemudian, Ninu benar-benar menginginkannya, pikirannya tidak fokus, badannya lesu dan sedikit demam. Yang ada dipikirannya hanya ingin segera minum obat itu. Maka setelah pulang bekerja, dia segera mengetuk pintu kamar Ira.


Tok tok tok…


“Ira…” bisiknya di dekat pintu. Karena ini hampir tengah malam, dia khawatir akan membangunkan tetangga-tetangganya.


Tok tok tok…

__ADS_1


“Ira…” panggilnya lagi.


Tak lama kemudian pintu terbuka, dan muncullah seorang laki-laki bertelanjang dada, sepertinya tidurnya terganggu karena ketukan Ninu dipintu.


“Ira sudah tidur. Besok saja lagi” suaranya ketus, “Malam-malam ngetuk-ngetuk pintu, kan bisa besok. Kayak gak ada pagi aja!” segera dia menutupkan kembali pintu.


Ninu berdiri mematung. Siapa laki-laki itu, bukankah Ira bilang kalau dia belum menikah. Tapi kenapa Ira tidur dengan laki-laki itu. Terus, bagaimana dengan keinginannya untuk segera mendapatkan obat itu. Tapi Ninu tidak berani untuk mengetuk kembali, akhirnya dia melangkah menuju kamarnya dengan lesu.


Semalaman Ninu tidak bisa tidur, badannya meriang, kepalanya pusing. Perutnya mual. Sungguh keadaan yang tidak nyaman dan baru pertama kalinya Ninu rasakan. Matanya tak henti melirik jam dinding, ingin segera pagi supaya dia bisa segera menemui Ira. Sakit ini sungguh menyiksa.



Ternyata Ira tidak bisa memberi gratis lagi. Ninu harus beli, dan harganya itu…selangit, membuat Ninu berpikir ulang untuk membelinya. Masalahnya, uang gajinya memang dia kumpulkan untuk dikirim ke kampung dan sebagian untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari. Tidak ada uang lebih yang bisa digunakan untuk berfoya-foya.


Dengan langkah gontai Ninu kembali ke kamar setelah mendapat jawaban Ira barusan. Dia duduk sambil memeluk kedua lututnya. Badannya sangat tidak nyaman, perut mualnya terus melilit-lilit dan kepalanya semakin berat.


Ninu berusaha untuk menahan sakitnya. Dia ambil obat herbal untuk mengobati masuk angin, dia minum air putih banyak, minum vitamin C, dan apa saja yang ada di kamarnya yang menurutnya bisa untuk mengobati sakitnya ini. Tapi yang ada dia malah tambah mual dan akhirnya muntah.


Sampai siang hari Ninu terus menahan rasa sakit yang dideritanya. Tidur meringkuk sambil memegang perut dan sesekali mengurut kepalanya sendiri. HP nya berbunyi beberapa kali. Itu telepon dari temannya di toko, mungkin mau menanyakan kenapa Ninu belum juga datang ke toko padahal hari sudah siang. Diabaikannya.


Karena semalaman dia tidak tidur, akhirnya Ninu dapat terlelap walau hanya sebentar. Pusing dan mual yang dirasanya kembali mengajaknya untuk muntah.


Pada akhirnya Ninu menyerah. Dia tidak tahan. Dia segera menelpon Ira dan mengatakan dia akan membeli obat itu.


“Ini obat yang kamu butuhkan” ucapnya mengulurkan tangannya.


Dengan tergesa Ninu menyambar obat itu dan segera meminumnya.


“Aduh… kamu berantakan sekali Ninu” tangan Ira mengusap kepala Ninu merapikan rambutnya yang acak-acakan. “Wajah kamu juga pucat sekali”


Ninu diam. Dia sedang merasakan obat itu bekerja. Sekira sepuluh menit kemudian, terlihat Ninu mulai segar, wajahnya tidak pucat lagi. Pusing dan mualnya pun sudah hilang. Dia bangkit dan duduk di atas kasurnya.


“Ira..” ucapnya, “Katakan padaku, obat apa ini? Kenapa aku jadi sangat menginginkan obat ini dan kenapa sampai begini dahsyatnya sakit yang aku rasakan kalau tidak minum obat ini?” tanya Ninu.


“Sudah aku bilang, itu vitamin untuk menambah stamina, biar bersemangat dan bahagia” jawab Ira tersenyum.


“Tapi aku gak pernah merasakan sakit yang sesakit ini. Ini berlebihan” ucap Ninu.


“Aku juga pernah minum vitamin yang aku beli dari apotek, tapi kalau aku berhenti meminumnya gak pernah sampai sakit seperti ini”

__ADS_1


“Beda dong… yang di apotek itu obat murah. Kalau ini obat bagus, makanya harganya juga mahal. Iya kan?” suara Ira bangga.


Ninu diam. Dia tetap tidak mengerti dengan obat ini. Ini apa sebenarnya.


“Apa nanti aku akan merasakan sakit lagi kalau efek obatnya sudah hilang?” tanya Ninu.


“Kita lihat saja” Ira terkekeh.


“Kamu menjebak aku ya Ra” suara Ninu lirik.


“Mana mungkin aku menjebak kamu. Aku hanya ingin memberi kamu kesenangan” suara Ira tegas. Sepertinya dia agak tersinggung.


Hari itu Ninu berangkat ke café. Walaupun tadi pagi dia tidak bisa pergi ke toko karena sakit, tapi sekarang badannya sudah segar kembali dan dia merasa sangat bersemangat. Malam ini Ninu berencana akan menginap di rumah Agis. Dia merasa enggan pulang ke kosannya apalagi harus bertemu Ira. Hatinya curiga dengan Ira, dia merasa sedang ditipu, tapi dia tidak tahu kelicikan apa yang tengah Ira rencanakan untuknya.


Agis sudah menikah dua tahun lalu tetapi belum dikaruniai anak. Kebetulan sudah dua hari ini suaminya mendapat tugas ke luar kota sehingga Ninu merasa leluasa untuk menginap.


“Gimana kabar ibu dan adik kamu Nin?” tanya bu Syarif.


“Alhamdulillah bu mereka baik-baik saja” senyum Ninu.


“Syukurlah. Kapan kamu terakhir pulang?” tanya bu Syarif lagi.


“Wah…kapan ya bu, sudah cukup lama” mata Ninu menerawang, “Tapi Ninu sering teleponan kok bu, hampir tiap hari kalau lagi gak sibuk”


“Syukurlah kalau begitu. Sesibuk apapun kamu bekerja jangan lupa menghubungi ibumu. Dia pasti sangat cemas kalau kamu tidak memberi kabar”


“Iya bu.”


“Apa kamu belum ada rencana untuk menikah Nin?” tanya ibu lagi.


Ninu terdiam.


“Belum ada yang mau bu” jawabnya lirih. Sebetulnya bukan tidak ada yang mau, tapi Ninu menutup diri untuk hal-hal yang seperti itu. Dia sedang fokus bekerja untuk mengerja impiannya.


“Ini mau ngobrol terus ya?! Kan sudah malam, apa kamu gak ngantuk Nin?” seru Agis dari dalam kamar.


“Eh… iya bu, maaf Ninu permisi mau tidur” ucap Ninu pada bu Syarif.


“Kita keasyikan ngobrol ya sampai lupa waktu” bu Syarif terkekeh, “Ya sudah, tidurlah, besok kita lanjutkan lagi ngobrolnya”

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘


Terima kasih buat yang udah datang dan like 😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍


__ADS_2