
“Mama senang sekali akhirnya kamu menemukan seorang gadis yang baik dan manis seperti Ninu” suara Diandra kembali membuka obrolan di pagi itu saat mereka sedang sarapan bersama.
“Papa juga senang ma, dia sopan sekali” Hendrawan menimpali, “Kami tidak peduli Ninu berasal dari desa dan dari keluarga sederhana, yang penting buat kami dia baik, sopan, dan mencintaimu dengan tulus” Hendrawan memandang lekat pada Haris.
Sementara Haris hanya diam saja.
“Jaga sikapmu dengan Ninu ya, jangan sampai dia pergi meninggalkanmu karena sikapmu yang acuh tak acuh itu” nasehat Diandra membuat hati Haris mencelos.
Itu memang kekuranganku ma, batinnya.
“Iya betul, belajarnya bersikap hangat dan peduli pada pasanganmu Ris, contoh seperti papa” suara Hendrawan penuh bangga yang disambut dengan senyum Diandra.
“Tapi papa terlalu peduli sampai mama susah kemana-mana” Diandra memonyongkan bibirnya sedangkan Hendrawan terkekeh mendengar jawaban istrinya itu.
“Itu karena papa sangat sayang sama mama. Papa gak mau sesuatu yang buruk terjadi pada mama” jawab Hendrawan sambil mengusap pipi istrinya, sedangkan Haris hanya menyipitkan matanya menyaksikan kemesraan kedua orangtuanya.
“Kapan mama dan papa akan kembali ke Dumai?” tanyanya.
“Hei.. kami sedang membahas kekasihmu, malah tanya kapan pulang. Kamu sudah bosan melihat kami di sini?!” sepertinya Diandra agak kesal.
“Bukan begitu ma, Haris kan cuma bertanya” jawab Haris.
“Dengar Haris, semalam mama dan papa sudah bicara. Kami melihat Ninu gadis yang baik. Kamu juga sangat serasi ketika bergandengan dengannya, dia hanya perlu dipoles sedikit saja agar lebih kinclong” ucap Diandra.
“Kami sangat setuju kalau kamu menikah dengannya” suara Hendrawan membuat Haris tersedak.
“Makan pelan-pelanlah” Diandra menyodorkan gelas berisi air pada Haris.
“Kami baru beberapa kali saja bertemu pa” suara Haris terdengar setelah meneguk air yang diberikan oleh Diandra, “Haris belum cukup baik mengenalnya” lanjutnya.
“Haris, mata dan perasaan orangtua itu gak akan salah. Dia gadis yang baik. Kami tidak mungkin salah menilai” jawab Diandra.
“Setelah pulang nanti mama dan papa akan membicarakan ini dengan saudara-saudaramu. Mama ingin secepatnya kamu menikah dengan Ninu. kita akan mengatur waktu untuk melamarnya” tegas Diandra.
Tentu saja membuat Haris terkejut “Ma, gak bisa gitu dong! Yang mau nikah kan Haris jadi Haris yang menentukan kapan akan menikah dan dengan siapa, kok jadi mama dan papa yang ngatur-ngatur” suaranya penuh penekanan.
Tentu saja Haris tidak mau kalau harus menikah dengan Ninu, bukankah ini hanya pura-pura saja. Lagi pula siapa Ninu, dia tidak tahu sama sekali selain yang dia tahu dari Sandra.
“Mau sampai kapan kami memberi waktu sama kamu untuk menentukan pilihan? Nyatanya sampai sekarang gak dapat-dapat”
“Bukankah sudah mama bilang kemarin, mama yang akan mencarikan calon istri untukmu. Nah, sekarang sudah ada, tunggu apa lagi? Segerakan saja. Apa masalahnya?”
“Ma…” suara Haris mulai memelas, “Hidup berumah tangga itu bukan sehari dua hari, Haris gak mungkin menikah dengan orang yang baru Haris kenal. Setidaknya beri waktu barang setahun atau dua tahun untuk kami saling mengenal”
Ini di luar rencana sebelumnya. Tadinya Haris pikir setelah mengenalkan kekasih gadungannya semua masalah akan selesai. Orangtuanya akan kembali ke Dumai kemudian dia dan Ninu dapat menjalani kehidupannya seperti biasa kembali.
“Setahun dua tahun?! Ya ampun Ris…ingat umur. Kamu tuh udah tiga puluh tahun. Bagaimana kalau Ninu tidak sabar menunggu lalu dia meninggalkanmu karena ada laki-laki yang lebih serius. Apa kamu akan menghabiskan lagi umurmu untuk mencari yang baru lalu menghabiskan lagi waktu satu atau dua tahun untuk saling mengenal? Begitu saja seterusnya sampai kamu kakek-kakek!” sepertinya Diandra sudah benar-benar kesal, dia berkata demikian sambil berlalu dari ruang makan.
“Sudahlah Ris turuti apa kata mamamu. Instingnya kuat dan jarang salah. Kamu hanya perlu patuh dan mengikuti apa yang kami katakan. Percayalah kami akan memilihkan yang terbaik untukmu dan semuanya akan baik-baik saja” suara Hendrawan terdengar lebih bijaksana membuat Haris menghela nafas kemudian menyandarkan punggungnya lesu.
__ADS_1
⚘
Sepulang dari kampung, Ninu kembali ke kosannya. Walaupun Agis dan bu Syarif menahannya, Ninu merasa tidak enak terus-menerus menyusahkan mereka. Dia harus kembali pada kehidupan yang sebenarnya. Dia bertekad untuk mewujudkan cita-cita awalnya yaitu menjadikan Ima sukses dan menjadi kebanggaan ibu agar ibu dan bapak tenang di sana, itu harapan Ninu.
Hari ini Ninu akan kembali masuk kerja. Ini seperti hari ketika dia untuk pertama kalinya bekerja di toko bu Sandra. Itulah yang dirasakan Ninu saat ini. Setelah hampir tiga minggu dia libur akhirnya dia kembali memakai seragam merah maroonnya. Memandangi dirinya sejenak di cermin Ninu menghela nafas dalam. Seperti mimpi saja rasanya. Seperti sedang menjalani hidup yang baru.
Banyak sekali kejadian di dalam hidupnya yang tidak pernah ia duga. Ini tentu kehendak yang maha Kuasa. Kembali Ninu menghela nafas, hampir saja dia menangis, tapi segera dihibur hatinya sendiri.
Semua pasti ada hikmahnya, mungkin Tuhan ingin aku bisa lebih dewasa lagi dan siap dalam menjalani hidup. Ini adalah ujian bagiku untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Bukankah untuk naik tingkat itu selalu diuji dulu, batinnya.
Setelah sarapan, Ninu mengambil tas selempangnya dan menarik kunci dari daun pintu ketika tiba-tiba HP nya berbunyi.
Dilihatnya panggilan dari nomor tak dikenal.
“Halo, assalamualaikum”
“Halo sayang… waalaikumsalam”
Deg!
Jantung Ninu seolah berhenti berdetak. Itu suara Diandra.
“Sayang…gimana kabarnya?” suara Diandra kembali terdengar lembut sekaligus bersemangat.
“Ibu… eh mama…” Ninu menjawab tergugu, “Alhamdulillah kabar baik. Mama dan papa gimana kabarnya?” suara Ninu terbata.
“Alhamdulillah mama dan papa juga baik. Kemana saja sayang mama tunggu-tunggu kok gak ada telepon”
“Oh ya?! Wah…maaf ya mama gak tahu, kamu pasti masih cape. Bagaimana kabar keluargamu di sana?”
“Alhamdulillah mereka baik ma”
“Syukurlah kalau begitu. Sekarang kamu sedang apa nak?”
“Ini lagi siap-siap mau berangkat kerja ma”
“Ya ampun Ninu…kenapa gak istirahat saja dulu barang sehari? Kan kamu pasti masih cape nak” suara Diandra terdengar khawatir, “Nanti kalau kamu sakit gimana”
“Inshaallah gak ma, gak cape kok” jawab Ninu.
“Sudah istirahat saja, nanti mama telepon Sandra biar kasih kamu cuti sehari lagi”
“Eh.. jangan ma, gak usah” Ninu segera menukas, “Ninu bosan ma kelamaan gak kerja”
“Bener kamu gak apa-apa?”
“Iya ma betul” Ninu meyakinkan Diandra.
“Oke deh kalau gitu. Eh…sayang, kamu sudah ketemu Haris lagi belum?”
__ADS_1
“hmm..belum ma” Ninu memelankan suaranya.
“Dia tidak ada menemuimu nak? Telepon? Apa dia tidak ada menelponmu?” sepertinya Diandra penasaran.
Aduh aku jawab apa ya, tuan Haris tidak pernah memberitahuku harus menjawab apa kalau ada pertanyaan seperti ini.
“Ninu…” panggil Diandra, “Halo Ninu…”
“I.. iya ma..”
“Dikira mama teleponnya putus. Apa Haris ada menelponmu?”
“Belum ma” jawab Ninu ragu. Dia takut salah menjawab.
“Ya ampuuun… itu anak, gak berubah ya sifatnya” sepertinya Diandra sedang jengkel.
“Maafkan dia ya nak. Dia memang begitu. Itulah sebabnya kenapa dia masih jomblo sampai sekarang. Dia tuh kurang peduli orangnya”
“Ah gak apa-apa ma. Mungkin tuan Haris sedang sibuk”
“Apa?...Kamu manggil apa tadi sama Haris?”
“Mmm…tuan Haris ma”
“Ya ampuun… Ninuu… masa sama kekasih sendiri manggil tuan”
Duh aku salah, baru ngeh.
“Eh…maaf ma, maksud Ninu bang Haris. Mungkin bang Haris lagi sibuk” Ninu segera meralat.
“Nah gitu, awas jangan manggil tuan sama dia ya, panggil abang Haris” suara Diandra penuh penekanan.
“Iya ma, maaf Ninu lupa”
“Ya sudah tidak apa-apa, tidak usah minta maaf. Tapi kedepannya jangan salah ngomong lagi ya, malu kalau didengar orang lain”
“Iya ma” jawab Ninu, “Ma, Ninu mau berangkat kerja dulu, takut kesiangan”
“Oh iya mama lupa. Ya sudah pergilah, hati-hati di jalan ya. Sampaikan salam mama sama Sandra dan Johan. Nanti kalau ada waktu telepon mama ya, jangan lupa”
“Iya ma. Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam”
Huufff… telepon yang singkat tapi melelahkan.
Kata mas Budi, aku hanya akan pura-pura jadi kekasihnya tuan Haris untuk sehari saja, tapi kalau lihat begini sepertinya ini akan sangat panjang dan lama.
⚘⚘⚘⚘
__ADS_1
Salam bahagia semuanyaaaa 😍😍😍