TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
MALAM PERTAMA


__ADS_3

“Maaf kalau kamarnya kurang nyaman, ini tidak seluas yang di rumah besar,” ucap Haris ketika mereka masuk kembali ke kamar setelah makan malam yang menyenangkan tadi, "Tempat tidurnya juga lebih kecil."


“Ini juga sangat bagus bang,” jawab Ninu masih memeluk leher Haris karena dia masih ada dalam gendongannya.


Haris mendudukkan Ninu perlahan di atas sofa.


“Mau ganti pake baju tidur?” tanyanya.


Ninu mengangguk.


Haris berjalan ke lemari pakaian dimana pakaian Ninu berada sekarang. Dia mencari baju tidur. Tapi dia kaget, dari 5 baju tidur yang ada, semua modelnya sama, mini.


Ini pasti ulah mama, batinnya.


Haris mengalihkan pandangannya pada Ninu yang sedang asyik melihat chat di gawainya, "Mau yang warna apa bajunya?” tanya Haris.


Ninu menghentikan aktifitasnya, “Warna apa saja bang, gak apa-apa,” menatap Haris.


Haris berjalan menghampiri lalu memberikan baju yang dipegangnya, berwarna coklat muda.


“Gantilah, abang mau ke kamar mandi dulu,” dia melangkah masuk ke kamar mandi.


Haris tahu kalau Ninu tidak mungkin berganti pakaian di depannya.


Kok baju ini? Batin Ninu bingung, ini pasti mama yang milih. Aduh, gimana dong, masa aku tidur sama tuan eh bang Haris pake baju ini?


Itu adalah baju yang dibelikan Diandra beberapa waktu yang lalu. Masih ingat kan ketika Ninu diajak berbelanja ke mall dan dibelikan baju tidur mini. Baju itu memang belum pernah dipakai oleh Ninu, dan sekarang baju tidur itu yang dibawa ke rumah pool.


Apa aku gak usah ganti baju aja ya, tapi kalau gak ganti baju pasti tidurnya gak nyaman, terus mungkin bang Haris bakal tanya kenapa gak ganti. Apa dia tahu kalau model bajunya ini seksi? Ihhhh….gimana dong, Ninu mengusap keningnya.


Kata mama aku harus melayani suami dengan baik. Dan aku rasa aku juga sudah jatuh cinta padanya, jadi mungkin gak akan apa-apa kalau aku sedikit berani.


Kata mas Budi dan Tanti, bang Haris takut sama perempuan. Kata mereka aku harus lebih agresif. Tapi apa ini tidak memalukan ya?


Saking lamanya berpikir Haris sudah keluar dari kamar mandi dan Ninu masih duduk sambil memegang baju tidurnya.


“Belum ganti?” tanya Haris.


“Euh… baru mau,” jawab Ninu kikuk, “Abang bisa balik badan dulu gak?”


Haris mengambil gawainya lalu membalikkan badannya membelakangi Ninu. dia membuka beberapa laporan busnya hari ini.


Ninu membuka bajunya perlahan, sungguh hatinya masih ragu antara berganti baju itu atau tidak.


Haris yang membelakanginya sambil membaca laporan baru menyadari ada nampak bayangan di layar gawainya. Ya, itu adalah pantulan tubuh Ninu yang sedang berganti pakaian. Haris tercekat melihat setiap gerakan berganti pakaian yang dilihatnya.


Bagaimana gadis itu melepas pakaiannya, dilihatnya punggung mulus yang hanya memakai bra, lalu pose ketika gadis itu memakai baju tidurnya yang pendek dan tak berlengan. Sungguh jantung Haris berpacu, bertalu-talu seperti irama lagu Jumanji. Pori-porinya melebar dan bulu-bulunya meremang.


“Sudah bang,” suara Ninu membuyarkan keterpesonaannya.


“Maaf kalau bajunya kurang sopan,” Ninu tertunduk ketika Haris menatapnya.


Haris diam.


“Sini,” ucap Haris agar Ninu naik ke tempat tidur.


Ninu melangkah perlahan sambil sedikit tertatih.

__ADS_1


Dia naik ke tempat tidur dan menarik selimut agar menutupi pahanya yang terekspos.


Mereka duduk berdampingan sambil bersandar ke sandaran tempat tidur.


“Masih sakit?” tanya Haris meraih tangan Ninu dan memeriksa pergelangannya. Itu hanya akal bulus Haris agar bisa menyentuhnya. Inginnya sih dia langsung menerkam Ninu yang sudah membangunkan gairah kelelakiannya.


“Emm… tidak,” jawab Ninu kikuk.


Setelah melihat pergelangan tangan Ninu, Haris tidak melepasnya. Dia malah menggenggamnya dengan kedua tangannya.


“Tanganmu keringatan,” ucapnya lembut.


Aku grogi bang, jawab Ninu dalam hati.


“Kamu sakit?” tanyanya lagi, sekarang dengan menatap.


“Tidak,” Ninu menggeleng.


“Tapi kamu seperti sakit. Masih shok ya dengan kejadian tadi? Sini...” Haris merengkuh pundak Ninu dan menariknya agar bersandar padanya. Modus lagi.


Cukup lama mereka diam. Menikmati debar jantung masing-masing.


“Belum ngantuk?” tanya Haris.


Ninu diam.


“Mau tidur sekarang?”


Ninu bingung harus jawab apa.


Haris melepas pelukan dan menatapnya, “Tidur ya sudah malam.”


Ninu mengangguk, “Iya,” jawabnya singkat.


Haris mengatur posisi bantal, lalu membantu Ninu berbaring. Mengatur suhu AC, menyelimuti Ninu, merapikan rambut Ninu sebentar, dan terakhir CUP! dia mengecup kening Ninu dengan lembut.


“Tidur ya,” bisiknya.


Ninu mengangguk malu.


Tak dapat digambarkan dengan kata-kata perasaan Ninu saat ini, penuh dengan bunga-bunga. Perasaan cinta dan bahagia. Dia ingin membalas setiap pelukan Haris, dia ingin memperlakukan Haris dengan mesra juga tapi tidak berani.


“Bang…”


“Hmmm?”


"Terima kasih ya.”


“Untuk apa?”


“Untuk semua kebaikan abang.”


Haris memiringkan tubuhnya menghadap Ninu, tangannya meraih pundak Ninu agar Ninu juga memiringkan tubuh menghadapnya.


“Aku minta maaf selama ini sudah memperlakukanmu kurang baik,” menatapnya lembut.


Ninu tersenyum, tiba-tiba saja matanya berair.

__ADS_1


“Maafkan aku ya,” Haris merengkuhnya dalam pelukan.


Malam ini mereka lalui dengan kehangatan. Sekarang, meski tak terucap mereka sama-sama tahu perasaan apa yang ada di dalam hati.



Tengah malam Ninu terbangun. Dia bangun untuk melaksanakan sholat malam, dia ingin berterima kasih pada sang Maha Kuasa.


Dengan perlahan dia menggeserkan tangan Haris yang memeluknya agar dia bisa beranjak menuju kamar mandi.


Setelah melaksanakan sholat, Ninu bersimpuh di atas sajadah, menengadahkan kedua tangannya sambil berurai air mata. Hatinya penuh dengan rasa bahagia.


Allah sungguh menyayangiku. Penderitaan, kesulitan hidup, rasanya terbayar sudah dengan kebahagiaan yang dia dapatkan hari ini. Bagaimana Haris, suaminya, begitu peduli dan lembut memperlakukannya.


Sungguh Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Ninu yang awalnya sangat takut bahkan hanya untuk sekedar menatapnya, kini bisa bermanja-manja dalam pelukannya. Walau tiada kata cinta yang terucap, tapi sikap dan gestur tubuhnya sudah menyatakan lebih dari sekedar kata-kata.


Haris terbangun ketika Ninu menggeserkan tangannya tadi, tapi dia pura-pura tidur. Dia ingin tahu apa yang akan dilakukan istrinya malam-malam begini.


Hatinya terharu ketika melihat Ninu menggelar sajadah dan melaksanakan sholat malam. Dilihatnya dia menengadahkan tangan sambil menangis. Didengarnya bisik doa yang diucapkannya.


Terima kasih ya Allah atas segala keberkahan, rejeki, kenikmatan, dan kebahagiaan yang telah Engkau berikan padaku, pada kami. Ampuni dosa-dosa kami, jadikanlah kami orang-orang yang pandai bersyukur, aamiin…


Benar kata Budi, wanita yang bagaimana lagi yang akan aku cari. Dia wanita yang baik, bersih dan sholehah. Seharusnya aku sangat beruntung memilikinya.



Ninu kembali ke tempat tidur setelah merapikan sajadahnya. Berbaring di sisi Haris dan memperbaiki selimut agar menutupi tubuhnya dan tubuh suaminya.


“Kenapa bangun?” tanya Haris berpura-pura seolah-olah dia baru bangun.


“Eh.. maaf bang, terganggu ya tidurnya?”


“Tidak. Bisa tolong ambilkan minum?”


Ninu segera meraih gelas yang ada di atas meja di samping tempat tidur, “Ini bang.”


Setelah minum, Haris melingkarkan kembali tangannya di pinggang Ninu, “Kemarilah.”


Ninu kembali masuk ke dalam pelukan suaminya. Sejenak mereka saling bertatapan.


Haris mendekatkan wajahnya, “Bolehkah?” tanyanya berbisik dengan suara parau. Hasrat dalam hati sudah tak terbendung.


Ninu diam. Dia bisa merasakan sapuan hangat dari nafas Haris.


Wajah Haris semakin mendekat hingga bibir mereka bertemu sekilas. Ada dentuman keras di jantung mereka. Wajah Ninu bersemu merah begitupun Haris.


“Boleh abang minta malam ini?”


Hening.


Haris masih menunggu jawaban.


Ninu menganggukkan kepalanya perlahan.


⚘⚘⚘⚘


Ahhhh.....akhirnya malam pertamaa....

__ADS_1


😍😍😍😍😍😍😍


Happy reading semuanya, ditunggu like dan komennya 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2