
Ninu berpamitan pada bu Syarif ketika supir datang menjemputnya. Sebelumnya Ninu sudah menceritakan apa yang akan dia lakukan malam ini. Bu Syarif mendukungnya karena menurutnya membalas kebaikan seseorang itu adalah perbuatan yang terpuji. Sayangnya Agis belum pulang bekerja sehingga dia tidak tahu hal ini. Sementara Arman suami Agis sedang keluar kota.
“Silakan nona” supir membukakan pintu mobil ketika mereka tiba di depan sebuah rumah besar bercat putih. Rumah yang sangat mewah menurut Ninu.
Ninu turun dengan ragu, matanya tak lepas memperhatikan sekeliling rumah itu. Pintu rumah terbuka seorang wanita berpakaian hitam putih menyambutnya, “Selamat datang nona, silakan masuk” sapanya ramah sambil membungkukkan badannya.
Ninu menganggukkan kepalanya sambil tersenyum, “Terima kasih” jawabnya
Dari dalam muncul Haris dengan stelan kaos lengan pendek dan celana jeans. Dia tampak sangat tampan. Ninu tak berkedip memandangnya.
“Aku minta bantuanmu untuk malam ini saja, bersikaplah yang wajar” suara Haris membuyarkan keterpesonaannya.
Ninu menganggukkan kepalanya.
“Ayo masuk, aku kenalkan kamu sama mama dan papa” tangan Haris meraih jemari Ninu dan menggandengnya.
Seketika jantung Ninu berpacu dengan sangat kencang. Tangannya jadi dingin seketika, langkahnya jadi kaku.
“Bersikap yang wajar” bisik Haris di telinga Ninu membuatnya semakin canggung.
“Tuan…” suara Ninu tercekat.
Haris meliriknya.
“Saya perlu mengambil nafas dulu. Saya grogi” suara Ninu hampir tak terdengar.
Dia berhenti sejenak lalu mengatur nafasnya. Sementara Haris memandangnya sambil menggelengkan kepala. Tak lama ditariknya kembali tangan Ninu untuk masuk ke ruang keluarga.
“Ma. Pa…” suara Haris terdengar begitu mereka memasuki ruang keluarga.
Diandra dan Hendrawan yang sedang duduk langsung berdiri sambil tersenyum ketika melihat Haris yang datang sambil menggandeng tangan seorang gadis.
Ninu menganggukkan kepala memberi hormat pada Hendrawan dan Diandra.
“Selamat malam bu, pak” suaranya halus.
“Selamat malam….”Diandra menjawab sambil merentangkan tangannya untuk memeluk, lalu cipika-cipiki dengan Ninu.
“Kamu manis sekali. Siapa namamu nak?” tanya Diandra masih merangkul bahu Ninu.
“Saya Ninu bu”
“Ah… nama yang imut seperti orangnya” Diandra tersenyum lebar.
Kemudian Ninu bersalaman dengan Hendrawan.
Mereka orang-orang yang baik dan ramah, batin Ninu, aku jadi merasa berdosa karena berbohong.
__ADS_1
“Ayo sini duduklah dekat mama” ajak Diandra menggandeng tangan Ninu dan menuntunnya untuk duduk di sampingnya, "Jangan panggil ibu dan bapak, panggil kami mama dan papa, ya” lanjutnya.
“Betul Nin, sebentar lagi kami juga akan jadi orangtuamu kan?” sambung Hendrawan
Ninu tersenyum sambil melirik Haris yang sedang memandanginya.
Malam itu Ninu menjadi pusat perhatian dan pusat pembicaraan. Diandra dan Hendrawan sangat memanjakan Ninu, apapun ditawarkannya. Makanan dan minuman semua disodorkan pada Ninu, belum lagi tangan Diandra yang tak lepas dari mengelus punggung Ninu atau mengusap rambutnya.
Sementara Ninu lebih banyak tersenyum saja dan hanya berbicara untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan oleh Diandra dan Hendrawan, sedangkan Haris lebih banyak diam seolah tak peduli.
Kata Diandra Ninu sangat manis dan imut. Dia senang sekali.
Tak terasa hari semakin malam tapi perincangan mereka tidak surut bahkan bertambah akrab saja.
“Ma, ini sudah malam Ninu harus pulang” suara Haris menghentikan obrolan Diandra dan Ninu.
“Kenapa tidak menginap saja di sini?” ucap Diandra sedikit kecewa.
“Mama…. Jangan begitu, nanti Ninu malah jadi takut” suara Hendrawan membuat Diandra tersadar, “Mama terlalu agresif” lanjut Hendrawan terkekeh.
“Maafkan mama ya nak. Mama terlalu senang bisa bertemu denganmu” tangannya kembali mengucap punggung Ninu, “Sering-seringlah datang kemari. Jangan sungkan” sambungnya.
Ninu tersenyum sambil menganggukkan kepalanya
“Ayo Nin aku antar pulang” Haris meraih tangan Ninu.
“Oh ya, mama lupa. Ini ada hadiah untukmu nak” Diandra mengambil sebuah kotak kecil beludru berwarna biru, lalu mengeluarkan isinya.
“Ini hadiah dari mama untukmu. Jangan dilepas ya” katanya sambil memasangkan kalung mungil berwarna putih dengan liontin hati di leher Ninu.
Ninu tidak bisa menolak.
“Ini tanda kasih sayang kami untukmu” Diandra melanjutkan ucapannya.
“Lihat ini Haris! Cantik sekali bukan?”
“Iya ma” jawab Haris.
“Kamu manis sekali nak” kembali Diandra mencium pipi Ninu, “Sempatkan telepon mama ya” lanjutnya.
“Iya ma, inshaallah” jawab Ninu tersenyum. Hatinya sangat terenyuh dengan kelembutan dan kebaikan hati Diandra. Dia merasa sangat disayangi.
⚘
“Terima kasih sudah mau membantuku” suara Haris memecahkan keheningan. Mereka sekarang sedang berada di dalam mobil dalam perjalanan mengantarkan Ninu pulang.
“Sama-sama tuan, saya senang bisa membantu”
__ADS_1
“Tuan, ini kalungnya saya kembalikan” tangan Ninu meraba kalungnya hendak melepaskannya.
“Tidak usah. Kau pakai saja. Itu pemberian mama untukmu”
“Tapi tuan…”
“Sudahlah, tidak usah banyak bicara”
Ninu terdiam.
Tak terasa mereka sudah sampai.
“ini untukmu” Haris menyodorkan sebuah amplop putih, “Kamu akan pulang kampung besok kan?” lanjutnya.
“Apa ini tuan?” tanya Ninu tidak berani mengambil amplop yang disodorkan Haris.
“Sedikit untukmu. Bisa kamu belikan untuk oleh-oleh atau keperluan adikmu di kampung” jawab Haris.
“Oh tidak perlu tuan, terima kasih” tangan Ninu menolaknya, “Saya membantu anda dengan ikhlas sama seperti ketika anda membantu saya. Lagipula untuk pulang sudah saya siapkan uangnya”
“Ambillah. Aku tidak suka ditolak” suara Haris terdengar agak keras.
Ninu sedikit takut.
“Ambil!” seru Haris membuat Ninu spontan mengulurkan tangan untuk mengambil amplop itu.
“Turunlah”
“Baik tuan. Terima kasih” Ninu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam rumah tanpa menoleh. Hatinya kacau balau. Dia tidak ingin menerima uang Haris. Ini sama saja seperti dibayar padahal aku kan membantu dia untuk membalas kebaikannya.
⚘
Malam itu Ninu bercerita pada Agis apa yang telah dialaminya. Bagaimana dia diperlakukan dengan sangat istimewa oleh orangtua Haris dan bagaimana Haris memaksanya untuk menerima amplop darinya.
Sebenarnya Agis agak kurang setuju Ninu melakukan itu tetapi bu Syarif mengatakan bahwa membalas kebaikan seseorang adalah suatu keharusan, apalagi orang itu sudah memintanya. Masalah amplop yang diberi oleh Haris pada Ninu menurut bu Syarif tidak usah dipikirkan terlalu dalam. Haris adalah orang kaya tentu saja hal itu bukan sesuatu yang berat baginya.
⚘
Pagi harinya Ninu pulang ke kampungnya sendirian. Dia bertemu dengan Ima dan keluarga bi Tati. Setelah saling melepas rindu mereka bersama-sama berziarah ke makam ibu. Ninu tak henti menangis mencurahkan kesedihan dan kerinduannya pada ibu. Hatinya penuh dengan segala rasa yang tak bisa diungkapkan selain dengan air mata.Bi Tati dan Ima hanya mampu menyaksikan semua ekspresi kesedihan yang ditumpahkan oleh Ninu.
Selama tiga hari Ninu berada di kampungnya untuk mengurus dan mengatur semuanya. Dia menitipkan Ima pada keluarga bibinya. Ninu tidak bisa membawa serta Ima ke kota karena sekolah Ima yang hanya beberapa bulan saja lagi akan menyelesaikan pendidikannya di tingkat SMP. Ninu berjanji pada Ima akan menyekolahkan Ima di SMA di kota.
Sementara rumah mereka akan ditempati oleh anak bi Tati yang sudah berumah tangga. Ninu tidak berniat untuk menjual rumah tersebut karena rumah itu menyimpan banyak kenangan.
⚘⚘⚘⚘
Hai readers, apa kabarnya? Semoga sehat dan bahagia selalu ya, dan semoga karyaku bisa menghibur kalian semua.
__ADS_1
😍😍😍😍😍😘😍😘