TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
RENCANA


__ADS_3

Ninu berbaring di tempat tidurnya. dimiringkannya badannya sehingga menghadap tembok. Dia tidak tidur, dia sedang menikmati sakit yang sedang ia rasakan sekarang. Bagaimana tidak, di saat dia sedang terpuruk, ibunya pergi meninggalkannya untuk selama-lamanya. Bahkan Ninu tidak bisa menyaksikan kepergian ibu tercintanya, tidak bisa mengurus pemakamannya dan tidak bisa menghadiri tahlilannya, dia juga membiarkan Ima menghadapi semuanya sendirian.


Hatinya sangat geram pada Ira. Ingin menyumpahi dan mengutukinya. Walaupun dia tahu Ira sekarang sudah berada di penjara, itu tidak membuat sakit hatinya seketika sirna.


Ya Allah…kenapa Engkau memberikan cobaan hidup seperti ini. Aku berjuang untuk ibu tapi justru aku tidak ada di sampingnya saat dia menghadapi sakaratul maut. Dan yang lebih menyakitkan, justru pada saat itu aku malah sedang terjerumus di kubangan narkoba.


Cukup lama Ninu meratapi kepergian ibunya dan nasibnya. Dia merasa hidupnya selalu ada di dalam penderitaan. Sejak kecil, sejak dia mulai bisa mengingat, hidupnya selalu pas-pasan. Apalagi semenjak bapaknya meninggal, kehidupannya semakin berat dengan menanggung beban menghidupi ibu dan Ima. Tapi itu semua dia jalani dengan ikhlas. Tapi kepergian ibu, dia merasa sulit untuk mengikhlaskan.


“Bu apa gak apa-apa membiarkan Ninu sendirian di kamar? Ini sudah pagi dan dia tidak keluar kamar sejak tadi malam” suara Agis mengkhawatirkan sahabatnya itu. Matanya melirik jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul 6 pagi.


Agis dan bu Syarif sedang di dapur menyiapkan sarapan. Agis sedang membuat teh untuk mereka semua dan kopi untuk Arman suaminya, sedangkan ibu terlihat membuat nasi goreng.


“Biarkan saja dulu Gis. Dia butuh waktu untuk menenangkan pikiran dan hatinya” jawab bu Syarif.


“Tapi kata dokter Ninu jangan dibiarkan sendirian bu, takut nanti dia ingat lagi sama obat itu”


“Inshaallah gak akan Gis. Ibu yakin Ninu sangat tidak menginginkan obat itu. Dia perempuan yang kuat, tidak mudah putus asa dan tidak akan berlarut-larut dalam kesedihan. Dia pasti akan memikirkan Ima adiknya” penjelasan ibu sangat masuk akal bagi Agis.


Memang benar Ninu bukanlah orang yang mudah putus asa dan menyerah. Sedangkan orang yang tidak bisa lepas dari narkoba biasanya adalah orang yang tidak memiliki jiwa yang kuat.



Tok…tok…tok…


“Ninu….”Suara Agis di depan pintu kamar Ninu, “Nin bangun.. sudah siang”


Ceklek


Wajah sembab Ninu muncul dari balik pintu. Agis memandangnya sejenak, "Nin... ini sudah siang, ayo kita makan. Kamu bahkan melewatkan sarapan tadi” ajak Agis lembut.


Ninu menganggukkan kepalanya. Dia cukup tahu diri untuk tidak terus-menerus menyusahkan Agis dan keluarganya.


“Aku ke air dulu ya Gis” suara Ninu pelan.

__ADS_1


Setelah membersihkan diri Ninu menghampiri ibu dan Agis yang sedang duduk di meja makan sudah bersiap-siap untuk makan siang.


“Ah…Ninu ayo sini duduk dekat ibu” tangan ibu melambai lalu menepuk kursi di sebelahnya begitu melihat Ninu datang. Ninu mendekat.


“Ayo makan nak, kamu pasti lapar” lanjut ibu. Dilihatnya wajah Ninu yang sembab, matanya bengkak. Tangan ibu mengusap punggung Ninu.


Agis menyendokkan nasi dan lauk untuk Ninu “Ayo makan Nin”


Tidak banyak bicara Ninu mulai makan bersama Agis dan bu Syarif hingga selesai.


“Bu, Agis, Ninu mau minta maaf” suara Ninu hampir tak terdengar.


“Minta maaf untuk apa Nin?” tanya ibu terkejut, begitu pula Agis.


“Ninu mau minta maaf selalu merepotkan dan menyusahkan” Ninu tertunduk. Air matanya tanpa terasa kembali menggenang.


“Ya Allah… ibu kira kenapa, kamu bikin kaget ibu aja” ibu mengusap dadanya, sementara Agis bernafas lega.


“Kami tidak merasa kamu menyusahkan kok. kita kan sudah seperti saudara, ibu sudah menganggapmu seperti anak ibu sendiri. Sudah seharusnya kita saling membantu bukan?” suara bu Syarif mengingatkan Ninu pada ibunya yang selalu menenangkan ketika dia sedih dan gelisah.


“Sudahlah Nin tidak usah jadi pikiran. Aku sudah menganggap kamu seperti adikku sendiri. Jadi gak perlu sungkan-sungkan, ya” timpal Agis.


Tangan ibu merengkuh bahu Ninu dan memeluknya. Ninu menangis dalam pelukan ibu. Pelukan yang dia butuhkan selama ini untuk menumpahkan kesedihan dan beban yang menggayut di hatinya.


Tangan ibu mengusap kepala Ninu, “Sudahlah nak, jangan simpan kesedihanmu berlama-lama. Kasihan adikmu. Dia masih membutuhkanmu. Kamu harus kuat untuknya. Buatlah ibumu tenang di alam sana dengan mewujudkan apa yang menjadi cita-cita dan impian kalian”



“Jadi apa rencanamu sekarang Nin?” tanya Agis yang duduk di samping Ninu di ruang tamu.


“Aku kan pulang ke kampung untuk berziarah ke makam ibu dan menengok Ima. Aku juga harus memastikan Ima baik-baik saja” jawab Ninu.


Tadi Ninu sudah bertelepon dengan Ima dan bi Tati, mereka sangat lega akhirnya Ninu tahu tentang kepergian ibu dan Ninu tidak terpuruk.

__ADS_1


“Tapi sebelum itu, aku akan menemui bu Sandra dan tuan Haris terlebih dahulu. Karena aku tidak tahu akan berapa lama aku akan berada di kampung” lanjut Ninu.


Agis mendengarkan sambil manggut-manggut. Hatinya senang. Inilah Ninu, sahabatnya yang penuh semangat, pantang menyerah, dan selalu punya rencana.



Sementara itu di tempat yang berbeda, pagi itu Haris sedang duduk di depan rumahnya yang berada di pool. Duduk dengan kopi di ditangannya memperhatikan para pegawai yang sedang sibuk bekerja. Beberapa kernet sedang membersihkan bagian dalam bus dan beberapa lainnya sedang mencuci bus. Sementara di ujung sana dia melihat beberapa orang supir yang sedang menikmati sarapan sambil ngobrol dan tertawa. Mereka senang sekali tampaknya.


Sudah hampir 5 tahun ini Haris dipercaya oleh Hendrawan ayahnya untuk mengelola PO. Sinar kencana. Dan karena ketegasan dan kepandaiannya dalam mengelola dan mencari relasi Haris berhasil membuat perusahaan yang dikelolanya ini maju pesat. Kini Haris sudah memiliki hampir tiga kali lipat jumlah armada dari yang semula diberikan oleh Hendrawan.


Hari ini orangtuanya akan datang. Sudah cukup lama mereka tidak datang ke kota ini dan mengunjungi Haris karena kesibukan Hendrawan mengelola kebun sawit dan tambang batubaranya. Biasanya Haris yang selalu mengunjungi mereka.


Haris berencana menerima orangtuanya di rumah kecilnya di pool. Dia memang betah tinggal di sini. Hidup membujang membuatnya merasa tidak perlu tinggal di apartemennya atau di rumahnya yang besar yang ada di pinggiran kota. Menurutnya tinggal di sini lebih nyaman karena bisa bekerja sekaligus mengawasi para pegawainya.


Sekira jam 10 terlihat ada mobil pribadi yang masuk ke dalam pool, dan berhenti di depan rumah. Tak lama kemudian supir turun dan membukakan pintu belakang.


Hendrawan dan Diandra turun dari mobil. Senyum mereka langsung mengembang begitu melihat Haris yang berdiri menyambut.


Hendrawan adalah orang asli dari Dumai sedangkan Diandra berasal dari Jakarta. Ayah Diandra orang Jawa yang memiliki istri yang berasal dari Italia, oleh karenanya wajah Diandra terlihat kebule-bulean. Dan itu menurun ke Haris. Wajah Haris adalah perpaduan antara wajah oriental Indonesia dengan western. Tak heran kalau Haris terlihat tampan dengan tubuh yang tinggi dan tegap. Selain kepandaiannya postur tubuhnya itu menyebabkan dia sangat disegani oleh relasinya sekaligus dikagumi oleh para wanita. Tetapi sikap dingin dan tegasnya membuat wanita-wanita mundur perlahan.


“Haris, honey….” Suara Diandra disertai tangannya yang merentang hendak merangkul, “Mama kangen sekali”


Haris membalas pelukan mamanya dengan hangat


“Gimana kabarnya ma, pa?” tanya Haris merangkul bahu mamanya.


“Kami baik-baik saja” jawab Hendrawan tersenyum, “Bagaimana usahamu?” tanya Hendrawan sambil mengedarkan pandangannya mengelilingi pool.


“Ah papa, jangan tanya itu dulu” suara Diandra menyela, “Ayo kita melepas rindu dulu dengan anak kita. Urusan kerjaan kita bicarakan nanti”


“Iya ya… hehe, naluri ini ma” Hendrawan terkekeh.


Mereka bertiga masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu. Tak lama seorang pelayan datang membawa beberapa gelas minuman dan air mineral botol, kemudian kembali lagi dengan membawa beberapa toples kue.

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘


Ayo dukung author dengan like, komen, dan vote 😍😍😍😍😍😍🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2