
Perjalanan dari kota kabupaten tempat Ima bersekolah ke kampung halaman Ninu hanya membutuhkan waktu sekitar 3 jam. Mereka tiba di sana sekitar jam 5 sore, langsung menuju rumah bibi dan paman.
Bibi dan paman sangat terkejut mendapat kunjungan dari Haris yang sangat mendadak.
Setelah mempersilakan masuk dan beristirahat sejenak merekapun berbincang.
Haris menceritakan semuanya tentang dia dan Ninu yang terlibat perjanjian pernikahan. Haris juga menceritakan siapa Tyara dan mengapa dia menemui Tyara.
Haris mengatakan bahwa dia menemui Tyara hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa sudah tidak ada lagi cinta di hatinya dan sekarang Tyara bukan siapa-siapa lagi baginya. Bahwa wanita yang sebenarnya dicintai dengan sepenuh hatinya hanyalah Ninu.
Di akhir ceritanya, Haris memohon pada semua yang hadir di situ untuk membantunya menemukan Ninu dan membawa kembali padanya.
Tentu saja hal itu sangat mengejutkan bibi, paman, dan Ima. Mereka baru tahu kejadian yang sebenarnya, sungguh di luar dugaan.
Tetapi karena sampai saat ini tidak ada kabar dari Ninu mereka tidak dapat membantu apa-apa. Namun mereka berjanji akan mencari dan segera mengabari apabila ada informasi mengenai Ninu.
Mereka percaya pada apa yang dikatakan Haris. Apalagi Haris menceritakannya dengan mata berkaca-kaca, menunjukkan perasaan khawatir dan penyesalan yang mendalam.
Malam itu Haris, Budi, dan pak Eko menginap di rumah bibi. Budi dan pak Eko tidur di ruang tamu, sementara Ima tidur bersama bibi.
Haris berbaring menatap langit-langit kamar. Suasana pedesaan yang sunyi di malam hari. Suara jangkrik dan kodok bersahutan seperti irama bagi kesedihan hatinya.
Rasa rindu ini sudah meluap tak terbendung, menganak sungai mengaliri setiap urat syarafnya, bertemu dengan rasa penyesalan atas apa yang telah dilakukannya pada Ninu. Rasa rindu itu kemudian terlahir menjadi air mata.
Dia, Haris, laki-laki tampan dan berkharisma, menangisi seorang perempuan kampung yang pergi meninggalkannya.
Terkenang semua kejadian mulai dari awal bertemu di toko sepatu, lalu ketika Ninu dan Agis datang ke rumah pool, bagaimana Ninu tidak berani menatapnya karena takut. Tergambar jelas wajah Ninu yang tersenyum bahagia ketika dia mengijinkannya untuk kursus.
Sedikit senyum di hatinya ketika dia membayangkan penampilan konyol para pelayan yang menjadi korban Ninu ketika mempraktekkan ilmu yang didapat dari kursusan.
Semua peristiwa tergambar nyata di pelupuk matanya. kemesraan mereka sebulan terakhir ini. Mengisi hari-hari dengan canda tawa. Dan yang takkan mungkin hilang dari ingatannya, bagaimana ekspresi wajah cantik Ninu di antara desahannya ketika ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada Haris.
Dia tidak pernah menolak, tidak pernah berkata kasar dan tidak pernah meminta sesuatu yang berlebihan. Dia sangat lembut dan memanjakan.
Sayang, kamu dimana? Abang sangat rindu.
Setelah ini, entah kemana lagi dia akan mencari.
⚘
Sebelum kembali ke kota, Haris menyempatkan diri untuk melihat rumah Ninu yang sekarang ditinggali oleh anak bibi yang paling besar.
“Nanti kamu kirim orang untuk merenovasi rumah ini,” kata Haris pada Budi.
“Iya siap bang,” jawab Budi.
__ADS_1
Sebelum waktu makan siang mereka sudah tiba ke kosan Ima. Haris memberi Ima sejumlah uang sebelum dia berpamitan pulang, dan berpesan untuk segera memberitahunya bila Ninu menghubungi.
Ima menganggukkan kepala tanda mengerti. Dia merasa iba melihat kakak iparnya yang tampak sangat kehilangan.
Teh Ninu, teteh dimana, kasihan bang Haris.
⚘
Berjalan lesu Haris memasuki rumah besar. Sepanjang perjalanan pulangnya dari kampung halaman Ninu, Haris hanya membisu. Pikirannya buntu.
Entah kemana lagi dia harus mencari istrinya. Semua orang yang diketahuinya sudah ditemui tetapi tidak ada yang tahu keberadaan Ninu.
Budi yang melihatnya ikut prihatin, dia merasa bersalah karena telah mendorong Haris untuk menemui Tyara.
“Bagaimana Ris?” pertanyaan Diandra menyambut kedatangan Haris.
“Gak ada ma,” Haris menggelengkan kepalanya perlahan, mendudukkan dirinya di sofa dengan lesu.
Kasian sekali kamu nak, ternyata sebegitu besar cintamu padanya.
“Kita akan pikirkan lagi cara untuk menemukannya,” Diandra mengelus tangan Haris dengan lembut, “Sekarang pergilah makan lalu istirahat. Kamu jangan sampai sakit. Kalau kamu sakit bagaimana kita akan menemukan istrimu.”
Haris menyandarkan punggungnya ke sofa dan memejamkan matanya sejenak.
“Nanti saja ma, aku gak lapar. Aku mau tidur dulu,” Haris bangkit dari duduknya melangkah menuju kamar.
Diandra mengalihkan pandangannya pada Hendrawan yang sedari tadi hanya bisa memandangi Haris.
“Kita suruh orang untuk mencarinya ma, kalau perlu kita sewa orang,” ucap Hendrawan seolah mengerti kerisauan istrinya.
“Iya pa.”
⚘
Ini memasuki hari ke 5 kepergian Ninu tapi sampai detik ini tidak ada satupun informasi tentang keberadaannya.
Hampir setiap hari Haris menelepon Ima, bibi, Andre, Agis dan yang lainnya hanya untuk menanyakan apakah ada informasi terbaru, tapi semuanya menjawab tidak.
Budi dan beberapa orang suruhan Hendrawan yang membantu melakukan pencarianpun belum memberikan informasi apapun.
Setiap pagi Haris pergi berkendara hanya untuk berkeliling kota berharap dia akan menemukan Ninu di jalan. Dia akan kembali ke rumah besar pada malam harinya.
Penampilan sudah tidak dihiraukannya lagi. Bulu-bulu halus mulai tumbuh di dahu dan di atas bibirnya, tapi dia abaikan. Tidak ada waktu untuk mengurus hal-hal semacam itu, yang ada dipikirannya hanya Ninu, istrinya.
Dia juga nampak sedikit kurus karena kurang istirahat dan tidak selera makan. Semua orang yang memandangnya merasa iba. Sebegitu besar derita cinta yang ditanggungnya.
__ADS_1
⚘
Sore itu, Haris memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. Dia sedang merenung, tempat mana lagi yang harus ditujunya untuk menemukan Ninu. matanya memandang kosong lurus ke depan.
Didengarnya suara adzan Ashar berkumandang. Dia menghela nafas dalam. Dengan lesu turun dari mobil, menyeberangi jalan hendak menuju mesjid yang ada di sana.
Melaksanakan sholat berjamaah, kemudian Haris duduk bersimpuh sendirian. Dia berdoa sepenuh hati agar Allah mengijinkannya bertemu kembali dan menghabiskan sisa hidup bersama dengan istrinya, hingga berlinang air matanya.
AAHHH… BRUKKKK!!!
Terdengar suara jeritan dan benturan di luar mesjid yang cukup keras. Haris yang sedang duduk bersila terperangah dan segera berlari ke luar.
Banyak orang datang dan berkumpul di pinggir jalan. Rupanya terjadi kecelakaan tabrakan motor.
“Ada apa pak?” tanya Haris masih berdiri di teras mesjid.
“Itu motor tabrakan,” jawab bapak-bapak yang ditanya.
“Ada yang bawa kendaraan gak?! Bisa tolong bawa ke rumah sakit?!’ seseorang berteriak dari dalam kerumunan.
“Iya ini kasian, anak kecil ini!” teriak yang lain.
Haris segera mendekat, dilihatnya seorang anak perempuan mungkin berusia sekitar 6 tahun tak sadarkan diri dengan darah membasahi pelipisnya. Seorang wanita, mungkin ibu dari anak itu terduduk di atas aspal sambil meringis sakit.
“Biar saya pak yang bawa ke rumah sakit,” ucap Haris.
“Alhamdulillah…hei hei ayo bawa ke sini, bawa!”
“Dimana mobilnya pak?”
“Itu pak di seberang,” jawab Haris berjalan mendahului.
Anak itu beserta ibunya dan seorang yang lain naik ke mobil Haris, mereka menuju rumah sakit terdekat sekarang.
⚘
Haris duduk di koridor rumah sakit. Dia sedang menunggu anggota keluarga korban kecelakaan yang diantarnya tadi.
Tiba-tiba saja sesuatu terbersit di dalam pikirannya.
Segera dia menelepon Budi.
⚘⚘⚘⚘
kasihan Haris, semoga dia segera menemukan Ninu.
__ADS_1