TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
UJIAN CINTA


__ADS_3

“Kamu ingin kado apa dari abang?” sekarang tangannya menyuapkan sepotong kue ke mulut Ninu.


Ninu menerimanya lalu mengunyahnya.


Kado apa ya? pikirnya.


“Apa saja terserah abang.”


“Hmm… istri yang baik,” Haris mencium pipi Ninu, membuatnya kaget.


Ini di teras dan banyak orang di sana yang mungkin sedang mencuri-curi pandang melihat mereka, ya Allah bikin malu aja, batin Ninu.



Sore itu Haris dan Ninu duduk di ruang keluarga. Ninu bersandar di dada Haris, sementara Haris memeluknya sambil membelai rambut Ninu.


“Sayang kita vicall mama ya biar mama gak khawatir.”


“Iya bang, saya juga sudah kangen sama mama.”


Haris meraih HP dan menelepon Diandra melalui Vicall.


“Assalamualaikum ma ” ucap Haris.


“Waalaikumsalam Ris…eh sayang mantu mama, gimana kabar kalian?” Diandra tersenyum sumringah melihat wajah anak mantunya di layar HP.


“Alhamdulillah ma kabar baik,” jawab Ninu tersenyum.


“Ma, beberapa hari ke depan Ninu tidur sama aku di pool ya,” suara Haris pada Diandra.


“Kenapa? Apa Ninu sakit?” tanya Diandra pura-pura tidak tahu.


“Gak, cuma akunya banyak kerjaan, jadi daripada bolak-balik dari pool ke rumah, dari rumah ke pool ya sudah mending Ninu saja yang tinggal di sini. Jadi aku gak bolak-balik.”


“Ya gak apa-apa, tapi perhatikan istrimu ya, jangan kamu cuekin, kasian.”


“Ya gaklah ma, kan mama lihat sendiri gimana perlakuan aku selama ini di rumah besar,” ucap Haris sambil memeluk pundak Ninu.


Iyalah itu kan sandiwara, batin Diandra dan Ninu.


“Terus nanti kursusnya gimana?” tanya Diandra.


“Nanti biar aku yang antar jemput ma, mama tenang aja. Aku nanti suruh orang ke rumah untuk ngambil peralatan kursusnya."


“Ya sudah terserah, cuma kasian aja kalian kok bulan madunya di pool,” ucap Diandra.


“Inshaallah kalau kerjaan aku udah beres nanti aku bawa Ninu ke Itali ma, sekalian nengok grandma di sana,” ucap Haris sambil melirik Ninu, lalu sekilas menciumnya.


“Benarkah? Ini mama gak salah dengar kan?”


“Ya gaklah ma, masa salah dengar,” jawab Haris bersungguh-sungguh.


“Syukurlah, mama senang melihat kalian harmonis. Mama selalu berdoa untuk kebahagiaan kalian.”

__ADS_1


“Aamiin...., iya ma, terima kasih,” jawaban Haris dan Ninu yang lahir dari dalam hati.


Alhamdulillah…., batin Diandra.


Selanjutnya mereka ngobrol banyak hal. Ninu dan Haris yang sudah lengket kayak perangko memamerkan kemesraan yang sesungguhnya di depan Diandra, membuat mamanya bahagia.



Sudah hampir satu minggu Ninu di rumah pool. Selama di sana Haris nempel terus padanya, tidak siang tidak malam, enggan berjauhan, bahkan ketika Haris harus keluar untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan, bertemu orang atau pelanggan dia akan mengajak Ninu serta.


Haris juga tidak malu-malu mengumbar kemesraan di depan orang lain. Terkadang Ninu merasa risih tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Belum lagi permintaan Haris di tempat tidur, sepertinya Ninu jadi candu untuknya. Jika sedang tidak ada pekerjaan ke luar, mereka akan menghabiskan waktu seharian hanya berada di dalam kamar. Mereka benar-benar sedang mabuk kepayang, kasmaran berat.


Sesekali Ninu memasak untuk makan atau sekedar membuat kue untuk camilan, dan Haris akan setia menemaninya di dapur sambil menggodanya, bahkan tak segan membantunya, walau yang ada malah jadi berantakan. Mereka tertawa dan saling menggoda. Sudah tidak peduli lagi dengan pelayan yang pura-pura tidak melihat sambil mesem-mesem.


Banyak hal yang sudah Haris lakukan untuk istrinya. Misalnya di hari kedua keberadaan Ninu di rumah pool, Haris mengajaknya makan malam di restoran favoritnya. Melewatkan malam romantis bersama. Saling bertatap-tatapan, suap-suapan, dan bermanja.


Di hari ketiga, ketika Haris menjemput Ninu dari kursus, dia mengajak Ninu berbelanja. Haris membelikan HP baru karena menurut Haris HP Ninu sudah ketinggalan jaman.


Dia juga membelikan satu set perhiasan dengan ornamen berbentuk hati berwarna putih. Katanya itu melambangkan cinta mereka yang suci.


Haris sungguh-sungguh menyayangi dan mencintai Ninu, dia mencoba memberikan yang terbaik untuk istrinya.


Ninu pun demikian, dia sangat bahagia disayang dan dimanja oleh suaminya. Dia merasa dunia sekarang adalah miliknya. Tiada hari berlalu tanpa kemesraan. Dia mencoba menjalankan perannya sebagai istri sebaik mungkin.


“Sayang...” bisik Haris malam itu.


Mereka sedang bersiap untuk tidur.


“Besok abang tinggal sebentar ya, ada perlu ke luar dengan Budi. Mau ketemu dengan orang untuk perjanjian kontrak.”


“Iya bang.”


“Sayang tunggu di rumah aja ya.”


“Iya gak apa-apa bang.”


Ninu menghampiri Haris di atas tempat tidur lalu duduk di sampingnya.


“Wangi,” bisik Haris di telinga Ninu sambil mengendus aroma tubuh istrinya. Tangannya sudah meraih pinggang istrinya dan menarik ke dalam pelukan.


“Geli...” jawab Ninu mengangkat sebelah bahunya sambil tersenyum manja.


Haris menciumi wajah Ninu dan mulai menggerayangi tubuh istrinya. Tangannya tak mau diam.


“Bang…hmm...geli...” bisikan Ninu menambah gairah.



Keesokannya setelah Haris dan Budi berpamitan, Ninu kemudian menuju ruang keluarga hendak membaca buku tentang kecantikan yang dia dapatkan dari tempat kursusnya.


Baru sekitar dua puluh menit kepergian Haris, gawainya berdering. Haris meneleponnya.

__ADS_1


“Assalamualaikum bang,” sapa Ninu.


“Waalaikumsalam, sayang abang bisa minta tolong?”


“Iya, apa bang?”


“Dokumen untuk kontrak ketinggalan. Tolong sayang ke ruang kerja, lihat di meja kerja abang ada map warna biru, di atasnya ada tulisan perjanjian kontrak. Suruh Gultom untuk mengantarkan ke sini ya.”


“Iya bang,” jawab Ninu sambil melangkah ke ruang kerja.


“Cepetan ya sayang.”


“Iya, ini udah di ruang kerja. Tapi di atas meja gak ada map bang,” Ninu mencari-cari.


“Kalau gitu coba di laci, mungkin ada.”


“Iya saya cari dulu, nanti kalau ada langsung saya kirim.”


“Ya sudah, kalau gitu abang tutup dulu ya teleponnya.”


“Iya bang.”


Klik telepon ditutup.


Ninu fokus mencari map berwarna biru yang diminta Haris. Dia membuka satu persatu laci yang ada di meja hingga akhirnya dia menemukan map tersebut di laci kedua.


Setelah menemukannya Ninu segera meraih interkom dan menghubungi pos penjaga. Dia memanggil Gultom.


Selesai memberi tugas pada Gultom, Ninu kembali ke ruang kerja untuk membereskan kembali meja kerja yang tadi sedikit berantakan karena pencariannya.


Dirapikannya susunan buku dan map yang tadi dia acak-acak. Dia juga membersihkan laci dengan mengelapnya supaya tidak berdebu. Rupanya ada beberapa buku dan berkas yang sudah lama dibiarkan tanpa disentuh sehingga sedikit berdebu.


Ninu mengambilnya berniat ingin membersihkan, tetapi ketika buku-buku itu diangkat ada sebuah foto tertinggal di dasar laci. Foto seorang gadis cantik berlesung pipit. Diraihnya foto itu, dipandangi sejenak.


Apa ini foto kak Hesti atau dek Hani waktu remaja ya? pikir Ninu, tapi bukan ah, wajahnya beda.


Ninu membalikkan foto tersebut. Deg! Sebuah tulisan yang membuat hatinya tercekat.


Tyara, my love forever.


One day I will find you.


Itu tulisan Haris!


⚘⚘⚘⚘


Masa lalu adalah masa lalu


Jangan kau pedulikan


Aku ada di sini


Aku, masa depanmu.

__ADS_1


Happy reading semuanya, maaf telat upnya. 🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2