
“Nona, mari saya antar ke kamar” tangan Tanti merengkuh pundak Ninu yang masih membenamkan wajahnya di atas meja makan. Ninu masih menangis, namun akhirnya dia mengangkat kepalanya dan mengikuti langkah Tanti menuju kamarnya.
“Maafkan aku Tanti, aku tidak tahu kenapa aku merasa sangat sedih sekali” suara Ninu masih dalam tangisnya.
“Tidak apa-apa nona, saya paham keadaan anda. Kalau ada yang bisa saya bantu katakan saja nona jangan ragu, saya pasti akan melakukannya untuk anda” suara Tanti sangat menenangkan membuat Ninu menatapnya lalu tersenyum.
“Kamu baik sekali” ucapnya, “Kamu orang yang paling dekat dengan aku selama aku ada di sini. Terima kasih ya” tangannya mengusap pipinya yang basah.
Tanti tersenyum, “Nona adalah majikan saya, saya senang bisa dekat dengan anda. Nyonya besar juga menitipkan anda pada saya, jadi sudah sewajarnya saya bersikap baik dan menjaga anda nona”
“Duduklah di sini Tanti, temani aku sebentar” pinta Ninu.
“Baik nona” Tanti duduk di atas sofa di samping Ninu, matanya tak lepas menatap majikannya itu.
“Maaf kalau boleh saya bertanya, sebenarnya apa yang terjadi dengan anda dan tuan Haris, nona?” suara Tanti agak ragu.
Ninu terdiam sejenak. Pandangannya lurus ke depan, sepertinya dia sedang memikirkan pertanyaan Tanti. Dihembuskannya nafas panjang.
“Aku juga tidak mengerti mengapa aku bisa berada di sini, bagaimana tiba-tiba aku jadi istri tuan Haris” suaranya mengambang dengan tatapan kosong, “Apa mama pernah menceritakan sesuatu tentang aku padamu?” mata Ninu beralih menatap Tanti, ada sorot penasaran di sana.
Seperti yang diketahui sebelumnya, Tanti adalah pelayan Diandra di rumahnya di Dumai yang sengaja dikirim untuk menemani Ninu ketika Ninu harus tinggal di apartment Haris sebelum mereka menikah. Dan karena Ninu merasa cocok dengan Tanti, Diandra tidak membawanya kembali di Dumai tetapi menugaskan Tanti untuk selalu menemani Ninu.
“Kata nyonya besar anda adalah gadis yang cantik dan baik nona. Nyonya besar sangat suka dengan anda”
Aku tahu itu, aku tahu kalau mama suka padaku. Kalau dia tidak suka mana mungkin dia begitu memaksaku untuk menikah dengan anaknya yang arogan itu, batin Ninu.
“Nyonya besar sangat berharap anda akan menjadi pendamping tuan Haris untuk selamanya. Nyonya juga yakin anda bisa meluluhkan hati tuan” lanjut Tanti.
Benarkah mama ingin aku menjadi pendamping anaknya untuk selamanya? Benarkah aku bisa meluluhkan hati orang yang begitu sombong dan arogan seperti Haris? Yang dari mulutnya selalu keluar kata-kata menyakitkan dan penuh hinaan?
“Saya sudah pernah cerita pada nona kalau saya sudah bekerja di keluarga tuan Hendrawan sejak tuan Haris masih kuliah. Jadi saya tahu seperti apa tuan Haris itu. Sebenarnya dia sangat baik nona, tuan juga peduli pada orang lain. Dia anak yang pandai dan patuh pada orangtua” mata Tanti masih menatap lekat Ninu, “Kekurangan tuan hanyalah dia tidak pandai bergaul dengan perempuan”
“Maksudmu?” tanya Ninu menatap balik Tanti.
“Dari dulu tuan Haris tidak pernah punya pacar nona, karena…” suara Tanti tertahan.
“Karena apa Tan?” suara Ninu penuh rasa penasaran.
“Entahlah nona, saya juga tidak mengerti. Maklum saya hanya seorang pelayan dan saya tidak mengerti tentang psikologi seseorang. Saya kan dulu sekolah di tata boga dan bekerja pada nyonya besar juga sebagai juru masak, pekerjaan saya adalah mengurus dan menyiapkan makanan bagi mereka. Segala jenis masakan saya bisa mulai dari makanan berat, makanan ringan, jajan pa…”
__ADS_1
“Hei.. aku tanya tentang tuan Haris, bukan tentang keahlianmu” potong Ninu.
“Eh..iya maaf nona hehe…saya lupa” Tanti terkekeh. Dia senang melihat perubahan di wajah Ninu yang sekarang dia mulai teralihkan dari kesedihannya.
“Sepertinya tuan mengalami kesulitan untuk menjalin hubungan dengan perempuan nona”
Jadi, sampai saat ini tuan Haris belum pernah punya pacar? Ya Allah, kok bisa ya? Setahu aku selama aku kerja di toko dan café, pria kaya biasanya sangat senang berpacaran dan berganti-ganti pasangan, para pria kaya itu senang sekali menghambur-hamburkan uang untuk kekasihnya dengan membelikan barang-barang mewah dan makanan mahal, batin Ninu.
Karena Ninu tidak bertanya lagi akhirnya Tanti berdiri dan pamit, “Nona saya akan kembali ke dapur, silakan nona istirahat. Kalau perlu sesuatu nona panggil saja saya lewat interkom”
“Iya, terima kasih ya Tanti” Ninu berdiri lalu berjalan menuju tempat tidurnya, badannya terasa sangat lelah.
⚘
Matahari sudah berada di tengah, waktu makan siang sudah lewat sekitar satu jam yang lalu tetapi Ninu tidak kunjung keluar dari kamarnya sejak selesai sarapan tadi. Pak Otang dan Tanti yang telah menunggu akhirnya memutuskan untuk mengetuk kamar Ninu.
Tok tok tok...
Tidak ada jawaban.
Tok tok tok...
“Nona, nona, anda baik-baik saja?” suara Tanti terdengar dari balik pintu.
Pintu terbuka, “Nona! Anda kenapa?” Tanti menghambur menghampiri Ninu. “Maaf nona” dirabanya kening Ninu, “Ya ampun nona demam? Pucat pula”
Dia segera mengambil air minum di atas meja kecil di samping tempat tidur lalu membantu Ninu untuk duduk dan memberikan gelas itu. Badan Ninu juga panas.
Setelah minum Ninu kembali menjatuhkan dirinya di atas tempat tidur sambil menekan perut bagian bawahnya.
“Nona sakit apa?” suara Tanti khawatir tangannya mulai memijit-mijit tangan Ninu.
“Sakit perut.. aduuh… gak enak badan juga” Ninu membalikkan badannya seperti orang sedang bersujud tangannya masih menekan perutnya.
“Sebentar nona saya kabari dulu tuan” Tanti beranjak hendak pergi.
“Eh! Jangan, jangan!” sergah Ninu menatap Tanti, “Gak usah kasih tau dia. Aku gak apa-apa” tangan kanannya mengangkat memberi tanda melarang.
“Tapi nona anda sakit, tuan akan marah kalau tidak diberitahu”
__ADS_1
Emang dia akan peduli kalau aku sakit, paling juga dia bilang dasar orang kampung gampang sekali sakit.
“Sudahlah Tanti tidak usah merepotkan dia. Bawakan aku obat herbal saja” Ninu menyebutkan nama obat herbal yang biasa diminumnya kalau dia masuk angin.
“Tapi nona juga sakit perut bukan? Wajah nona juga sangat pucat?” Tanti masih kukuh dengan keinginnannya untuk memberi tahu Haris.
“Aku lagi menstruasi, jadi sudah biasa sakit seperti ini” Ninu kembali meringkukkan badannya, “Kamu ambilkan aku kompres air hangat aja untuk perutku”
Kenapa bisa barengan gini sih masuk angin sama menstruasinya, jadi repot, gerutu Ninu dalam hati.
“Oh..lagi datang bulan. Baiklah kalau begitu saya ambilkan dulu obatnya nona” Tanti berlalu meninggalkan Ninu yang masih berkutat dengan rasa sakitnya.
⚘
Kring…kriiing…
Telepon rumah di pool berbunyi, seorang pelayan mengangkatnya, terlihat dia berbicara sebentar lalu meletakkan gagang telepon menghadap ke atas. Pelayan itu berjalan menghampiri Haris yang sedang berbincang dengan dua orang tamunya.
“Maaf tuan, ada telepon dari rumah besar” ucap si pelayan.
Haris meliriknya, “Ya” jawabnya singkat lalu berdiri menuju telepon.
“Halo”
“Halo, selamat sore tuan, maaf saya menganggu” suara pak Otang di seberang sana.
“Ada apa pak?” tanya Haris.
“Apa tuan akan pulang hari ini?”
“Tumben nanya aku pulang atau tidak. Aku belum tahu, masih ada kerjaan” jawab Haris.
“Sebaiknya tuan pulang, nona sakit, tapi nona tidak ingin saya memberi tahu anda tuan”
“Sakit?! Baiklah aku pulang” klik Haris menutup teleponnya. Dia bergegas kembali ke tempat semula.
“Aku harus pulang, kita ngobrolnya dilanjut besok ya. Terima kasih kalian sudah bersedia membantuku” ucapnya tanpa basa-basi. Kedua orang itu berdiri dan menganggukkan kepalanya lalu pergi.
⚘⚘⚘⚘
__ADS_1
Happy reading semuanya, semoga terhibur
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍