TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
MENCARI CINTA LAMA


__ADS_3

Haris duduk di kursi di jet pribadi milik papanya. Pandangannya menyapu awan yang berarak mengiringi. Hatinya penuh dengan segala rasa.


Ini pertama kalinya dia berkata tidak jujur pada istrinya. Dia ijin pergi ke Batam untuk urusan pekerjaan, padahal nyatanya dia akan menemui seorang wanita yang selama belasan tahun bersarang di hatinya.


Kembali dia teringat bagaimana hatinya begitu kukuh mencintai wanita itu dalam diam dan dalam ketidakadaan nyali untuk melisankan cinta.


Bertahun-tahun tersiksa dalam rasa rindu yang bodoh. Ya, bodoh karena orang yang dirindui tidak tahu sama sekali. Itu hanya rindu sepihak, rindu yang menggebu yang membuat tahun-tahunnya terbuang begitu saja.


Sekarang Haris sudah memiliki seorang istri. Walau awalnya hanya istri pura-pura, tetapi sekarang dia telah mencintainya, bahkan sangat mencintainya. Seorang wanita baik yang solehah. Wanita yang tiada banyak menuntut selain memberi dan melayani.


Entah apa yang akan terjadi jika Ninu tahu bahwa dia telah berbohong, bahwa dia pergi ke Batam bukan untuk urusan pekerjaan tetapi untuk bertemu dengan seorang wanita. Ada risau di hati Haris, khawatir jika itu terjadi.


Mungkin dia akan marah, toh aku juga akan marah jika tahu pasanganku tidak jujur. Haris teringat ketika dia menemukan Ninu sedang berbincang dan tertawa bersama Andre. Api cemburu begitu menggelora di hatinya. Padahal Andre hanyalah teman Ninu.


Lalu seberapa besar api cemburu dan amarah yang akan ditimbulkan jika istrinya tahu wanita yang akan ditemuinya adalah wanita yang dulu dicintainya? Tapi tidak mungkin untuk jujur padanya kan?


Haris mengalihkan pandangannya pada kertas yang dipegangnya. Ini alamat dimana Tyara tinggal sekarang. Dia sudah mencari informasi tentang alamat itu, dan yang dia dapatkan bahwa daerah itu adalah daerah permukiman kumuh.


Mungkinkah dia tinggal di daerah kumuh? Bukankah sejauh yang dia tahu dulu Tyara adalah orang berpunya? Bahkan dia kuliah dan bekerja di Paris. Lalu mengapa sekarang dia tinggal di daerah kumuh?


Jangan-jangan ini alamat palsu seperti lagunya Ayu Tingting. Tapi Budi meyakinkannya bahwa alamat itu benar.


Haris menghela nafas. Ini adalah perjalanan yang membebani hatinya.


Bukan tanpa alasan dia melakukan perjalanan ini, mempertaruhkan rumah tangganya dengan membohongi Ninu. Dia hanya ingin membuktikan bahwa hatinya memang hanya untuk istrinya semata.


Dia ingin tahu reaksi dirinya sendiri ketika nanti bertemu Tyara. Apakah getar cinta itu masih ada? Apakah dia masih mengharapkan wanita itu untuk menjadi pendampingnya? Apakah cintanya pada Ninu akan serta merta hilang ketika dia bertemu dengan Tyara nanti?


Dia hanya sedang mencoba mengukuhkan pada siapa cinta ini bersemayam.



Hari sudah sore ketika dia tiba di bandara. Karena tadi pagi ada pekerjaan yang harus diselesaikannya, dia baru bisa berangkat ke Batam setelah sholat Ashar.


Haris segera menuju hotel yang telah di bookingkan oleh Budi untuknya. Rencananya besok baru akan mencari alamat Tyara.


Beristirahat sejenak sambil berbaring di atas tempat tidur, segera dia meraih gawainya. Baru saja beberapa saat meninggalkan Ninu hatinya sudah didera rasa rindu. Ini seperti sebuah perjalanan jauh dan panjang.


“Assalamualaikum bang,” terdengar suara yang dirindukannya di seberang telepon.


“Waalaikumsalam sayang, abang sudah sampai hotel.”


“Alhamdulillah… lagi ngapain sekarang?”


“Lagi tiduran sambil ngebayangin sayang.”


“Ngebayangin apaan sih?” terdengar suara istrinya manja.

__ADS_1


Haris tersenyum, rindunya terobati walau hanya dengan mendengar suara.


“Sayang lagi ngapain? Kangen gak sama abang?”


“Baru selesai mandi bang, sebentar lagi kan Maghrib” jawab Ninu, “Kangen bang, kangeeeen bangeet” Ninu tertawa.


“Ih… malah bercanda, beneran kangen gak?”


“Baru juga dua jam”


“Entahlah, bagi abang ini kayak sudah lama”


“Manja”


“Gak boleh manja sama istri sendiri?”


“Ih.. abang kayak perempuan, suka merajuk.”


“Biarin. Pokoknya nanti kalau abang pulang, siap-siap saja ya, dibayar lunas.”


“Apaan sih abang, kayak hutang aja,” Ninu terkekeh.


Mereka bertelepon cukup lama hingga Adzan Maghrib menghentikannya.



Setelah sarapan Haris bersiap-siap berangkat menuju alamat Tyara. Mobil pribadi yang disewanya sudah menunggu di depan hotel.


Lebih dari satu jam perjalanan, akhirnya mobil berhenti di depan sebuah mini market.. Haris harus berjalan ke dalam perkampungan itu karena mobil tidak bisa masuk, begitu kata si supir tadi.


Mencoba bertanya ke beberapa orang yang ditemuinya, akhirnya Haris tiba di depan sebuah rumah. Rumah yang agak terpisah dari rumah-rumah yang lain.


Di sinikah Tyara tinggal? Hatinya tidak percaya.


Sebuah rumah sederhana, bahkan terlalu sederhana. Bercat putih using dengan warna hijau pada jendela dan pintunya, bahkan salah satu kaca jendelanya retak. Haris menaksir mungkin rumah itu hanya berukuran 7 m x 10 m saja.


Ragu-ragu Haris melangkah mendekat, lalu mengetuk pintu perlahan.


Tok tok tok…


Tidak ada jawaban.


Tok tok tok…


Diulanginya lagi.


“Cari siapa pak?” tanya seseorang di belakangnya.

__ADS_1


Sedikit kaget Haris membalikkan badannya, “Maaf mau tanya, ini benar rumahnya bu Suti?”


“Betul. Coba saja diketuk lagi, mungkin masih tidur” ucap pria setengah baya yang tadi menyapa Haris.


Ini sudah jam 9 dan orangnya masih tidur? Pikir Haris.


“Anaknya kan sakit jadi dia suka begadang” pria itu seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Haris, “Coba saya yang panggil” dia mendekat lalu mengetuk pintu dengan cukup keras sambil memanggil nama yang empunya rumah.


“Bu… bu Suti.. ini ada tamu!”


Tak lama berselang, pintu terbuka, seorang wanita tua berdiri dengan penampilan acak-acakkan, sepertinya dia memang baru bangun tidur.


“Siapa?” tanyanya sambil memicingkan mata karena silau.


“Nah, ini orangnya sudah bangun, silakan nak” ucap pria itu tidak memperdulikan pertanyaan bu Suti.


“Terima kasih pak” jawab Haris mengangguk.


“Siapa ya?” tanya bu Suti lagi setelah pria itu berlalu.


“Saya Haris bu, saya temannya Tyara” jawab Haris, “Apa Tyaranya ada?”


Bu Suti menatapnya cukup lama, seperti curiga.


“Sekarang Tyara sedang sakit. Dia sudah lama tidak melakukan itu. Sudah berhenti” ucapnya lagi.


Berhenti melakukan apa? Haris bertanya-tanya dalam hati.


“Maaf bu, apa boleh saya bertemu dengannya sebentar?”


Bu Suti kembali menatapnya tajam.


“Saya teman Tyara waktu SMA dulu, kebetulan sekarang sedang ada pekerjaan di sini, jadi saya mampir” jelas Haris.


Akhirnya bu Suti mengijinkan Haris masuk dan mempersilakannya duduk di ruang tamu.


Haris mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan yang tidak terlalu besar. Sungguh berantakan. Pakaian numpuk di atas kursi, entah bersih atau kotor. Di atas meja ada beberapa gelas bekas, asbak yang penuh dengan abu, Sebagian abunya mengotori permukaan meja.


Rumah ini, selain kecil dan kotor, juga pengap. Baunya tidak enak. Mungkin penghuninya jorok.


Bu Suti kembali ke ruang tamu sambil membawa gelas berisi air. Penampilannya sekarang lebih baik, mungkin tadi dia mencuci muka dan menyisir rambut yang sebagian besarnya sudah berwarna putih.


“Silakan diminum” ucapnya, lalu duduk di hadapan Haris.


“Tahu dari mana Tyara tinggal di sini?” tanyanya tanpa basa-basi. Pandangannya tidak menyiratkan keramahan sama sekali.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Author gak bisa merangkai kata untuk Haris. Silakan readers saja yang membuatnya di kolom komentar.


Terima kasih untuk pembaca setia. Semoga sehat selalu dan banyak rejekinya, aamiin...


__ADS_2