
Hari ini Ninu sedang libur kursus, jadi dia berniat akan membuat brownies keju dan pudding strawberry untuk suaminya. Rencananya Haris akan pulang nanti sore dari Batam, maka setelah makan siang dia berencana untuk membuatnya.
Setelah sholat dhuhur Ninu bergegas turun dari kamar menuju dapur. Dia masuk ke ruang penyimpanan untuk mengambil bahan-bahan yang diperlukan.
Ruang penyimpanan adalah ruang kecil berupa ceruk untuk menyimpan beberapa bahan dan alat memasak.
Tepat setelah Ninu masuk ke ruang penyimpanan, tiga orang pelayan masuk ke dapur. Terdengar mereka mengobrol sambil berbisik.
“Kasian ya nona,” seseorang dengan suara cempreng.
“Kasian kenapa?” tanya seorang lainnya yang bersuara lebih berat.
“Tuan kan ke Batam untuk menemui kekasihnya,” jawab si cempreng.
Deg! Jantung Ninu tercekat mendengarnya.
Walaupun berbisik, obrolan mereka jelas terdengar.
“Eh kamu kalau ngomong jangan sembarangan!”
“Kamu tidak tahu ya kenapa tuan selama ini belum menikah? Itu karena tuan hanya menginginkan nona Tyara, dan selama bertahun-tahun tuan mencarinya. Nah sekarang ketemu, ternyata nona Tyara ada di Batam. Makanya tuan pergi ke sana untuk menemuinya.”
“Masa sih? Kamu tahu dari mana?”
“Aku kan dengar waktu tuan menyewa orang untuk mencari nona Tyara.”
Ninu segera keluar dari ruang penyimpanan, telinganya sudah tidak kuat lagi untuk mendengarkan, dia berlari menuju kamarnya. Hatinya sakit.
Sementara obrolan di dapur masih berlanjut.
“Tapi aku yakin tuan sangat mencintai non Ninu, lihat saja sikapnya yang sangat mesra.”
“Hei, kalian jangan sembarang ngomong, aku dengar sendiri waktu tuan Haris dan tuan Budi bicara. Tuan Haris hanya mencintai nona dan akan menyatakan cintanya pada saat bulan madu nanti,” suara seorang pelayan yang sedari tadi diam menghela obrolan mereka.
⚘
Setiba di kamar Ninu menjatuhkan diri di atas tempat tidur.
Benarkah apa yang dia dengar itu? Haris pergi ke Batam untuk menemui Tyara?
Ninu meraih tasnya, mengambil foto yang seminggu lalu dia temukan di laci meja kerja Haris. Ditatapnya foto itu.
Inikah Tyara, wanita yang sekarang sedang ditemui oleh bang Haris?
Dia membalikkan foto itu, one day I will find you. Dan dia telah menemukannya sekarang.
Aku harus menanyakannya pada mas Budi tentang kebenaran obrolan para pelayan itu, tapi bagaimana caranya? Kalau aku bertanya siapa Tyara mungkin mas Budi tidak akan memberitahukannya.
Ninu berpikir sejenak hingga akhirnya dia menemukan trik agar Budi menjawab pertanyaannya dengan jujur.
Ninu melangkah menuju ruang kerja dimana saat itu Budi berada.
Pintu ruang kerja terbuka sehingga Ninu tidak perlu mengetuknya. Dia melihat Budi yang sedang bertelepon membelakangi pintu.
“Kenapa bang? Abang belum menemukan Tyara?” tanya Budi heran.
“Maksud abang gimana? Abang mau menikah dengan dia?”
__ADS_1
“Wah… wah… hebat sekali abang ini! Pengorbanan yang luar biasa,” Budi terkekeh.
Bisakah kalian bayangkan apa yang dirasakan Ninu saat ini?
Darahnya berdesir, kesedihan luar biasa menguar dari dalam jiwa meremangkan pori-pori membawa hawa panas ke matanya. hatinya ngilu seperti tertusuk sembilu.
Tidak perlu lagi bertanya. Semuanya sudah jelas, sangat jelas!
Sebelum Budi menyadari kehadirannya, Ninu segera berbalik kembali ke kamarnya.
Menangis sejadi-jadinya. Ya, sejadi-jadinya.
Cinta yang tumbuh indah ini telah menghancurkan jiwanya. Patah hati, sedih, kecewa, bersatu merubuhkan keyakinan pada yang namanya kekuatan cinta.
Waktu untukku di sini telah berakhir.
Seperti kata bang Haris dulu, ketika aku menemukan cinta sejatiku maka kamu bebas. Kamu bisa kembali ke kehidupanmu. Dan inilah saatnya.
Seharusnya aku sudah mempersiapkan diri menghadapi kejadian ini, tapi bodohnya aku malah terlena dalam sikap dan ucapannya. Seharusnya aku sadar diri, tidak mungkin dia mencintaiku. Memangnya siapa aku ini? Hanya seorang wanita miskin dan bodoh.
Dan tololnya aku, aku menyerahkan diri sepenuh hati padanya. Bersungguh-sungguh berperan sebagai seorang istri. Heh… padahal dia hanya bersandiwara. Kenapa aku tertipu? Kenapa aku terlena? Ya Allah…pedih sekali.
Ninu terus meratapi kebodohannya.
Baiklah, aku akan pergi dari sini sebelum dia kembali. Aku tidak akan sanggup mengucapkan kata berpisah padanya. Bagaimanapun aku telah mencintainya, dan aku tidak yakin bisa menghapus rasa cinta ini.
Aku juga tidak akan mampu mengucapkan kata selamat padanya karena telah menemukan cinta sejati. Bahkan aku tidak akan sanggup melihatnya menggandeng wanita lain, karena sudah tentu dia akan membawa Tyara kemari.
Dengan berurai air mata Ninu bangkit, melangkah menuju lemari. Dikemasinya beberapa pakaian ke dalam koper kecil. Dia juga memasukkan dokumen-dokumen pribadinya. Dia tidak akan membawa banyak barang. Tidak perlu!.
Sudut matanya melihat foto Tyara di atas tempat tidur. Diraihnya dan dipandangi. Ninu mengambil kertas lalu mulai menulis.
Maafkan saya pergi tanpa berpamitan. Saya ucapkan selamat, pada akhirnya abang bisa menemukan cinta sejati abang. Saya berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai abang dan Tyara.
Maafkan jika selama ini saya melakukan kesalahan dan banyak merepotkan abang sekeluarga.
Tolong sampaikan salam saya untuk mama dan papa.
Ninu meletakkan surat itu di atas meja dan foto Tyara di atasnya. Dia juga meletakkan cincin pernikahan dan satu set perhiasan yang Haris belikan untuknya beberapa minggu yang lalu, kemudian dia mengambil gawainya untuk menelepon seseorang.
“Halo pak Eko, bisa tolong jemput aku di pool?”
“Baik non. Kapan?” tanya pak Eko di rumah besar.
“Sekarang pak.”
“Baik non, saya otw sekarang.”
Ninu memutus teleponnya. Duduk di atas sofa sambil mengatur nafasnya yang berat. Ya, ternyata seperti ini akhir dari pernikahan semunya dengan Haris, sangat menyakitkan.
Aku harus kemana? Pikirnya.
⚘
Tok tok tok…
“Masuk!”
__ADS_1
“Non, ada pak Eko di depan.”
“Tolong bawakan koper ini bi, masukkan ke dalam mobil ya!”
“Baik non.”
“Bi, mas Budi dimana?”
“Tuan Budi tadi keluar non pake mobil, tapi tidak tahu kemana.”
Ninu menganggukkan kepalanya.
“Nona mau kemana bawa koper?”
“Aku mau ke tempat kursus, ada ujian.”
“Oh iya non,” pelayan itu berlalu sambil membawa koper Ninu.
Pasti peralatan praktek yang ada di dalam koper ini, pikir si pelayan.
Sejenak Ninu mengedarkan pandangannya menyusuri ruang kamar.
Banyak kenangan manis di sini yang dilaluinya bersama Haris. Bagaimana dia memasrahkan jiwa dan raganya di atas tempat tidur itu, di sofa itu, bahkan bercanda dan tertawa berguling-guling di atas lantai.
Ternyata semua keindahan itu semu, tidak nyata. Ninu kembali mengusap matanya yang basah.
Dia pergi meninggalkan rumah pool menuju tempat kursusnya.
⚘
“Terima kasih ya pak Eko sudah mengantar,” ucap Ninu setelah turun dari mobil.
“Iya non sama-sama. Mau saya tunggu?”
“Tidak usah, nanti aku pulang sendiri.”
“Nona nanti dijemput tuan Haris kan?”
Ninu mengangguk sambil tersenyum, supaya pak Eko tidak banyak bertanya.
Setelah pak Eko pergi, Ninu segera mengeluarkan gawainya. Memesan taksi online.
Yang harus aku lakukan sekarang adalah mencari tempat tinggal sementara untuk beberapa hari ke depan sampai aku menemukan kosan dan pekerjaan.
Ninu menghela nafas, mencoba membuang kesedihannya, dan mencoba menghadapi hidup baru yang terbentang di hadapannya.
Mungkin ini berat tapi dia harus mampu. Nanti ketika hatinya lebih tenang dia akan mengurus perceraiannya dengan Haris.
⚘⚘⚘⚘
Ya Allah, author sedih banget sumpah sampai berurai air mata nulis episode ini 😭😭😭😭
Keep fighting ya Ninu.
Kamu harus yakin pada kekuatan cinta.
Cinta tidak akan menipumu.
__ADS_1
⚘⚘⚘⚘