
“Selamat pagi pak Otang, sedang apa?” sapa Ninu yang baru saja masuk ke dapur ketika dia melihat kepala pelayan itu sedang menyiangi beberapa macam sayuran dan ikan.
“Nona, selamat pagi. Saya sedang menyiapkan bahan masakan untuk makan siang” jawab pak Otang sambil mengangguk hormat.
Ninu duduk di kursi dekat bar, “Disini ada berapa orang yang kerja pak?”
“Tadinya ada lima nona, tapi karena sekarang ada Tanti jadi semuanya enam orang ditambah pak Eko yang sekarang menjadi supir anda jadi ada tujuh non”
Ninu mengangguk-anggukkan kepalanya. Banyak juga ya, untuk apa Haris menggaji para pekerja ini sementara dia sendiri jarang pulang ke rumah, pikirnya.
“Apa saja tugas mereka pak?” Ninu penasaran.
Pak Otang menghentikan aktivitasnya dan membalikkan badannya menghadap Ninu, “Dua orang tugasnya membersihkan rumah bagian dalam nona seperti menyapu, mengepel, mencuci. Kebersihan rumah menjadi tanggung jawab mereka. Dua orang lainnya bertanggung jawab atas kebersihan lingkungan luar rumah nona, seperti taman dan halaman sekaligus sebagai penjaga. Saya sendiri bertugas di dapur, menyiapkan makanan juga sebagai kepala pelayan. Sekarang saya ditemani Tanti.”
“Apa tuan Haris memang jarang pulang ya?” tanya Ninu kembali, karena ini hari ketiganya di rumah besar dan tak sekalipun Haris pulang selain hari pertama pernikahan mereka.
“Benar nona, tuan Haris lebih betah tinggal di pool.”
Ninu terdiam. Haris buang-buang uang, pikirnya
“Kapan biasanya tuan pulang pak?”
“Tidak tentu nona, seinginnya beliau saja.”
Begitu rupanya, huh…orang kaya mah bebas.
“Nona ingin dimasakkan apa hari ini?”
“Apa saja pak, masakan pak Otang enak-enak kok” Ninu tersenyum, dia beranjak hendak keluar.
⚘
Ninu duduk di gazebo di taman di halaman belakang rumah besar, menatap beberapa ikan yang sedang berenang ke sana kemari. Dia merasa terasing.
Bagaimana aku tiba-tiba bisa berada di sini ya, sungguh jalan hidup manusia tidak ada yang tahu. Aku yang miskin, hidup di rumah sederhana, jadi buruh cuci, membuat bata, pelayan toko sepatu, sekarang aku berada di rumah yang mewah dengan banyak pembantu, dilayani dan dihormati. Hehe…sungguh skenario Tuhan tak pernah terduga. Coba kalau tuan Haris adalah suamiku yang benar-benar suami tentu hidupku akan lebih bahagia.
Tapi sayangnya ini hanya pura-pura. Aku tidak akan lama di sini. Suatu saat pasti aku harus pergi dari sini. Kalau itu terjadi apa yang akan aku lakukan?
Ninu terus merenung.
“Selamat pagi nona, maaf saya mau menyapu,” sapa seorang pria paruh baya sambil membawa sapu lidi.
“Oh ya, silakan pak,” Ninu tersadar dari lamunannya.
Srettt…sreettt…. Pria itu menyapu dengan perlahan mungkin khawatir kalau Ninu akan terganggu. Sambil tertunduk dia mengambil sampah daun-daun yang sudah disapunya.
“Bapak siapa namanya?” tanya Ninu.
__ADS_1
“Saya Tarmo, nona” jawab pria itu sopan.
Ninu mengajaknya berbincang sebentar sebelum akhirnya Ninu masuk kembali ke dalam rumah. Dia ingin melanjutkan perenungannya.
Kembali berada di dalam kamar, Ninu duduk di atas sofa sambil menatap tv yang menyala.
Derrtt….drrttt…
Gawainya bergetar mengalunkan lagu pura-pura lupa dari Mahen.
“Hallo, assalamualaikum ma,” sapa Ninu setelah menggeser tombol hijau di atasnya.
“Waalaikumsalam sayang, apa kabarmu nak?” suara Diandra di seberang sana.
“Alhamdulillah ma kabar baik. Mama sama papa bagaimana kabarnya?”
“Alhamdulillah kami juga baik-baik di sini. Bagaimana nih kabarnya pengantin baru?” suara menggoda Diandra membuat hati Ninu kecut.
“Waah…kamu malu-malu ya. Sama mama sendiri gak usah malu-malu gitu,” terdengar tawa kecil Diandra.
Ninu masih diam saja.
“Ya sudah kalau tidak mau cerita. Bagaimana kabarnya Haris? Dia gak aneh-aneh kan sama kamu nak?”
“Aneh-aneh bagaimana maksud mama?” akhirnya suara Ninu terdengar kembali.
“Haha…kamu ini lucu Nin, tadi mama tanya tentang pengantin baru diam saja sekarang ditanya tentang Haris langsung jawab” kembali tawa renyah Diandra terdengar sepertinya dia bahagia sekali.
“Eh…kenapa minta maaf, gak apa-apa kok, mama ngerti kalau kamu risih membicarakan malam pertamamu hehe..”
“Oh ya, bagaimana hari-harimu dengan Haris? Semua lancar kan sayang? Dia gak galak sama kamu kan?” pertanyaan yang bertubi-tubi dan membingungkan Ninu untuk menjawabnya.
Bagaimana sikap Haris padanya, mana Ninu tahu, kan Haris belum pernah pulang.
“Baik ma, alhamdulillah bang Haris baik sama Ninu,” yang Ninu bayangkan adalah kebaikan Haris yang telah mentransfer uang padanya dengan jumlah yang besar bahkan sangat besar menurut Ninu. Ya, Ninu kaget ketika melihat saldo di rekeningnya bertambah hampir 10 kali lipat gaji yang biasa dia terima dari toko Sandra dulu.
“Syukurlah kalau begitu. Sekarang dia dimana? Pasti di pool ya?”
“Iya ma, bang Haris sedang di pool.”
“Sayang, coba bicarakan dengan Haris apa kalian gak mau pergi bulan madu gitu? Mama yakin uangnya banyak, kalau hanya ke Singapore atau Hongkong bukan hal yang sulit untuknya.”
Ninu tercekat, hah bulan madu? Bulan madu ke Hongkong? Kok kayak bercandaan jaman sekarang ya hehe…
“Ninu di sini saja ma gak usah bulan madu” jawab Ninu setelah bisa menguasai hatinya kembali.
“Rugi dong nak kamu punya suami kaya tapi gak pergi bulan madu. Nikmati kekayaan suamimu haha…. sudah nanti mama yang bicara ke Haris, kamu nurut aja ya.”
__ADS_1
“Iya ma,” jawaban yang paling mudah dan cepat.
“Baiklah, mama sudahi dulu ya teleponnya, assalamualaikum sayang.”
“Iya ma, waalaikumsalam. Oh ya ma, salam buat papa.”
“Iya nanti mama sampaikan.”
Klik telepon ditutup.
Ninu menghela nafas.
Bulan madu? Apa lagi ini? Sudah agak tenang hatinya tiba-tiba datang lagi masalah baru, huh…mama selalu saja membuat aku cemas.
⚘
Derrtt….drrttt…
Haris melihat gawainya yang berdering, mama, gumamnya.
“Halo ma” sapanya.
“Haris bagaimana kabarmu nak?”
“Kabar baik ma, mama dan papa gimana?”
“Alhamdulillah kami baik-baik saja. Oh ya, barusan mama telepon Ninu.”
Deg!
Kira-kira apa yang dikatakan gadis itu pada mamanya. Dia sadar sudah tiga hari ini dia tidak pulang ke rumah, bukan semata karena pekerjaan tapi karena enggan saja harus bertemu dengan Ninu.
“Kamu jangan terlalu sibuk mengurus kerjaan Ris, kalian kan masih pengantin baru coba rencanakan untuk bulan madu,” ucapan mama membuat Haris menarik nafas lega. Gadis itu tidak mengadu yang aneh-aneh rupanya.
“Haris lagi sibuk ma lagi ngurusi trayek baru” jawabnya.
“Heh…pekerjaan itu gak akan ada habisnya, tapi keharmonisan rumah tangga kalau gak dipelihara akan susut sedikit demi sedikit. Pergilah bulan madu agar cinta kalian lebih kokoh. Bukankah kamu ingin mengenalnya lebih jauh? Ini waktunya.”
Haris diam.
“Haris? Haris? Kamu dengar mama tidak?”
“Iya ma Haris dengar”
“Bagus! Dan satu lagi, sekarang kamu sudah punya istri yang menunggumu di rumah, usahakan pulang tepat waktu. Kasian kalau dia sampai lelah menunggumu.”
“Iya ma.”
__ADS_1
⚘⚘⚘⚘
Hai semuanya, selamat membaca semoga terhibur 😍😍😍😍😍