TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
IDE GILA


__ADS_3

“Ris, mama ingin sekali segera melihatmu menikah. Tinggal kamu satu-satunya anak kami yang belum nikah. Usiamu sudah cukup untuk berumah tangga”


Sekarang mereka sedang duduk di ruang makan. Sambil menunggu pelayan menyajikan makanan Diandra mengajak berbincang anaknya.


“kakakmu Hesti sudah memberi kami 2 orang cucu, bahkan adikmu sekarang sedang mengandung” lanjut Diandra.


Kalimat Diandra ini yang selalu Haris hindari. Enggan rasanya setiap kali ditanya hal yang sama. Dia bukan tidak ingin menikah tapi dia belum menemukan wanita yang cocok di hatinya.


“Perempuan seperti apa sih yang kamu cari Ris?” timpal Hendrawan, “Kami tidak butuh wanita karir yang bisa berbisnis sebagai menantu. Kami hanya ingin menantu yang baik yang bisa mengurusmu dan mengurus anak-anakmu nanti” lanjutnya.


Haris masih diam saja.


“Kami sudah semakin tua Ris. Kamu anak laki-laki satu-satunya. Siapa yang akan menggantikan papa nanti kalau bukan kamu”


“Pa, kalau Tuhan sudah menghendaki nanti Haris juga pasti akan menikah” jawab Hari, “Mungkin sekarang belum waktunya”


“Jadi kapan? Nunggu kamu jadi kakek-kakek gitu?” sepertinya Diandra agak kesal mendengar jawaban Haris.


“Sudah kalau begitu, biar mama saja yang mencarikan istri untukmu”


“Tapi ma….”


“Gak ada tapi-tapian. Kamu harus nurut. Gak ada waktu lagi”


“Kamu tahu Ris, sekarang mama sudah mulai tua, sudah mulai sakit. Mama mesti nunggu sampai kapan”


“Permisi tuan…” tiba-tiba seorang pelayan datang menghampiri.


“Ada apa?” tanya Hendrawan.


“Di depan ada tamu. Katanya ingin bertemu tuan Haris”


“Siapa?” tanya Haris.


“Namanya Ninu dan Agis”


Sejenak Haris mencoba mengingat-ngingat apa ada relasi bisnisnya atau karyawannya atau kenalannya yang bernama Ninu dan Agis. Rasa-rasanya tidak ada.


“Suruh tunggu di depan. Aku segera ke sana”

__ADS_1


“Baik tuan” pelayan itu keluar.


“Siapa Ris?” tanya Diandra penasaran.


“Entahlah ma, aku juga gak tahu. Aku ke depan dulu ya ma sebentar” pamit Haris bangkit dari duduknya.


Sementara itu, di teras


“Silakan duduk neng. Sebentar lagi tuan Haris akan menemui kalian” kata si pelayan sambil menyuguhkan minuman.


“Terima kasih” jawab Ninu dan Agis hampir bersamaan.


Pandangan mereka disuguhi pemandangan pool yang luas dengan hanya sedikit bus yang masih terparkir. Sepertinya sebagian besar bus sedang jalan sesuai trayeknya masing-masing.


“Ehemmm…”


Ninu dan Agis terperanjat mendengar deheman seseorang, sontak berdiri lalu menganggukkan kepalanya begitu melihat seorang pria muda berdiri di depan mereka.


“Silakan duduk” tunjuk Haris ke kursi, mempersilakan tamunya untuk duduk. Ninu dan Agis menurut. Mata Ninu mencuri-curi pandang menatap Haris.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Haris.


“Kami kemari ingin bertemu dengan anda, kami ingin menyampaikan ucapan terima kasih” sambung Agis.


“Terima kasih untuk apa? apa saya mengenal kalian?”


Ninu dan Agis saling pandang. Ternyata tuan Haris tidak seperti yang ada dalam pikiran mereka. Ini orangnya sepertinya sombong ya, batin mereka.


“Tuan telah membantu teman saya ini ketika dia sakit” jawab Agis.


“Oh ya? Membantu apa? kapan itu?” tanya Haris masih menyelidik.


Dia tidak ingat atau pura-pura lupa. Apa memang seperti ini ya kalau orang kaya.


“Saya karyawannya bu Sandra yang pernah tuan tolong ketika saya masuk rumah sakit” jelas Ninu.


Alis Haris berkerut sejenak sebelum akhirnya dia dapat mengingat kejadian sekitar dua minggu yang lalu ketika dia diminta oleh bu Sandra untuk mengantar salah satu karyawannya yang sakit ke rumah sakit. Dan dia menitipkan pembayaran di kasir untuk biaya perawatan karyawan itu. Beberapa hari kemudian bu Sandra ingin mengganti uang tersebut tetapi dia menolaknya.


“Oh ya, aku ingat! Kamu karyawan bu Sandra yang sakau itu ya?” tukasnya tanpa basa basi dengan mata yang memandang tajam pada Ninu.

__ADS_1


Ninu tertunduk malu. Bisa-bisanya dia mempermalukannya dengan mengatakan itu.


“Betul tuan. Maafkan saya telah merepotkan anda” suaranya tercekat di tenggorokan, sedangkan Agis hatinya merasa geram, tidak seharusnya Haris berkata seperti itu.


“Baiklah, kalau niat kalian datang kemari untuk mengucapkan terima kasih, aku terima” ucap Haris sambil menegakkan badannya siap untuk berdiri, “Tapi aku sedang ada tamu jadi tidak bisa berlama-lama” matanya masih memandang Ninu.


Ninu dan Agis serentak berdiri. Mereka paham apa maksud Haris. Dia mengusir mereka secara halus.


“Tuan Haris mohon maafkan kami telah mengganggu waktu anda. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih atas bantuan anda. Semoga Allah membalas kebaikan anda berlipat ganda” suara Agis tegas, sepertinya dia agak kesal dengan sikap Haris yang sombong.


“Tuan, seandainya ada yang dapat saya lakukan untuk membalas kebaikan tuan” ucap Ninu.


“Ah… tidak ada” jawab Haris, “Ini saja sudah cukup. Baiklah nona-nona, selamat siang” dia melangkahkan kakinya hendak masuk kembali ke dalam rumah.


Ninu dan Agis menganggukkan kepalanya memberi salam lalu mereka bergegas meninggalkan teras rumah Haris.


“Tunggu!” suara Haris yang mendadak menghentikan langkah Ninu dan Agis. Mereka serentak memutar kepalanya dan membalikkan badannya. Tiba-tiba saja sebuah ide muncul di kepala Haris.


“Ya tuan?”


“Aku terima tawaranmu untuk membalas kebaikan yang telah aku berikan. Orangku akan datang padamu, kau tunggu saja”


Ninu terdiam sejenak. Bayaran apa yang akan diminta oleh Haris, sementara dia tidak punya sesuatu yang berharga yang dapat diberikan sebagai balasan atas kebaikan Haris.


“Tuan…”


“Ah..sudahlah. aku tidak akan memintamu membayar dengan uang. Kau pasti tidak punya, kan? Aku akan meminta yang lain. Tunggu saja” Haris membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah, sementara Ninu dan Agis hanya berdiri dan saling pandang. Apa yang laki-laki itu inginkan?


Sedangkan Haris melangkah masuk ke dalam rumah dengan senyuman tersungging di bibirnya. Dia punya ide yang mungkin bisa disebut ide gila untuk menghentikan pertanyaan berulang dari mama dan papanya.


“Siapa tamunya Ris?’ tanya Diandra begitu melihat anaknya masuk ke ruang makan.


“Bukan siapa-siapa ma, hanya orang yang pernah Haris tolong. Dia ingin mengucapkan terima kasih” jawab Haris.


“Oh..syukurlah kalau kamu suka membantu orang lain. Mama senang mendengarnya”


“Ayo kita makan, papa sudah lapar nih” ucap Hendrawan.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Ditunggu like, komen dan vote nya 🙏🙏🙏🙏


__ADS_2