TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
TENTU SAJA BOSAN


__ADS_3

Sudah hampir satu minggu ini Haris tidak pulang ke rumah. Ninu kembali mengisi hari-harinya dengan belajar memasak bersama Tanti. Sekarang dia sudah pandai membuat beberapa jenis kue jajan pasar.


Kalau Ninu sedang mempraktekkan masakannya dia akan membuat cukup banyak dan dibagikan pada para pelayan di rumah itu. Terkadang pada sore hari mereka makan bersama di gazebo sambil bercengkrama penuh keakraban. Itu sedikit mengobati kebosanan Ninu.



“Nona” suara pak Otang memecahkan lamunan Ninu yang sedang duduk di halaman belakang.


“Ya, ada apa pak?”


“Ada tuan Budi di depan ingin bertemu anda”


“Oh ya, aku segera ke sana” Ninu berdiri merapikan rok dan rambutnya lalu melangkah menuju ruang tamu.


Dia tersenyum ketika melihat Budi


“Assalamualaikum mas” sapanya ramah.


“Waalaikumsalam kak Ninu. Maaf menganggu waktunya” Budi mengulurkan tangannya menyalami Ninu, “Bagaimana kabarnya kak? Sehat?”


“Gak menganggu sama sekali, alhamdulillah kabar baik. Ayo duduk mas”


Mereka duduk berhadapan. Tak lama kemudian Tanti datang membawakan minuman, “Silakan diminum tuan”


Budi mengangguk.


“Bagaimana kak betah di sini?” tanya Budi menatapnya.


Ninu bingung harus jawab apa, “Ya, begitulah” kalimat itu menunjukkan kebingungannya, “Ngomong-ngomong ada apa mas Budi kemari? Bang Haris kan tidak ada di rumah” tanya Ninu mengalihkan pembicaraan.


“Saya tidak ada keperluan sama dia kak, saya kemari mau bertemu dengan kakak” jawab Budi sambil meraih gelas minuman yang ada di atas meja dan meneguknya.


“Oh ya? Ada apa ingin bertemu dengan aku?” Ninu heran.


“Ah tidak ada apa-apa kak, kebetulan lewat tadi jadi mampir dulu” jawabnya, “Apa kakak tidak bosan di rumah terus?” tanyanya serius sambil mengedarkan pandangannya menyusuri ruangan.


Ninu menghela nafas, tentu saja dia bosan, dia ibarat burung dalam sangkar.


“Tentu saja bosan mas” keluhnya, “Tapi aku tidak tahu harus bagaimana”

__ADS_1


“Kakak kan bisa pergi jalan-jalan atau berkunjung ke rumah saudara kakak itu, siapa namanya Agis ya?, kan ada pak Eko yang bisa mengantar kemana kakak pergi. Kakak juga bisa minta Tanti untuk menemani. Yang penting kakak harus ijin dulu sama bang Haris”


Mata Ninu menerawang. Terlihat jelas kalau dia sangat tertekan dengan keadaannya saat ini, itu yang sulit, minta ijin, batin Ninu.


“Kalau kakak mau aku juga punya beberapa referensi tempat kursus” ucap Budi sambil menyodorkan beberapa kertas berwarna yang diambilnya dari dalam tas.


Ninu menerimanya kemudian mengamati satu persatu kertas itu, ada kursus menjahit, kursus kecantikan, kursus memasak, kursus komputer dan kursus Bahasa.


Benar-benar lengkap, apa dia sengaja mengumpulkan ya?


“Waah…mas Budi punya banyak begini dari mana?” tanya Ninu dengan mata membulat memandangi kertas-kertas itu yang ternyata adalah brosur kursus.


“Kebetulan aku punya beberapa orang teman yang punya tempat kursus kak, dan yang aku bawa ini yang terbaik” jawab Budi.


“Tapi aku khawatir bang Haris tidak mengijinkan” ucapnya khawatir.


“Kakak kan belum mencobanya. Dicoba dulu saja kak” saran Budi.


Derrttt…HP Budi bergetar.


Segera dia menerima panggilan.


“Oh ya kak, aku gak bisa lama-lama” ucap Budi setelah menyelesaikan obrolannya di telepon, dia menghabiskan minumannya lalu berdiri, "Kakak gak usah takut bicara sama bang Haris. Dia pasti mengijinkan”



Ninu tengkurap di atas tempat tidur sambil melihat-lihat kertas yang diberikan Budi tadi, dia sangat tertarik.


Kira-kira kursus apa ya yang cocok untukku, batinnya,


Kursus memasak kayaknya gak usahlah kan sudah ada Tanti. Kursus Bahasa aku tidak tertarik. Eh…ini kursus kecantikan rambut dan wajah kayaknya bagus deh.


Kalau Haris tidak mau membayar biaya kursus dia berencana akan menggunakan uang bulanan yang diberikan Haris padanya, toh uang itu cukup besar jadi tidak akan mengurangi jatah untuk Ima.


Dia membaca setiap kata yang tertera di atas brosur itu. Ini bisa jadi bekalku kelak kalau sudah tidak bersama Haris lagi. Aku bisa buka salon, mungkin rias pengantin atau semacam wedding organizer. Ninu teringat kembali pada pernikahannya dengan Haris, betapa mahalnya Haris membayar penata riasnya waktu itu. Nanti aku akan jadikan para pelayan sebagai model riasanku, dia tersenyum sendiri. Mas Budi memang baik, pikirnya.


Kalau tuan Haris mengijinkan aku juga ingin melanjutkan pendidikan. Aku ingin kuliah. Sepertinya hari-hariku akan penuh warna kembali kalau aku bisa kursus dan kuliah, hah…senangnya.


Ninu membalikkan tubuhnya menjadi telentang dengan tangan terbuka, dia tersenyum menatap langit-langit kamarnya. Aku harus bersikap baik pada tuan Haris agar dia menuruti keinginanku.

__ADS_1


Suara mobil terdengar memasuki halaman rumahnya. Ninu beranjak mendekati jendela kamar, mengintip siapa yang datang.


Dia pulang rupanya, segera Ninu merapikan pakaiannya lalu menyisir rambutnya. Dia akan menyambut Haris. Itu yang diperintahkan mama melalui teleponnya beberapa hari yang lalu untuk selalu menyambut kedatangan suami.


Ninu bergegas turun menuju pintu depan, “Assalamualaikum bang” sapanya, lalu meraih tangan Haris dan menciumnya.


Haris tersentak, apa-apaan dia? Batinnya, pasti mama yang menyuruhnya.


“Waalaikumsalam” jawabnya singkat dan segera masuk ke dalam rumah tanpa menghiraukan Ninu yang melongo.


Hei.. dia tidak ada sopan-sopannya ya, aku sudah berusaha baik eh dia nyelonong aja, menyebalkan sekali, mata Ninu mengikuti langkah Haris dengan tatapan kesal.



Ninu duduk di atas sofa menunggu Haris keluar dari kamar mandi. Dia sudah menyiapkan baju untuknya, kaos dan celana pendek selutut.


Sementara di kamar mandi Haris sedang menenangkan jantungnya yang berdebar karena tadi Ninu mencium tangannya. Untuk pertama kalinya tangannya dicium oleh wanita yang memiliki hubungan spesial dengannya.


Setelah cukup lama akhirnya Haris keluar dari kamar mandi dengan handuk melilit pinggangnya, air masih menetes dari rambutnya yang basah. Ninu menundukkan pandangannya.


“Ini bajunya bang” tangannya menyodorkan baju pada Haris.


“Kamu masak apa hari ini?” tanya Haris sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.


“Saya masak balado limbat, timun acar kuning, ayam crispi sama mendoan bang” sahut Ninu. kebetulan sekali hari ini dia praktek memasak bersama pak Otang.


Ninu tidak tahu kalau sebenarnya Harislah yang menyuruh pak Otang membiarkan Ninu memasak untuk makan malam.


“Sejak kapan timun diacar kuning? Kamu bisa masak gak? Jangan-jangan beracun lagi”


“Itu masakan khas daerah saya bang”


“Hmm…paling juga masakan kampung, pasti gak enak” Haris mendengus membuat Ninu kesal.


“Rasanya enak kok bang, nanti abang coba saja”


“Sudah keluar sana, aku mau istirahat sebentar” Haris duduk di sofa lalu menyalakan televisi.


Ninu beranjak pergi dengan hati sedih. Dia selalu merasa direndahkan dengan kata-kata dan sikap Haris, padahal dia sudah berusaha melakukan yang terbaik sesuai dengan apa yang dikatakan mama padanya, tapi Haris selalu bersikap dingin dan selalu mengeluarkan kata-kata yang tidak enak didengar.

__ADS_1


⚘⚘⚘⚘


Tinggalkan jejak like dan komen ya readers, terima kasih banyak 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2