
POV’S NINU
Ketika Haris pergi keluar dari kamar setelah melihat box kue di dalam plastik, Ninu menatapnya sambil menghela nafas dalam. Hatinya sedih. Tak dinyana kalau rencananya ini akan berujung petaka seperti ini. Salahku sendiri tidak mau diantar pak Eko masuk tadi. Aku tidak tahu kalau bang Haris dan mas Budi sedang keluar.
Tapi tunggu dulu!
Ninu kembali teringat peristiwa yang baru saja menimpanya. Dia teringat pada semua kata-kata dan sikap Haris padanya.
“Sayang kamu kenapa?!” sangat jelas wajah khawatirnya ketika dia berjongkok di depanku yang masih terduduk di tanah sambil meringis, tangannya meraih tubuhku lalu menggendongku.
Dia memanggilku sayang?
“Apa yang kamu lakukan pada ISTRIKU?!!” dia berteriak sangat keras sehingga urat-urat di lehernya nampak, matanya merah penuh amarah .
Dia menyebut aku istrinya dengan lantang.
“Kakinya sakit?” dia juga berkata dengan lembut.
“Aku urut ya. mungkin agak sakit. Tahan ya,” dia mengoleskan minyak di pergelangan kakiku lalu mengurutnya perlahan, penuh kelembutan dan kasih sayang. Kasih sayang? Apakah hatiku merasakan itu?
“Minumlah...” dia menyodorkan gelas berisi air minum padaku.
“Kamu lagi ngapain di sini? Kenapa gak ngasih tahu abang kalau mau ke sini? Eko kemana?” tanyanya.
Dia bilang ‘abang’ bukan aku?
Dia juga mengusap pipiku yang basah oleh air mata dengan lembut.
Dia juga memelukku dengan erat seolah dia ikut merasakan kesedihan dan shock yang aku rasakan
Dan aku melihat bara amarah di matanya ketika dia melihat box kue yang aku bawa.
Iya, cake itu memang rusak karena terjatuh tadi.
Dan ketika dia pamit, “Tunggulah di sini, aku keluar sebentar,” aku bisa menduga apa yang akan dilakukannya.
Ya Allah apa ini artinya? Dia sangat peduli dan khawatir padaku. Apakah dia menyayangiku?.
Apakah yang dikatakan mas Budi, Tanti, dan mama benar? Bahwa dia peduli dan menyayangiku?
Apakah firasat yang aku rasakan ini benar? Aku merasakan kasih dan sayangnya. Aku merasakan cintanya akhir-akhir ini. Dan yang ini sangat jelas terlihat.
Ada bunga-bunga yang mekar di sudut hati Ninu. Aku rela mengalami kejadian ini jika itu membuatnya jatuh cinta padaku.
⚘
Haris membaringkan tubuhnya di sisi Ninu. diangkatnya kepala Ninu dan menjadikan tangannya sebagai bantal untuk wanita yang kini ada di hatinya. Dipeluknya perlahan tubuh istrinya itu dengan penuh kelembutan. Wajahnya lekat di kening Ninu. Harispun tertidur.
Ninu membuka matanya perlahan. Dia kaget karena sekarang dia tidur dalam pelukan Haris. Demi Tuhan Ninu tidak ingin melepaskan pelukan ini. Dia menelusupkan wajahnya ke dada bidang Haris. Ada rasa nyaman di sana. Rasanya dia tidak ingin terbangun. Dia ingin selamanya begini. Didengarnya dengkur halus Haris. Ninu tersenyum tipis. Hatinya bahagia.
Dinikmatinya setiap detik yang berlalu dengan perasaan bahagia dan berbunga.
Tapi kenyamanannya tidak bisa berlangsung lama. Dia kebelet ingin pipis. Dengan terpaksa dibangunkannya Haris.
“Bang,” ucapnya pelan.
Haris yang merasa dipanggil namanya terbangun
“Hmm...” gumamnya, matanya menyipit menatap Ninu, “Sudah bangun?” tanyanya sambil melepaskan pelukannya. Pandangan mereka bertemu. Ada rasa kikuk di sana.
__ADS_1
“Iya. Saya mau ke kamar mandi,” ucap Ninu sambil beranjak bangun lalu turun dari tempat tidur. Dia melangkah terpincang karena kaki kanannya yang terkilir tadi masih menyisakan sakit.
Haris yang melihatnya segera bangun dan mendekat, “Masih sakit ya? Sini abang gendong.”
“Gak usah bang, saya bi….ah!” teriak Ninu ketika tubuhnya diangkat oleh Haris. Tangannya segera melingkar di leher Haris karena takut jatuh.
Haris menurunkan Ninu dengan perlahan di kamar mandi, “Kalau sudah panggil abang ya,” ucapnya.
Hati Ninu berdesir mendengarnya, dia tidak mengatakan panggil aku lagi, tapi panggil abang.
Haris kembali mendudukkan Ninu di atas tempat tidur setelah selesai dari kamar mandi. Dia memeriksa pergelangan kaki Ninu yang sedikit membengkak dan pergelangan tangannya yang merah bekas cengkraman si Mamat tadi.
“Nanti abang suruh pelayan bikin parem untuk balur bengkaknya,” ucapnya mengusap-usap kaki Ninu.
“Untuk sementara kamu tidur di sini saja ya, jangan pulang ke rumah besar. Takutnya mama jadi khawatir kalau tahu apa yang terjadi.”
Ninu mengangguk. Dia patuh dan pasrah pada apa yang dikatakan Haris. Dia sedang menikmati dimanjakan oleh lelaki itu.
“Tapi saya tidak bawa baju ganti bang,” tiba-tiba Ninu teringat.
“Sudah diambil tadi sama supir,” kata Haris.
Oh ya, aku lupa kalau Haris selalu memikirkan segala sesuatunya dengan baik, batin Ninu.
Tok tok tok....
Pintu kamar diketuk.
“Masuk!” kata Haris.
“Tuan, ini pakaian nona,” ucap pelayan, “Tuan Budi juga sudah datang dan ada di bawah.”
“Simpan di situ!” tunjuk Haris, “Buatkan parem buat kaki istriku ini ya!”
“Kamu mandi dulu ya, ayo abang gendong.”
“Gak usah bang, saya bisa sendiri,” Ninu mencoba menolak. Dia gak enak kalau harus digendong terus oleh Haris.
“Sstt…jangan membantah. Kakinya kan masih sakit. Kalau dipaksakan buat jalan nanti tambah bengkak.”
Akhirnya Ninu menurut. Haris menunggu sampai Ninu selesai mandi, dan kembali menggendongnya lalu mendudukkannya di depan cermin.
Tak bisa dibohongi, hatinya berdesir ketika menggendong Ninu yang wangi dan hanya mengenakan jubah handuk.
“Abang keluar dulu ya, mau menemui Budi,” ucapnya setelah mengambilkan baju untuk Ninu.
“Iya bang,” jawab Ninu.
Ya ampun…tidakkah ini so sweet banget! Dia minta ijin padaku, sorak Ninu dalam hati.
⚘
Mati-matian Ninu menolak ketika Haris hendak menggendongnya ke ruang makan. Dia malu kalau sampai Budi dan para pelayan melihatnya. Tapi Haris kekeh dengan keinginannya, dan Ninu akhirnya hanya pasrah.
Ibarat bridal style dia digendong turun dari lantai dua menuju ruang makan. Di sana Budi dan dua orang pelayan sudah menunggu. Pandangan mereka tertuju pada pasangan suami istri tersebut. Budi tersenyum, sementara muka Ninu memerah. Dia kikuk. Sedangkan Haris wajahnya datar saja.
“Bagaimana kak keadaannya?” tanya Budi ketika Ninu sudah duduk.
“Alhamdulillah mas, hanya kakiku sedikit bengkak,” jawab Ninu, “Dan ini pergelangan tangan sedikit merah,” unjuk Ninu.
__ADS_1
“Maafkan ya kak, kakak jadi harus mengalami kejadian yang gak enak kayak tadi. Tapi tenang saja kak, semuanya sudah dibereskan.”
“Maksudnya?” tanya Ninu.
“Pelakunya sudah bang Haris pecat semua. Dan si Mamat yang tadi melecehkan kakak juga sudah diproses kepolisian,” jelas Budi.
Ninu tercengang. Sampai segitunya? Batinnya. Pandangannya beralih ke Haris yang sedang menatapnya.
Sampai segitu marahnya dia? Ya Tuhan, sumpah demi apapun aku jatuh cinta pada laki-laki dingin ini.
“Semuanya?” tanyanya tak percaya.
“Iya semuanya,” Haris yang menjawab.
“Tapi bang, bapak-bapak yang tadi berdiri dekat pemuda itu, dia tidak mengganggu saya. Malah dia meperingatkan si.. siapa tadi namanya? Mamat ya?” ucap Ninu.
Haris menatapnya, Budi juga.
“Abang jangan pecat dia. Dia gak salah,” lanjut Ninu.
“Kamu panggil lagi dia besok Bud” ucap Haris enteng, sepertinya semua mudah baginya.
“Iya bang. Siap!” jawab Budi.
“Baik. Jadi kita lupakan kejadian tadi ya, anggap tidak pernah terjadi. Bisa kan…?” inginnya Haris mengatakan bisa kan sayang, tapi lidahnya tidak berani mengeluarkan kata itu.
Ninu mengangguk sambil tersenyum. Tentu saja bisa bang, karena dengan kejadian ini aku bisa merasakan kasih sayangmu, merasakan dimanja olehmu.
“Bagus. Nah, sekarang katakan sesuatu untuk acara makan malam kita ini.”
Ninu menarik nafas. Aku harus ngomong apa ya? Berpikir yang sederhana saja.
“Sebelumnya saya minta maaf karena telah lancang datang kemari tanpa memberi kabar dan membuat keributan,” suara Ninu halus.
Semua orang mendengarkan dengan tenang. Haris menatapnya lembut, dan Budi merekam semua kejadian ini di kepalanya sambil tersenyum.
“Tadinya, saya ingin memberi kejutan karena bang Haris hari ini ulang tahun. Tapi…” ekspresinya berubah jadi sedih, “Maaf, cakenya rusak karena terjatuh tadi. Jadi…”
Haris menunjuk ke belakang Ninu sambil tersenyum. Ninu memutar pandangannya mengikuti tangan Haris. Seorang pelayan berdiri di belakangnya sedang memegang cake ulang tahun dengan kedua tangannya.
“Cakenya?!” serunya senang, matanya membulat dan senyum terkembang di wajahnya.
Ninu segera berdiri mengambil cake itu dan meletakkannya di atas meja makan. Kedua tangannya terkatup di depan dada lalu pandangannya beralih pada Haris, “Bang, terima kasih ya!”
“Kok kamu yang berterima kasih? Ya abanglah yang harus berterima kasih karena kamu ingat ulang tahun abang,” jawab Haris tersenyum.
Budi yang menyaksikan turut tersenyum senang.
Mereka membuat pesta kecil yang sederhana. Haris memotong kue dan memberikan suapan pertamanya pada Ninu. Haris juga make a wish yang hanya dia yang tahu isinya.
Acara dilanjutkan dengan makan-makan dan berbincang. Semua pelayan juga mendapat sepotong cake dan makan makanan yang dihidangkan. Semua bergembira, semua bahagia.
Hari ini segala peristiwa ditutup dengan manis.
⚘⚘⚘⚘
Bersamamu aku bahagia
Kuharap, selamanya selalu bersamamu
__ADS_1
Sehingga selamanya aku bahagia
Happy reading 😍😍😍