
Sekira pukul 8 pagi, Haris keluar dari kamar menuju ruang makan sambil bersiul-siul. Wajahnya nampak berseri.
“Bawakan sarapan ke kamarku ya,” ucapnya pada pelayan.
“Baik tuan.”
“Hai bang, apa kabar?” sapa Budi yang baru masuk ke ruang makan, “Baru mau sarapan bang?”
“Iya,” jawab Haris singkat.
“Mana kakak?”
“Di kamar.”
“Oooh…” Budi memonyongkan bibirnya, “Kita gak sarapan bareng bang?”
“Aku sarapan di kamar.”
Budi mengangguk-anggukkan kepalanya, ini pertama kalinya Haris sarapan di kamar.
“Buatkan aku kopi ya!” ucap Budi pada pelayan.
“Hari ini tidak ada acara ke luar kan?” tanya Haris.
“Sepertinya tidak ada bang.”
“Baguslah. Aku mau istirahat,” Haris berlalu menuju kamarnya.
Bang Haris kelihatannya senang banget, jangan-jangan tadi malam…. Budi tersenyum tipis memandang Haris yang berjalan meninggalkannya sambil bersiul pelan.
Ninu masih tertidur. Mungkin dia kelelahan setelah melalui malam panjangnya bersama Haris.
Setelah sholat shubuh tadi Haris kembali memintanya dan Ninu tidak bisa menolak. Walau menyisakan rasa sakit dan sedikit perih di organ intimnya, tapi dia juga menikmatinya.
CUP! Ninu merasa seseorang menciumnya. Dibuka matanya. Wajah tampan Haris tersenyum di hadapannya.
“Bangun yuk, kita sarapan,” ucapnya lembut.
Ninu merentangkan tangannya melakukan peregangan. Dia hendak bangun tapi baru sadar kalau dia tidak berbaju sama sekali. Haris yang mengerti hanya tersenyum saja.
“Bang, bisa minta tolong ambilkan handuk.”
“Gak usah pake handuk, gitu aja!” senyumnya.
“Ihh…masa sih, kan malu,” gumamnya.
“Aku kan sudah tahu, jadi gak usah malu lagi.”
“Iih… bang, tolong dong. Saya gak biasa jalan gak pake baju.”
Akhirnya Haris mengalah, dia mengambilkan handuk untuk Ninu.
Ketika Ninu di kamar mandi, Haris mencoba merapikan tempat tidurnya dengan melipat selimut. Dilihatnya bercak darah di atas sprei. Dia tersenyum.
Senyum kembali mengembang ketika dia ingat bagaimana tadi Ninu melangkah ke kamar mandi sambil meringis, katanya agak perih dan seperti mengganjal.
Aku sudah berhasil menjadi pria sejati, bisiknya bahagia.
⚘
Menjelang makan siang, akhirnya Ninu dan Haris turun dari kamar. Mereka menuruni tangga sambil bergandengan tangan. Bukan semata ingin pamer kemesraan tapi karena kaki Ninu masih belum normal, ditambah lagi sakit di organ intimnya bekas semalam bersama Haris.
Sementara Budi yang melihat pemandangan itu tersenyum. Dia senang melihat Haris yang akhirnya bisa menerima Ninu sebagai istrinya, dan senang melihat Ninu yang tidak takut-takut lagi pada Haris.
Dan ketika dia melihat kissmark di leher Ninu, yakinlah Budi kalau mereka telah mendapatkan malam pertama.
__ADS_1
“Bagaimana kabarnya sekarang kak? Masih sakit kakinya?” tanya Budi.
“Sudah lebih baik mas,” jawab Ninu.
Mereka duduk di ruang tamu. Haris duduk rapat di samping Ninu, tangan yang tadi digandeng masih digenggamnya.
“Bagaimana tidurnya semalam kak? Nyenyak?” tanya Budi lagi, matanya melirik pada Haris yang sebelah tangannya memegang gawai. Dia sedang memeriksa pool bayangan.
“Hmm…iya,” Ninu ragu. Diliriknya Haris yang wajahnya datar-datar saja.
“Tidak ada nyamuk kan kak?” mata Budi melirik sesuatu di leher Ninu yang membuatnya jadi kikuk.
“Tidak.”
“Bising suara bus gak juga kak?”
“Tidak,” suara Ninu pelan. Matanya kembali melirik Haris seolah minta bantuan.
Haris mengangkat wajahnya menatap Budi, “Maksudmu apa bertanya seperti itu?!”
“Hehe…tidak apa-apa bang, aku hanya khawatir kakak tidak bisa tidur nyenyak di sini.”
Haris masih menatapnya. Dia mengerti maksud pertanyaan Budi yang ditujukan untuk menggodanya.
“Soalnya kakak bangun siang sekali, bisa jadi tadi malam tidurnya terganggu.”
Wajah Ninu memerah, aduh jadi malu.
Haris beralih menatap Ninu, “Mau beli sesuatu untuk makan siang? Biar Budi pergi membelikannya.”
Ninu melirik sekilas pada Budi yang masih tersenyum memandangnya.
“Saya makan yang ada saja bang.”
Haris meliriknya sebal.
“Ah tidak, akunya juga masih agak sakit mas,” jawab Ninu.
“Kamu tuh sok tahu!” sergah Haris pada Budi yang dibalas dengan kekehan.
“Aku tuh senang banget kalau lihat suami istri yang romantis, jadi ingat masa-masa awal pernikahanku dulu sama Yona.”
“Siapa Yona mas?” tanya Ninu.
“Oh iya, kakak belum kenal ya, dia istriku kak. Kami sudah menikah tiga tahun yang lalu, tapi kami belum dikaruniai anak.”
“Itu karena kamu diam terus di sini sepanjang hari!” ucap Haris.
“Kan abang yang gak mau jauh dari aku haha…” tawa Budi, “Tapi sekarang aku lebih tenang dan leluasa karena sudah ada kakak yang menemani abang” lanjutnya.
“Istriku tidak akan aku libatkan dalam urusan pekerjaan,” sergah Haris, “Itu tetap tugas kamu, kecuali kamu mau pensiun dari sini.”
Budi tersenyum lebar, “Gak lah bang, kalau aku pensiun aku gak punya pulus nanti.”
“Ayo sayang kita duduk di teras. Di sini gak nyaman dengerin radio butut,” ajak Haris pada Ninu sambil berdiri.
Aih… sayang katanya, Budi tersenyum lagi.
⚘
“Tante aku mau laporan," suara Budi pelan di telepon. Dia sedang istirahat di kamarnya di rumah pool, "Aku punya kabar bagus.”
“Kabar apa Bud?” suara Diandra di seberang sana.
“Mereka sudah melakukan malam pertama tan!”
__ADS_1
“Oh ya? alhamdulillaaaahh ya Allah… " suara Diandra penuh suka cita, "Eh tapi apa kamu yakin? Darimana kamu tahu?”
“Aku lihat beberapa kissmark di leher kakak.”
“Benarkah? Waahhh… tante pengen lihat juga!” seru Diandra, “Alhamdulillah Haris, akhirnya”
Budi menceritakan apa yang terjadi pada Ninu ketika datang ke pool. Diandra sempat emosi mendengarnya tapi kemudian senang karena semua sudah dibereskan.
Menurut Budi, justru kejadian itulah yang menjadi penyebab kemesraan mereka sekarang. Haris menunjukkan perhatian dan kasih sayangnya pada Ninu. Menurut Budi sebenarnya Haris dan Ninu telah saling jatuh cinta dan peristiwa itu menjadi pembuka jalan untuk mereka saling menunjukkan rasa itu.
“Terima kasih ya informasinya. Kita tunggu beberapa waktu ke depan untuk melaksanakan rencana kita selanjutnya,” ucap Diandra senang.
“Iya tan sama-sama. Nanti kalau ada apa-apa pasti aku kabari lagi.”
⚘
Haris dan Ninu berjalan perlahan bergandengan sambil berbincang mengitari pool. Haris memberitahu dan menunjukkan keadaan poolnya, ada berapa bus yang menjadi angkutan umum, ada berapa bus pariwisata, berapa orang supir, dan berapa orang kernet. Dia juga menunjukkan pos penjagaan dan menyebutkan nama-nama penjaganya.
Para pegawainya yang kebetulan sedang ada di pool menganggukkan kepala memberi salam ketika mereka lewat. Beberapa di antaranya juga sempat berbincang dengan Haris. Haris ingin memperkenalkan istrinya pada semua pegawainya agar kejadian seperti kemarin tidak terulang lagi, dan agar mereka menghormati Ninu.
Beberapa di antaranya berbisik-bisik melihat bosnya bersama sang istri, ada yang memuji kecantikan dan penampilan sederhana Ninu dan ada juga yang membicarakan kejadian yang menimpa Ninu kemarin.
Sekarang mereka tahu semengerikan apa bosnya, jadi jangan pernah main-main, begitulah kira-kira obrolan mereka.
Selesai berkeliling mereka duduk di teras sambil menikmati teh dan camilan.
“Cape ya sayang?” tangan Haris merapikan rambut Ninu yang padahal sudah rapi.
“Gak juga bang,” jawab Ninu kikuk.
Ini di luar dan ada orang lain yang melihatnya, kenapa sih dia ngusap-ngusap rambut segala.
“Nanti kalau sudah tidak sakit lagi abang ajak makan di tempat favorit abang ya,” tangannya masih mempermainkan rambut Ninu, “Rumah makan seafood, segala jenis seafood ada, enak banget.”
Ninu tersenyum.
“Oh ya, bulan depan giliran kamu yang ulang tahun ya?”
Ninu sedikit berpikir, “Abang tahu?”
“Tahulah, masa tanggal lahir istri sendiri gak tahu.”
Perasaan baru kemarin jadi suami istri sungguhan, kemarin-kemarin kan cuma pura-pura, atau jangan-jangan dia sudah lama menyukaiku ya?
“Bulan lahirmu itu mudah ditebak dari nama. NINU AGUSTINA, pasti lahirnya bulan Agustus,” Haris seperti tahu apa yang dipikirkan oleh Ninu.
Iya juga sih, tapi tanggalnya kan tidak ada dalam namaku, lalu dia tahu dari mana tanggalnya.
“Nama lengkap dan tanggal lahir kita ada di surat nikah kan,” kembali Haris seperti bisa membaca pikiran Ninu.
Berarti selama ini aku yang kurang perhatian ya.
“Buktinya kamu juga tahu tanggal lahir abang. Jadi abang juga bisa tahu tanggal lahirmu.”
“Iya bang.”
“Kamu ingin kado apa dari abang?” sekarang tangannya menyuapkan sepotong kue ke mulut Ninu.
Ninu menerima suapan itu lalu mengunyahnya.
Kado apa ya? pikirnya.
⚘⚘⚘⚘
Author jadi cemburu 🤭🤭🤭🤭
__ADS_1