TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
CEMBURU 2


__ADS_3

“Hapus air matamu,” Haris menyodorkan tissue pada Ninu. suaranya sudah normal kembali. Setelah membuka sedikit kaca jendela lalu Haris mematikan mesin mobil.


Sekarang mobil mereka terparkir di sebuah area parkir. Rupanya Haris tidak membawa Ninu pulang ke rumah besar. Ninu yang tidak tahu berada di mana mencoba mengedarkan pandangannya mungkin saja dia tahu dimana itu.


“Aku minta maaf,” suara Haris mengejutkan Ninu dan berhasil mengembalikan fokusnya pada Haris.


Ini pertama kalinya dia minta maaf padaku.


“Kamu tahu tidak, tadi aku lihat mobilmu terparkir di depan café itu, jadi aku mampir untuk menemanimu. Kupikir kamu sendirian di dalam,” matanya memandang lurus ke depan, suaranya datar.


Hati Ninu berdesir mendengar ucapan Haris. Ada rasa bersalah di sudut hatinya.


“Maafkan saya bang,” akhirnya hanya kata-kata itu yang bisa keluar dari mulut Ninu setelah cukup lama dia berdiam.


“Tapi dugaanku salah,” ucapnya lagi tidak mempedulikan ucapan Ninu.


“Kenapa kamu menemui laki-laki itu? Apa dia orang yang spesial buat kamu?”


“Tidak bang. Dia hanya teman saya,”


Hening.


“Lalu kenapa kamu menemuinya?”


“Saya hanya ingin mengobrol saja,”


“Harus ngobrol sama dia? Seakrab itu?”


Ninu diam.


“Saya tidak punya banyak teman untuk mengobrol, hanya Andre dan Agis.”


“Kenapa kamu tidak ngobrol sama Agis?”


“Rumah Agis jauh dan dia juga kerja,” mereka berbicara pelan tanpa emosi.


Hening.


Lama mereka berdiam diri dengan pikiran masing-masing.


Haris kembali menyalakan mesin mobilnya lalu melajukannya pelan.


“Lain kali bicaralah padaku kalau kamu ingin ngobrol,” katanya dengan pandangan masih ke depan.


Ninu menatapnya dengan pandangan yang sulit digambarkan. Benarkah dia bicara itu? Dia mau ngobrol denganku?



Sementara itu, di hari yang sama di tempat yang berbeda.


“Hallo, selamat siang,” seorang pria kurus tinggi menyambut kedatangan seorang wanita paruh baya yang kecantikannya masih terlihat jelas.


“Selamat siang. Mas Beno?” suara perempuan itu terdengar elegan.


“Ya saya sendiri. Apa yang bisa saya bantu nyonya?” ucapnya sambil melirik ke laki-laki muda yang berdiri di samping perempuan itu.


“Selamat siang mas Budi, apa kabar?” sapanya pada laki-laki muda yang menemani perempuan itu.


“Kabar baik,” jawab Budi datar.

__ADS_1


“Nama saya Diandra. Saya hanya ingin sedikit berbincang dengan anda”


“Silakan nyonya,” Beno menggerakkan tangannya mempersilakan tamunya untuk duduk.


Budi menarik kursi untuk Diandra.


“Saya langsung saja ya,” ucap Diandra setelah mereka duduk berhadapan. Gayanya yang anggun dan elegan membuat Beno merasa segan, “Saya datang ke sini atas nama anak saya Haris.”


Beno sudah menduga.


“Saya ingin anda menghentikan pencarian yang diminta oleh tuan Haris.”


“Maaf nyonya, kalau saya boleh tahu kenapa harus dihentikan?”


“Karena kami sudah menemukannya.”


“Benarkah? Apakah tuan Haris sudah tahu?”


“Tentu saja dia tahu.”


“Baiklah kalau begitu, kami akan menghentikan pencarian ini setelah mendapat konfirmasi dan instruksi dari klien, karena sejauh ini tuan Haris belum mengatakan apapun pada kami.”


Diandra menatapnya ramah namun tajam.


“Apakah tidak cukup saya sebagai ibunya dan Budi sebagai tangan kanannya?” ucapannya penuh penekanan, “Tuan Haris orang yang sibuk tentu dia tidak akan membuang-buang waktu datang ke sini hanya untuk membatalkan kontrak, bukan?”


Hening.


Siapa yang tidak kenal dengan wanita yang sekarang duduk di hadapannya, Diandra Hendrawan ibunda tuan Haris salah seorang istri konglomerat di negeri ini.


“Anda tidak perlu khawatir dengan pembayarannya, kami akan bayar full.”


Diandra tersenyum puas.



Haris dan Ninu tiba di rumah besar disambut dengan senyum manis dari Diandra


“Assalamualaikum ma,” sapa Ninu menyalaminya


“Waalaikumsalam sayang. Kalian kok pulang telat, abis jalan-jalan ya?”


Haris yang baru menyalami mamanya tersenyum, “Iya ma,” jawabnya lalu menggenggam tangan Ninu, ada desir aneh ketika tangan mereka bersentuhan


“Kalian tuh serasi banget,” matanya berbinar.


Ninu tersipu.


“Ma kami permisi ke kamar dulu. Gerah pengen mandi,” ucap Haris.


“Ya pergilah istirahat, kalian pasti cape,” senyum Diandra mengiringi kepergian sepasang suami istri settingan itu.


Kalian bisa bersandiwara menjadi suami istri palsu, mama juga bisa bersandiwara untuk menjadikan kalian suami istri sungguhan, batinnya dengan senyum masih mengembang di wajahnya.


Setelah mandi Haris bergegas ke ruang kerja dan menghabiskan waktunya di sana hingga jam makan malam.


Dia merenungkan banyak hal dan mencoba memahami perasaannya sekarang terhadap istrinya.


Aku rasa aku telah menyukainya, tapi bagaimana caranya agar dia tahu perasaanku. Aku tidak suka dia mengobrol dan tertawa-tawa penuh keakraban dengan pria lain, aku ingin dia melakukannya denganku, tapi bagaimana aku memulainya.

__ADS_1


Haris mengacak-ngacak rambutnya. Aku benci dengan diriku sendiri yang bodoh ini, gerutunya.



Malam harinya di ruang makan.


“Kok mama gak ikut pulang sama papa?” tanya Haris malam itu saat mereka sedang makan malam.


Sudah seminggu Diandra dan Hendrawan berada di rumah besar, dan besok Hendrawan harus kembali ke Dumai karena urusan bisnisnya. Tetapi Diandra tidak ikut pulang dan ini membuat Haris merasa aneh. Ini pertama kalinya mama dan papanya terpisah. Biasanya kemanapun mereka pergi selalu bersama-sama.


“Mamamu masih kangen sama kalian,” jawab Hendrawan.


Haris mengernyitkan alisnya.


“Kenapa? Kamu keberatan mama ada di sini?” tanya Diandra.


“Ya gak lah ma, masa keberatan, cuma aneh aja biasanya kan mama sama papa selalu bareng.”


“Sekali-kali gak apa-apa Ris biar mamamu tau gimana rasanya kangen jauh dari papa,” Hendrawan terkekeh.


“Hmm…palingan juga papa yang kangen sama mama,” Diandra memajukan bibirnya lalu tersenyum.


“Kamu gak keberatan kan Nin mama di sini?” tanya Diandra menatap Ninu yang dari tadi hanya menjadi pendengar.


“Tentu saja tidak ma, malah aku senang mama ada di sini. Aku bisa belajar banyak dari mama,” jawab Ninu.


“Menantu idaman banget kamu tuh,” Diandra mengangkat jempolnya.


“Emang kamu diajari apa sama mama?” tanya Haris menatap Ninu.


“Ayo kasih tahu nak suamimu yang kurang perhatian ini, biar dia tahu,” suara Diandra bersemangat.


“Banyak bang, cara masak, cara merapikan kamar, cara merawat diri.”


“Dan cara melayani suami. Itu yang penting!” Diandra menyela ucapan Ninu dengan serius.


“Iya, itu juga,” jawab Ninu malu-malu.


“Sudah kamu praktekkan nak?”


Ninu diam.


Tiba-tiba saja pipinya jadi merona membuat Haris heran, emang apa yang mama ajarkan sampai dia semalu itu, batinnya.


Aku dapat topik untuk ngobrol dengannya nanti di kamar, Haris tersenyum tipis.


“Praktekkan dong sayang, percuma belajar kalau tidak diaplikasikan,” ucap Diandra pada Ninu


Ninu hanya mengangguk pelan


Itu bisa dipraktekkan kalau dia suami sungguhan aku ma. Kalau aku praktekkan itu di hadapannya bisa-bisa aku disangka wanita murahan atau wanita gila, batin Ninu


⚘⚘⚘⚘


Aku mencintaimu


Sumpah! Aku mencintaimu


Tidakkah kamu merasa kalau aku mencintaimu?

__ADS_1


😍😍😍😍😍


__ADS_2