
Ninu berjalan gontai keluar dari kantor Sandra. Ruang istirahat yang ditujunya. Tak dihiraukannya Mona yang menguntit dari belakang dengan pertanyaan yang menghujaninya.
“Nin…hei kamu kenapa?” Mona menepuk-nepuk bahu Ninu.
Ninu menghela napas, “Tidak apa-apa, aku hanya merasa lelah saja”
“Bu Sandra memarahimu?” tanya Mona penasaran.
Ninu menggelengkan kepalanya, "Mon, aku ingin sendiri, bisakah kamu tinggalkan aku?”
Mona menatapnya, "Baiklah. Tapi kalau ada apa-apa kasih tahu aku ya, jangan dipendam sendirian” Mona bangkit dari duduknya dan pergi ke luar ruangan. Dia khawatir dengan keadaan Ninu yang baru terlepas dari jerat narkoba. Mona khawatir Ninu akan memikirkan kembali obat itu.
Ninu kembali menarik napas panjang, ya Tuhan kenapa jadi begini. Tidak mungkin dia harus menikah dengan tuan Haris yang dingin itu. Dia teringat bagaimana tatapan Haris yang datar tanpa ekspresi ketika Ninu datang menemuinya, bahkan Agis tidak menyukainya. Terbayang juga oleh Ninu wajah Haris yang tidak pernah tersenyum bahkan berani mengeluarkan suara keras ketika memaksanya menerima amplop.
Tidak mungkin aku akan membiarkan diriku menikah dengan orang seperti itu. Aku tidak mencintainya dan sudah pasti dia juga tidak mencintaiku. Tapi perkataan bu Sandra tadi seolah-olah mengatakan bahwa aku harus menikah dengan Haris demi bu Diandra dan pak Hendrawan.
Kemudian melintas wajah Diandra dan Hendrawan yang sumringah ketika pertama kali menyambutnya. Bagaimana Diandra memperlakukannya dengan sangat baik dan memanjakan. Tangannya yang tak henti mengelus dan mengusap, kata-katanya yang penuh kegembiraan dan harapan. Seperti kata Sandra tadi, tegakah Ninu mengecewakan mereka?
Tanpa sadar tangannya meraba kalung yang terpasang di lehernya. Kalung pemberian Diandra. Ini tanda kasih sayang mama untukmu, kembali terngiang kata-kata Diandra waktu itu. Tak terasa air mata menggenang.
Kenapa aku menjerat diriku sendiri di dalam situasi yang rumit seperti ini, Ninu meremas rambutnya dengan kasar. Hatinya galau.
⚘
“Mama gak mau tahu ya, pokoknya minggu depan mama dan papa akan datang untuk melamar Ninu” suara mama di telepon membuat telinga Haris sakit.
Diandra dan Hendrawan sudah kembali ke Dumai dan sekarang sedang bertelepon dengan Haris.
“Maksud mama apa sih? Kok main lamar-lamar aja. Haris kan sudah bilang ma, kasih waktu dulu Haris untuk mengenal Ninu”
“Apa lagi yang mau kamu kenal dari dia? Mama saja yang baru sekali ketemu sudah tahu dia seperti apa, masa kamu yang sudah lebih dulu mengenalnya masih gak tahu?”
“Ya gak seperti itu ma, ini kan…”
“Ah sudah sudah. Mama gak mau dengar lagi kamu ngeles. Sudah nurut saja. Mama yakin dia gadis yang baik dan jodoh terbaik untukmu” klik telepon ditutup.
Haris bengong menatap gawainya. Ingin membantingnya tapi sayang ini gawai limited edition versi terbaru yang dibelinya beberapa minggu yang lalu. Akhirnya dia simpan di atas meja, huh kenapa jadi ribet begini sih.
“Kenapa Bang?” tanya Budi yang sedari tadi duduk di kursi menatapnya.
“Minggu depan mama mau datang untuk melamar gadis itu” jawab Haris lesu.
__ADS_1
“Baguslah”
“Apanya yang bagus?!” seru Haris membulatkan matanya memandang Budi tajam.
“Ya baguslah, berarti abang akan segera punya istri kan?” jawab Budi, dia tidak terkejut melihat reaksi Haris.
“Dengar Bud!” Haris mendekati Budi, “Aku tidak mencintai wanita itu!”
“Apa bang Haris masih menunggu Tyara yang entah berada dimana? Yang mungkin saja dia sudah menikah bahkan sudah punya anak?” suara Budi membuat Haris duduk terhenyak.
Tyara adalah gadis khayalannya sejak SMA. Gadis yang dia cintai. Tapi karena kebodohan Haris yang tidak berani mengungkapkan isi hati, hingga mereka lulus sekolah perasaan itu tidak pernah terungkapkan. Dan sampai kini impiannya adalah menemukan Tyara, menyatakan cinta kemudian bersanding dengannya.
“Menurutku Ninu juga cantik” Budi kembali bersuara, “Tidak berdandan saja dia sudah cantik apalagi kalau berdandan”
“Cinta itu bukan hanya masalah cantik dan tidak cantik. Ini urusan hati. Tahu kamu?!” bentak Haris.
“Tahulah bang, aku kan sudah punya pengalaman masalah cinta” dibandingkan kamu yang gak punya pengalaman apa-apa, gumam Budi tanpa suara.
“Nah itu kamu tahu. Jadi jangan bilang kalau wanita itu cantik lalu aku otomatis akan jatuh cinta padanya!” seru Haris lagi masih dengan tensi tinggi. Sepertinya dia memang benar-benar kesal.
Hening.
“Jadi maunya abang sekarang gimana?” tanya Budi tenang.
“Apa kamu ada usul Bud?”
Budi merenung sejenak. Lalu ide cemerlang muncul di kepalanya, "Bagaimana kalau abang menikah saja dengan dia, untuk memenuhi keinginan orangtua, nanti abang bisa menceraikannya. Alasannya bisa saja tidak cocok. Gimana?”
Haris menatap Budi tak berkedip “Apa itu akan berhasil?” lalu tiba-tiba dia menjentikkan jari seolah-olah mendapat inspirasi.
“Kamu pintar Bud. Benar, aku menikah dengan dia, lalu setelah aku menemukan Tya aku akan melepaskannya. Kamu pintar! Gak sia-sia aku bayar mahal kamu Bud” tangannya menjotos bahu Budi hingga Budi mengerang.
“Pelan-pelan dong” ujarnya nyegir. Haris terkekeh.
Kemudian mereka mendiskusikan langkah selanjutnya agar rencana mereka berjalan lancar.
⚘
Kita skip saja ya bagaimana Haris berhasil memaksa Ninu untuk menerima rencananya. Seiring berjalannya kisah ini hal itu akan terungkap.
Acara lamaran berjalan lancar. Keluarga Ninu dari kampung tidak bisa datang karena keterbatasan waktu sehingga keluarga Agis yang mendapat mandat untuk menerima lamaran dari keluarga Haris. Bi Tati menyerahkan sepenuhnya keputusan kapan Ninu dan Haris akan menikah sesuai hasil lamaran. Nanti kalau Ninu dan Haris menikah baru mereka akan datang.
__ADS_1
Malam itu Ninu yang mengenakan kebaya dengan riasan sederhana mampu memancarkan aura kecantikannya. Dia duduk tertunduk di samping Diandra yang tak lepas memeluk pinggangnya. Sedangkan Haris duduk di sampingnya dengan tenang.
Setelah perdebatan yang cukup panjang akhirnya Ninu mau mengikuti keinginan Haris untuk menikah hanya karena tak tega mengecewakan hati Diandra dan Hendrawan. Dia mengorbankan perasaannya demi mereka.
“Kamu gak lihat ekspresi mama dan papa ketika ketemu sama kamu? Mereka pasti akan kecewa dan marah kalau sampai tahu kita cuma pura-pura”
“Kamu tahu mama aku punya penyakit jantung. Kamu mau dia kenapa-kenapa?” itu ucapan Haris yang membuat Ninu akhirnya menyerah. Ninu teringat ibunya yang juga punya penyakit jantung. Dia tidak ingin hal yang buruk juga menimpa Diandra.
Benar kata pepatah, ketika kita memulai suatu kebohongan maka akan muncul kebohongan-kebohongan lainnya.
Ninu tak habis pikir mengapa dia mau mengikuti keinginan Budi untuk berpura-pura menjadi kekasih Haris tanpa berpikir terlebih dahulu. Sungguh bodoh, batinnya. Tapi saat itu dia benar-benar tidak diberi waktu untuk berpikir dan bicara.
Memang aku bodoh, mengapa tidak menolak saja langsung. Orang miskin seperti aku memang bodoh, gerutunya dalam hati.
Dan sekarang dia terjerat semakin dalam dengan bersedia menerima lamaran Haris kemudian menikah dengannya. Aku akan semakin sulit untuk melepaskan diri.
Bagaimana tuan Haris bisa melakukan ini semua
Ya Tuhan tolong aku. Ibu bantu aku ibu, aku harus bagaimana, hatinya menjerit.
“Tidak usah khawatir nona, tuan Haris orang yang baik. Dia bersikap seperti itu hanya karena egonya saja” itu ucapan Budi ketika Ninu menangis setelah menyatakan kesanggupannya membuat Ninu sedikit tenang.
“Saya yakin pada akhirnya tuan Haris akan mencintai anda” ucapan Budi membuat Ninu mengangkat wajah dan menatapnya.
“Maksud saya…anda cantik dan baik nona, laki-laki mana yang tidak tertarik dengan anda”
“Kamu tidak usah menggombal!” suara Ninu keras walau masih terisak.
Budi diam, itu memang benar nona, apa anda tidak sadar kalau anda cantik?
⚘
Tanggal pernikahan akhirnya ditentukan sebulan setelah acara lamaran. Walaupun Haris tidak setuju tapi dia tidak berani menentang orangtuanya di depan banyak orang. Dia hanya diam saja, begitupun Ninu. mereka seperti boneka yang sedang diaminkan oleh Diandra dan pak Hendrawan, bergerak dan berkata seperti apa yang diinginkan sutradara.
“Selamat ya Nin, aku gak nyangka kamu bakal dapat anak konglomerat” ucap Agis memeluk Ninu, “Ganteng lagi” senyumnya mengembang lebar.
Ninu tersenyum tipis sambil membalas pelukan Agis. Bahkan sahabatnya tidak tahu kalau ini hanya pernikahan semu.
⚘⚘⚘⚘
Ketika suatu kebohongan diluncurkan, maka akan lahir kevohongan-kebohongan berikutnya. Dan, percayalah itu akan semakin menjeratmu kuat.
__ADS_1
Happy reading semuanyaaa 😍😍😍😍😍😍😍😍