
“Selamat pagi bu” Ninu memberi salam ketika dia masuk ke dalam toko dan bertemu Sandra yang sedang membereskan meja kasir.
“Hai Ninu…” Sandra menghampiri dan memeluk Ninu, “Bagaimana kabarmu?”
“Alhamdulillah baik bu”
“Bagaimana keadaan adikmu di kampung? Dia baik-baik juga kan?”
“Alhamdulillah bu, semuanya baik”
“Syukurlah kalau begitu” tangan Sandra mengelus pundak Ninu.
“Ada yang mau aku bicarakan sama kamu Nin. Tapi sekarang kerjakan saja dulu tugasmu, nanti siang kita ngobrol ya” Sandra tersenyum.
“Iya bu”
Ini pasti tentang bu Diandra atau tuan Haris, pikir Ninu, **k**enapa jadi rumit begini sih.
Semua teman-teman Ninu menyambut kedatangannya dengan gembira. Mereka menyalami dan menanyakan kabar Ninu. mereka semua tahu apa yang telah menimpa Ninu dan keluarganya. Mereka sangat bersimpati, terutama Mona dan Tono yang sering menemani Ninu ketika dia terbaring sakit.
Ninu merasa bahagia memiliki majikan dan teman-teman yang baik dan peduli, Ninu sudah menganggap mereka seperti keluarga begitupun mereka. Sesuatu yang patut disyukuri oleh Ninu, banyak orang yang menyayanginya, mungkin ini juga karena sikap dan perilaku Ninu yang baik dan rendah hati.
“Kamu tahu gak Nin, beberapa hari yang lalu ibunya tuan Haris datang kemari” bisik Mona yang berdiri di samping Ninu.
“Oh ya?” Ninu tidak terkejut, “Bu Diandra dan bu Sandra kan memang berteman Mon”
“Kamu tahu nama ibunya tuan Haris?. Waah…hebat kamu Nin. Berarti benar…” Mona sepertinya kagum yang disambut dengan senyum kecut Ninu.
“Yang aku dengar nih gosipnya kamu dan tuan Haris akan menikah ya?”
“Apa?” kali ini Ninu benar-benar terkejut.
“Betul gak?” desak Mona.
“Gak ah, itu hoax” jawab Ninu menggelengkan kepalanya.
“Tapi aku dengar sendiri ketika ibunya tuan Haris mau pulang, dia bilang sama bu Sandra titip calon mantuku ya. Gitu Nin”
__ADS_1
Hah..masa sih bu Diandra bilang begitu.
"Kamu salah dengar mungkin Mon"
"Aslinya Nin, jelas banget kok. suer!!" Mona mengacungkan dua jarinya tanda kalau dia bersumpah.
“Nin aku pengen dengar dari kamu, betul gak kamu akan menikah dengan tuan Haris?´desak Mona.
“Hei kalian ngobrol terus, tuh ada yang beli” suara Sinta terdengar tepat di belakang mereka sambil menepuk pundak Ninu dan Mona.
Obrolanpun terputus karena Mona dan Ninu harus melayani beberapa pembeli yang datang.
⚘
“Duduklah Nin” ucap Sandra sambil menunjuk sebuah kursi di dalam kantornya. Dia baru saja memanggil Ninu.
Ninu mengangguk kemudian duduk di atas kursi itu.
“Ninu” suara Sandra kembali terdengar setelah hening sejenak. “Belakangan ini aku dibuat terkejut dengan beberapa kejadian tentang kamu dan salah satunya yang ingin aku tanyakan sama kamu sekarang. Bisakah aku mendengarnya langsung darimu, apa sebenarnya yang sedang terjadi?"
“Kejadian apa bu?” dia pura-pura tidak tahu padahal hatinya sudah bisa menebak ke arah mana pembicaraan ini.
“Sekitar empat hari yang lalu tiba-tiba Haris meneleponku menanyakan tentang kamu. Lalu dua hari yang lalu Diandra datang ke sini juga dengan sengaja untuk mengetahui tentang kamu. Bahkan aku melihat sendiri bagimana ekspresi Diandra yang mengatakan bahwa kamu akan menjadi menantunya. Wajah Diandra sangat gembira. Sekarang katakan padaku apa yang sedang terjadi?” setiap kata penuh ketegasan seolah ingin mengatakan jangan kamu berkelit.
Ninu kembali terdiam. Apa yang harus dikatakannya. Tidak pernah terpikirkan akan mengalami kejadian seperti ini. Saat dia menerima tawaran Budi untuk membantu Haris semuanya terdengar sangat mudah dan sederhana, tapi sekarang tiba-tiba semuanya terasa sulit dan rumit.
Sandra masih menatapnya menunggu jawaban.
“Bu…Saya tidak tahu harus mulai menjawab dari mana” suara Ninu tertahan, lalu hening kembali.
Sepertinya dia sedang berpikir, "Saya hanya membantu tuan Haris yang telah menolong saya” lanjut Ninu.
Sandra masih menunggu tapi Ninu tidak melanjutkan kalimatnya.
“Membantu apa?” akhirnya Sandra menyerah untuk berhenti menunggu.
Ninu terdiam kembali.
__ADS_1
“Membantu menjadi kekasihnya? Apa ini hanya settingan? Benar begitu?” pandangan itu masih lekat menatap Ninu.
Ninu tertunduk, aduh kenapa aku jadi merasa salah ya, batinnya.
“Kamu pura-pura jadi kekasihnya Haris atau memang kamu sekarang menjadi kekasihnya dia?” kembali pertanyaan bertubi menghujani Ninu.
Hening.
“Dengar Ninu. aku mengerti dan aku tahu apa yang ada di hatimu” Sandra akhirnya melenturkan tubuhnya dengan menarik nafas dalam dan bersandar pada kursi tapi tatapannya masih lekat pada Ninu.
Ninu benar-benar tidak bisa berkutik.
“Aku mengerti maksudmu baik. Kamu ingin membantu Haris. Tapi apakah kamu tahu apa yang akan terjadi dengan berpura-pura menjadi kekasih Haris?” tanya Sandra membuat Ninu mengangkat kepalanya dan mencoba untuk menatap Sandra.
“Haris adalah anak laki-laki satu-satunya di keluarga Hendrawan dan Diandra. Sampai saat ini dia belum menikah padahal usianya sudah cukup untuk berumah tangga. Diandra selalu mendesak Haris untuk segera mengakhiri masa lajangnya” Sandra mengatakan sesuatu yang Ninu tidak tahu.
“Mungkin itulah yang membuat Haris memintamu untuk berpura-pura menjadi kekasihnya. Agar dia terlepas dari desakan kedua orangtuanya.”
Hening kembali.
“Yang kamu dan Haris lakukan ini, aku yakin akan menjerat kalian lebih jauh lagi. Mungkin kalian pikir ini sederhana saja, pura-pura jadi kekasih lalu selesai. Iya kan?” tanya Sandra.
“Kalian tidak memikirkan bagaimana perasaan Diandra dan Hendra bukan?” kembali Sandra bertanya yang membuat Ninu tersadar.
Benar. Kenapa aku tidak memikirkan hal itu. Tapi bukankah waktu mas Budi mengatakan padaku, aku tidak diberi kesempatan untuk bertanya dan berpikir. Saat itu, seolah mas Budi mengatakan sudah kamu bilang iya saja, semuanya sudah aku pikirkan baik-baik.
Ninu kembali tertunduk. Hatinya lesu.
“Apakah kamu tidak berpikir bagaimana kecewanya Diandra dan Hendrawan kalau mereka sampai tahu bahwa kamu dan Haris hanya berpura-pura? Bagaimana perasaan mereka kalau sampai mereka tahu bahwa kalian membohonginya?” penuh penekanan yang membuat Ninu rasanya ingin menangis saja.
“Kamu tega melakukan itu Ninu?” pertanyaan Sandra akhirnya membuat mata Ninu menjadi panas dan berair.
Bu Diandra yang begitu baik dan antusias, bagaimana aku akan mengatakan hal yang buruk padanya.
Sandra bangkit dari duduknya dan berpindah ke samping Ninu, "Ibarat peribahasa, sekarang kamu sudah terlanjur basah, sulit untuk keluar dari situasi ini” tangannya menggenggam tangan Ninu, “Hanya satu yang aku minta Ninu, tolong jangan kecewakan Diandra dan Hendra, mereka orang-orang yang sangat baik. Aku kenal mereka sejak lama. Aku tahu siapa mereka,” suaranya seperti menusuk-nusuk telinga Ninu, “Pikirkan itu ketika kamu harus mengambil keputusan.”
⚘⚘⚘⚘
__ADS_1
Ditunggu like, komen, dan votenya 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏