TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
SAKIT MEMBAWA HIKMAH


__ADS_3

Haris segera mengambil kunci mobilnya, namun sebelum dia menyalakan mesin mobil dia menyempatkan menelepon seseorang, setelah itu dia melajukan mobil dengan kecepatan cukup tinggi.


Hanya butuh waktu kurang dari 40 menit Haris sudah tiba di rumah besar. Sekarang dia sedang berdiri di depan kamar Ninu hendak membuka pintu.


Haris melangkahkan kakinya memasuki kamar, dilihatnya sekilas kamar itu berubah. Rupanya Ninu mendekorasi ulang ruang kamarnya dengan memindahkan beberapa furnitur dan memberikan aksen bunga di sudut kamarnya. Tampak jadi lebih asri dan teduh.


Pandangannya teralih ke sosok wanita yang sedang tidur meringkuk berselimut hingga ke leher. Haris berjalan mendekat, dijulurkan kepalanya untuk melihat lebih jelas.


Ninu sedang tidur pulas, wajahnya nampak sembab dan kemerahan layaknya orang yang sedang demam, sedikit rambut menutupi wajahnya. Haris mengulurkan tangan hendak meraba pipi Ninu, dia panas sekali, gumamnya segera beranjak hendak memanggil pelayan.


“Tuan, dokter Regar sudah datang” pak Otang sudah berdiri di depan pintu kamar diikuti oleh seorang pria di belakangnya.


Haris menempelkan telunjuk di bibirnya memberi isyarat agar tidak berisik, lalu mempersilakan dokter itu masuk.


“Kenapa?” tanya dokter Regar pelan.


Haris menggelengkan kepalanya menandakan dia tidak tahu.


“Biar aku periksa” dokter itu mendekat lalu meraba kening Ninu, “Dia panas sekali” lanjutnya.


Ninu menggerakkan tubuhnya lalu membuka matanya nanar, dia merasa terganggu rupanya, “Ada apa ini?” suaranya serak, “Ah…panas!” dia menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya.


Haris segera mendekat, “Kamu sakit, ini dokter akan memeriksamu”


“Badan kakak panas sekali, aku periksa ya kak” kata dokter Regar mulai meraba tangan Ninu mengecek denyut nadinya.


Setelah selesai memeriksa dokter Regar berkata, “Kakak tidak kenapa-napa, hanya demam saja rupanya, dan sedikit depresi. Aku kasih obat ya, semoga satu atau dua hari ini kakak sudah sembuh kembali. Oh ya, untuk sakit perutnya mau aku kasih obat juga?”


Ninu menggelengkan kepalanya. “Gak usah dok, nanti juga hilang sendiri”


“Baiklah kalau begitu” dokter Regar tersenyum.


“Jadi dia gak kenapa-napa ya?” tanya Haris, ada rasa khawatir dari suaranya membuat Ninu menyipitkan matanya yang terasa panas dan mengalihkan pandangan menatapnya.

__ADS_1


“Gak apa-apa. kakak cuma butuh refreshing” dokter Regar tersenyum lebar, “Nanti kalau sudah sembuh pergi piknik kak biar gak mumet” katanya menatap Ninu yang membalas senyumnya dengan menarik sedikit ujung bibirnya.


Setelah mengobrol sebentar dengan Haris kemudian dokter keluar diantar oleh pak Otang, sementara Haris masih berdiri di tempatnya menatap Ninu. Ninu kembali meringis merasakan sakit di perutnya.


“Kamu gak apa-apa?” Haris mendekat dan reflek memegang lengan Ninu, membuat Ninu agak kaget lalu menggelengkan kepalanya.


Tanti datang membawa nampan yang diatasnya ada mangkuk yang nampak kepulan asap di dalamnya, Ninu melirik pada Tanti sambil membulatkan matanya seolah berkata kenapa kamu bilang sama tuan kalau aku sakit?


Dibalas dengan gelengan kepala cepat oleh Tanti seolah dia menjawab bukan saya nona.


Haris yang melihat Ninu membulatkan matanya segera memutar pandangannya melihat pada Tanti, Tanti mengangguk sambil tersenyum pada Haris.


Kenapa sih mereka? Pake bahasa isyarat segala, gerutu Haris.


“Nona ini saya bawakan sup dan air madu hangat untuk anda” Tanti mendekat dan meletakkan nampan di atas meja di samping tempat tidur.


“Ya simpan saja, nanti aku makan” jawab Ninu mengernyitkan dahinya, dia kembali memijat perutnya.


“Makanlah sekarang biar kamu bisa segera minum obatnya” suara Haris menghentikan erangan halus Ninu.


“Sekarang. Mau aku suapi?”


Haduh kok maksa banget sih… lagi sakit ini, keluh Ninu dalam hati, lagian aku gak nafsu makan.


Haris mengambil mangkuk sup dan bersiap menyuapi Ninu. Karena enggan disuapi akhirnya Ninu menggeser tubuhnya agar bisa duduk bersandar lalu meraih mangkuk sup yang dipegang Haris, “Saya makan sendiri saja”


Tangannya nampak gemetar mengangkat sendok agar mendekat ke mulutnya. Haris yang melihatnya langsung merebut mangkuk dan memaksa Ninu agar mau disuapi.


Dengan segala rasa bergejolak di hati akhirnya Ninu bisa menghabiskan sup yang dibawa Tanti. Badannya merasa lebih enak. Haris menyodorkan obat dan gelas berisi air minum.


“Setelah ini istirahatlah supaya cepat sembuh” kata-katanya enak didengar sekarang.


Ninu kembali membaringkan tubuhnya, dengan telaten Haris mengompresnya lalu meletakkan kain kompres di kepalanya yang panas.

__ADS_1


“Tidurlah” ucapnya pelan.


Ninu menganggukkan kepala sambil menatap Haris. Yang ditatap tidak berani membalas, dia beranjak dari duduknya dan memilih keluar meninggalkan kamar.



Haris terbaring di atas tempat tidurnya, matanya menatap langit-langit kamar.


“Dia agak tertekan kayaknya bang” terngiang kembali suara Regar, teman sepermainannya dulu yang kini menjadi dokter keluarga Haris.


“Rupanya abang belum pernah bawa dia jalan-jalan ya?” Regar tertawa.


“Bawalah bang, kasihan dia terkurung di rumah. Walaupun rumah ini besar dan ada pelayan di dalamnya tetap saja beda bang”


Haris menarik nafas dalam, aku memang bersalah mengurungnya di sini dan memperlakukannya kurang baik. Padahal dia sudah mengorbankan dirinya untuk membantuku. Dia rela tinggal di sini sendirian, jauh dari teman dan saudaranya. Jahatnya aku!.


Haris memiringkan badannya.


Kenapa juga mama dan papa selalu menghujaniku dengan perintah segera menikah sedangkan aku belum menemukan dia yang aku cari. Dan sialnya, kenapa waktu dia menawarkan untuk membantuku ide itu tiba-tiba muncul dan celakanya aku tidak berpikir panjang. Ah…sialan!


Aku harus segera menemukan Tyara agar dia bisa segera bebas dari beban yang aku berikan, beban pura-pura menjadi istriku. Semoga dua orang tadi bisa segera mendapatkan informasi, kalau hanya mengandalkan Budi percuma, bertahun-tahun dia mencari tidak ada hasilnya, dia tuh kalau apa-apa dibawa bercanda mulu.



Sementara itu, dikamarnya Ninu juga sulit memejamkan mata, setelah makan sup dan meminum obat dia merasa badannya lebih enak walaupun panas dan sakit perut masih menderanya.


Kok dia baik ya sama aku, pake acara nyuapin segala. Duh…tadi tuh deg-degan banget disuapi sama orang ganteng kayak tuan Haris. Ternyata dia tidak semenakutkan yang aku bayangkan, bibirnya menyunggingkan seulas senyum.


Benar kata Tanti sebenarnya tuan Haris orang yang baik, dia hanya tidak pandai berkata-kata pada wanita. Alhamdulillah ya Allah akhirnya aku bisa sedikit lega sekarang, tidak akan ketakutan terus kalau melihat dia.


Disela sakitnya Ninu tersenyum bahagia.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Ah....mantap deh Haris! Ternyata dia pria yang sangat peduli 😍😍😍😍😍


Happy reading 😘😘😘😘


__ADS_2