
“Mau kemana bang?” tanya Budi ketika melihat Haris menyambar kunci mobilnya yang tergeletak di atas meja kerjanya.
“Pulang” jawab Haris singkat.
“Selamat melepas rindu dengan istri tercinta bang” Budi tersenyum lebar.
Haris menatap tajam, “Apa kamu bilang?!”
Budi terkekeh.
⚘
“Selamat sore tuan” sapa pak Otang ketika Haris memasuki rumah.
Haris mengangguk, “Dimana dia?” tanyanya.
“Ada di taman belakang tuan” pak Otang paham siapa yang dimaksud oleh Haris.
“Beritahu dia aku pulang” Haris berlalu menuju ruang keluarga. Pak Otang menganggukkan kepalanya kemudian berlalu menuju halaman belakang.
“Maaf nona saya menganggu, tuan pulang,” suara pak Otang menghentikan Ninu yang sedang menelpon Ima.
“Ima sudah dulu ya teleponnya bang Haris pulang, nanti teteh telepon lagi” katanya menutup percakapan.
“Dimana dia sekarang pak?” tanya Ninu, wajahnya menunjukkan rasa gugupnya.
“Tuan ada di ruang keluarga nona”
“Baiklah…terima kasih pak”
Pak Otang berlalu kembali ke dapur.
Aduh apa ya yang harus aku lakukan? Apa aku langsung ke sana saja? Tapi aku tidak berani. Terus nanti aku mau ngapain di sana, ih…kok jadi takut begini sih, batin Ninu sambil meremas jarinya. Terlihat jelas dia sangat gugup.
Cukup lama Ninu berdiam diri memikirkan apa yang harus dilakukannya sampai akhirnya pak Otang datang kembali menghampirinya.
“Nona, tuan memanggil anda” ucapnya.
“Ba…baik. Aku ke sana sekarang” akhirnya Ninu menghela nafas dalam sambil merapalkan beberapa doa sebelum melangkahkan kakinya.
“Selamat sore bang” sapanya ketika sudah sampai di depan Haris yang duduk di atas sofa di ruang keluarga sambil memainkan gawainya.
“Sedang apa kamu? Sibuk ya?” nada bicaranya itu lho selalu datar tanpa ekspresi, seperti menghujam.
“Eh.. ti.. tidak, saya tidak sibuk”
Haris mendengus, membuat hati Ninu menjadi semakin tidak enak.
__ADS_1
“Kamu mau berdiri terus di situ?” suaranya selalu terdengar menyakitkan di telinga Ninu.
“hmm..maaf. Saya ambilkan minum, abang mau minum apa?” semakin gugup.
“Pak Otang sudah membawakannya” masih sedingin es.
Ya ampun…jadi dia maunya apa, aku tidak tahu. Tuhan tolong aku harus bagaimana?
Haris bangkit berdiri kemudian melangkah pergi meninggalkan Ninu yang masih termangu. Ninu melirik pak Otang yang berdiri di dekat pintu dapur, dia seperti memberi isyarat agar Ninu mengikuti Haris. Dengan ragu-ragu Ninu melangkah di belakang Haris.
Haris masuk ke dalam kamarnya dan membiarkan pintu terbuka, sementara Ninu sejenak tertegun di depan pintu kamar sebelum akhirnya dia melangkah masuk.
“Siapa yang membereskan kamarku?” tanya Haris tanpa melirik. Dia merasa kamarnya sekarang sedikit berbeda.
“Saya bang, setiap hari saya membereskan kamar ini. Maaf kalau abang tidak suka” nyaris tidak terdengar suaranya.
Haris masuk ke dalam kamar mandi seolah tidak mendengar apa yang dikatakan Ninu. Ninu menghela nafas, ya Tuhan melelahkan sekali.
Beberapa saat kemudian pintu kamar mandi terbuka, Ninu segera berdiri dari duduknya. Karena Haris hanya mengenakan handuk saja Ninu menundukkan pandangannya.
“Mana baju untukku?”
“Oh…eh… iya saya ambilkan” bersegera dia melangkah ke walk in closet. Ninu memperhatikan baju-baju pria yang tertata rapi di sana tapi kemudian dia bingung sendiri baju apa yang akan dipakai Haris dia tidak tahu. Mau bertanya takut, akhirnya dengan ragu-ragu dia mengambil piyama kotak-kotak lalu menyerahkannya pada Haris.
“Aku tidak mau baju itu! Apa kamu tidak tahu apa yang aku pakai kalau sedang ada di rumah?!” hardiknya membuat Ninu agak terperanjat.
“Awas! Segitu aja tidak becus!” serunya lagi menyingkirkan Ninu yang masih berdiri dihadapannya memeluk baju piyama.
Haris mengambil kaos dan celana pendek selutut lalu memakainya. Setelah menyisir rambutnya dia berjalan menuju sofa dan mendudukkan dirinya di sana, mengambil gawainya.
“Duduk!” serunya lagi membuat Ninu semakin gemetaran. Dia duduk di pojok sofa agar jauh dari Haris.
Apakah dia akan memarahiku?
“Tadi mama meneleponmu bukan?” tanyanya dengan nada datar tanpa memandang Ninu.
Ninu mengangguk.
“Jawab kalau aku tanya!”
Aku sudah mengangguk tuan, kamu saja yang tidak melihatnya.
“I.. iya bang.”
“Apa saja yang kalian bicarakan?”
“Ti..tidak ada bang, hanya.. mama hanya menanyakan kabar” jawab Ninu, “Mama menanyakan bagaimana malam pertama dan menyarankan untuk pergi bulan madu,” sekarang kepalanya tertunduk dengan pipi yang sedikit memerah.
__ADS_1
Haris sedikit meliriknya sebelum kembali memandang gawainya. Entah apa yang Haris lihat dari gawainya itu tapi sepertinya tidak ada yang dilakukannya.
“Dengar, kamu tidak boleh mengadu hal yang aneh-aneh sama mama atau papa, mengerti?” mencoba mengalihkan topik pembicaraan.
“Iya saya mengerti.”
“Awas kalau sampai mama tahu apa yang sebenarnya terjadi. Mati kamu!” ancamnya dengan suara dingin.
Hei, kenapa di sini aku yang disudutkan seolah aku adalah seseorang yang melakukan kesalahan. Bukankah aku berada di sini untuk menolong anda tuan tapi kok seperti aku yang mencelakaimu, protes Ninu, tapi hanya dalam hati, mana berani dia mengatakan itu pada Haris, beradu pandang saja Ninu tidak berani apalagi bicara keras seperti itu.
Hening sejenak. Sepertinya sekarang Haris sedang mengetik chat di gawainya.
“Apa saja yang kamu lakukan selama aku tidak pulang?”
“Sa..saya…”
“Bisakah kamu bicara yang jelas tidak terbata-bata begitu?! Telingaku gatal mendengarnya. Apa kamu saudaranya Ajis gagap?!” kembali Haris menghardik.
“Ma…maaf tuan, eh..bang” Ninu semakin gugup.
“Huh..!! susah ya ngomong sama kamu. Cape!” Haris bangkit, “Pergi sana siapkan makan malam untukku” usirnya kesal, kemudian dia membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur dan memejamkan mata.
Ninu berjalan ke luar kamar perlahan menuju dapur.
Menakutkan sekali. Mudah-mudahan dia tidak pulang tiap hari. Aku bisa mati berdiri kalau tiap hari menghadapi situasi seperti ini. Bisa kena sakit jantung aku, gumamnya.
Ini lebih menakutkan daripada berada di kandang macan, eh tapi aku tidak pernah berada di kandang macan sih, pasti itu juga menakutkan kalau sampai macan itu menerkam dan memakanku, matilah aku, aku akan dicabik-cabik sampai tinggal tulang. Eh..kenapa jadi mikir tentang macan sih, Ninu menghela nafas dalam.
Mungkin dia lebih menakutkan dari pada hantu tanpa kepala. Kenapa dia tidak mau menatapku ya? Apa aku sangat menjijikkan dan tak layak untuk dipandang? Dasar orang kaya sombong, umpatnya.
⚘
POV Haris
Apa aku sangat menakutkannya ya, dia sampai gemetaran begitu. Padahal aku gugup ngomong sama dia eh dia lebih gugup lagi hehe…sialan! Pikir Haris sambil memandang langit-langit kamarnya, sudut bibirnya menyunggingkan senyuman tipis.
Selama di perjalanan pulang aku pusing memikirkan akan ngomong apa sama dia, eh…dianya malah ketakutan sama aku. Huh dasar gadis kampungan, kurang gaul! Umpatnya lagi.
Tapi aku harus bicara sama dia untuk antisipasi kalau-kalau mama dan papa datang tiba-tiba, supaya jawaban kami sama jadi mama dan papa gak akan curiga.
⚘⚘⚘⚘
Dua-duanya gugup
Dua-duanya tidak tahu
Dua-duanya salah sangka
__ADS_1
😂😂😂😂😂😂😂