TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
PRAKTEK 1


__ADS_3

Singkat cerita, tak terasa sudah satu bulan lebih Ninu menjalani kursusnya, sekarang dia sudah mulai belajar macam-macam model rambut, cara memotong, dan mewarnai rambut. Walau masih amatir tetapi karena kesungguhannya dalam belajar dalam waktu yang relatif singkat kemampuannya sudah bisa diacungi jempol.


Seminggu yang lalu Ninu pulang ke kampungnya untuk mengurus Ima yang baru lulus SMP. Ima melanjutkan sekolah ke SMK favorit di kota kabupaten tempat mereka tinggal. Ninu ditemani bi Tati mencarikan tempat kost untuk Ima dan mengurus segala keperluannya.


Selama tiga hari kepergian Ninu ke kampung, rumah besar terasa sepi, demikian juga yang dirasakan Haris, mungkin sudah mulai terbiasa dengan keberadaannya, pikir Haris waktu itu.


Sementara pencarian Haris belum menunjukkan hasil. Dia masih belum juga mendapat kabar dari orang sewaannya untuk mencari keberadaan Tyara.



Siang itu, sepulang kursus Ninu mampir ke mall untuk membeli bahan-bahan prakteknya. Besok dia berencana akan mempraktekkan beberapa model rambut dan mewarnai. Selain itu dia juga ingin membeli beberapa keperluan pribadinya.


Setelah puas berkeliling mall dan mendapatkan apa yang diinginkannya Ninu mampir ke sebuah café yang sering dia lewati dalam perjalanannya kalau pulang kursus.


Ninu duduk di meja yang ada di sudut ruangan, dia mengedarkan pandangannya memperhatikan keadaan café yang cukup ramai. Setelah memesan makanan dia mengeluarkan gawainya, melihat beberapa chat yang masuk. Sambil tersenyum-senyum dia membaca satu per satu chat itu.


“Hai… Ninu ya?!” sapa seseorang berdiri di depannya.


Ninu mendongakkan kepalanya melihat sumber suara, "Andre!” serunya dengan mata berbinar, lalu berdiri.


Andre tersenyum, “Dari tadi aku perhatikan, ternyata memang benar kamu Nin. Gimana kabarnya?” Andre mengulurkan tangan menyalami Ninu.


“Alhamdulillah kabar baik Dre. Kamu gimana kabarnya?”


“Alhamdulillah baik,” Andre menarik kursi di depan Ninu dan mendudukinya.


Sejenak mereka bertatapan dengan senyum menghiasi wajah layaknya sahabat yang lama tidak bertemu.


“Aku gak nyangka lho bisa ketemu kamu di sini. Kamu lagi ngapain di sini?” tanya Ninu.


“Sama aku juga gak nyangka. Aku di sini lagi kerja Nin.”


“Oh ya? kamu kerja di sini?” mata Ninu membulat, “Iya sih aku dengar dari Sinta katanya kamu keluar dari café tempat kita kerja dulu ya?”


“Iya Nin, aku ingin mencoba punya usaha sendiri.”


“Jadi…? café ini milik kamu Dre?”


Andre tersenyum lebar.


“Waah…kamu hebat!” seru Ninu melonjak sambil menepukkan kedua tangannya beberapa kali di depan dadanya seolah dia dapat undian besar.


“Biasa aja Nin,” Andre tersipu, “Ini juga sebagian besarnya masih modal dari orangtua.”

__ADS_1


“Ihh…gak apa-apa Dre segitu juga udah luar biasa, daripada aku yang gak punya apa-apa,” nada suaranya mulai menurun, teringat kembali nasibnya yang sekarang mendapatkan uang dengan berpura-pura jadi istri orang, sungguh pekerjaan yang tidak bermutu, pikirnya.


“Bukannya kamu juga luar biasa Nin, dapat suami kaya dan ganteng,” Andre menyandarkan badannya di kursi, seperti enggan mengatakan itu, “Oh ya, bagaimana kabar suamimu? Kamu beda lho sekarang,” Andre mengalihkan pembicaraan.


“hmmm….” Ninu melepaskan nafas kasar, “Alhamdulillah bang Haris baik,” sambil senyum terpaksa.


“Kamu kok kayak gak senang ditanya tentang suami?”


“Ih…siapa bilang!” sanggah Ninu.


Obrolan mereka terputus ketika seorang pelayan datang membawakan makanan yang dipesan Ninu, “Selamat menikmati nona” ucapnya tersenyum, melirik sebentar pada Andre sambil tersenyum juga.


“Aku buatkan kopi latte juga dong,” ucap Andre pada pelayannya.


“Baik mas, sebentar ya,” dia berlalu kembali ke dapur.


“Ayo Nin dinikmati, santai saja. Kamu gak lagi terburu-buru kan?”


“Iya santai aja Dre.”


Mereka menikmati siang itu sambil ngobrol dan tertawa. Ninu merasa bahagia karena menemukan teman untuk bercerita karena Andre orangnya asik dan nyambung, dan karena mereka dulu satu pekerjaan jadi mereka punya bahan obrolan yang menyenangkan.


Selain berbincang, Andre juga menunjukkan beberapa menu favoritnya di café, mengajak Ninu melihat-lihat cafenya yang terdiri dari dua lantai. Menurut Ninu, Andre punya potensi untuk berkembang karena dia memiliki konsep yang bagus dalam menjalankan usahanya.


“Kamu bisa sholat di sini Nin, ada mushola kok,” jawab Andre seolah enggan mengakhiri obrolan.


“Bukan hanya itu Dre, tapi aku juga gak mau keduluan pulang sama bang Haris,” jawab Ninu membuat Andre sadar bahwa wanita di depannya ini sudah bersuami.


“Oh, iya deh. Kamu sering-seringlah ke sini ya Nin,” jawabnya sambil berdiri mengikuti Ninu yang sudah berdiri lebih dulu.


“Pasti! Gak usah khawatir, aku pasti bakal sering ke sini. Apalagi gratis kayak gini, asal kamu gak bosan aja,” Ninu tertawa ringan diikuti Andre.


“Mana ada kata bosan, yang ada sih seneng aja,” jawabnya.


Setelah bersalaman Ninu melangkahkan kakinya keluar, menghampiri pak Eko yang sedang duduk menunggunya di kursi yang terpasang di luar café. Kopi dan makanannya sudah lama habis.


“Ayo pak kita pulang!”


“Baik non,” pak Eko berdiri dan bergegas menuju mobil, membukakan pintunya untuk Ninu.


Andre masih berdiri di balik jendela memperhatikan Ninu, dia menghela nafas. Ada rasa bahagia di hatinya karena bisa bertemu Ninu, tapi entah mengapa ada sedikit sakit di sana.


__ADS_1


Keesokan harinya Ninu sudah sibuk dengan rencana yang akan dikerjakannya di rumah besar. Hari ini memang tidak ada jadwal kursus untuknya.


Ninu sudah meminta pelayan untuk memasang meja di halaman belakang, menyiapkan cermin besar dan kursi juga. Diletakkannya barang-barang yang dibelinya kemarin di mall. Ninu tersenyum, harus optimis, aku bisa!, bisiknya pelan.



Suara mobil Haris terdengar memasuki halaman. Pak Otang segera bergegas membukakan pintu depan.


“Selamat sore tuan,” sapanya sambil menundukkan kepala.


“So…” suara Haris tercekat, matanya berhenti berkedip lalu membulat menatap pak Otang, hatinya berdesir seperti ada sesuatu yang ingin keluar dari kerongkongannya tapi dia tahan, “Sore” jawabnya.


Haris segera melangkahkan kakinya menuju ruang kerja tanpa memberikan tas kerjanya pada pak Otang. Bergegas dia masuk ruang kerja dan menutupnya kembali.


“BHAHAHA…HAHAHAHA….”


Terdengar tawa yang sangat keras dan nikmat dari ruang kerja, sepertinya sedang menertawakan sesuatu yang sangat lucu.


Pak Otang yang mengikuti Haris berhenti di depan ruang kerja hanya tertunduk, sialan! ini gara-gara nona, gerutunya dalam hati, kemudian berlalu menuju dapur.


Sementara itu, di ruang kerja Haris masih tertawa sampai matanya merah dan berair. Tangannya sekarang memegang perutnya karena terasa sedikit sakit akibat tawanya itu. Dia berhenti ketika tawanya itu berubah menjadi batuk. Tangannya mengusap ujung matanya yang berair.


Haduuh…ada-ada saja wanita itu, ya ampun pak Otang, lucu sekali, gumamnya tersenyum lebar.


Diambilnya gawai lalu menghubungi seseorang


“Halo, kamu ke sini sekarang. Ada sesuatu yang menarik untuk dilihat!” klik telepon ditutupnya lagi tanpa menunggu jawaban.


Haris duduk di atas sofa sambil kembali terkekeh membayangkan penampilan pak Otang tadi. Disandarkan punggungnya, senyum masih menghiasi wajahnya.


Sekitar setengah jam kemudian, terdengar suara keributan di luar. Haris segera beranjak, dia pasti sudah datang, pikirnya.


Tak berselang lama pintu ruang kerja diketuk seseorang.


“Masuk!” seru Haris.


BHAHAHA…HAHAHAHA…..


Suara tawa kembali terdengar setelah pintu ruang kerja tertutup kembali. Sekarang tawa dari dua orang pria yang menggema di ruang kerja. Sepertinya mereka sedang mendapat kebahagiaan yang luar biasa


Sementara itu, pak Otang duduk di dapur dengan pandangan kosong, tanpa ekspresi, tuan belum melihat semuanya, bisiknya, akan saya tunjukkan pada anda tuan.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Ahhhh....akhirnya tuan kaku itu bisa tertawa lepas setelah sebelumnya dia tersenyum manis 😃😃😃😃😃


__ADS_2