
HARIS’ POV
Haris dan Budi meninggalkan pool mengendarai mobilnya. Mereka menuju sebuah lokasi perkantoran. Hari ini mereka akan bertemu dengan pemilik Tripana Grup untuk sebuah perjanjian kontrak kerjasama.
“Sudah dibawa semua dokumennya Bud?” tanya Haris ketika mereka keluar dari gerbang pool.
“Sudah bang.”
“Nanti pulangnya mampir dulu ke toko kue ya.”
“Mau beli apa bang?”
“Aku mau beli kue bangket jahe untuk istriku.”
Mantap! Budi tersenyum.
“Kenapa kamu senyum-senyum gak jelas gitu?!”
“Aku lihat abang sama kakak akhir-akhir ini mesra banget,” ucap Budi sambil mengemudi.
“Dulu kamu bilang harus mesra karena kami suami istri, sekarang kami mesra kamu terus saja menggoda.”
“Hehe… kalau dilihat-lihat dari sisi manapun abang sama kak Ninu tuh serasi banget.”
Haris mendengarkan dengan hidung sedikit mengembang.
“Pernah aku dengar bang, ada supir yang ngobrolin kalian lho.”
Haris menatap Budi, “Oh ya?! apa katanya?”
“Katanya kalian seperti Romeo dan Juliet, Arjuna dan Srikandi. Cocok banget!” Budi melirik Haris sekilas lalu kembali mengarahkan pandangannya ke depan.
Haris tersenyum.
“Kuat berapa kali bang semalam?”
“Kenapa pertanyaanmu selalu berakhir di hal-hal konyol gak jelas kayak gitu?!” tangan Haris menoyor kepala Budi.
“Hehe… aku kan cuma tanya bang,” Budi terkekeh.
“Kalau aku sih dulu waktu pengantin baru bisa 4 sampai 5 kali bang. Cuma kadang aku kasihan sama Yona, dia kelelahan banget,” Budi tersenyum membayangkan masa-masa itu.
“Kalau abang gimana? Kurasa sama ya,” kembali melirik Haris.
“Kamu maniak!” kembali Haris menoyor, Budi tertawa.
“Kalau aku lihat-lihat kakak tuh patuh banget sama abang ya.”
“Iya,” jawab Haris singkat. Itu memang benar, istrinya sangat patuh dan tidak pernah minta yang aneh-aneh.
“Kayaknya apa yang abang bilang dia nurut aja, bahkan gak berani nolak dicium di depan aku haha… padahal aku lihat mukanya jadi merah karena malu.”
Haris tersenyum membayangkan itu, memang benar terkadang dia lost control mencium atau memeluk Ninu di depan umum. Dan memang benar, istrinya tidak pernah menolaknya.
“Apa abang mencintainya?” sekarang suara Budi terdengar serius.
“Kamu pikir aku tidak mencintainya?” Haris balik bertanya.
“Hati orang kan tidak bisa diduga bang, walaupun abang mesra sama kakak siapa tahu abang hanya berpura-pura.”
__ADS_1
“Aku mencintainya.”
“Sepenuh hati bang?”
“Ya iyalah. Kamu pikir aku bercanda?”
“Syukurlah kalau begitu. Aku turut senang.”
“Bagaimana dengan Tyara bang?” kembali suara Budi serius.
Haris terdiam.
“Abang masih memikirkannya dan masih ingin bertemu dengannya?”
“Tidak, kurasa sudah tidak lagi. Sekarang aku hanya mencintai istriku.”
Jawaban yang melegakan.
Tak terasa obrolan telah mengantarkan mereka ke tujuan. Sebelum turun, mereka mengecek kelengkapan dokumen dan alangkah kagetnya Budi ternyata dia salah membawa map.
Haris sempat ngomel sebelum akhirnya dia menghubungi Ninu untuk mencarikan map tersebut dan menyuruh Gultom mengantarkannya dengan sepeda motor.
⚘
Pertemuan dengan pemilik Tripana Grup berakhir dengan sukses, selain mendapat kontrak transportasi miliknya, Harispun mendapat peluang untuk bisnis pertambangan dan minyak sawit milik papanya.
“Bang, sebetulnya aku punya kabar nih,” suara Budi membuka obrolan, sekarang mereka sedang di perjalanan menuju rumah pool setelah tadi mampir ke toko kue.
“Kabar apa?”
“Aku dapat telepon dari Beno, katanya mereka telah menemukan Tyara,” Budi menatap Haris, sepertinya dia ingin tahu reaksi Haris atas ucapannya.
Haris menatap Budi datar.
“Aku tidak akan pergi. Aku sudah tidak tertarik,” jawab Haris.
“Kenapa bang?”
“Untuk apa aku menemuinya, aku sudah punya istri yang aku cintai dan mencintaiku.”
“Tapi menurut aku bang, sebaiknya abang menemuinya.”
“Kamu mau membuat rumah tanggaku hancur hah?!”
“Bukan begitu bang. Salah kalau abang berpikir begitu. Aku pikir abang harus melihatnya untuk lebih meyakinkan hati dan cinta abang pada kakak.”
Haris diam.
⚘
DIANDRA’S POV
Sehari sebelum Haris pergi ke Tripana Group bersama Budi.
“Halo tante, assalamualaikum,” suara Budi di telepon.
“Waalaikumsalam Bud, ada kabar apa nih?” jawab Diandra.
“Gak ada yang penting sih tan, cuma sedikit laporan saja. Sekarang bang Haris dan kakak sudah lengket kayak perangko, gak terpisahkan.”
__ADS_1
“Ah… syukurlah, tante senang mendengarnya.”
“Apa rencana itu akan kita laksanakan, tan?”
“Ya, tentu saja, agar cinta Haris pada Ninu lebih kuat,” jawab Diandra.
“Apa gak akan jadi boomerang nantinya tan?” ada keraguan pada diri Budi.
“Tidak, justru dengan mempertemukan Haris dengan wanita itu, akan membuka mata Haris bahwa selama ini dia telah membuang waktunya sia-sia untuk sesuatu yang tidak jelas dan tidak baik,” suara Diandra penuh keyakinan.
“Baiklah kalau begitu, nanti akan aku sampaikan pada bang Haris.”
“Sampaikanlah dengan baik, jangan sampai salah agar hasilnya sesuai dengan yang kita inginkan.”
“Baik tan, tentu saja.”
“Terima kasih ya Bud, kamu banyak membantu. Tante hanya berusaha untuk kebahagiaan Haris.”
“Sama-sama tan, gak usah sungkan.”
Jadi sebetulnya bukan Beno yang memberitahu tentang alamat Tyara, ini adalah rencana Diandra dan Budi. Karena sebenarnya Budi sudah tahu dimana keberadaan Tyara tetapi dia menyembunyikannya dari Haris.
⚘
Kembali ke Ninu yang menemukan foto gadis cantik bernama Tyara di laci meja kerja Haris. Dia duduk di kursi kerja Haris sambil memandangi foto itu. Diamatinya wajah gadis itu dalam-dalam.
Sejenak dia merasakan ada sakit di sudut hatinya. Banyak dugaan muncul di sana, apakah ini pacar bang Haris ya, tapi setahuku bang Haris tidak pernah punya pacar. Bukankah itu yang dikatakan Tanti dan mas Budi.
Dan selama hampir enam bulan menikah aku juga tidak penah melihat bang Haris dekat dengan seorang wanita walau hanya sekedar bertelepon.
Mungkin ini pacar bang Haris ketika sekolah dulu yang tidak diketahui oleh Tanti dan mas Budi, pikirnya lagi, karena ini jelas foto lama, warnanya dan style wanita ini juga menunjukkan bukan style masa sekarang. Ini setidaknya foto sepuluh tahun yang lalu bahkan lebih.
Lalu bagaimana dengan kata-kata one day I will find you, apakah wanita ini meninggalkan bang Haris ya? apa bang Haris patah hati karena ditinggalkan olehnya lalu bersumpah akan menemukannya?
Tapi itu juga tulisan lama jadi tidak perlu risau, mungkin bang Haris menulisnya waktu itu saat dia sangat mencintai wanita ini. Mungkin ini seperti cinta monyet belaka.
Ninu menghela nafas, mencoba meredakan emosinya yang sempat tersulut tadi.
Aku tidak boleh berburuk sangka pada suamiku sendiri, itu hanya akan membuat hubungan kami jadi tidak baik. Kalau memang ini masa lalu aku tidak akan mempermasalahkannya, yang penting sekarang dan ke depannya bang Haris hanya mencintaiku.
Tapi untuk keamanan sebaiknya aku simpan saja foto ini supaya bang Haris tidak teringat lagi pada masa lalunya.
Ninu beranjak kembali ke kamar dan menyimpan foto itu di dalam tasnya.
⚘
Setibanya kembali di rumah pool Haris turun dari mobil disambut oleh Ninu yang tersenyum di depan pintu.
“Assalamualaikum sayang,” ucap Haris menerima tangan Ninu yang menyalaminya. Haris mencium kening Ninu.
“Waalikumsalam.”
“Ini,” Haris memberikan bungkusan pada Ninu, “Tadi abang mampir ke toko kue."
“Apa ini bang?” wajahnya tampak senang menerima bungkusan dan melongoknya.
“Kue bangket jahe, suka kan?”
Ninu tersenyum sambil mengangguk, kemudian mereka berjalan bergandengan masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
⚘⚘⚘⚘
Happy reading semuanya 😍😍😍😍