
Pagi hari itu setelah seminggu sejak sakit, Ninu sudah sehat kembali. Wajahnya Nampak lebih segar dan berseri, mungkin karena makanan bergizi yang dibuatkan oleh Tanti sesuai dengan yang diperintahkan Haris dan multi vitamin yang diberikan oleh dokter Regar.
Ninu sedang duduk di halaman belakang sambil membolak-balikkan brosur kursus yang pernah diberikan Budi padanya. Sejenak perhatiannya teralihkan mendengar kecipak air di kolam. Ditatapnya ikan koi besar yang sedang meluncur kembali ke dasar kolam setelah tadi muncul ke permukaan. Ninu tersenyum melihatnya.
Sekarang hatinya lebih lega. Selama dia sakit, Haris pulang setiap hari. Dia menyempatkan menjenguk Ninu di kamar hanya untuk memastikan kesehatan Ninu membaik. Sekarang Ninu tidak takut lagi untuk bicara ataupun menatapnya. Haris juga sudah tidak pernah lagi berkata kasar dan menghinanya walaupun dia hanya bicara seperlunya itu tidak masalah buat Ninu, sampai di situ saja sudah sangat membahagiakannya. Sekarang dia tahu Haris memang pria yang baik.
Matanya kembali menatap brosur.
Derrttt …derrrttt…
Gawainya berdering mengalunkan lagu pura-pura lupa dari Mahen. Ninu melihat nama mama di layar gawainya, dia segera menggeser tanda berwarna hijau.
“Assalamualaikum, ma” sapanya.
“Waalaikumsalam, sayang gimana kabarnya? katanya kamu sakit ya?” suara Diandra di seberang sana terdengar penuh kekhawatiran, “Sakit apa nak?”
“Sudah baikan kok mah, cuma masuk angin aja ma jadinya demam gitu”
“Ya ampun sayang…maafkan mama baru sempat nelepon sekarang, hampir seminggu ini mama menemani papa di villa di perkebunan, lagi ada sedikit masalah di sana. Dan kamu tahu nak, di sana tidak ada sinyal, mama merasa hampir gila gak bisa komunikasi dengan dunia luar, kayak terasing gitu” cerocos Diandra, “Mama pengen sekali datang ke situ tapi gak bisa, papa sibuk banget sekarang-sekarang ini. Mama mau berangkat sendiri gak boleh” Diandra sepertinya kesal.
“Gak apa-apa ma, akunya juga udah sembuh kok”
“Syukurlah kalau sudah sehat lagi. Haris cerita katanya badan kamu panas banget dan kamu sakit perut juga ya. Dia khawatir banget lho nak”
Masa sih tuan Haris khawatir sama aku? Tapi bisa jadi sih, dia kan perhatian banget waktu aku sakit, bisik Ninu dalam hati.
“Iya ma, kebetulan waktu itu aku lagi sakit datang bulan juga”
“Biasanya perempuan yang menstruasinya sakit itu subur lho nak. Semoga saja ya kamu bisa segera hamil, biar kami segera punya cucu dari Haris”
Aduh, kejauhan itu ma, wong kami tidur beda kamar kok.
“Apa kamu sakit karena Haris memforsir kamu ya?” tanya Diandra.
“Gak kok ma, bang Haris gak pernah nyuruh aku kerja, aku …”
“Ehh...bukan itu maksud mama” Diandra menyela, “Maksud mama memforsir kamu malam-malam. Itu lho…masa gak ngerti sih pengantin baru” Diandra terkekeh.
Wah…mama salah sangka.
“Sayang, kamu harus banyak makan dan minum vitamin juga ya, biar badan kamu kuat dan sehat. Jadi bisa mengimbangi Haris”
__ADS_1
“Gak gitu kok ma”
“Ah kamu ini, masa masih malu-malu ngomong sama mama. Sudah, nanti mama suruh Tanti masak makanan yang bergizi tinggi buat kamu. kalau sama-sama kuat kan seru mainnya hahaha…” Ninu dapat membayangkan wajah Diandra yang sedang tertawa terbahak.
Duh mama ini, gak tahu aja yang sebenarnya terjadi, batin Ninu.
“Ya sudah kalau kamu sudah baikan alhamdulillah, mama jadi tenang. Jangan lupa omongan mama ya, banyak makan, minum vitamin dan olahraga juga biar seimbang. Oke sayang?!”
“Iya ma, inshaallah nanti aku laksanakan” jawab Ninu.
“Oh ya, sayang kakakmu Hesti kirim sesuatu buat kamu, sudah dia paketkan tadi pagi, nanti kalau sudah diterima kabari ya”
“Apa ma?”
“Pakaian sama minyak wangi nak. dia baru pulang dari Australia”
“Oh ya?!, tolong sampaikan terima kasih aku buat kakak ya ma” Ninu bersemangat.
“Iya nanti mama sampaikan. Sudah dulu ya teleponnya, nanti kita ngobrol lagi lain waktu”
“Iya baik ma, terima kasih untuk semuanya. Salam dari aku untuk keluarga di sana ya ma”
“Waalikumsalam, ma”
Waah…oleh-oleh dari Australia, senangnya… Ninu tersenyum sumringah.
⚘
Sudah beberapa hari ini Haris tidak pulang. Sebetulnya buat Ninu itu tidak jadi masalah toh biasa juga begitu. Tetapi sekarang Ninu ingin sekali bertemu dengannya, bukan rindu, salah kalau dibilang dia rindu sama pria itu. Dia ingin segera minta ijin mengikuti kursus. Bosan yang mendera rasanya sudah tak tertahankan lagi.
Sore itu Ninu sedang berjalan-jalan di halaman belakang mengamati tanaman hias dan menyianginya. Salah satu kegiatan Ninu selama di rumah besar adalah mengurus dan menata tanaman hias. Dia senang sekali dengan aneka bunga yang berwarna-warni.
“Kamu sedang apa?” Haris yang tiba-tiba muncul membuat Ninu sedikit terperanjat.
“Eh…abang” ada senyum tipis tersungging di sana, “Ini… sedang melihat bunga-bunga”
“Itu apa?” menunjuk kertas yang berserakan di atas meja, lalu dia duduk di kursi di samping meja itu.
Tanti datang membawa sepiring camilan dan dua gelas teh panas, meletakkannya di meja lalu undur diri kembali ke dapur.
“Oh itu… Itu brosur kursus bang” jawab Ninu sambil berjalan menghampiri Haris, menyalaminya, lalu merapikan kertas-kertas itu.
__ADS_1
“Duduk” tangan Haris menunjuk kursi kosong di sebelahnya, “Kamu mau kursus?” tanya Haris.
“Boleh bang?” Ninu balik tanya, matanya menatap Haris menunggu jawaban.
“Emang mau kursus apa?”
“Ini ada beberapa kursusan, tapi saya lebih tertarik yang penata rambut dan kecantikan wajah.” mata Ninu kembali menatap brosur-brosur itu, “Tapi yang ini biaya kursusnya lebih mahal daripada yang lain”
Haris yang sedang mengunyah camilan tidak bereaksi, membuat Ninu sedikit khawatir kalau Haris tidak akan mengijinkannya.
“Masalah biaya tidak perlu kamu pikirkan. Kalau kamu tertarik ya ikut saja” akhirnya suara Haris membuat Ninu lega.
“Tapi… saya juga harus beli bahan dan alat untuk prakteknya bang, dan pasti itu juga mahal”
“Kamu gak yakin aku bisa beli itu buat kamu?” tanya Haris melirik Ninu.
Aku tahu uangmu banyak bang, yang aku tidak yakin adalah mau tidak kamu mengeluarkan uang sebanyak itu untuk aku, batin Ninu.
“Bukan begitu bang, hanya…”
“Kapan kamu mau daftar?”
“Eh…mungkin hari Senin depan, kalau abang mengijinkan”
“Nanti minta Eko untuk mengantarmu ke sana” Haris masih sibuk dengan camilannya.
“Iya bang. Terima kasih ya”
Haris melirik lalu tersenyum, “Ya tentu saja” ucapnya membuat hati Ninu tercekat.
Ya ampun untuk pertama kalinya dia tersenyum padaku, manis bangeeett…….
Pada dasarnya Ninu adalah gadis polos yang belum pernah memiliki hubungan spesial dengan pria manapun. Sebagai wanita normal tentu saja dia senang pada pria yang tampan dan gagah seperti Haris, maka ketika Haris bersikap manis padanya, tidak bisa dibohongi kalau hatinya berdebar-debar dan berbunga.
⚘⚘⚘⚘
Happy reading semuanya
Aku tunggu like, komen, dan vote nya 😍😍😍😍
Terima kasih 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1