TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
CEMBURU 1


__ADS_3

Hari ini Ninu sangat lelah. Seharian Diandra mengajaknya jalan-jalan ke mall. Ini pengalaman pertama bagi Ninu jalan-jalan dan belanja di butik-butik mahal. Diandra membelikan beberapa baju branded yang sangat bagus. Dia juga membelikan beberapa baju tidur. Sebetulnya Ninu tidak mau karena tidak cocok dengan modelnya yang pendek dan tak berlengan tapi Diandra kekeh dan mengatakan baju itu sangat cocok untuk dipakai Ninu kalau tidur dengan Haris. Walaupun bahannya terbuat dari sutera tapi Ninu terus menolak. Namun tentu saja pada akhirnya Diandra yang menang dan memasang wajah sumringah.


Setelah berbelanja seharian, Diandra juga mengajak Ninu makan di restoran mewah. Mengajaknya mencicipi makanan mahal dan enak. Walaupun tidak mengenyangkan tetapi Ninu mengakui makanan-makanan itu sungguh lezat.



Ini malam kedua Haris dan Ninu tidur satu ranjang. Karena lelahnya Ninu segera saja terlelap sebelum Haris masuk ke dalam kamar.


Haris yang melihat Ninu sudah terlelap ketika dia masuk kamar hanya meliriknya sekilas lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum tidur.


Dia merangkak naik ke atas tempat tidur, lalu menarik selimut. Sebelum membaringkan tubuhnya disempatkannya menatap Ninu yang tidur telentang dengan wajah damai. Suara nafasnya halus terdengar.


Ditatapnya dalam. Disusurinya setiap inci wajah Ninu. Dia tersenyum, terpancing untuk mendekatkan wajahnya. mengagumi rambut hitam bergelombang yang terburai di atas bantal. Tangannya bergerak perlahan mengusap rambut itu. perlahan naik ke kepalanya. Diusap-usap rambut wanita di hadapannya dengan tatapan sahdu.


Perlahan tangannya beralih dari rambut ke pipi. Pipi yang halus dan mulus menggodanya untuk membelai. Diusapnya perlahan pipi mulus itu. seolah ada sihir yang menarik wajahnya semakin mendekat, lalu CUP! Bibirnya mencium kening. Wangi rambut yang sudah Haris kenal dengan sangat baik membuat darahnya berdesir. Ini pertama kalinya dia mengelus dan mencium seorang wanita. Walaupun wanita itu tidak tahu tapi jantungnya tetap berdegup lebih cepat. Ada rasa hangat yang mengalir dalam darahnya.


“Hmmmm…..” gumam Ninu memiringkan tubuhnya menghadap Haris.


Haris segera menarik tubuhnya ke posisi semula. Dia takut kalau tiba-tiba Ninu bangun dan memergoki dirinya sedang memandangi dan mengelus-ngelus pipinya. Dia segera membaringkan tubuhnya dengan tatapan yang tak lepas dari wanita itu. terus ditatapnya tiada lelah hingga kantuk menghampirinya dan membuatnya terlelap.



Ninu bermimpi dia sedang tidur lalu datang ibu duduk di sampingnya. Ibu menatapnya sambil tersenyum. Diusapnya rambut dan pipi Ninu, lalu ibu mengecup kening Ninu dengan penuh kasih sayang. Ninu tersenyum dalam tidurnya yang semakin lelap.


Dan percayalah, sejak malam itu Haris punya kebiasaan baru yaitu memandangi wajah Ninu dan diam-diam membelai serta menciuminya. Dan Ninu juga punya kebiasaan baru yaitu mimpi dibelai oleh orang terdekat, terkadang ibu, Ima, ibu Syarif, bahkan pria tampan yang pernah mampir dalam mimpi sebelumnya.



Siang itu sekira jam makan siang Haris dan Budi sedang berada di Jimbaran Seafood bersama pak Bastian.


Pak Bastian adalah pemilik PO. Star yang mengalami kebangkrutan. Dia menawarkan beberapa bus pariwisatanya kepada Haris. Dan mereka akan membahas itu siang ini.


Sekira pukul 3, setelah pertemuan itu selesai dengan hasil yang memuaskan, Haris memacu mobilnya hendak pulang ke rumah besar. Tapi di perjalanan dia melihat mobil Ninu terparkir di sebuah café. Awalnya Haris akan terus melanjutnya perjalanannya tetapi dia teringat dengan niatnya untuk mulai berusaha membuka hati pada istrinya itu, maka dia menghentikan mobilnya di depan café itu berniat akan menemani Ninu makan.


Setelah memarkirkan mobilnya Haris berjalan memasuki cafe.



Beberapa saat sebelum Haris masuk ke dalam cafe.


Sepulang kursus Ninu menyempatkan diri mampir ke café untuk menemui Andre. Dia ingin sedikit melepas penatnya dengan ngobrol dan tertawa lepas. Beberapa hari ini dia dibuat lelah dengan banyaknya kegiatan bersama Diandra.


“Hai… apa kabar?” sapa Andre tersenyum lebar menyambut kedatangan Ninu.


“Alhamdulillah baik. Kamu gimana kabarnya Dre?”


“Baik, aku baik. Ayo silakan duduk,” Andre menarik sebuah kursi untuk Ninu.


“Kemana aja Nin baru mampir lagi, sibuk ya?”


“Ah gak, cuma kebetulan ada mama mertua di rumah udah beberapa hari ini, jadi aku gak bisa kemana-mana,” Ninu tersenyum.


“Wah...menantu yang baik kamu ya,” Andre tertawa.


“Ya haruslah, mau gimana lagi, masa dicuekin,” Ninu balas tertawa.


“Galak gak mertuamu Nin?”

__ADS_1


“Alhamdulillah mama sama papa baik banget, kayak sama anak sendiri.”


“Kamu beruntung Nin. Eh.. ngomong-ngomong mau makan apa nih?”


“Aku pengen yang seger-seger Dre, apa ya?”


“Jangan-jangan….” Mata Andre menatap menyelidik sambil tersenyum.


“Jangan-jangan apaan?”


“Jangan-jangan kamu hamil.”


“Ah ngaco, hamil dari hongkong,” Ninu tergelak, “Aku cuma lagi penat aja pengen yang seger-seger gitu.”


“Oh oke deh, aku pilihin ya, dijamin kamu pasti suka.”


Andre memanggil pelayan dan memesankan makanan dan minuman yang menurutnya akan sesuai dengan keinginan dan disukai Ninu.


Sambil menunggu pesanan datang Ninu dan Andre ngobrol ngalor ngidul, kadang terlihat serius, kadang tertawa-tawa. Sepertinya mereka sangat akrab.


Hingga tiba-tiba Ninu menghentikan obrolannya. Ekspresi wajahnya berubah.


“Ada apa Nin?” Andre yang melihatnya spontan bertanya dengan raut wajah heran.


Ninu mengendus-enduskan hidungnya, “Ini wangiiii…”


“Sedang apa kamu di sini?!”


Sontak Ninu membalikkan badannya mencari sumber suara, mulutnya ternganga dengan wajah yang tiba-tiba menjadi pucat.


“Lagi ketemuan sama pacar kamu heh?!” suara ketus itu.


Mata Haris tajam menatap Andre dengan wajah sinis. Terlihat kalau dia sangat marah.


“I… ini …” Ninu tergagap.


“Pulang!!” bentaknya, tangannya meraih tangan Ninu dan hendak menariknya.


“Hei.. hei…hei… sabar dulu bung! Anda siapa main tarik aja?!” Andre berdiri mencoba menghalangi Haris.


“Gak usah ikut campur. Awas!” tangan Haris menepis badan Andre.


“Bukan masalah ikut campur, bisa kan gak kasar sama perempuan?!” Andre tidak mau menyingkir, dia masih berdiri di tengah-tengah antara Haris dan Ninu.


Haris menarik kerah baju Andre hingga sedikit terangkat, “Bisa kan kamu tidak menganggu perempuan yang sudah menikah?!” suara Haris penuh penekanan.


“Maksudnya apa?!” Andre tak mau kalah.


“Aku suaminya! Kamu siapa?! Pacarnya?!”


“Dre sudah Dre…” suara Ninu gemetar. Orang-orang yang ada di dalam café menatap mereka.


Haris melepaskan cengkramannya.


Andre menggeser tubuhnya beberapa langkah ke samping membiarkan Ninu dan Haris berhadapan lagi.


“Anda suaminya tapi sikap anda tidak seperti seorang suami. Kasar!” ucapnya, “Aku sahabatnya bukan pacar!”

__ADS_1


Haris hanya menatapnya sambil mendengus kasar, “Ayo pulang!” kembali tangannya menarik tangan Ninu.


“Dre aku permisi dulu ya, maaf…”


“Pulang! Gak usah minta maaf sama dia!”


Ninu berjalan setengah berlari mengikuti langkah Haris yang menarik tangannya diikuti dengan tatapan Andre yang masih membara.


Pak Eko yang sedang duduk di dalam mobil terkejut ketika melihat Ninu keluar dari dalam café bersama Haris sambil setengah ditarik. Dia segera keluar menghampiri.


“Naik!” seru Haris di depan mobilnya yang terparkir di depan café.


“Tapi bang, saya bareng pak…” belum selesai Ninu bicara Haris berbalik menatap pak Eko yang sudah berdiri di belakangnya.


“Kamu!” tunjuknya, “Aku gaji kamu mahal tapi kerja gak becus!”


“Maaf tuan,” pak Eko gemetar, ini ada apa sebenarnya, pak Eko bertanya dalam hati, dia tidak mengerti.


“Jadi ini yang kamu lakukan setiap pulang kursus heh? Ketemuan sama laki-laki lain?!” bentak Haris sambil menjalankan mobilnya, pandangannya lurus ke depan.


Ninu yang duduk menciut mencoba menjawab, “Dia bukan pacar saya bang. Dia teman saya waktu kerja di café dulu.”


“Terus kenapa kamu temui dia? Kamu suka sama dia?!”


Ninu diam.


“Iya kamu suka sama dia?! Aku pikir kamu perempuan baik-baik, ternyata…”


“Dia teman saya bang, tidak lebih” Ninu mencoba membela diri.


“Oooh…cuma teman, tapi kamu bisa ketawa enak gitu sama dia heh!”


“Ya emang kenapa bang kalau saya ngobrol lalu tertawa?” akhirnya Ninu kesal.


“Wah…wah…wah… kamu sekarang sudah berani menjawab juga ya. KAMU SUDAH PUNYA SUAMI TIDAK PANTAS BERBUAT SEPERTI ITU DENGAN LAKI-LAKI LAIN!!” suaranya menggelegar membuat Ninu seketika mengkerut.


Matanya memanas, amarahnya membuncah tapi tidak ada keberanian untuk melawan. Dia takut. Akhirnya hanya tangis yang bisa mewakili perasaannya.


Dia mengatakan aku wanita yang sudah bersuami, apa dia lupa gelar suami yang disandangnya hanyalah sandiwara? Apakah ini juga bagian dari sandiwara itu?


Dulu dia hanya bilang, kamu cukup berpura-pura menjadi istriku sementara waktu sampai aku menemukan wanita yang sesungguhnya akan menjadi istriku. Setelah itu, selesai! kamu bisa kembali ke kehidupanmu. Tidak ada perjanjian kalau aku tidak boleh berteman atau dekat dengan laki-laki lain. Tapi sekarang kenapa dia jadi membatasi banyak hal padaku? Dia juga jadi berani peluk-peluk aku di depan mama dan papa. Dia licik! Dia memanfaatkan keadaan untuk menyentuh dan menguasaiku.


Haris yang melihat Ninu menangis berusaha meredam amarahnya dengan menarik nafas dalam berulang-ulang. Tidak ada lagi pembicaraan hingga mereka sampai di suatu tempat.


⚘⚘⚘⚘


Benih cinta ini sebenarnya telah tumbuh


Tapi mengapa tak kau sadari


Ungkapkan! Adalah jalan terbaik


Tapi itu sulit


Sesulit bibir ini mengucap maaf


😍😍😍😍😍😍

__ADS_1


Happy reading


__ADS_2