TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
SAKAU


__ADS_3

"Kamu ada masalah Nin?” selidik Agis melirik Ninu yang terbaring di sampingnya.


“Aku mau cerita Gis, apa kamu mau mendengarnya?” tanya Ninu ragu.


“Nin, aku udah nganggap kamu saudara, kalau memang kamu ada masalah cerita aja. Mudah-mudahan aku bisa bantu, kalaupun aku tidak bisa bantu setidaknya dengan bercerita beban kamu berkurang, dan aku siap untuk mendengarkan” suara Agis lembut menenangkan hati Ninu yang sedang bimbang.


Ninu menceritakan pada Agis awal perkenalannya dengan Ira dan bagaimana Ira membujuknya untuk meminum obat yang dia berikan, yang pada akhirnya membuat Ninu ketagihan. Dan parahnya lagi, kemudian Ninu harus membelinya dengan harga yang sangat mahal.


Agis yang mendengarkan cerita Ninu sangat geram, berkali-kali dia menyumpahi Ira walaupun dia belum penah bertemu.


“Menurut aku kamu sebaiknya konsultasi ke dokter Nin” saran Agis, “Mungkin dokter tahu obat apa itu dan bisa memberi penawarnya supaya kamu gak ketagihan lagi”


“Menurutmu begitu ya?” gumam Ninu.


“Kalau tidak ke dokter, apa kamu akan menahan kesakitan itu terus menerus? Kan kata kamu, kamu gak kuat menahannya”


Ninu terdiam sejenak.


“Nanti aku antar kamu” ucap Agis lagi.


“Bener ya kamu mau antar aku ke dokter” suara Ninu senang, “Aku takut kalau harus pergi sendiri. Aku juga gak tahu harus gimana menjelaskannya”


“Iya nanti aku antar. Hari apa kamu libur?” tanya Agis.


“Kamis ini aku libur ke toko” Jawab Ninu.


“Baik. Nanti kamis aku ijin kerja setengah hari” jawab Agis. “Sekarang tidur ya udah malam. Besok kita harus kerja kan”


Ninu mengangguk dan mencoba memejamkan matanya. Hatinya senang karena Agis bersedia mengantarnya ke dokter. Semoga dia bisa segera mengakhiri penderitaan yang dibuat oleh tetangganya itu.



Ini hari Rabu dan Ninu sudah gelisah. Sebetulnya dia sudah merasakan sakitnya kambuh kembali sejak tadi malam tapi dia abaikan. Aku harus kuat pikirnya, toh besok dia dan Agis akan berobat ke dokter, menahan sehari pasti bisa. Itu terus yang diucapkannya dalam hati ketika rasa pusing dan mual mulai menyerangnya.


Pagi ini dia bekerja di toko, dengan perasaan lesu dan badan yang tidak nyaman, dia berdiri menyambut konsumen yang datang, melayani mereka dengan sikap ramah yang dipaksakan.


“Mona, aku nitip sebentar ya pengen ke belakang” bisik Ninu pada temannya lalu beranjak ke belakang tanpa menunggu jawaban.


Dia menuju dapur yang ada di ruang istirahat. Duduk berjongkok sambil memejamkan mata, menahan pusing dan mual yang tengah dirasanya. Menggigit bibir bawahnya sambil terus berdoa menguatkan hatinya aku harus kuat aku harus kuat, itu terus yang dibisikkannya dalam hati.


“Ninu kamu lagi apa di situ?” suara temannya menyapa.


Ninu tidak menjawab, dia masih diam.


“Kamu sakit ya?” tanyanya lagi.

__ADS_1


Ninu menggelengkan kepala. Ada tangan yang menyentuh lengannya.


“Eh..badan kamu panas. Ayo ke ruang istirahat” ajaknya sambil memegang tangan Ninu dan berusaha menuntunnya.


“Aku gak apa-apa Ton” ucap Ninu pelan.


“Gak apa-apa gimana, lihat muka kamu pucat gitu, badan kamu panas” seru Tono, “Ayo” ajaknya lagi memaksa.


Ninu nurut.


“Duduk di situ, aku ambilkan air minum” kata Tono lagi.


Tak lama dia kembali dengan segelas air putih hangat dan memberikannya pada Ninu. Kemudian dia keluar dan Kembali lagi bersama bersama Mona.


“Kamu sakit apa Nin?” tanya Mona lalu duduk di sampingnya. Kebetulan toko sedang tidak terlalu ramai.


“Gak tau” sahut Ninu sambil menggelengkan kepalanya pelan, dan karena tidak tahan kemudian dia menjatuhkan dirinya sambil memegang perutnya menahan rasa mual


“Ya ampun kamu pucat. Aku buatkan teh manis ya” Mona beranjak ke dapur dan segera kembali membawa segelas teh manis hangat, “Ayo minum ini dulu” tangan Mona memijit-mijit lengan Ninu “Kamu istirahat aja, nanti aku bilang sama bu Sandra kalau kamu sakit”


Ninu menganggukkan kepalanya. Tono dan Mona kembali ke posisi mereka sementara Ninu masih terbaring di atas kursi di ruang istirahat.


Dia gelisah, matanya terpejam tapi badannya tidak bisa tenang. Tangan dan bibirnya mulai gemetar. Dia sungguh tak bisa menahan rasa yang sekarang sedang menderanya. Dan akhirnya dia berteriak



Sementara itu di kampung, sudah beberapa hari ini kesehatan ibu menurun. Tidak enak makan dan tidak nyenyak tidur. Hati dan pikirannya selalu teringat pada anaknya yang sedang berjuang mencari nafkah di kota. Entah apa yang sedang terjadi padanya, hati ibu sangat gelisah.


Sejak kepergian Ninu ke kota, kehidupan mereka berangsur berubah lebih baik. Sudah tidak pernah lagi periuknya kosong tanpa beras di dalamnya. Sudah tidak pernah lagi mereka menunggu-nunggu pemberian dari Tati adik iparnya atau bahkan dari tetangga. Walau tetap sederhana tetapi mereka sudah bisa memenuhi kebutuhan sendiri tanpa menunggu dan mengharap bantuan dari orang lain.


Ninu juga dapat memenuhi kebutuhan sekolah adiknya. Sekarang Ima tidak perlu lagi pakai sepatu bolong ke sekolah, walau sepatunya bukan sepatu yang mahal tapi sangat layak untuk dipakai. Seragam, buku, dan kebutuhan lainnya dapat terpenuhi dengan baik. Besar harapan ibu Ima dapat mewujudkan cita-citanya kelak.


Kesehatan ibu juga jauh lebih baik sejak Ninu bekerja di kota. Ibu bisa masak nasi kuning dan gorengan setiap pagi untuk dijual di depan rumah. Untungnya mereka punya tetangga yang baik yang selalu membantu dengan cara membeli dagangan ibu. Hasilnya lumayan bisa untuk bantu-bantu meringankan beban Ninu bekerja.


Tapi sudah hampir seminggu ini ibu tidak berjualan. Badannya kembali lemah seperti dulu, mudah cape. Dan kalau sudah cape nafasnya akan sesak, jantungnya akan berdebar hingga menimbulkan nyeri di dadanya. Entah kenapa ibu juga tidak tahu. Tapi hati dan pikirannya selalu teringat pada Ninu.


Apakah ini tentang Ninu?


Apakah ibu sedang kangen anak sulungnya?


Atau anak sulungnya yang sedang kangen sama ibu?


Adakah sesuatu yang menimpa Ninu yang ibu tidak tahu?


Ya Tuhan… jagalah anakku di sana.

__ADS_1



“Ibu….” Panggil Ima menghampiri ibu yang sedang terbaring di atas tempat tidurnya.


“Ibu makan ya, Ima sudah buatkan bubur” lanjutnya.


Ibu menoleh sambil tersenyum “Kamu belum siap-siap ke sekolah Ima?”


“Sebentar lagi bu, Ima baru beres masakin bubur untuk ibu” jawa Ima tersenyum.


“Ayo bu makan dulu” tangannya merengkuh ibu dan membantunya duduk bersandar pada sandaran tempat tidur.


“Kakakmu ada menelpon Ma?” tanya ibu.


Ima menggeleng “Gak ada bu” jawabnya pelan.


“Kenapa ya sudah beberapa hari ini kakakmu tidak ada menghubungi kita?” suara ibu seperti menerawang “Apa dia sakit” lanjutnya.


“Mungkin teh Ninu sibuk bu, kan sebentar lagi mau bulan puasa, orang-orang pasti banyak yang belanja ke toko” jawab Ima mencoba menenangkan hati ibu


“Ibu kangen ya sama teteh?” lanjut Ima sambil menyuapi ibu.


“Bu, teteh juga pasti kangen sama kita, tapi belum ada waktu. Jadi ibu sabar ya”


“Apa gak sebaiknya kamu yang nelpon kakakmu duluan Ma?” saran ibu.


“Ima takut menganggu bu” jawab Ima.


Ibu terdiam.


“Kalau teh Ninu sudah leluasa pasti bakal nelpon kita bu” ujar Ima, “Yang penting ibu harus sehat, tidak boleh sakit. Kalau teh Ninu tau ibu sakit pasti teh Ninu jadi cemas, terus kalau teh Ninu jadi sakit karena kepikiran ibu gimana, kasian kan bu”


Ibu masih diam.


“Ibu harus sehat biar teh Ninu tenang kerjanya”


Ibu menatap Ima lalu mengangguk “Kamu persis seperti kakakmu Ima” tangan ibu mengusap kepala Ima “Ibu bersyukur punya anak-anak yang baik dan sabar seperti kalian” mata ibu berkaca-kaca.


“Siapa dulu dong ibunya…” Ima menyeringai.


Ibu tersenyum, hatinya sedikit terhibur. Ibu membenarkan apa yang Ima katakan. Dia harus sehat supaya Ninu tenang bekerja. Aku harus sehat dan harus kuat, batin ibu.


⚘⚘⚘⚘


Happy reading..... 😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2