
Flashback
Tok...tok…tok…
Ninu mengetuk pintu rumah Mona, “Assalamualaikum” ucap salamnya.
Tidak lama kemudian, pintu dibuka oleh seseorang, Mona muncul.
“Ninu!” serunya tersenyum. Mereka berpelukan, cipika-cipiki, “Ihh… kangen banget, sudah lama ya kita gak bertemu.”
“Iya Mon, aku juga kangen,” Ninu tersenyum tipis, “Kamu gak kerja Mon?”
“Ayo masuk Nin!” Mona menggandeng tangan Ninu memasuki ruang tamu. “Kebetulan hari ini aku lagi off.”
“Kamu kenapa Nin? Kayak habis nangis ya?” Mona menelisik wajah Ninu yang memang agak sembab.
Ninu tidak menjawab, bingung harus ngomong apa.
“Ah sudahlah, aku ambil minum dulu ya,” Mona mengerti keadaan temannya ini, dia berlalu ke dapur.
“Ayo diminum Nin,” ucap Mona sambil meletakkan gelas berisi teh manis hangat.
“Terima kasih,” Ninu mengambil gelas itu dan meneguk isinya. Rasanya hangat menjalar di dadanya yang sesak.
“Mon, aku mau ikut nginap di sini untuk beberapa hari, boleh kan?”
“Boleh, gak apa-apa. aku kan sendirian di rumah jadi gak masalah kalau kamu mau tinggal di sini,” Mona masih menatap Ninu dengan pandangan penasaran. Dia merasa pasti ada sesuatu yang terjadi.
“Mon, tolong jangan tanya apa-apa dulu sama aku,” Ninu mengerti dengan pandangan Mona padanya.
“Iya tenang saja Nin, kita punya banyak waktu kok” jawab Mona tersenyum, “Ayo diminum lagi tehnya. Sudah makan belum?”
“Sudah, aku sudah makan tadi.”
“Kalau gitu, nih makan kue aja ya, kebetulan kemarin aku beli pia kacang ijo, dicoba Nin, enak lho!” Mona menyodorkan toples ceper dan membuka tutupnya.
“Iya nanti aku makan,” Ninu sedang tidak berselera.
⚘
Sebelum sholat Maghrib Ninu ijin pada Mona kalau dia akan diam di kamar sambil menunggu waktu Isya. Dia menghabiskan waktunya sambil bersimpuh di atas sajadah.
Betapa sakit ternyata yang namanya patah hati, dipaksa harus pergi di saat lagi cinta-cintanya.
Mungkin sekarang Haris sudah ada di rumah bersama Tyara kekasih hatinya. Tak mampu membayangkan betapa bahagianya mereka sementara sekarang dirinya terpuruk jatuh ke jurang patah hati yang sangat dalam dan gelap.
Aku harus kuat. Ini konsekuensi yang harus aku terima, tidak boleh cengeng. Aku harus ingat masih ada Ima yang bergantung padanya.
Ima. Apakah Ima menghubungiku? Tapi aku tidak berani menyalakan HP, takut kalau-kalau bang Haris atau mas Budi menelepon. Sudahlah biarkan saja dulu.
__ADS_1
Selesai sholat Isya, Ninu keluar menemui Mona. Mereka duduk berselonjor di atas karpet menghadap tv yang menyala.
“Jadi kamu kenapa Nin? Lagi berantem ya sama tuan Haris?” tanya Mona tidak dapat menahan rasa ingin tahunya.
“Aku lagi enggan bercerita Mon. tapi yang jelas aku mohon satu hal sama kamu, kalau nanti bang Haris menemuimu dan menanyakan aku, kamu jawab tidak tahu ya.”
“Eh… aku jadi harus berbohong dong?”
“Hanya untuk sementara saja Mon, aku akan membereskan masalahku dengan bang Haris, tapi tidak sekarang, aku butuh waktu untuk merenung dan memenangkan pikiran.”
“Kayaknya kalian bertengkar hebat ya, kamu sampai segitunya,” ucap Mona, “Eh Nin, kamu tahu kan dalam agama kita tidak boleh lho istri pergi alias kabur gitu, dosa tahu!”
Ninu diam, kamu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi Mon, bisik hatinya.
“Ya, sudahlah gak apa-apa kalau kamu gak mau cerita. Aku gak akan maksa. Kita tidur yuk, kamu juga butuh istirahat kayaknya. Matanya bengkak gitu,” Mona tersenyum menggoda.
Karena hari ini Mona tidak bekerja jadi dia tidak tahu kalau Haris dan Budi datang ke toko untuk menanyakan keberadaan Ninu.
Flashback off
⚘
Kembali pada Haris yang sedang berada di rumah sakit mengantar korban kecelakaan.
Tiba-tiba saja keadaan rumah sakit itu mengingatkannya pada Mona. Ya Mona, gadis yang waktu itu mendampingi Ninu ketika sakau. Dan Haris tidak bertemu dengan Mona ketika datang ke toko Sandra untuk menanyakan keberadaan Ninu 5 hari yang lalu.
“Halo, assalamualaikum bang,” suara Budi di telepon.
“Oh oke bang!”
Budi segera berangkat menuju toko Sandra, dia minta ijin untuk bertemu dengan Mona.
“Nona Mona?” tanya Budi.
“Eh.. iya,” jawab Mona sesaat setelah dia berada di kantor Sandra.
“Mari ikut dengan saya, ada sedikit hal yang ingin dibicarakan.”
“Kemana?” Mona bingung.
“Kita minum sebentar supaya ngobrolnya lebih nyaman” jawab Budi, “Tante saya pinjam Mona-nya sebentar ya,” Budi mengalihkan pandangannya pada Sandra.
“Iya silakan Bud, lagian juga sebentar lagi jam kerjanya habis,” jawab Sandra sambil menatap Mona.
Mereka berhenti di depan sebuah café. Budi mengajak Mona masuk dan menemui seseorang yang sudah menunggunya di sana.
“Selamat siang Mona,” ucap Haris menatap Mona yang sedikit gemetar.
Aku seperti sedang diculik mafia dalam film-film action, batin Mona.
__ADS_1
“Silakan duduk nona,” Budi menarik kursi untuk Mona.
“Eh.. iya terima kasih,” dengan ragu Mona duduk, ditatapnya Haris yang masih menatapnya.
Dia berantakan sekali, pikir Mona, tidak seperti biasanya.
“Maaf aku mengganggu waktu kerja kamu,” ucap Haris datar, “Aku sedang cemas saat ini. Dan aku ingin berbagi kecemasan ini denganmu. Mudah-mudahan kamu bisa membantu.”
Mona masih menatap Haris. Dia sudah bisa menebak ke arah mana maksud pembicaraan ini.
Tak perlu berbasa basi, Haris menceritakan hubungannya dengan Ninu mulai dari awal bagaimana dia bisa menikah dengannya.
Seperti ceritanya pada bibi dan paman, juga pada mama dan papanya, Haris menceritakan siapa Tyara dan mengapa dia menemui Tyara.
Haris mengatakan bahwa dia menemui Tyara hanya untuk meyakinkan dirinya bahwa sudah tidak ada lagi cinta di hatinya dan sekarang Tyara bukan siapa-siapa lagi baginya. Bahwa wanita yang sebenarnya dicintai dengan sepenuh hatinya hanyalah Ninu.
Haris menjelaskan bahwa Ninu telah salah sangka dengan apa yang didengarnya dari obrolan para pelayan dan dari telepon Budi dengannya. Haris mengatakan bagaimana dia hampir gila karena kehilangan istri tercintanya.
“Jadi tolong bantu aku agar bisa bertemu dengan istriku. Aku ingin menjelaskan segala sesuatunya agar tidak ada salah paham.”
Jadi begitu rupanya masalah yang sedang terjadi, Ninu belum menceritakan apapun padaku. Kasihan sekali tuan Haris. Dari penampilan dan sorot matanya aku tahu kalau dia benar-benar menderita.
Tapi dia tahu dari siapa kalau Ninu ada di rumahku?
“Bisa kan Mona?” tanya Haris lagi.
Mona menganggukkan kepalanya, “Ninu memang ada di rumah saya tuan. Sudah 5 hari ini dia bersama saya. Dia memang sangat bersedih, bahkan saya sering melihatnya menangis dalam sholatnya. Tapi sampai hari ini dia tidak menceritakan apa-apa. Saya baru tahu kejadian yang sebenarnya dari tuan.”
“Jika tuan ingin bertemu dengannya silakan, saya juga tidak ingin Ninu berlarut-larut berada dalam masalah.”
Leganya hati Haris dan Budi mendengar jawaban Mona. Mereka menarik nafas plong bersamaan.
Akhirnya sayang, aku menemukanmu.
“Terima kasih atas bantuanmu. Besok aku akan datang ke rumahmu. Bisa minta alamatnya?”
“Ya, tentu saja,” jawab Mona.
“Tapi mohon rahasiakan rencana kedatanganku ini pada istriku. Biar aku yang akan menjelaskan segala sesuatunya sendiri.”
“Ya tuan, baik.”
⚘⚘⚘⚘
Tunggulah sayang
Aku akan datang menjemputmu
Cintaku
__ADS_1
😍😍😍😍