
Hari-hari berjalan kembali seperti biasa. Ninu dengan kesibukannya, kursus dan praktek. Sekarang para pelayan wanita menjadi sasaran praktek make-upnya. Ketika dia belajar cara membuat alis, maka semua pelayan wanita di make over alisnya dengan bentuk yang berbeda-beda. Ketika dia belajar cara memakai bulu mata palsu maka semua pelayan setiap hari memakai bulu mata palsu.
Terkadang Haris geleng-geleng kepala dengan kelakuan Ninu. tapi dibalik itu semua dia merasa terhibur. Tanpa disadarinya dia sering tersenyum-senyum sendiri membayangkan tingkah laku wanita itu dan penampilan para pelayannya yang jadi nyentrik.
Budi yang menyadari perubahan sikap Haris ikut senang. Sekarang bosnya ini sering berbagi cerita lucu yang terjadi di rumah besar. Mereka sering tertawa terbahak membayangkan wajah-wajah para pelayan.
Coba bayangkan bi Siti yang mengepel rumah dengan bulu mata panjang ala Syahrini, atau Tinem yang mencuci baju dengan jambul sasaknya. Atau Tanti yang penampilannya tak kalah heboh memasak dengan pipi merah karena blush on yang terlalu tebal. Kata Haris mereka sungguh konyol. Sepertinya kehadiran Ninu sekarang telah membuat hari-hari mereka jadi ceria.
⚘
Sore itu, pak Eko memarkirkan mobil di depan rumah besar lalu bergegas membukakan pintu mobil untuk Ninu.
“Assalamualaikum...” salam Ninu ketika memasuki rumah.
Tidak ada sahutan.
Kemana pak Otang yang biasa menyambutnya?
Dia berjalan menuju dapur, tapi tidak ada siapa-siapa.
Orang-orang pada kemana ini? Pikirnya.
Dia segera menuju kamarnya, tapi langkahnya terhenti beberapa meter di depannya. Dilihatnya pintu kamar terbuka lalu keluar Tanti dan Tinem dari dalam kamar, mereka sibuk mengangkut pakaiannya ke kamar atas.
Ada apa ini? Mau dibawa kemana pakaianku?
“Tanti!” serunya membuat langkah Tanti dan Tinem terhenti.
“Mau dibawa kemana pakaianku?”
“Nona, maaf, saya diperintahkan oleh tuan untuk memindahkan semua barang-barang nona ke kamar tuan.”
“Apa?!” benar-benar terkejut, “Kenapa?!” tanyanya lagi.
Pak Otang muncul dari dalam kamarnya, “Nyonya besar akan datang nona. Sekarang sedang dijemput oleh tuan di bandara.”
“Hah?!” bukan main terkejutnya Ninu, “Mama mau ke sini? Kenapa gak ada yang ngasih tahu aku?” matanya membulat.
“Saya kira tuan sudah memberitahu anda nona,”
Jawab pak Otang, sedangkan Tanti dan Tinem melanjutkan pekerjaannya.
“Tidak ada,” Ninu menggelengkan kepalanya.
“Mungkin tuan tidak sempat memberitahu anda nona karena ini sangat mendadak. Sebaiknya anda segera merapikan barang-barang anda di kamar tuan, nona.”
Ninu segera berlari ke kamar atas.
Ninu memasuki kamar Haris. Diedarkannya pandangan mengelilingi ruangan, baru disadarinya kamar itu luas dan mewah. Dominasi warna putih dan grey sangat indah dan maskulin. Aku akan tidur di sini, batinnya, bagaimana bisa?
__ADS_1
“Nona, anda mau saya menyusun pakaian anda atau nona ingin melakukannya sendiri?” Tanti menatapnya.
“Lakukan saja Tanti,” Ninu duduk terhenyak di atas sofa.
Ya ampun apa yang akan terjadi kalau ada mama di sini, batinnya, tapi kalau dipikirkan terus juga tidak ada untungnya. Aku yakin tuan Haris telah memikirkan segala sesuatunya, sebaiknya sekarang aku mandi saja dan bersiap menyambut mama, Ninu beranjak menuju kamar mandi.
Sekitar tiga puluh menit kemudian Ninu dan para pelayan sudah berdiri di depan pintu menyambut kedatangan Diandra dan Hendrawan.
Ninu tersenyum ketika mobil berhenti di depan rumah, dia berjalan mendekat. Diandra dan Hendrawan keluar dari mobil dengan senyum lebar menghiasi wajah mereka.
“Assalamualaikum ma, pa,” sapa Ninu sambil menyalami mereka.
“Waalaikumsalam sayang, gimana kabarmu?” Diandra memeluk Ninu lalu mencium kedua pipinya.
Terlihat sekali kalau dia sangat menyayangi menantunya ini. Tentu saja karena dia tahu bagaimana perilaku dan sifat Ninu dari Tanti yang selalu memberi laporan padanya.
“Alhamdulillah kabar baik.”
“Wah… kamu tambah cantik saja Nin,” ucap Hendrawan.
“Papa ini, kalau sama yang cantik tau aja,” Diandra mencebikkan bibirnya lalu tertawa.
“Tapi kan memang betul ma, coba lihat, dia cantik sekali kan?” matanya mengajak Diandra untuk mematut Ninu.
“Iya sih, bener pa. Kamu tambah cantik nak. Haris pasti bangga punya istri secantik kamu, iya kan Ris?” Diandra memutar kepalanya menatap Haris yang berdiri di belakangnya dan hanya diam saja.
“Mama kok ga bilang-bilang mau datang?” tanya Ninu mengalihkan pembicaraan.
“Sengaja sayang, mama ingin memberi kalian surprise!” selalu penuh semangat, “Lagian mumpung papamu sekarang sedang leluasa waktunya, jadi mama paksa dia ke sini,” tertawa melirik suaminya, disambut dengan rangkulan di pundaknya.
Mama dan papa selalu romantis, batin Ninu menatap keduanya.
Mereka memasuki rumah kemudian duduk di ruang keluarga. Bercengkrama penuh kehangatan. Para pelayan sibuk menyuguhkan makanan dan minuman. Ninu duduk di samping Haris yang tak lepas merangkul pinggangnya. Sebenarnya ada rasa risih di sana tapi mereka harus berakting di depan orangtuanya, dan mereka berhasil menjadi aktor dan aktris berbakat.
⚘
“Masak apa untuk makan malam ini nak?” tanya Diandra pada Ninu yang sedang menata makan malam di atas meja.
“Ini ma, aku masak gulai udang, bening bayam, sama mendoan jagung. Ada goreng ayam juga dan sop jamur,” jawab Ninu.
“Wah…enaknya! Pantesan Haris tampak sehat sekarang, dia dikasih makanan enak terus tiap hari ya,” Diandra duduk di sebelah suaminya, matanya menatap Haris. Ada sinar aneh dari kilatan matanya, entah apa itu.
“Dari dulu juga aku sehat ma,” jawab Haris.
Ninu menyendokkan nasi di atas piring Haris dan mengambilkan lauknya. Ini bukan bagian dari akting ya karena memang biasa juga Ninu melakukan itu. Diandra dan Hendrawan yang melihatnya tersenyum senang.
Mereka makan malam bersama dengan diselingi obrolan hangat.
⚘
__ADS_1
Ninu masuk ke dalam kamar terlebih dahulu karena Haris sedang berbincang dengan Hendrawan di ruang kerja. Sementara Diandra juga sudah masuk ke kamarnya.
Ninu duduk di atas sofa dengan hati bingung. Diliriknya jam di atas meja. Sudah jam sebelas malam, tapi Haris belum juga datang. Dia sudah sangat mengantuk.
Akhirnya dia berjalan menuju walk in closet, mengambil bantal dan selimut. Dia memutuskan akan tidur di sofa saja.
Tak lama berselang pintu kamar terbuka, Haris masuk. Ninu segera bangun dari baringnya, tatapan mereka bertemu.
“Biar aku saja yang tidur di sofa,” ucap Haris.
“Tidak apa-apa bang, ini kan kamar abang. Saya saja yang di sini.”
“Terserah kalau begitu,” Haris berjalan menuju kamar mandi.
Ninu masih duduk, padahal dia sangat mengantuk.
“Belum tidur?” suara Haris yang baru keluar dari kamar mandi mengagetkannya.
“Belum.”
“Tidak mengantuk?”
Diam.
“Dengar!” suara Haris serius. Dia duduk di atas sofa di samping Ninu, “Untuk beberapa hari ke depan, kita akan tidur di kamar ini. Nanti setelah mama dan papa pulang kamu bisa kembali ke kamarmu.”
Ninu mengangguk.
“Dan selama ada mama dan papa, bersikaplah manis padaku, aku juga akan begitu. Jangan sampai mama dan papa curiga,” lanjutnya.
Ninu mengangguk lagi.
Haris bangkit dari duduknya berjalan menuju tempat tidur. Dia membaringkan tubuhnya.
Hari yang mengejutkan yang sudah aku prediksi akan terjadi, bisiknya.
Karena melihat Haris yang sudah berbaring, Ninu ikut membaringkan tubuhnya di atas sofa. Diselimutinya tubuhnya seolah-olah takut kalau Haris melihatnya.
Setelah hampir satu jam tiada kantuk akhirnya mereka mulai bisa memejamkan mata. Tapi baru saja akan terlelap tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang berdiri di sana menatap ke dalam kamar dengan sorot mata marah.
Ninu dan Haris yang mendengar pintu kamar terbuka sontak bangkit dari baringnya, mata keduanya lurus menatap ke arah pintu.
⚘⚘⚘⚘
Waduuuh....siapa sih ganggu orang tidur malam-malam 🤣🤣🤣
Happy reading, semoga terhibur!!
ditunggu like, komen, dan votenya 🙏🙏🙏🙏
__ADS_1