TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
HARI PERTAMA PERNIKAHAN


__ADS_3

“Nak, mulai sekarang kamu tidak perlu bekerja lagi ya, untuk sementara tinggallah di apartment Haris sampai hari pernikahanmu tiba” ucapan Diandra membuyarkan lamunan Ninu, “Apartment itu jarang ditiduri Haris. Dia lebih senang tidur di pool. Nanti mama kirim orang untuk menemanimu di sana biar gak sepi”


Saat itu Diandra dan Ninu sedang duduk di teras rumah besar milik Haris.


“Tapi ma kalau aku gak kerja gimana, aku kan harus membiayai sekolah Ima” Ninu merasa keberatan kalau harus berhenti bekerja. Apa yang akan dilakukannya kalau tidak bekerja.


“Tenang saja, semua keperluanmu akan dipenuhi oleh Haris, dia kan calon suamimu, termasuk kebutuhan untuk adikmu”


“Ma, aku terbiasa bekerja”


“Sayang…. sambil menunggu hari pernikahanmu banyak hal yang dapat kamu kerjakan seperti perawatan, belajar masak, belajar mengenal kebiasaan dan kesukaan Haris dan lainnya. Itu perlu agar nanti rumah tanggamu harmonis” kata-kata Diandra membuat Ninu menarik nafas perlahan.


Mama tidak tahu yang sebenarnya.


“Mama sudah membuat jadwal kegiatan untukmu selama satu bulan ke depan. Coba lihat ini” Diandra membeberkan kertas yang berisi jadwal lengkap untuk Ninu setiap harinya, lengkap dengan jam, tempat dan siapa yang bertanggung jawab. Dengan bersemangat dia menjelaskan semuanya pada Ninu.


Ninu sampai bengong mendengarnya. Sebegitu pedulinya Diandra pada Haris dan dirinya.


“Nah, besok kamu bereskan barang-barang yang ada di kosan yah, nanti ada supir yang menjemputmu namanya Eko. Mama sudah suruh Eko untuk mengurus semuanya"


Akhirnya Ninu hanya bisa mengangguk pasrah.



Sudah dua hari Ninu tinggal di apartment ditemani oleh Tanti, pelayan yang dibawa dari Dumai dan diperintahkan oleh Diandra untuk menemaninya.


Setiap hari Ninu disibukkan dengan berbagai kegiatan, mulai dari pergi ke salon untuk perawatan, belajar memasak bersama Tanti, senam, dan cara mengurus rumah. Memang selama ini Ninu tidak terlalu pandai melakukan semua itu, toh waktunya dulu memang dihabiskan untuk bekerja mencari nafkah.


Dalam hatinya dia merasa bersyukur memiliki calon mertua yang baik dan perhatian sehingga banyak ilmu baru yang dia peroleh. Tapi kalau sudah ingat Haris hatinya langsung menciut.


“Kamu pikir aku mau nikah sama kamu? Ya gak lah. Kalau bukan karena rasa sayang aku sama orangtua mana mau aku nikah sama kamu!”


Kata-kata itu selalu terngiang di pikiran Ninu. dia sadar siapa dirinya, tidak mungkin Haris jatuh cinta padanya. Oleh karenanya, setiap dia melihat Haris hatinya merasa takut dan gugup.



Tak terasa hari yang ditunggu-tunggupun tiba sudah. Pernikahan megah nan mewah dilangsungkan di sebuah hotel ternama. Tamu undangan datang dari berbagai kalangan, bahkan keluarga Diandra dari Italia juga ada yang menyempatkan diri hadir. Bi Tati, Ima dan beberapa saudaranya yang datang dari kampung sampai berdecak kagum menyaksikan bagaimana mewahnya pernikahan Ninu. mereka merasa sangat beruntung sekaligus bangga pada Ninu. demikian juga dengan teman dan sahabat Ninu lainnya. Belum lagi saat mereka melihat gagah dan tampannya pengantin pria, sungguh nasib baik Ninu.


Tapi apa yang ada dalam pikiran para tamu undangan berbeda dengan yang ada dalam pikiran pengantin baik yang wanita maupun yang pria. Ninu merasa dirinya sudah ada di depan sebuah pintu yang akan membawanya pada suatu kehidupan yang entah seperti apa. Dia sudah mencoba mempersiapkan dirinya tapi tetap saja hatinya cemas. Sedangkan Haris, dia juga sudah mempersiapkan strategi kedepannya untuk lepas dari pernikahan semu ini.

__ADS_1


“Kamu pulanglah bersama Eko, aku masih ada kerjaan di pool” ucap Haris ketika acara selesai, Ninu hanya mengangguk.


Malam itu Ninu lalui sendirian di kamarnya karena ternyata Haris tidak pulang.



Tok... tok... tok...


“Non…” panggil Tanti di depan pintu kamar Ninu.


“Ada apa Tan?” tanya Ninu setelah membuka pintu.


“Nona sudah ditunggu oleh tuan di ruang makan untuk sarapan"


Dia sudah pulang rupanya.


“Baik, tunggu sebentar” Ninu kembali masuk ke kamar untuk sedikit merapikan rambut dan pakaiannya.


Ketika dia sampai di ruang makan dlihatnya Haris sedang menyantap sarapan.


“Selamat pagi tuan” sapa Ninu sambil menundukkan kepala.


Haris meliriknya. Hati Ninu berdesir, ada rasa takut di sana.


Ninu menurut. Dia duduk di kursi yang berhadapan dengan Haris, wajahnya masih menunduk.


“Kamu kenapa?” tanya Haris.


“Tidak kenapa-napa tuan” Ninu menggelengkan kepalanya pelan.


“Terus ngapain begitu? Kamu takut sama aku? Emang aku monster?” seru Haris menatap tajam.


“Eh… tidak tuan, maafkan saya” Ninu semakin takut.


Haris menghela nafas, “Makan!” perintahnya.


Dengan tangan gemetar Ninu menyendok nasi goreng yang ada di depannya, lalu perlahan menyuapkannya ke dalam mulut.


Cih..seperti berhadapan dengan monster saja, Haris berdecih.

__ADS_1


“Aku mau bicara sama kamu, dengarkan baik-baik” suara Haris kembali terdengar setelah mereka menyelesaikan sarapan.


“Kamar yang kamu tempati tadi malam menjadi kamarmu selama kamu di sini. Kamu bebas melakukan apapun di sini selama itu tidak menganggu privasiku. Jangan bikin masalah apalagi sampai berani pakai obat-obat terlarang. Aku tendang kamu kalau berani”


Ninu diam mendengarkan.


“Aku minta nomor rekening kamu” suara Haris masih dingin dan tajam


“Untuk apa tuan?”


“Aku akan mentransfer sejumlah uang setiap bulannya, anggap saja sebagai uang belanja bulanan. Kamu bebas memakainya tapi tetap harus bertanggung jawab karena kamu tahu kan cari uang itu susah”


“Iya tuan”


“Satu lagi. Jangan panggil aku tuan. Nanti kamu kelupaan memanggilku seperti itu di depan mama dan papa bisa babak belur aku. Panggil aku sesuai dengan keinginan mama”


Ninu mengangguk.


“Coba praktekkan, bagaimana?” perintah Haris.


Ragu-ragu Ninu membuka suaranya “Baik bang”


“Bagus! Coba ulangi sekali lagi”


“Iya bang”


“Bagus! Aku mau berangkat lagi ke pool” Haris beranjak berdiri meninggalkan Ninu sendirian. Ninu ikut berdiri lalu menganggukkan kepalanya.


Ini hari pertama dalam pernikahannya yang dipenuhi dengan perasaan takut dan gugup. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya Ninu tidak tahu. Dia hanya bisa pasrah.


“Nona ayo kita buat bakso untuk camilan nanti sore” suara Tanti membuyarkan lamunannya.


Ninu membalikkan badan melihat Tanti yang sedang tersenyum padanya.


“Ayo” jawab Ninu membalas senyuman Tanti.


Hanya Tanti yang bisa menghiburnya melupakan perasaan takut dan cemasnya selama ini. Ninu senang belajar memasak pada Tanti, dia sangat pandai membuat segala jenis makanan dan kue.


⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Selamat membaca, semoga terhibur 😘😘😘😘😘😘


Jangan lupa tinggalkan jejak like, komen, dan vote 🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏🙏


__ADS_2