
“Hei Mat, kamu jangan keterlaluan!” seorang pria setengah baya datang menepuk keras bahu pemuda yang dipanggil Mat itu, “Kalau tuan tahu kamu bakal dipecat.”
Tapi pemuda itu tidak peduli. Sepertinya dia sudah betul-betul tertarik dengan gadis yang ada di depannya.
“Mat lepasin dia!” ucap si bapak itu lagi.
Tepat pada saat si pemuda akan menjawab ucapannya, sebuah mobil mewah memasuki pool dan berhenti di depan mereka.
Haris dan Budi keluar dari dalam mobil dengan tergesa dan setengah berlari menghampiri Ninu yang jatuh. Haris mendorong tubuh si Mamat hingga terjerembab.
“Sayang kamu kenapa?!” tanya Haris berjongkok dengan wajah khawatir di depan Ninu yang masih terduduk di tanah sambil meringis, tangannya meraih tubuh Ninu lalu menggendongnya.
“Apa yang kamu lakukan pada ISTRIKU?!!” teriaknya dengan mata merah penuh amarah menatap tajam si Mamat.
Semua laki-laki yang ada di situ tercekat, yang duduk langsung berdiri dengan wajah pucat dan mulai gemetar.
“Kumpulkan mereka semua!!” perintah Haris pada Budi kemudian dia berlalu membawa Ninu dalam pelukannya.
⚘
Plak! plak! plak!
Setiap orang yang berdiri mendapat tamparan keras dari Budi dan bonus tendangan di ulu hati si Mamat. Pemuda itu meringis kesakitan.
Budi mencengkram leher bajunya, “Kamu baru di sini hah?!” bentaknya tajam.
Pemuda itu mengangguk dengan cepat.
Bogem mentah kembali mendarat di wajah pemuda itu hingga jatuh tersungkur. Budi meletakkan sebelah kakinya dan menekannya di atas dada si Mamat yang terbaring di atas lantai, “Apa kamu biasa berbuat seperti itu di tempat kerjamu dulu hah?! Kamu tidak tahu kalau di sini ada aturan yang harus kamu taati?!” tatapnya tajam penuh amarah.
Mamat tidak menjawab, dia masih meringis kesakitan. Darah keluar dari sudut bibirnya, matanya biru dan pipinya merah.
“Dan kalian!!” tangannya menunjuk pada wajah-wajah yang berdiri tertunduk di sana, “Dan kalian diam saja melihatnya?!”
“Kurang ajar!!” teriak Budi. Kembali dia menampar mereka.
“Saya minta maaf mas, saya tidak tahu kalau yang tadi itu istrinya bos.”
“Terus kalau dia bukan istrinya bos kalian boleh memperlakukannya seenak jidatmu hah?!!”
Mereka kembali diam tertunduk.
“Kurang ajar kalian! Betul-betul kurang ajar” ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepala. Budi mendudukkan dirinya di kursi di hadapan mereka. tidak bicara lagi. Dia menunggu kedatangan Haris.
⚘
Haris membawa masuk Ninu ke dalam rumah. Pelayan yang datang menyambutnya kaget melihat Haris menggendong seorang perempuan.
“Tuan?” ucap pelayan itu.
“Bukakan pintu kamarku!”
“Baik tuan,” pelayan itu bergegas mendahului Haris membukakan pintu kamarnya.
__ADS_1
Haris membaringkan Ninu di atas tempat tidur, lalu membuka sepatu yang Ninu kenakan. Ninu meringis.
“Ambilkan air minum!”
“Baik tuan,” pelayan bergegas melakukan perintah Haris.
“Kakinya sakit?” tanya Haris lembut, terlihat jelas kalau dia sangat khawatir.
Ninu menganggukkan kepalanya.
“Ambilkan minyak urut,” perintah Haris lagi pada pelayan.
“Aku urut ya. mungkin agak sakit. Tahan ya,” Haris mengoleskan minyak di pergelangan kaki Ninu lalu mengurutnya perlahan.
Ninu meringis sambil menangis. Dia menangis bukan sepenuhnya karena sakit di kakinya tetapi lebih karena shock yang dialaminya, dan sakit hatinya mendapat pelecehan seperti tadi.
Haris yang melihatnya tidak mampu berkata apa-apa.
Setelah dirasanya cukup, dia berkata, “Nanti juga akan sembuh, gak usah khawatir.”
Ninu mengangguk sambil mengusap air matanya.
Haris berpindah tempat duduk. Sekarang dia duduk dekat di hadapan Ninu.
“Minumlah...” Haris menyodorkan gelas dan membantu Ninu untuk minum.
“Kamu lagi ngapain di sini? Kenapa gak ngasih tahu abang kalau mau ke sini? Eko kemana?” tanyanya.
“Tadinya…tadinya saya mau ngasih kejutan sama abang, hari ini kan abang ulang tahun,” jawab Ninu terbata.
Haris yang mendengar jawaban Ninu tidak dapat lagi menahan emosinya. Direngkuhnya tubuh gadis itu ke dalam pelukannya. Segala rasa mengaliri darahnya. Sedangkan Ninu yang dipeluk seperti mendapat tempat untuk menumpahkan kesedihannya, dia menangis tersedu dalam pelukan Haris.
Haris membelai rambut Ninu, amarah bergejolak di hatinya.
“Tuan,” seorang pelayan masuk ke dalam kamar.
Haris yang masih memeluk Ninu mengalihkan pandangannya pada pelayan itu.
“Ini tas dan barang bawaan nona,” pelayan itu meletakkan tas dan kantong plastik yang tadi dibawa Ninu di atas meja.
Haris melepaskan pelukannya, meraih kantong plastik yang berisi box kue. Dibukanya tutup box itu, dilihatnya cake yang sudah berantakan. Seketika amarahnya naik ke ubun-ubun.
“Tunggulah di sini, aku keluar sebentar,” ucapnya pada Ninu.
⚘
Bisa dibayangkan apa yang Haris lakukan pada para pria yang sekarang masih berdiri menunggunya dengan perasaan takut. Berkali-kali dia memberikan bogem mentah pada mereka, tidak perlu sumpah serapah untuk menumpahkan amarahnya selain tatapan seperti monster yang ingin membunuh sudah cukup membuat mereka semua menggigil ketakutan. Bahkan Budi terkesima, ini pertama kalinya dia melihat amarah Haris yang meluap-luap. Jika tidak ditahan oleh Budi mungkin saja si Mamat akan benar-benar mati ditangannya.
“Pecat mereka semua!!” itu perintahnya pada Budi, “Dan penjarakan dia!!” sambil menunjuk pada si Mamat yang sudah babak belur dan terkencing-kencing karena ketakutan.
Mereka memohon ampun dan memelas agar tidak dipecat, karena tentu akan sulit lagi untuk mencari pekerjaan baru. Apalagi bekerja di tempat Haris gajinya lebih besar dan lebih terjamin. Tetapi apa daya, mereka harus menanggung akibat dari perbuatan iseng yang keterlaluan.
⚘
__ADS_1
Haris duduk di ruang kerjanya sendirian. Wajahnya geram dan matanya masih merah, amarah masih meliputi hatinya.
Tadi dia sempat melihat Ninu ke kamar, rupanya karena lelah gadis itu tertidur, sementara Budi sedang membereskan para ******** itu.
Haris sungguh tidak menduga kalau Ninu akan datang ke pool untuk memberinya kejutan. Di satu sisi hatinya sangat bahagia mendapat perhatian seperti itu dari istrinya, di sisi lain dia sangat marah dengan peristiwa pelecehan yang dialami Ninu, dan parahnya lagi yang melakukannya adalah karyawannya sendiri. Berkali-kali Haris menarik nafas dalam demi meredakan emosinya.
Beberapa saat kemudian, Budi masuk ke ruang kerja lalu duduk.
“Sudah aku bereskan semuanya bang,” ucapnya.
Haris diam, masih merenung.
“Gimana keadaan kakak, bang?”
“Dia sedang tidur.”
“Ada apa rupanya kakak datang ke sini bang?”
“Dia ingin memberi kejutan padaku karena aku ulang tahun hari ini,” jawab Haris datar.
Budi yang mendengar tidak mampu berkata apa-apa, tiba-tiba saja amarahnya bangkit lagi.
Sebegitu perhatiannya kakak sama bang Haris. Harusnya ini jadi momen romantis tapi sayangnya laki-laki ******** itu sudah merusaknya.
Haris menghela nafas, "Mulai sekarang pastikan semua orang patuh pada aturan yang ada,” ucap Haris, “Setiap karyawan yang masuk harus melalui seleksi. Ini bukan tempat penampungan preman. Kamu harus tegas pada setiap pelanggaran.”
“Iya bang,” jawab Budi.
“Sekarang pesankan cake ulang tahun yang sama, juga makanan untuk kita makan malam. Rencana yang telah istriku susun jangan sampai tidak terlaksana.”
“Baik bang,” Budi berdiri dari duduknya dan berlalu dari ruang kerja.
Sebetulnya dia agak terkejut mendengar Haris menyebut kata istriku, tapi ini bukan saat yang tepat untuk menggodanya.
Haris bangkit dan berjalan menuju kamar. Duduk di tepi tempat tidur, memandangi Ninu yang terlelap, tangannya merapikan rambut gadis itu. Dia bisa merasakan dengan jelas kalau sekarang hatinya penuh dengan cinta. Ya, cinta pada gadis yang sedang tertidur di hadapannya.
Aku mencintaimu, bisiknya dalam hati, sungguh mencintaimu.
⚘⚘⚘⚘
Ketahuilah sayang…
Hati ini kini milikmu
Sepenuhnya milikmu
Takkan kututupi lagi
Aku pasrah dalam rangkulmu
😍😍😍😍😍😍
Selamat membaca, semoga terhibur 😘
__ADS_1