TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
PRAKTEK 2


__ADS_3

Pak Otang duduk di dapur dengan pandangan kosong tanpa ekspresi, tuan belum melihat semuanya, bisiknya, akan saya tunjukkan pada anda tuan.


Tak lama berselang, Ninu muncul, “Sedang apa pak?” sapanya pada pak Otang yang kembali terduduk setelah menyampaikan perintahnya pada pelayan.


“Eh nona,” dia segera berdiri dan menganggukkan kepalanya.


“Kenapa pak?” tanya Ninu agak heran melihat wajah pak Otang yang seperti kurang bersemangat, tidak seperti biasanya.


“Tidak apa-apa nona,” jawabnya singkat.


“Bapak sakit?”


“Tidak nona.”


Sejenak Ninu masih memperhatikannya namun kemudian dia segera melangkah ke dapur untuk mulai menyiapkan makan malam. Tanti segera mendekatinya hendak membantu.


Sedangkan di ruang kerja, Haris dan Budi masih juga tertawa walau sudah tidak sekeras tadi.


“Bang, kalau abang tengok wajahnya pak Otang pas aku lihat tadi, kayak gini lho,” Budi memperagakan wajah pak Otang yang polos dengan mata dibuat sayu dan bibir melengkung ke bawah, lalu Budi tertawa diikuti oleh Haris.


“Lebih lucu lagi tadi pertama kali aku lihat dia, ya ampun…perempuan itu, bisa-bisanya ya dia ha ha ha….” Haris kembali tertawa sambil menggeleng-gelengkan kepalanya menunjukkan keheranannya dengan apa yang sudah dilakukan Ninu, “Aduh sampai cape aku ketawa terus,” tangannya mengusap wajahnya kasar.


“Jarang-jarang kita dapat hiburan kayak gini bang.”


“Iya betul. Rasanya sudah lama aku tidak tertawa lepas kayak gini,” Haris masih juga terkekeh.


“Coba kamu bayangkan, gimana bisa orang yang sudah tua seperti pak Otang, yang badannya kurus dikasih model rambut spiky kayak gitu hahaha…, gak mikir banget tuh perempuan,” Haris kembali tertawa.


“Dan jambulnya dikasih warna hijau juga haha…”


Mereka kembali terpingkal membayangkan wajah pak Otang yang jadi aneh dengan model rambut barunya karya Ninu.


“Aku ikut makan malam di sini ya bang, aku pengen tahu apa yang akan dikatakan kakak nanti,” Budi membayangkan kelucuan berikutnya saat bertemu Ninu.


“Iyalah kamu harus temani aku ketawa nanti,” Haris beranjak dari duduknya, “Aku mau sholat maghrib dulu,” dia berlalu ke kamar mandi yang ada di ruang kerja.


“Iya bang, kita berjamaah saja di sini,” jawab Budi.



Tok tok tok….


Pintu ruang kerja diketuk.


“Masuk!” seru Haris.


Pintu terbuka, “Permisi tuan, makan malam sudah siap,” pak Otang berdiri di depan pintu masih dengan model rambut spikynya dengan jambul berwarna hijau.


Haris dan Budi serentak melihat ke arahnya, mereka terlihat menahan tawa sekaligus iba.


“Ya, sebentar aku ke sana!” jawab Haris, “Nona sudah dipanggil?” tanyanya.

__ADS_1


“Sudah tuan, nona sudah menunggu anda di ruang makan.”


Haris dan Budi bangkit dari duduknya berjalan menuju ruang makan diikuti oleh pak Otang.


Setibanya di ruang makan Haris dan Budi langsung duduk, dilihatnya Ninu berjalan dari dapur membawa piring berisi bakwan jagung.


“Selamat malam kak,” sapa Budi tersenyum sumringah.


“Eh ada mas Budi. Kapan datang mas?” Ninu tersenyum.


Mereka kok kayak bahagia banget ya hari ini, Ninu menatap Budi dan Haris bergantian, wajah mereka ceria sekali.


“Tadi kak sebelum maghrib,” jawab Budi, matanya menatap Ninu yang menurutnya terlihat semakin cantik saja.


Sementara Haris, matanya membulat tak berkedip melihat ke belakang Ninu, tepatnya ke dapur. Kakinya reflek menendang kaki Budi di bawah meja makan memberi isyarat untuk melihatnya. Sayangnya yang diberi isyarat tidak mengerti, dia tetap saja memandang Ninu yang sedang meletakkan piring dan mengaturnya di atas meja makan.


“Bang, saya ambilkan nasinya sekarang?” tanya Ninu menatap Haris.


Tetapi Haris tidak merespon, dia masih mengarahkan pandangannya ke arah dapur dengan mulut sedikit terbuka. Mau tidak mau Ninu mengalihkan pandangannya mengikuti arah pandangan Haris. Diputar kepalanya ke arah dapur. Budi yang baru ngeh juga mengikuti apa yang dilakukan Ninu. mereka bertiga sekarang menatap dapur.


Hening sejenak.


“Waaaah… sejak kapan ada anggota paskibra di sini?!” seru Budi sambil menjentikkan jari diikuti dengan kekehannya. Matanya berbinar tertuju pada tiga orang wanita yang berbaris di dapur mengenakan baju pelayan berwarna putih dan hitam dengan model rambut bob pendek berwarna coklat muda.


Haris mengalihkan pandangannya pada Ninu, ya ampuuun….perempuan ini, apa yang dia lakukan seharian ini di rumah.


Yang dipandang jadi gelagapan, ada rasa takut di sana. Ninu merasa bersalah karena tidak minta ijin terlebih dahulu pada Haris.


“Ma…maaf bang, saya cuma praktek,” jawab Ninu tergagap.


“Lalu apa maksudnya mereka berbaris di sana? Mau pamer sama aku?!” seru Haris.


Ninu tertunduk, “Maaf sa…” suaranya pelan.


“Diam!” bentak Haris.


“Hei…hei bang gak usah emosi gitu,” Budi mencoba menengahi.


“Suruh mereka bubar!” suara Haris ditujukan pada pak Otang.


“Baik tuan.”


Haris mengambil nasinya sendiri lalu makan tanpa mengeluarkan suara. Budi mengikuti apa yang dilakukan Haris, menyendok nasi dan lauk dan mulai makan. Sementara Ninu masih terpaku di tempatnya. Matanya mulai terasa panas, tapi dia tahan agar tidak ada air yang keluar dari sana. Dia juga mulai makan dalam diam.



“Bang aku pulang dulu ya,” ucap Budi. Sekarang mereka sedang duduk di ruang keluarga setelah makan malam tadi.


“Iya, pulanglah!” Haris menjawab.


“Hei bang, gak usah marah sama kakak. Dia kan hanya mempraktekkan ilmu yang didapatnya di kursusan.”

__ADS_1


“Sudah cepat pulang sana. Banyak omong.”


“Betul kata pepatah ya bang, kalau gembira jangan berlebihan nanti bakal sedih. Buktinya kita nih, tadi kita ketawa terpingkal-pingkal sampai nangis, eh..sekarang abang marah-marah,” Budi berdiri sambil tersenyum.


“Marahannya selesaikan di atas tempat tidur bang,” bisiknya di dekat telinga Haris.


“Berisik! Siapa yang marah? Aku tidak marah,” jawab Haris.


“Lah itu apa kalau tidak marah?” tuding Budi.


“Aku hanya jaga image. Masa aku harus ketawa kayak tadi di depan para pelayan?” jawab Haris berbisik, “Besok kita ketawa lagi sepuasnya di pool,” lanjutnya masih berbisik.


“Ya ampuuun…. Kalian suami istri sama-sama gini ya,” Budi menyilangkan telunjuknya di dahi.


“Sembarangan lo kira aku gila!” Haris menendang kaki Budi.


Budi tertawa sambil berlalu hendak pulang.



Ninu sedang duduk di halaman belakang. Tempat favoritnya. Hatinya sedih. Baru saja dia merasa gembira karena bisa mempraktekkan ilmu yang didapatnya, sekarang dia harus bersiap menerima amarah dari Haris.


Ini memang salahku, kenapa aku gak ijin dulu sama tuan Haris kalau mau menjadikan para pelayan sebagai modelku, gerutunya.


Lalu kenapa juga mereka baris dekat pintu dapur kayak gitu, apa jangan-jangan mereka yang ingin pamer sama tuan Haris? Atau ada yang nyuruh ya?


Tangannya mengusap air mata yang luruh di pipinya.


Kalau ada yang nyuruh, siapa ya? atau mereka tidak suka dengan apa yang aku lakukan dan itu adalah bentuk protes mereka padaku?


Jemari tangannya saling bertaut dan meremas, menandakan suasana hatinya yang sedang khawatir.


Semua memang salahku, aku gak nanya dulu apa mereka mau atau tidak aku potong rambutnya. Aku terlalu yakin dengan diriku hingga mengabaikan akibatnya.


“Nona,” suara Tanti mengagetkannya, dia segera memutar kepalanya menatap Tanti.


“Tuan menunggu anda di ruang kerja.”


Ninu menarik nafas dalam, siap-siap deh dimarahi, bisik hatinya.


Ninu berdiri, membaca bismillah dan merapalkan doa sebelum melangkahkan kakinya menuju ruang kerja.


Ini adalah model rambut baru pak Otang karya Ninu, tapi yang pak Otang jambulnya berwarna hijau.



Dan ini model rambut Tanti dan dua pelayan lainnya. Kalau kata Budi sih kayak anggota paskibra, rambut model bob yang diberi warna coklat.



⚘⚘⚘⚘

__ADS_1


Happy reading 😍😍😍😍😍


__ADS_2