TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
KEPERGIAN IBU


__ADS_3

Kau anakku, darah dagingku. Apa yang kau rasakan aku rasakan juga, walau kita berjauhan.


Maafkan aku anakku, tidak mampu menjadi malaikat penjagamu. Aku yakin Tuhan akan mengirimkan malaikat pengganti untukmu.



“Bu Ima berangkat sekolah dulu ya..” Ima muncul dari balik pintu kamar ibu, menyalami ibu.


“Iya, hati-hati kamu ya. Selesai sekolah jangan kemana-mana, langsung pulang” jawab ibu.


“Iyalah bu, biasa juga begitu” sahut Ima sambil berlalu.


Ibu duduk merenung, hatinya tidak bisa dibohongi, ingat terus sama Ninu. Tapi apa yang dikatakan Ima tadi benar adanya, dia harus sehat untuk Ninu dan Ima.


Ibu bangkit dari tempat tidur, hari ini ibu ingin sehat. Ibu berniat akan beres-beres rumah dan masak untuk Ima. Walau ketika berdiri kepalanya agak sedikit pusing, ibu mencoba berpegangan pada lemari untuk meredakannya. Setelah dirasanya lebih baik, ibu melangkah keluar kamar. Yang dicarinya pertama kali adalah sapu.


Sudah selesai menyapu kamar ibu dan kamar Ima dilanjutkan menyapu ruang tengah dan halaman. Masih agak pusing sebetulnya, mungkin karena beberapa hari ini ibu banyak menghabiskan waktunya untuk tiduran. Sesekali mengistirahatkan tubuhnya dengan duduk di bale-bale depan rumah, ibu menarik nafas panjang dan dalam. Aku harus sehat aku harus sehat, ya Tuhan aku harus sehat untuk anak-anakku.



Tak terasa matahari mulai beranjak tinggi. Ibu sudah ada di dapur. Sambil duduk di kursi pendek ibu memotongkan sayuran dan mencuci ikan asin untuk lauk makan siang hari ini. Ibu berdiri hendak menyalakan kompor, tapi tiba-tiba kepalanya serasa berputar-putar, mungkin karena perubahan posisi dari duduk ke berdiri yang mendadak membuat kepala ibu pusing, tangannya mencoba menggapai sesuatu untuk pegangan, tapi tidak ada. Ibu sempoyongan, dan jatuh. Kepalanya terantuk meja kompor.


“Aduuh….” Ibu mengaduh pelah sambil memegang kepalanya. Ada cairan hangat, pandangan ibu menjadi gelap dan ibu tersungkur tak sadarkan diri.



Ima berjalan tergesa. Hatinya ingat ibu. Tadi pagi karena terburu-buru Ima lupa tidak mengatakan pada ibu bahwa Bi Tati mengirim mereka lauk untuk teman nasi. Kemarin Bi Tati mengadakan pengajian di rumahnya, dan tadi pagi-pagi sekali orang suruhan Bi Tati datang mengantarkan makanan ke rumah. Ima lupa makanan itu masih ada di kantong plastik di lemari dapur.


“Kamu kok buru-buru gitu, kebelet ya hehe…” kata Dini yang mencoba mengejar langkah Ima.


“Kebelet apaan?” Ima melirik.


“Kebelet pipis mungkin” Dini masih terkekeh, “Eh…kamu PR dari pak Umar buat besok udah beres belum Ma?” tanya Dini yang jadi berjalan cepat mengimbangi langkah Ima, “Nanti aku lihat ya”


“Ih.. enak aja. Kerjakan sendiri atuh”


“Kamu sama teman jangan pelit Ima. Nanti aku kasih info penting buat kamu” ucap Dini merayu.


“Info penting apaan?”


“Janji dulu, kamu bakalan ngasih lihat PR dari pak Umar”


“Gak ah, taunya info jongkok”


“Ish… kamu gak percaya kalau info yang bakal aku kasih ke kamu ini info penting?” tanya Dini.


Ima diam. Pikirannya sedang fokus ke ibu. Tidak biasanya dia ingat ibu seperti sekarang ini.


“Ya sudah aku kasih tau deh info nya” Dini mengerucutkan bibirnya melihat Ima yang diam saja.

__ADS_1


Ima melirik sambil tersenyum “Kamu tuh mudah menyerah tau” ucapnya “Didiemin sebentar aja langsung pasrah”


“Jadi orang tuh kuat dikit napa, teguh gitu” lanjut Ima.


Dini terkekeh, dia membenarkan apa yang Ima katakan, dia mudah menyerah dalam segala hal termasuk mengerjakan tugas, susah sedikit dia enggan melanjutkan dan lebih memilih melihat hasil kerja orang lain.


“Sudah ya, aku belok di sini. Nanti ngobrolnya dilanjut besok” Ima melambaikan tangannya pada Dini


“Oke. Jangan lupa janji kamu besok ya, aku lihat PR nya” seru Dini melambaikan tangannya juga.



Tok… tok … tok…


“Bu.. Ibu!” panggil Ima.


Tok… tok … tok…


“Bu.. Ibu!” panggilnya lagi, kok tumben sih pintu dikunci dari dalam. Biasanya juga gak batin Ima.


Karena pintu tidak dibuka, Ima berjalan memutar ke pintu dapur. Pintunya tidak ditutup, Ima segera masuk.


“IBU…!!!” Ima terkejut melihat ibu yang terbaring meringkuk di lantai dapur, mencoba membalikkan tubuh ibu.


“Ya Allah… ibu! Ibu kenapa??” teriak Ima melihat kepala ibu berdarah. Segera ia perbaiki posisi ibu agar terlentang, lalu Ima keluar mencari bantuan.



Ima duduk di bangku tunggu di depan ruang UGD. Tangannya saling meremas. Hatinya gelisah. Ingin menelpon Ninu, tapi tidak berani. Akhirnya dia hanya diam saja. Matanya sudah basah sejak tadi.


“Tenang Ima, ibumu gak akan kenapa-napa” tangan bi Enah mengusap pungguh Ima. Tadi bi Enah dan Pak Wahyu yang menolong Ima membawa ibu ke puskesmas.


Tak lama kemudian muncul Bi Tati dan suaminya yang berjalan dengan tergesa.


“Ima..” panggilnya begitu melihat Ima, “Ada apa dengan ibumu?” lanjutnya.


Begitu mendengar suara Bi Tati Ima langsung bangkit dan memeluknya, "Bi… ibu bi…” isaknya.


Belum sempat Bi Tati mengatakan apa-apa, seorang berpakaian PNS keluar dari ruangan.


“Keluarganya bu Neni?” tanya perawat.


“Iya dok, betul” jawab mereka serempak.


“Maaf, sepertinya bu Neni harus dibawa ke rumah sakit. Di sini kami tidak punya peralatan yang memadai” lanjut dokter, “Harus segera mengingat penyakit jantung yang dideritanya”


Ima sudah tidak bisa berkata apa-apa, air matanya deras keluar. Dia khawatir dengan keadaan ibu dan bagaimana ia memberitahu Ninu.


“Ya dok, baik” jawab suami Bi Tati.

__ADS_1


“Tapi gimana biayanya paman?” tanya Ima.


“Itu kita pikirkan nanti, yang penting sekarang nyawa ibumu dulu” jawab pamannya.


“Baik, akan kami siapkan ambulan, mohon keluarga juga mempersiapkan segala sesuatunya ya” lanjut dokter itu dan berlalu pergi meninggalkan mereka.


Kurang dari satu jam kemudian, mereka sudah duduk di dalam mobil ambulan, dengan ibu yang terbaring masih tak sadarkan diri. Kepalanya sudah diperban, tangannya diinfus, dan selang oksigen di hidungnya.


Ima terus memegang tangan ibu yang dingin. Matanya tak berhenti menangis


“Bu… bangun bu” suara Ima memelas.


Bi Tati tak henti mengusap punggung Ima


“Ima…” ucap Bi Tati, “Apa gak sebaiknya kamu telepon kakakmu”


Ima diam, hatinya bimbang.


“Ima takut akan membuat teh Ninu khawatir Bi”


“Tapi kalau ada apa-apa gimana?” tanya Bi Tati pelan.


“Apa-apa gimana Bi? Ibu pasti akan sehat kembali” jawab Ima tidak terima.


“Iya, kita semua mengharapkan ibumu sehat kembali. Tapi kakakmu tetap harus tahu”


Ima terdiam kembali.


“Bi, tangan ibu kok dingin sekali ya?” isak Ima masih menggenggam tangan ibu.


Bi Tati menyentuh tangan ibu, matanya melirik pada paman sehingga pamanpun ikut menyentuh tangan ibu.


“Siap berangkat ya!” seru supir sambil menutupkan pintu mobil, “Tidak ada yang tertinggal?” lanjutnya.


“Kalau ada yang tertinggal nanti menyusul saja” lanjutnya lagi dan mulai menghidupkan mesin mobil.


“TUNGGU!!” seru paman.


“Ada apa?” tanya supir.


“Ini pasiennya….” Ucap paman pelan, matanya merah menahan tangis.


⚘⚘⚘⚘


Ibu.. bagaimana aku melanjutkan hidup ini, mengarungi dunia ini tanpamu.


Aku tidak pernah melewati hari tanpamu ibu


Mengapa kau tega meninggalkanku…

__ADS_1


😭😭😭😭😭😭😭😭😭😭


__ADS_2