TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
JANGAN TINGGALKAN AKU!


__ADS_3

Haris duduk di bangku tunggu di koridor sebuah rumah sakit. Baru saja dia selesai membawa Tyara ke sana, dan kata dokter yang memeriksanya, karena kondisi tyara yang sudah parah, dia harus dirawat inap untuk mendapatkan perawatan intensif.


Tuut…tuuut…


Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif, cobalah beberapa saat lagi.


Haris mengerutkan dahinya, sudah beberapa kali dia menghubungi nomor istrinya, tetapi selalu saja jawaban dari operator sistem yang diterimanya.


Kriiing…kriiingg…


Telepon rumah di pool berdering.


“Halo, selamat sore,” suara seseorang.


“Halo, aku mau bicara dengan nona,” suara Haris.


“Oh.. maaf tuan, nona tidak ada di rumah. Tadi nona pergi ke tempat kursus.”


Bukannya hari ini seharusnya Ninu tidak kursus ya?, pikir Haris.


“Budi mana?”


“Tuan Budi juga sedang keluar tuan.”


Klik Haris memutus telepon.


Segera dia menghubungi Budi.


“Halo, assalamualaikum bang,” suara Budi di seberang sana.


“Waalaikumsalam, kamu dimana?”


“Saya lagi di Delta 2 bang,” jawab Budi. Delta 2 adalah nama pool bayangan untuk pemberhentian sementara bus. Pool bayangan ini difungsikan sebagai tempat laporan bus mana yang lewat dan berapa penumpang yang ada dan sebagai tempat istirahat sejenak apabila ada penumpang yang ingin ke toilet.


“Istriku kok nomornya gak aktif ya?”


“Masa sih bang?” Budi heran, “Mungkin lagi dicas bang hp-nya”


“Tadi aku telepon ke rumah, katanya dia pergi kursus, bukannya hari ini dia tidak kursus?”


“Tadi sih sebelum aku pergi ke sini kakak ada kok di rumah.”


“Coba kamu hubungi siapa tahu bisa.”


“Baik bang.”


Haris menatap gawainya, ada gelisah dan cemas di hatinya. Ada apa gerangan, mengapa Ninu tidak bisa dihubungi.


Derrttt…Derrrtt..


Gawai Haris berdering.


“Ya halo!”


“Benar bang, nomor kakak tidak aktif. Kenapa ya?”


“Kamu cepatlah pulang ke rumah, cari tahu kenapa. Aku tunggu kabar segera.”


“Baik bang.”


Budi bergegas meninggalkan Delta 2 menuju rumah pool. hatinya juga cemas, takut jika kekhawatirannya akan menjadi kenyataan.


__ADS_1


“Bang, sebaiknya abang segera pulang,” suara Budi di telepon beberapa saat setelah dia sampai di rumah pool.


“Kenapa? Ada apa dengan istriku?” Haris terkejut, jelas sekali suaranya menunjukkan kekhawatiran.


“Tadi aku masuk ke kamar abang dan menemukan sesuatu. Nanti abang lihatlah sendiri.”


“Aku balik sekarang!”


Klik telepon ditutup.


Segera dia menemui bu Suti yang sedang duduk menemani Tyara di dalam kamar rawat inap.


“Bu, aku harus balik sekarang, ada urusan penting. Ini peganglah untuk berjaga-jaga. Biaya rumah sakit untuk seminggu ke depan sudah aku bayar, jadi ibu tidak perlu khawatir,” Haris memberikan sejumlah uang pada bu Suti.


“Terima kasih tuan atas kebaikannya, semoga Tuhan membalas berlipat ganda,” bu Suti segera berdiri dan menerima pemberian Haris dengan berkaca-kaca.


“Ya, sama-sama. Aku tidak bisa berlama-lama. Permisi!” Haris segera meninggalkannya tanpa melirik pada Tyara yang sedang tertidur.


Hatinya diliputi kecemasan. Ada apa gerangan dengan istrinya.



“Mana Budi?” tanya Haris pada pelayan setibanya di rumah pool.


“Tuan Budi ada di kamar anda, tuan.”


Setengah berlari Haris menuju kamarnya. Pintu kamar tidak tertutup. Dilihatnya Budi sedang duduk di sofa dengan wajah cemas.


“Bud?”


“Bang, syukurlah abang sudah sampai,” Budi berdiri dari duduknya. Jelas terlihat raut khawatir di wajahnya.


“Ada apa?” tanya Haris tidak sabar.


Apa ini?! Haris terhenyak melihat sebuah foto. Ya, foto seseorang yang sudah dikenalnya. Foto yang dia simpan selama bertahun-tahun. Kenapa sekarang ada di sini? Bagaimana Ninu bisa menemukan foto ini?


Diraihnya kertas yang berada di bawah foto itu. dia terduduk lesu di kursi, tangannya gemetar memegang surat dari Ninu. Matanya merah.


Assalamualaikum bang,


Maafkan saya pergi tanpa berpamitan. Saya ucapkan selamat, pada akhirnya abang bisa menemukan cinta sejati abang. Saya berdoa semoga kebahagiaan selalu menyertai abang dan Tyara.


Maafkan jika selama ini saya melakukan kesalahan dan banyak merepotkan abang sekeluarga.


Tolong sampaikan salam saya untuk mama dan papa.


Darimana dia bisa tahu tentang Tyara? darimana dia tahu bahwa aku sedang menemui Tyara dan mengira aku telah menemukan cinta sejatiku? Dia salah paham, batinnya.


“Bagaimana ini bisa terjadi?! Bagaimana dia tahu kalau aku menemuinya?!”


“Aku tidak tahu bang, sumpah aku tidak tahu. Tadi waktu makan siang kakak masih biasa-biasa saja. Bahkan kakak bilang akan membuat kue dan pudding untuk abang.”


“Apa jangan-jangan…” Budi tercekat.


“Jangan-jangan apa?! Ayo ngomong!”


“Jangan-jangan kakak mendengar waktu abang telepon ke aku tadi siang.”


Haris mengingat kembali. Waktu itu Budi bilang apakah aku akan menikahi Tyara, lalu Budi juga berkata pengorbananku luar biasa.


“Kamu tadi bertelepon denganku di sini?!”


“Iya bang, aku menerima telepon dari abang di ruang kerja, dan pintunya terbuka,” wajah Budi memucat, “Tapi kan pintu itu selalu terbuka pada jam kerja bang.”

__ADS_1


Haris menarik rambutnya kasar, wajahnya penuh kegusaran.


“Kumpulkan pelayan!” perintahnya.



“Tadi nona pergi kemana dengan siapa?” tanya Haris pada para pelayan. Sekarang mereka sedang berkumpul di ruang keluarga.


“Saya tuan,” jawab seorang pelayan, “Tadi nona dijemput pak Eko, katanya mau ke tempat kursus karena ada ujian. Nona juga membawa koper kecil, tuan.”


“Telepon Eko!” perintah Haris pada Budi.


“Ya tuan?” suara Eko di seberang sana, dia baru saja menerima panggilan dari Budi dengan loud speaker mode.


“Tadi kamu mengantar nona kemana?” tanya Budi tanpa berbasa-basi.


“Ke tempat kursus, tuan.”


“Kamu tidak menunggu nona sampai selesai?”


“Tidak tuan, karena kata nona nanti tuan Haris akan menjemputnya.”


Mata Haris merah berkaca-kaca mendengarnya.


Sayang, kamu kemana? Kamu salah paham. Ini tidak seperti yang kamu bayangkan.


Para pelayan yang melihat Haris hampir menangis hanya mampu berkerut menciut. Mereka teringat pada dosa tadi telah bergosip tentang majikannya. Apa jangan-jangan nona mendengar ya waktu mereka bicara?


“Ayo Bud, kita cari ke tempat kursus,” ajak Haris sambil berdiri mengambil kunci mobilnya dan berjalan meninggalkan Budi.


“Kalian tidak bicara macam-macam kan sama nona?” mata Budi menatap tajam para pelayan sebelum meninggalkan ruangan.


“Tidak tuan!!” serentak menjawab.


“Awas ya, kalau nanti aku tahu kalian bicara yang aneh-aneh, mamp** kalian!” suara Budi pelan penuh penekanan, lalu dia pergi menyusul Haris.


Para pelayan saling menatap, takut kalau-kalau apa yang ada di pikiran mereka benar adanya.



Tempat kursus sudah tutup karena ini memang sudah sore, hanya ada satpam yang sedang berjaga.


Haris dan Budi kembali melajukan mobilnya, rumah Agis yang sekarang ditujunya. Di jalan Haris juga mencoba menelepon beberapa orang yang mungkin tahu dimana keberadaan Ninu.


Sesampai di tempat tujuan, ternyata Agis dan bu Syarif tidak tahu dimana sekarang Ninu berada. Mereka sangat terkejut mengetahui Ninu pergi dari rumah.


Haris minta nomor telepon Ima dan bibi di kampung, juga minta alamatnya. Setelah itu, kembali mereka pergi untuk melanjutkan pencarian.


Sekarang toko Sandra yang jadi tujuan mereka, tetapi hasil yang didapat sama seperti tadi ketika bertemu dengan Agis.


Sandra terkejut dan tidak tahu di mana keberadaan Ninu sekarang. Sandra memanggil beberapa karyawannya yang dulu pernah bekerja bersama Ninu, menginterogasi mereka satu-persatu, tapi hasilnya sama, mereka tidak tahu.


⚘⚘⚘⚘


I can't live


If living is without you


I can't live


I can't give anymore


😭😭😭😭😭😭😭

__ADS_1


__ADS_2