TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
JANGAN TINGGALKAN AKU! 2


__ADS_3

Malam sudah larut ketika Haris dan Budi tiba di depan café milik Andre, dan tentu saja cafenya sudah tutup.


“Sepertinya kita harus kembali besok pagi bang,” ucap Budi sambil mengamati café itu dari dalam mobil.


Haris tidak menjawab. Dia terlihat kebingungan, wajahnya diliputi kecemasan.


“Sayang, kamu ada dimana...” ucapnya lirih.


Budi terdiam mendengarnya . Tidak bisa berkata apa-apa, dia bisa merasakan apa yang Haris rasakan sekarang.


“Kalau tahu akan seperti ini, aku tidak sudi pergi menemuinya,” suara Haris masih seperti bergumam. Dia menyalahkan dirinya sendiri, “Ini salahku, aku tidak jujur padanya. Dia pasti marah karena aku berbohong.”


Pertemuannya dengan Tyara harus diganti dengan kehilangan istri yang dicintai. Itu sungguh tidak sepadan, sangat tidak sepadan.


“Bang...” suara Budi lembut, “Sebaiknya kita pulang dulu, kita diskusikan apa yang akan kita lakukan di rumah”


Haris mengangguk pelan, matanya menatap kosong ke depan.



Semalaman Haris tidak bisa tidur, bahkan dia melewatkan makan malamnya.


Pagi ini mereka berencana untuk mendatangi café tempat Ninu bekerja dulu, kemudian menemui Andre, dan apabila hasilnya masih nihil, mereka akan pergi ke kampung halaman Ninu.


Sarapan dilalui Haris dengan enggan. Dia hanya makan sedikit saja itupun karena Budi yang terus memaksanya. Supaya ada tenaga kata Budi.


Derrt… deerrrtt…


HP Haris berdering. Dengan cepat dia menyambarnya, semoga saja itu Ninu.


“Halo, assalamualaikum Ris,” suara Diandra di seberang sana, “Mama nelepon Ninu kok gak aktif ya nomornya?”


Haris menghela nafas, “Iya ma, gak aktif.”


“Kenapa? Ganti nomor?”


“Bukan ma. Istriku pergi dari rumah,” Haris tak bisa lagi menutupi kesedihannya.


“Apa?! pergi?! Maksudnya apa?!”


Haris segera menceritakan apa yang terjadi.


“Ya Allah Haris…., kamu sudah mencarinya?” panik.


“Sudah ma, seharian kemarin aku cari tapi belum ketemu. Pagi ini aku mau cari lagi, mungkin sampai ke kampungnya.”


“Ya sudah, mama segera ke sana sekarang!”


Klik telepon ditutup.


Haris menangkupkan kedua tangannya di wajah lalu mengusap rambutnya kasar. Kesedihan dan kecemasan bergelayut di hatinya. Dia khawatir tidak dapat menemukan istrinya.


Bisa saja kan semua orang bersekongkol menyembunyinya?


Budi menatap Haris yang nampak kacau. Baru sehari ditinggal kakak penampilan abang sudah acak-acakkan begitu, batinnya.

__ADS_1


Padahal kalau diperhatikan, penampilan Budi pun tidak jauh dari Haris, karena mereka sama-sama khawatir.


“Ayo kita berangkat sekarang,” ajaknya pada Budi.


“Iya bang.”



Mereka sampai di café tempat Ninu bekerja dulu. Hasilnya sama, tidak ada yang tahu dimana Ninu berada.


Sally, pemilik café yang merupakan adik Sandra juga menanyai karyawannya satu per satu, tapi nihil, tidak ada yang tahu.


Demikian juga dengan Andre, bahkan terlihat kalau Andre memasang wajah curiga pada Haris.


“Kenapa kamu melihat aku seperti itu hah?!” tanya Haris tidak suka.


“Jangan-jangan kamu menyakitinya, iya kan?!” tuduh Andre.


“Enak saja kamu ngomong!”


“Kalau kamu memperlakukannya baik, mana mungkin dia pergi begitu saja!”


“Sudahlah, kamu tidak akan mengerti!” Haris berlalu pergi diikuti tatapan marah dari Andre.



‘Ris, mama sama papa sudah di rumah pool’ pesan WA dari Diandra pada Haris.


“Kita pulang dulu Bud sebelum pergi ke kampung,” ucap Haris setelah membaca chat dari Diandra.


Sesampainya di rumah mereka disambut Diandra dan Hendrawan dengan wajah cemas.


“Belum ketemu Ris?” tanya Diandra.


“Belum ma,” suara Haris lesu.


“Barusan bi Neneng dan pelayan lain menemui mama, mereka minta maaf dan mengakui telah bergosip tentang kamu kemarin bersama pelayan yang lain. Mereka khawatir kalau obrolan mereka didengar oleh istrimu.”


Ya Tuhan, kenapa semua orang selalu ikut campur urusan orang lain?


Amarah naik ke ubun-ubun, segera dia berdiri hendak ke dapur menemui para pelayan. Tapi Hendrawan dan Diandra segera mencegahnya.


“Sudahlah Ris, tidak perlu menghukum mereka, tadi mama dan papa sudah melakukannya. Sudahlah,” Diandra menenangkan Haris dengan memeluknya.


“Mereka tuh kurang ajar sekali ma, mereka di sini cuma kerja, gak ada hak untuk ikut campur urusan aku!”


“Iya… iya, mama ngerti. Sudahlah nak. Tenangkan hatimu,” Diandra tidak melepaskan pelukannya, dia tahu kerisauan anaknya kini.


“Duduklah. Tenangkan dirimu ya,” Diandra mendudukkan Haris yang masih dipeluknya.


“Ma.., gimana kalau aku gak bisa menemukannya,” Haris terisak di pelukan ibunya.


“Kita pasti menemukannya, tenanglah. Banyak orang yang akan membantumu,” Diandra mengelus punggung anaknya, “Ninu mencintaimu, dia pasti akan kembali padamu, yakinlah.”


__ADS_1


Haris dan Budi berdiri di depan sebuah kamar kos-kosan. Mereka baru saja sampai di tempat Ima.


“Maaf, siapa ya?” sapa seseorang di belakang mereka.


Haris dan Budi membalikkan badan bersamaan.


“Oh.. bang Haris ya?” tanya Ima sumringah merasa senang mendapat kunjungan dari kakak iparnya. Ini kunjungan pertama Haris setelah sekian bulan menikah dengan Ninu.


Ima segera mendekat lalu menyalami dengan mencium tangannya. Dia juga menyalami Budi.


“Mari masuk bang,” ucapnya setelah membuka pintu kamarnya.


Mereka duduk di atas karpet yang baru saja digelar Ima.


Sejenak Haris mengedarkan pandangannya. Sebuah kamar berukuran 3 x 4 meter, sederhana tetapi rapi dan bersih. Ada kasur, lemari pakaian, tv, dan sebuah aquarium kecil.


Dia persis seperti kakaknya, rapi dan bersih, batin Haris.


“Baru pulang sekolah ya?” tanya Budi membuka obrolan.


“Eh.. iya om, seharusnya sih pulangnya nanti jam 3 tapi hari ini ada rapat guru jadi jam 12 sudah dibubarkan,” jawab Ima yang sedang membuat air teh untuk tamunya.


“Silakan diminum,” ucapnya sambil meletakkan dua gelas di atas karpet.


“Teh Ninu gak ikut bang?”


Pertanyaan yang membuat jantung Haris tercekat. Jadi Ima juga tidak tahu?


“Coba Ima telepon teh Ninu, tanya kenapa gak ikut,” ucap Haris.


Sejenak Ima menatapnya sebelum akhirnya dia mengambil gawainya dan menghubungi Ninu.


“Kok gak aktif nomornya?” kembali menatap Haris dengan heran, “Teh Ninu ganti nomor?”


Haris tidak menjawab, dia hanya menghela nafas. Berarti Ninu tidak datang kemari. Bingung. Bagaimana dia harus menjelaskan pada Ima.


Budi paham dengan apa yang ada di pikiran Haris, maka dia berkata pada Ima, “Kamu bisa temani kami ke kampung?”


“Ke kampung? Ada apa?” tanya Ima semakin heran. Pertanyaan tadi saja belum dijawab sekarang muncul lagi pertanyaan baru.


“Kami ingin bertemu dengan bibi dan pamanmu. Kita kan belum pernah berkunjung ke sana.”


Sebetulnya Ima tidak mengerti apa yang dibicarakan oleh kakak iparnya dan Budi, tetapi dia merasa tidak sopan jika harus mendesak mereka untuk mengatakan apa yang sebenarnya terjadi.


Nanti juga aku pasti akan tahu, batinnya.


“Iya bisa, kebetulan besok libur karena guru-gurunya masih akan rapat.”


“Kalau begitu kita berangkat sekarang saja. Ayo kamu siap-siap!” ucap Haris bersemangat.


⚘⚘⚘⚘


happy reading semuanya, terima kasih yang sudah like.


Haris dan Ninu sangat berterima kasih pada kalian semua 😍🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2