
Hawa dingin menyadarkan Ninu bahwa malam sudah larut. Dia mengangkat wajahnya dan merapikan rambut. Tangisan telah membuat hatinya lega, seakan semua beban telah tercurahkan. Dia bangkit dari duduknya, merapikan rambutnya lagi lalu melangkah menuju kamar tidur. Dia tidak peduli lagi pada Haris yang entah berada di mana, mungkin di ruang kerjanya, atau sudah tertidur di kamarnya, atau bahkan mungkin masih berada di ruang keluarga. Masa bodo amat, pikirnya.
Sesampaikan di kamar Ninu segera mengambil air wudhu, menunaikan sholat isya lalu berdoa dengan bersungguh-sungguh. Ditumpahkannya segala gundah gulana yang membebani hatinya selama ini. Dia curhat kepada sang pencipta. Air mata kembali menganak sungai di pipinya. Dia sujud dengan isakan halus sebagai irama tangisnya.
⚘
Sementara itu, Haris beranjak ke ruang kerjanya setelah beberapa saat tadi dia mengintip Ninu yang sedang menangis di halaman belakang.
“Halo bang ada apa malam-malam telepon aku?” suara Budi terdengar di gawai Haris.
“Kamu sudah mengerjakan yang aku suruh belum?”
“Apa itu bang?”
“Kok apa? jadi kamu ngapain aja tadi siang?” bentak Haris kesal.
“Maksudku tugas yang mana bang yang abang tanyakan? Kan banyak”
“Tempat kursus!” sergah Haris.
“Oohhh… itu. Sudah aku kasih tadi siang ke kak Ninu, bang. Dia kayaknya senang banget tuh, wajahnya langsung ceria, bercahaya bak bulan purnama hehe….” Budi terkekeh.
“Ceria apanya?! Ceria bohi-mu!”
“Lho emang dia tadi ceria bang! Emang sekarang dia gak ceria lagi? Waah… jangan-jangan abang bikin dia nangis lagi ya? Aduh bang jangan gitulah sama perempuan, coba lebih halus lagi gitu sikapnya bang” gerutu Budi.
“Sudah diam kamu!” klik telepon ditutup.
Emang sih aku tadi salah ngomong soal masakan, tapi aku kan gak niat nyinggung dia. Aku tadinya ingin cari bahan untuk ngobrol aja , eh..malah keceplosan ngomong gitu, dasar nih mulut gak dicor ngomong sembarangan. Lagian dia tuh lemah banget sih, diomongin sedikit aja nangisnya sampai segitunya, sampai kayak yang disiksa aja.
Haris menghempaskan dirinya di atas sofa. Matanya menengadah menatap langit-langit. Seperti mengingat sesuatu, dia kembali mengambil gawainya dan menelepon.
“Ada apa lagi bang? Ada yang lupa?” suara Budi kembali terdengar.
“Gimana pencarianmu, masih belum ada hasilnya? Lama sekali” gerutu Haris.
“Kan sudah aku bilang bang, Tyara kerja ke luar negeri dan sampai sekarang aku gak tahu kabarnya dia gimana. Lagian bang, kalau saran aku ya, abang buat apa sih menunggu sesuatu yang gak jelas. Kalau nanti abang ketemu sama dia juga belum tentu dia cinta sama abang. Gimana kalau dia sudah nikah? Lebih baik..”
__ADS_1
“Sudah sudah! Kamu gak usah ceramahin aku. Tugasmu itu adalah temukan dia segera. Selebihnya urusanku!” klik telepon kembali ditutup oleh Haris.
Dilemparkannya gawai itu ke ujung sofa. Haris meremas rambutnya kasar.
Kenapa aku ditakdirkan jadi laki-laki yang gak pandai bicara sama perempuan sih. Coba kalau aku pandai menata kata, mampu mengungkapkan perasaan, pasti saat ini aku sudah menikah dan hidup bahagia dengan Tyara, huh…. Haris menghembuskan nafasnya kasar. Kekurangan diri yang selalu disesalinya selama ini. Bahkan kekurangannya itu kini telah membuat Ninu sakit hati dan menangis sejadi-jadinya.
⚘
Setelah sholat subuh Ninu kembali membaringkan tubuhnya. Dia merasa kurang sehat, mungkin karena semalam dia berada di halaman belakang sampai larut ditambah lagi dia menangis terus.
Tok tok tok....
Pintu kamarnya diketuk oleh seseorang. Dengan enggan Ninu beranjak membukakan pintu. Dilihatnya Tanti berdiri di depan kamarnya.
“Nona, tuan menunggu anda untuk sarapan”
Aduh.. aku enggan ketemu dia, mana badan lagi gak enak gini lagi, dan ini tamu kok datang gak lihat-lihat situasi sih, lagi gak enak badan gini eh malah datang bulan.
“Aku gak lapar. Biar tuan sarapan duluan saja ya” jawab Ninu malas.
“Tapi nona..”
Tanti menganggukkan kepalanya sambil menutupkan pintu kamar.
Baru saja Ninu memejamkan matanya pintu kamar kembali diketuk.
Aduuh…Tanti ini gimana sih udah dikasih tahu aku gak mau sarapan, gerutunya sambil membalikkan badannya menghadap pintu.
Tanti membuka pintu, “Nona kata tuan nona harus sarapan”
Ya..ampun kenapa sih dia? Gak bisa ya lihat orang istirahat, gak tahu apa aku lagi gak enak badan. Tapi kalau aku gak turun takutnya dia yang ke sini, wah…bisa gawat!
“Ya aku turun sebentar lagi” akhirnya Ninu menyerah, dia segera menuju kamar mandi untuk mencuci mukanya lalu menyisir dan mengoleskan sedikit pelembab di wajahnya.
Dia menatap sejenak wajahnya di cermin, dirabanya kedua matanya yang sembab, aku nangis terus sampai mataku bengkak begini, apa nanti tuan Haris bakal nanya kenapa aku nangis ya. Aduh nanti aku jawab apa, masa aku bilang aku nangis karena kamu selalu menghina aku. Huh seandainya saja aku berani.
Tak lama kemudian Ninu sudah berada di ruang makan, dia segera menarik kursi yang akan didudukinya, "Selamat pagi bang” sapanya pelan.
__ADS_1
Haris meliriknya, “Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa” jawab Ninu memperbaiki suaranya yang tadi terdengar lesu.
Haris melihat Ninu yang makan dengan enggan, apa dia masih marah ya, matanya juga bengkak begitu, sepertinya semalaman dia menangis.
“Kamu sakit?” tanya Haris kembali.
Ninu menggelengkan kepala sambil tertunduk. Entah mengapa kata-kata Haris barusan membuat hatinya jadi melow dan ingin menangis lagi, tapi dia tahan. Ninu berusaha menghabiskan makanan yang tersisa di piringnya. Dia ingin segera kembali ke kamar.
Sepertinya aku ingin nangis lagi, batinnya.
“Kalau kamu sakit biar aku panggil dokter kemari” suara Haris sekarang terdengar perhatian.
“Tidak bang, saya hanya ingin istirahat saja” jawab Ninu masih dengan wajah tertunduk. Dia tahu sekarang Haris sedang menatapnya.
Haris bangkit dari duduknya, “Ya sudah kalau begitu, aku pergi dulu”
Aku tidak tahu harus ngomong apa, apa aku harus minta maaf ya sama dia? Ah gak usahlah.
“Iya bang” jawab Ninu singkat.
Dia tidak ingin menyalamiku rupanya, batin Haris masih berdiri di tempatnya seperti menunggu.
Ninu tahu Haris menunggu dia menyalaminya tapi Ninu enggan. Jadi dia diam saja.
Karena Ninu tak kunjung berdiri dan menyalaminya akhirnya Haris berlalu ke luar rumah menuju mobilnya diikuti pak Otang yang membawakan tas kerja.
Setelah Haris pergi Ninu membenamkan kepalanya di meja dan menangis terisak. Dia tidak kuat lagi untuk menahan diri. Sementara itu Tanti hanya memandanginya tanpa bisa melakukan apa-apa.
⚘
Di sini Haris salah paham, dikiranya Ninu menangis sampai matanya bengkak semata-mata karena tersinggung oleh ucapannya tentang masakan Ninu. memang Ninu tersinggung dan marah , tapi sebenarnya ada 3 hal yang membuatnya menangis dan sedih mendalam . Pertama karena tersinggung oleh ucapan Haris, kedua adalah kesadarannya yang bangkit setelah membaca buku yang berjudul KEKUATAN DOA di mana Ninu terinsyafi bahwa selama ini dia telah melupakan Tuhan dan terlena dengan terus bekerja mencari kehidupan duniawi, dan ketiga karena dia sedang PMS.
⚘⚘⚘⚘
Happy reading readers, terima kasih banyak yang sudah like dan komen. Aku masih nunggu vote dari kalian 😍
__ADS_1
Ditunggu juga follow nya di profilku 🙏🙏🙏🙏