
“Nin…. Ninu… sadar Nin” sepasang tangan mengguncang-guncang bahunya dengan lembut.
Samar-samar Ninu mendengar suara-suara, ya seperti suara banyak orang. Sepertinya mereka panik dan memanggil-manggil namanya. Ada yang menyentuh tangannya, meremas jemarinya,
Ninu berusaha membuka mata, bibirnya tak henti bergumam memanggil ibu.
Mula-mula yang dilihatnya hanya sedikit cahaya. Dan ketika matanya dapat terbuka, dia melihat wajah-wajah khawatir sedang memandanginya.
“Siapa? Ada apa? mana ibu? Ima… Imaaa…..ibuu” akhirnya Ninu mampu berteriak mengeluarkan suaranya yang diakhiri dengan tangisan.
Agis segera memeluknya, "Ninu…” isak Agis tak mampu menyembunyikan kesedihannya.
Dokter segera memeriksa Ninu, kemudian berbicara dengan Agis pelan kemudian pergi meninggalkan ruangan.
Ninu masih menangis. Sekarang ada bu Syarif yang memeluknya, "Ninu, segeralah sehat nak” bu Syarif tergugu. Tangannya mengusap-ngusap lengan Ninu.
⚘
“Aku mimpi buruk Gis” suara Ninu parau, matanya menerawang.
Agis menyodorkan gelas berisi air, Ninu segera meminumnya, "Itu efek dari kondisimu Nin karena kecanduan. Kata dokter tidak apa-apa, nanti juga akan hilang dengan sendirinya” suara Agis menenangkan.
“Dalam mimpiku itu ibu pergi Gis, aku dan Ima tidak bisa berbuat apa-apa. itu seperti nyata. Hatiku rasanya sakit bahkan rasa sakit ini sangat terasa sampai sekarang” isak Ninu seolah tidak mendengar apa yang Agis katakan. Tangannya menyentuh dadanya.
Agis hanya diam. Ternyata kepergian ibu bisa Ninu rasakan. Kontak batin antara seorang ibu dan anak memang tidak putus walaupun terhalang jarak. Apalagi Ninu sangat menyayangi ibu demikian juga ibu.
⚘
Tak terasa sudah satu minggu Ninu dirawat. Selama di rumah sakit Agis dan ibunya juga teman-teman Ninu bergantian menemaninya. Hari ini dokter memperbolehkan Ninu pulang.
Dokter berpesan agar Ninu tidak dibiarkan sendiri, sebisa mungkin dihindari dari stress atau tekanan agar pikirannya teralihkan dari keinginan untuk mengkonsumsi obat itu. Oleh karena itu Agis mengajak Ninu tinggal di rumahnya untuk sementara waktu. bu Syarif dan Arman juga setuju. Di sana akan ada ibu yang bisa menemani Ninu sepanjang hari. Teman-temannya juga bisa datang sekali-kali jika sedang ada waktu luang.
Bu Sandra memberi ijin cuti sampai kondisi Ninu benar-benar sehat. Bu Sandra dan pak Johan akhirnya tahu apa yang telah menimpa Ninu. Mereka sangat geram mengetahui bahwa Ninu dijebak jatuh ke dalam narkoba, tapi bersyukur juga setelah tahu bahwa Ira sang penjebak sudah ditangkap polisi.
⚘
Sore itu di ruang keluarga di rumah Agis.
“Jadi Tuan Haris yang menolong mengantarku dan membayar biaya rumah sakitku?” tanya Ninu hampir tidak percaya.
Bagaimana mungkin orang yang tidak dikenalnya bisa membantu banyak seperti itu. Selama dia bekerja di toko, Ninu pernah melihat sekali Haris datang, tapi bukan untuk berbelanja seperti pembeli lainnya, melainkan untuk berbincang dengan pemilik toko. Jadi Ninu tidak kenal sama sekali dengan Haris begitupun sebaliknya.
Lalu tiba-tiba Agis mengatakan bahwa Harislah yang mengantarnya ke rumah sakit bahkan membayarkan biaya perawatannya selama di sana.
“Sebetulnya bu Sandra ingin mengganti uang itu Nin tapi tuan Haris menolak. Mungkin dia merasa tidak enak harus menerima uang dari bu Sandra” ucap Agis.
__ADS_1
Ninu diam masih merasakan keheranannya.
“Aku harus mengucapkan terima kasih Gis” ucapnya, "Aku malu. Sudah sakitku ini sakit yang memalukan, eh dibayarin sama orang yang gak aku kenal lagi” kata Ninu, “Kamu kalau pas lagi shift siang antar aku ke rumah Tuan Haris ya” Ninu menatap Agis penuh harap.
“Apa namanya aku kalau tidak mengucapkan terima kasih. Sudah ditolong tapi tidak ada basa-basinya” lanjut Ninu.
Agis manggut-manggut.
“Iya aku ngerti. Baik aku akan menemanimu” senyum Agis.
⚘
Malam itu....
“Gis, HP ku dimana ya? Aku mau menelepon Ima. Sudah lama aku tidak mendengar suaranya” ucap Ninu, “Aku juga kangen sama ibu”
Memang semenjak Ninu sakit HP nya dipegang oleh Agis. Ninu tidak keberatan, bahkan sepertinya Ninu tidak mempedulikan gawainya itu.
Sudah beberapa kali Ima menelepon begitu juga bi Tati, mereka terus menanyakan keadaan Ninu. mereka sangat khawatir. Semua panggilan itu Agis yang terima. Oleh karenanya sampai saat ini Ninu belum tahu kalau ibu telah tiada.
“Ini ada di aku” jawab Agis.
“Tapi Nin, sebelum kamu menelepon Ima aku mau mengatakan sesuatu” lanjut Agis, “Dan kamu harus janji dulu sama aku, kamu bakal tenang mendengarnya”
“Janji dulu"
“Iya aku janji” Ninu penasaran.
Agis menarik nafas dalam seperti sedang mempersiapkan sesuatu yang berat. Ya, ini memang berat. Agis harus pandai mengatur kata agar Ninu tidak salah paham atau tertekan.
“Sebenarnya aku ingin mengajakmu pulang, ada yang terjadi di kampung Nin” suara Agis pelan.
Ninu hanya menatapnya dengan sorot penasaran. Jantungnya berdebar.
“Apa kamu ingin mendengarnya dari aku atau ingin melihatnya langsung?” tanya Agis.
“Maksudmu?” Ninu balik bertanya.
Agis terdiam. Kok susah ya. Harus mulai dari mana. Ini seperti sedang ujian lisan dimana dia harus menyampaikan suatu informasi dan dia tidak tahu bagaimana cara memulainya.
Bu Syarif yang sedang duduk di depan tv melirik. Dia tahu kesulitan yang dihadapi anaknya untuk menyampaikan berita duka pada Ninu. dia beranjak pindah duduk di samping Ninu.
“Sebenarnya…” suara Agis ragu-ragu.
“Nak” ucap bu Syarif mengusap punggung Ninu, “Ketika kamu dirawat di rumah sakit, bibimu menelepon dan memberitahu kami bahwa sesuatu telah terjadi pada ibumu”
__ADS_1
Ninu mengalihkan pandangannya pada bu Syarif. Hatinya mulai menebak-nebak dan entah mengapa matanya terasa panas.
“Ibumu jatuh di dapur. Nyawanya tak tertolong” lanjut bu Syarif dengan hati-hati.
“Kami tidak memberitahumu karena kondisimu tidak memungkinkan pada saat itu” sambung Agis, “Maafkan aku Nin. Aku menyimpan ini darimu”
Tidak ada teriakan apalagi jeritan pilu yang keluar dari bibir Ninu. Dia diam. Hanya air matanya yang tiba-tiba menganak sungai jatuh tak terbendung. Tanpa isakan.
Brukkk!!
Ninu jatuh tak sadarkan diri.
⚘⚘⚘⚘
Ibu…ibu…
Aku berdosa padamu
Tak sempat tangan ini membalas semua kebaikanmu
Tak sempat peluh ini membalas semua jasamu
Kau sudah pergi
Maafkan aku ibu….
Bahkan
Kau pergi di saat aku butuh tanganmu untuk memelukku
Kau pergi saat aku butuh bahumu untuk bersandar
Bu… maafkan aku
Yang hanya mampu sebatas angan ingin membuatmu bahagia
Yang hanya mampu sebatas kata ingin membuatmu tertawa
Nyatanya,
Aku hanya bisa membuatmu cemas dan menangis
😭😭😭😭😭😭
Buat yang masih punya ibu, sayangilah ibumu sebelum ia meninggalkanmu 😘😘😘
__ADS_1