
Setelah hampir satu jam tiada kantuk akhirnya mereka mulai bisa memejamkan mata. Tapi baru saja akan terlelap tiba-tiba pintu kamar terbuka dan seseorang berdiri di sana menatap ke dalam kamar dengan sorot mata marah.
Ninu dan Haris yang mendengar pintu kamar terbuka sontak bangkit dari baringnya, mata keduanya lurus menatap ke arah pintu.
‘MAMA!!” seru mereka berbarengan.
“Jadi begini selama kalian menikah?!” seru mama dengan tatapan marah.
Ninu gemetar, Haris tercekat.
“Bukan begitu ma…” Haris bangkit dan menghampiri Diandra, “Kebetulan Ninu sedang ingin tidur di sofa sambil nonton tv,” mencoba mengelak.
“Nonton tv apa?! kamu kira mama bodoh! Lihat tv nya juga mati!” tunjuk Diandra, “Sini! Ikut mama sekarang!” tangan Diandra meraih tangan Haris dan menariknya keluar dari kamar.
Ninu yang duduk bengong masih menatap pintu kamar yang terbuka, tangannya memegang dada, nafasnya menjadi berat. Ini pertama kalinya dia melihat Diandra marah, dan itu sangat menakutkannya.
Entah kenapa aku kok parno-an ya sama orang yang marah, batinnya, mencoba mengatur nafas dan memperbaiki posisi duduknya. Dia bersiap menghadapi kejadian berikutnya yang entah apa itu. tidak ada yang bisa dilakukannya sekarang selain berdoa.
⚘
“Duduk!!” bentak Diandra pada Haris. Mereka baru saja memasuki kamar tidur Diandra.
Hendrawan yang sedang duduk di atas tempat tidur menatap Haris datar tapi itu sudah cukup untuk menggetarkan jantung Haris.
Haris duduk di sofa, tak berani menatap mama dan papanya.
“Begitu ya kelakuan kalian selama ini?!” mata mama membulat menatap Haris.
Haris diam tertunduk, hatinya bingung, dia sedang mencari-cari alasan yang tepat agar mamanya tidak marah.
“Pantas istrimu tidak hamil-hamil, tidur saja terpisah!” nafasnya tersengal karena menahan emosi, membuat Haris khawatir.
“Ma…” ucapnya pelan.
“DIAM!”
“Mama gak ngerti sama kamu Ris, apa yang kamu inginkan sebenarnya,” suaranya menurun sekarang, tangannya meraih sandaran kursi dan mendudukkan tubuhnya dengan perlahan seolah-olah tubuhnya akan ambruk
“Ingat umur Ris. Ingat mama sama papa yang sudah tua. Mau sampai kapan kamu begini?” sekarang tidak ada amarah dalam ucapannya selain kesedihan.
Hening.
“Mulai sekarang, kamu harus tidur dengan istrimu satu ranjang! Gauli istrimu sesuai dengan haknya. Apa kamu gak takut dosa tidak menjalankan kewajibanmu?” suaranya penuh penekanan.
Haris kembali menundukkan kepalanya.
Hendrawan hanya menyimak. Sepertinya dia tidak ingin mengganggu ucapan istrinya. Matanya masih lekat menatap Haris.
Lama hening.
“Kamu anak baik, kamu orang yang beragama. Kamu pasti paham maksud mama,” Diandra menatap tajam.
Haris mengangguk pelan.
__ADS_1
“Pergilah, kembali ke kamar, istrimu pasti sedang menunggumu,” Diandra mengusap wajahnya lalu istigfar beberapa kali demi membuang emosi yang membuncah di dadanya.
Haris bangkit dari duduknya dan melangkah keluar kembali ke kamarnya.
Haris tertegun di depan pintu kamarnya yang masih terbuka, apa yang mama ucapkan memang benar, apapun yang menjadi alasan pernikahan kami, tapi secara agama kami sudah sah menjadi suami istri, aku dan dia memiliki hak dan tanggung jawab sebagai seorang suami dan istri.
Haris melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. Dilihatnya Ninu duduk dengan menegakkan punggungnya menyambut kedatangannya.
“Bang,” ucapnya penuh penasaran.
Haris menghampirinya, “Kamu tidurlah bersamaku,” ucapnya pelan.
“Tapi bang...”
“Jangan membantah. Aku tidak akan melakukan apa-apa padamu,” dia berjalan menuju tempat tidur dan membaringkan badannya.
Waktu menunjukkan hampir pukul satu malam.
Ninu masih terdiam.
Haris meliriknya. Pandangan mereka bertemu.
Aku tidak mau tidur dengannya, bagaimana kalau dia memperkosa aku, batin Ninu.
“Tunggu apa lagi?!” seru Haris, “Apa kamu mau dimarahi mama?”
Mama adalah senjata yang paling ampuh saat ini. Apapun urusannya kalau sudah menyebut nama 'mama' maka semua akan tunduk.
Ninu bangkit perlahan, membereskan selimut dan bantalnya, lalu berjalan menuju tempat tidur. Hatinya cemas.
“Bang…”
“Aku ngantuk, mau tidur,” Haris menggeserkan badan ke sisi lain tempat tidur, membalikkan tubuhnya membelakangi Ninu.
Mau tidak mau akhirnya Ninu ikut membaringkan tubuhnya di sisi Haris dengan sebelumnya memasang guling sebagai sekat di antara mereka.
Sepertinya mereka berdua tidak dapat memejamkan mata hingga menjelang subuh. Keduanya bergelut dengan pikiran masing-masing.
⚘
“Aku heran, kenapa mama bisa masuk ke kamarku tengah malam,” suara Haris pelan.
Sekarang dia sedang duduk bersebelahan dengan Budi di rumah pool. Budi yang mendengarkan cerita Haris hanya diam.
“Apa mama sudah tahu ya? Tapi tahu dari siapa? Tidak mungkin jika tidak ada yang memberitahu,” lanjut Haris. Matanya menerawang kejadian tadi malam
“Mungkin tante hanya ingin mengecek saja bang,” akhirnya Budi membuka suara.
“Ngecek apaan?!” mata Haris mendelik, “Tidak, tidak mungkin!” Haris menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.
“Aku curiga ada yang memberitahu mama yang sebenarnya. Tapi siapa?” ucapnya lagi.
“Atau jangan-jangan kamu ya?!” tetiba Haris menoleh pada Budi dan menatapnya penuh selidik, “Benar?!” desaknya.
__ADS_1
“Apaan sih bang, ngapain aku cerita yang kayak gitu sama tante!” Budi terkejut dan dengan cepat mengelak.
“Bisa saja kan, kamu carmuk di depan mamaku.”
“Yaelah bang…kayak gak kenal aku aja abang ini,” Budi kembali duduk santai, “Kita kan sudah bertahun-tahun bersama bang, abang tahulah siapa dan bagaimana aku ini.”
“Atau Tanti? Aku harus menanyainya.”
“Bisa jadi,” jawab Budi, "Dia kan orang kepercayaan tante."
Mata Haris kembali menerawang, lalu katanya
“Dan anehnya, mama gak marah sama sekali sama gadis itu. Tadi pagi mama bicara manis seperti biasanya sama dia. Atau jangan-jangan dia yang ngadu ya? ah… tapi tidak mungkin. Tidak mungkin dia melakukan itu. dia sangat ketakutan kalau dekat denganku,” ceracaunya seolah bicara sendiri, mencoba menganalisa banyak kemungkinan.
“Kalau saran aku nih bang, ikuti saja apa yang tante bilang. Kan memang betul abang dan kak Ninu sudah sah sebagai suami istri, ya bergaullah selayaknya suami istri. Kakak kan tidak jelek bang, bahkan dia cantik menurutku. Dia juga baik dan bersih, lalu apa lagi yang abang cari?.”
“Bersih? Apa maksudmu dengan bersih?” tanya Haris mengerutkan kedua alisnya.
“Ya bersihlah bang, tidak pernah punya pacar, tidak pernah disentuh oleh pria manapun. Tidak terlibat pergaulan bebas. Ibarat pualam kakak itu utuh mulus tanpa goresan,” tangan Budi bergerak-gerak mengumpamakan suatu bentuk yang terbuat dari pualam, “Di jaman kayak gini jarang loh bang dapat wanita kayak kakak.”
Haris mendengus.
“Kamu kan tahu masalah yang aku hadapi. Seperti apa aku kalau berhadapan dengan wanita. Dan yang kedua, aku masih penasaran dengan Tyara.”
“Ya ampuuun….bang. Tyara lagi, Tyara lagi. Lupakan dia bang, itu masa lalu!” Budi bangkit dari duduknya. Sepertinya dia agak kesal dengan jalan pikiran Haris.
Haris diam, tangannya menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
“Kalau masalah abang yang kaku kalau dekat dengan wanita, aku bisa bantu,” Budi kembali duduk di kursi yang berbeda. Sekarang dia duduk berhadapan dengan Haris.
“Aku bisa minta kakak untuk memahami keadaan abang dan menyuruhnya untuk memulai, gimana?”
“Hei! Kamu ingin merendahkan harga diriku dihadapannya?!” bentak Haris.
“Terus, maunya abang gimana?” Budi mengangkat kedua bahunya.
Diam.
“Biarlah semua mengalir seperti air. Siapa jodohku yang sebenarnya, biar Allah yang menunjukkan caranya, apakah wanita itu atau Tyara.”
Budi mengangkat kedua alisnya sambil menghembuskan nafasnya kasar, “Tapi kan tetap harus ada usaha bang.”
Aku akan mencari jalan sendiri, bagaimana caranya aku menemukan cintaku yang sesungguhnya. Aku yakin bisa. Aku hanya perlu sedikit berani, batin Haris membulatkan tekad.
Benar kata mama, umurku sudah tidak muda lagi, aku harus berjuang untuk hidupku.
⚘
Happy reading untuk supporter Ninu
Selamat membaca untuk supporter Tyara
Semoga terhibur untuk supporter Haris
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak like, dan komen
😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍😍