TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU

TERJEBAK Dalam PERNIKAHAN SEMU
KEJUTAN


__ADS_3

Sejak pertengkaran mereka di café, kini sikap Haris berubah 180º. Sekarang dia sering mengajak Ninu mengobrol walau hanya sebentar dan membicarakan hal-hal ringan bahkan sangat tidak perlu.


Terkadang Ninu tidak mengerti untuk apa Haris membicarakan itu dengannya, tetapi sebagai seorang istri (ya, kata mama sebagai seorang istri yang baik harus bisa melayani suami dengan baik) dan sebagai bentuk sopan santun, Ninu mencoba mengerti dan mengikuti apa yang diobrolkan oleh Haris.


Seperti pada suatu malam di kamar sebelum mereka pergi tidur Haris bercerita bahwa Budi adalah orang yang konyol dan bermuka dua. Dia bisa terlihat jutek dan menakutkan di depan orang lain tetapi kalau sudah akrab dia menyebalkan, suka menggoda, dan bercandanya kelewatan. Sudah, hanya itu yang Haris ceritakan. Sementara Ninu berpikir untuk apa Haris menceritakan hal itu padanya, toh dia jarang berhubungan dengan Budi dan merasa tidak ada perlunya dia tahu tentang karakter Budi.


Atau cerita Haris waktu dia dihadang oleh seorang preman ketika dia keluar dari sebuah mini market. Bagaimana preman itu memalaknya sambil sempoyongan karena mabuk, dan Haris cukup menjitak kepalanya lalu preman itu jatuh tersungkur.


Terkadang Ninu mengangkat alisnya sendiri sambil berpikir dia cerita apaan sih. Tapi ya itulah usaha Haris dalam rangka mencairkan suasana di antara mereka. Haris sedang mencoba menjadi dekat dengan istrinya.


Kebiasaan Haris membelai rambut Ninu dan menciuminya juga masih berjalan setiap malam, bahkan sekarang dia berani memindahkan guling penyekat di antara mereka.


Pernah suatu pagi Ninu sungguh terkejut ketika dia terbangun dengan tangan Haris yang memeluknya dari belakang. Ninu berusaha sekuat tenaga memindahkan tangan itu tapi sungguh berat sekali hingga Ninu hanya bisa diam menunggu sampai Haris membalikkan tubuhnya.


Saat itu bukan main berdebarnya jantung Ninu dipeluk oleh pria gagah dengan wangi maskulin yang selalu menebar. Ingin rasanya dia berteriak saking tidak tahan oleh debaran jantung yang berdegup kencang.


Di sisi lain, Haris yang pura-pura tidur sambil memeluk Ninu pun tak kalah grogi. Mendekap seorang wanita cantik yang tak berdaya menyingkirkan tangannya, menelusupkan wajahnya di antara buraian rambut ikal nan wangi mampu membuat hormonnya menggelora. Tapi dia tahu diri untuk tidak melakukan sesuatu yang lebih jauh. Dia sadar Ninu belum menjadi miliknya yang sebenarnya.



“Sayang, kamu tahu kan kalau lusa ulang tahun suamimu?” tanya Diandra.


Ninu tercekat. Benarkah? Dia tidak tahu. Tapi kalau bilang tidak tahu apa kata mama nanti, dia akan dicap sebagai istri yang tidak peduli pada suaminya, masa ulang tahun suami saja tidak tahu.


“Hmmm…iya ma, aku tahu,” jawabnya.


“Sungguh tidak terasa ya, usianya sudah menginjak 31. Usia yang sudah dewasa. Tapi kelakuan dia tuh masih kayak anak-anak aja,” mata Diandra menerawang.


Ninu diam.


“Kamu punya ide apa nak untuk merayakan ulang tahun suamimu?” Diandra menatap Ninu.


Ninu berpikir. Sungguh tidak ada ide apa-apa, lah tahunya juga baru sekarang. Tapi dia harus berpikir cepat.


“Ada ma,” jawabnya ragu-ragu.


“Apa idemu? Coba kasih tahu mama, gak usah takut kayak gitu,” Diandra salah tangkap, dikiranya Ninu takut idenya tidak akan diterima padahal Ninu sedang memikirkan ide apa.


“Aku… aku…” masih berpikir, “Aku mau kasih kejutan bang Haris di rumah pool,” jawabnya asal dan sekarang jadi harus memikirkan apa yang akan dilakukan di rumah pool.


“Oh ya?!” mata Diandra membulat sambil menegakkan tubuhnya, “Coba ceritakan sama mama.”


“Aku kan belum pernah ke sana ma sejak menikah. Jadi aku mau kasih kejutan bang Haris dengan datang ke sana,” masih juga berpikir.

__ADS_1


“Waah…ide bagus itu. kamu akan datang diam-diam?” Diandra bersemangat.


“Iya ma,” Ninu menganggukkan kepalanya.


“Pesta?”


“Tidak ma,” Ninu bingung, kalau pesta bagaimana dalam waktu dua hari mempersiapkan sebuah pesta kejutan.


“Jadi bagaimana?” Diandra penasaran.


“Aku mau datang sendiri bawa cake dan merayakannya berdua saja,” itu sederhana dan mudah dilakukan bukan? Pikir Ninu.


“Waah…. Keren keren. Kamu mau memanjakan Haris dengan berduaan saja di sana. Romantis!” Diandra bertepuk tangan pelan , “Mama gak nyangka loh kamu punya ide luar biasa seperti itu. Itu sederhana tapi dalam maknanya.”


“Nah, setelah itu mama dan papa akan memberi kalian tiket ke Itali untuk berbulan madu, oke!” lanjut Diandra tersenyum, “Anggap saja itu sebagai hadiah pernikahan kalian.”


“Iya ma,” Ninu tersenyum. Alhamdulillah ide dadakan yang mudah dan murah, pikirnya, aku hanya perlu mencari cake yang bagus untuk dibawa ke rumah pool.



Siang itu, setelah berdandan memantas diri di depan cermin Ninu pamit pada Diandra. Dia sudah bicara pada mama kalau dia akan berangkat ke rumah pool tanpa memberitahu Haris dan Budi. Diandra setuju, dia tampak sangat senang.


Sebelum ke rumah pool Ninu mengajak pak Eko untuk mampir ke sebuah toko kue ternama. Dia sudah memesan sebuah cake ulang tahun yang bagus melalui telepon kemarin dan sekarang dia hanya perlu mengambilnya.


Pak Eko menatapnya sekilas melalui kaca spion, “Maksudnya nona?”


“Iya, aku turunnya di depan gerbang pool aja. Aku kan mau kasih kejutan sama bang Haris. Kalau mobil kita masuk berarti bang Haris bakal tahu dong aku datang.”


Pak Eko mengernyitkan alisnya, “Lalu kalau nona turun di depan gerbang, saya kemana?”


“Bapak balik lagi saja ke rumah besar,” jawab Ninu tersenyum, dia mengerti ketidakpahaman supirnya ini, “Aku akan pulang bareng bang Haris nanti.”


“Oh ya, baiklah nona,” pak Eko menganggukkan kepalanya tanda mengerti.



Ninu turun dari mobil sambil tangannya memegang box berisi cake yang dibungkus plastik bertuliskan Black Cat. Sejenak dia mengedarkan pandangannya melihat ke dalam pool. Hanya ada beberapa bus yang terparkir di sana dan beberapa orang pria yang sedang ngobrol, mungkin mereka supir dan kernet, pikir Ninu. dia menarik nafas dalam sebelum melangkahkan kakinya memasuki pool. Jantungnya berdebar.


“Hai neng cantik mau kemana?!” tanya seorang pria dengan suara berat ketika Ninu masuk pool .


Ninu menatapnya sebentar tersenyum lalu berjalan kembali.


“Wah.. wah.. ada yang tersesat kayaknya ya,” suara laki-laki lain.

__ADS_1


“Mas antar neng, mau kemana?” seorang pria muda menghampiri dan berdiri di hadapannya.


Ninu menghentikan langkahnya, “Permisi saya mau lewat,” ucapnya.


Pemuda itu tersenyum sambil menatap Ninu dari atas sampai bawah. Ninu yang merasa risih mencoba berjalan melewati pemuda itu.


“Neng mau kemana? Ditanya kok gak jawab?” katanya lagi. Sekarang tangannya meraih tangan Ninu.


Ninu menepisnya, tapi gerakannya tidak leluasa karena tangannya juga memegang cake, “Lepaskan. Aku mau ke rumah…”


“Kamu cantik, sudah punya pacar belum?” pemuda itu menyela ucapan Ninu yang belum selesai, dia mendesak Ninu dan kembali meraih tangannya.


“Hai Mat jangan kamu mengganggu perempuan nanti mas Budi tahu kamu kena marah!” teriak seorang laki-laki.


Tapi yang dipanggil tidak peduli.


“Awas menyingkir kamu! Aku mau lewat!” teriak Ninu yang tidak terima tangannya dipegang kuat-kuat oleh pemuda itu, “Kalau suami aku tahu...”


“Hehehee…mas suka kalau sama yang galak. Yang galak biasanya orisinil” kembali si pemuda yang bernama Mamat itu memotong ucapan Ninu, dia terkekeh, sebelah tangannya mencoba meremas pantat Ninu.


Ninu tidak terima, dia berontak dan bruk…cake yang dipegangnya jatuh, dia hendak mengambilnya kembali tapi tangan Mamat menahan tangan Ninu hingga dia kembali memberontak.


“Lepaskan! Lepaskan aku! Kamu akan menyesal!” teriak Ninu.


“Eh manis…kamu tambah cantik aja kalau marah,” sekarang tangannya mencawel dagu Ninu.


Ninu menepisnya sambil berusaha melepaskan tangan dengan mengerahkan sekuat tenaga. Sementara laki-laki lain yang masih berkumpul di sebelah sana mulai berteriak-teriak berkomentar menyaksikan ulah temannya itu.


Saat Ninu sedang menarik tangannya sekuat tenaga, pemuda itu melonggarkan pegangannya sehingga Ninu terdorong oleh tenaganya sendiri dan tersungkur jatuh. Kakinya terantuk pada semen beton pembatas , “Aww… aduh!!” teriaknya.


“Aduh…sayang kamu jatuh?! Sini mas bantu,” Mamat tertawa sambil meraih kembali tangan Ninu dan mencoba mengangkat tubuhnya.


Ninu menolaknya, “Pergi!! Pergi Kamu! Kamu akan menyesal!” serunya menepis tangan yang sudah menggenggamnya, dia mencoba bangun tapi rupanya kakinya terkilir karena posisi jatuhnya tadi yang salah.


“Hei Mat, kamu jangan keterlaluan!” seorang pria setengah baya datang menepuk keras bahu pemuda yang dipanggil Mat itu, “Kalau tuan tahu kamu bakal dipecat.”


Tapi pemuda itu tidak peduli. Sepertinya dia sudah benar-benar tertarik dengan gadis yang ada di depannya.


⚘⚘⚘⚘


Waduuh! Si Mamat ngajak perang nih 🤣🤣🤣🤣


Happy reading semuanya, jangan lupa like dan komen 🙏🙏🙏🙏😍😍😍😍

__ADS_1


__ADS_2