
Rumah Narendra
"Kakak jujur aja aku sih suka ama Ronald Rahadiningrat, tapi sepertinya dia keberatan dengan perjodohan ini
kak, lebih baik, urungkan niat kakak itu daripada akan berakibat fatal pada hubungan aku dan Ronald nantinya."
"Tenang saja Nat dia nggak akan bisa menolakmu, lihat saja nanti."
"Tidak tidak kak, lebih baik kita sudahi aja kak aku nggak mau memaksakan cinta saat tidak mungkin tumbuh
cinta disana? benar kata Ronald tadi kalo cinta memang tidak dapat di paksakan kak. Aku juga nggak mau merasakan cinta yang tak berbalas." Lalu Natasha pun berlari kencang masuk ke kamarnya dengan menangis.
Blam!
Johanson Residence and Appartment
Kedua insan yang tadi sedang ingin melanjutkan kegiatan yang belum tuntas iitu pun saling mema gut setelah per gumu lan yang tidak mungkin di lakukan di mobil sport milik Lona daripada keduanya tidak leluasa dan mendalami peran satu sama lain. Setelah menutup pintu appartment Lona kedua anak manusia yang sedang mendaki puncak kenikmatan.
“Hmmppffhhh hmppfhh Jo Jo di kamar
aja please,” Johan pun mengangkat saja tubuh mungil Lona dan menggendongnya ala
bridal style ke dalam mewah berukuran king size itu dan langsung melucuti
pakaian masing-masing. Tapi saat Johan hendak memasukkan tangannya ke dalam rok
mini Lona seseorang dari dalam kamar Lona menepukkan tangannya.
Prokk.. prokk.. prokk..
“Tante.”
“Mama.”
Kedua insan yang sedang berkabut nafsu
bira hi itu pun terpaksa menghentikan kegiatan ke me su man mereka berdua saat
Shinta ternyata sedang berada di dalam kamar Lona untuk membenarkan make upnya.
“Ehemm eheemmm kalian berdua, ikut mama
ke ruang keluarga. Lona benarkan resleting dress kamu dan kamu Ronald rapikan
kemeja kamu! Mama tunggu di ruang keluarga sekarang juga!” Shinta pun tersenyum
__ADS_1
didalam hatinya ternyata sebegini jauh hubungan Ronald Rahadiningrat calon
menantunya yang sudah melunasi semua hutang-hutangnya dengan anak gadisnya yang sekarang pastinya sudah tidak pe ra wan lagi.
Setelah keduanya merapikan diri,
Johan pun mantap melangkahkan kakinya untuk turun ke bawah ke ruang televisi
dengan mengeratkan genggaman tangannya dengan jari jemari tangan kekasih
cantiknya hingga keduanya saling mengeluarkan keringat dingin. Kedua insan yang sedang di mabuk cinta itu pun kini saling menguatkan apapun yang terjadi
keduanya tidak akan mudah untuk di pisahkan walau orang tua Lona tidak merestui.
Pikiran keduanya pun semakin berkecamuk seiring langkah kaki mereka mendekati sofa ruang keluarga appartment milik Lona tersebut.
“Ronald apa sudah lama kamu
beginikan anak mama?”
“Hmm maaf tante saya tidak akan bisa
berpisah dari Lona walau apapun yang terjadi, jangan coba-coba
menghalang-halangi hubungan kami.”
pertanyaan mama, sudah berapa lama kalian berhubungan in tim?” tanya Shinta
lagi.
“Mah, sudahlah aku cinta Ronald mah,
mamah nggak marah kan? mamah mau nerima hubungan kita kan mah?” tanya Lona dengan detak jantungnya yang sudah naik turun tak karuan serasa mau melompat saja.
“Tante, saya akan melamar Lona tante,
kalo itu yang tante inginkan? kami memang sudah merencanakan untuk mengundang
tante, om dan Jeremy ke Mansion saya untuk membicarakan hal yang lebih serius
lagi tentang hubungan kita. Saya serius tante,” Raut wajah Johan yang sudah berubah
menjadi puppy eye sangat menggemaskan Shinta pun ingin tertawa melihatnya.
“Pffttt hahhaha kalian kira mama
marah? Ronald mama tanya sejak kapan kamu berhubungan in tim dengan anak gadis
tante tanggalnya Ronald tanggal?”
__ADS_1
“Perkiraan 1 bulan lebih tante.”
“Tante tante lagi, mamah Ronald
panggil mamah, Lona kamu sudah datang bulan belum?”
DEG
“Hmmm kenapa mah? Aku nggak pernah
periksa mah, kapan terakhir datang bulan?”
Johan yang usianya jauh lebih tua
dari Shinta pun merasa dirinya jauh lebih muda seakan-akan menjadi anak menantu
dengan usia normal 25 tahunan. Johan pun bereaksi dengan pertanyaan itu dengan
menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Hmm mama udah ingin punya cucukah?" tanya Johan ragu-ragu
"Ronald! kalo memang Lona hamil tidak ada pacar-pacaran lagi kalian berdua harus segera menikah mengerti?"
"Mam tapi aku nggak mau menikah dulu, sayang bilang dong Ama mama, aku nggak mau nikah dulu sayang, trus gimana job job aku?"
"Mamah nggak maksa kamu Lona asal kamu emang nggak hamil, tapi kalo mama lihat kamu hamil dan kamu apa-apakan cucu mamah awas ya?"
"Tapi mah Ronald selalu pake pengaman mah, dia nggak pernah lupa ya kan sayang? sayang ih jawab?"
"Sebenarnya siapa yang memaksa untuk melakukan hubungan in tim sebelum nikah? Lona kamu nakal sekali padahal dulu sebelum ketemu Ronald kamu nggak pernah pakai rok sependek itu di depan lelaki, kamu jadi senakal ini sihh, apa karena awalnya Ronald itu cuek banget Ama kamu jadinya kamunya gatel banget main mata terus Ama brondong."
"Nggak Tante nggak begitu, ups maaf Mah, jadi dua-duanya memang sama-sama saling ingin memiliki satu sama lain."
"A hh mama baru tau sekarang Ronald, sifat anak gadis mama kalo udah suka Ama lawan jenis ternyata seperti ini, genitnya minta ampun, Hmmm udah tanda cintanya rata tuh di dada kamu."
"Mama, aku kan malu, nggak ma Ronald nggak salah, aku yang selalu menggodanya."
POV SHINTA
Duh anak muda jaman sekarang, untung kamu tampan dan kaya Ronald kalo nggak, udah aku lempar ke laut dan ku tolak mentah-mentah lamaran kamu, enak aja mau merebut anak gadisku yang secantik ini, huft tapi sayangnya dia sangat bertanggung jawab bahkan permasalahanku juga di selesaikan dengan mudah olehnya.
Kalo bukan karena Ronald mungkin aku sudah tak bernyawa sekarang. Aku juga sudah tidak lagi ikut ikutan arisan sosialita dampaknya Lona harus menanggung semua pengeluaranku. Kasian sekali anak gadisku itu. Sedangkan Jeremy lebih memilih bekerja agar tidak merepotkan Lona lagi. Ternyata anak-anakku juga tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan berbakti.
Malah aku yang terus memberikan pengaruh buruk kepada mereka. Aku bersyukur Lona segera di pertemukan dengan Ronald. Aku doakan mereka berjodoh agar aku bisa meninggalkan mereka dengan tenang. Jeremy lah yang aku khawatirkan sekarang setelah Jeremy mengetahui tentang penyakit mematikan yang aku derita dia langsung mencari part time job.
Ya Tuhan apa memang sebentar lagi kau ambil nyawaku? tanpa harus merepotkan anak-anakku lagi. Aku sudah ikhlas jika engkau ambil nyawaku sekarang. Aku tidak mau semakin menyiksa anak-anakku jika nanti harus menghabiskan uang mereka dengan pengobatanku. Aku ikhlas ya tuhan. Ambil saja nyawaku sekarang!
To be continued
__ADS_1