
"Papa!" seru Lona, Jeremy dan Ronald bersamaan.
"Ya mumpung papa bekum mengambil cuti tahunan papa jadi papa buru-buru mengurus cuti panjang papa agar kalian nggak khawatir lagi, papa akan menjaga mama kalian selama pengobatannya. Jaga mereka baik-baik ya Ronald papa percaya kamu bisa menjadi kepala keluarga yang baik suatu saat nanti." ucap Surya sambil menepuk-nepuk bahu Johan sambil tersenyum lega.
"Huaaa aku tenang sekarang makasih pa." ucap Lona dan Jeremy pun menyusul memeluk Surya dengan hangat.
"Baiklah paman berangkat dulu Ronald, Jesseline sudah siap juga kan nak?" William pun pamit dengan Jesseline yang juga sudah duduk manis di kursi rodanya, gadis cantik dengan keterbelakangan mental yang tidak bisa disembuhkan di negara ini pun akhirnya mau tidak mau juga harus di sembuhkan di Rumah sakit yang lebih mumpuni di luar negeri dengan peralatan dan ahli yang lebih canggih dan lebih profesional tentunya. Walau dengan korban pernikahan yang tidak bisa di pertahankan lagi William memilih untuk menerima tawaran Johan dengan tetap percaya pada dunia medis dan bukan dunia mistis seperti yang di harapkan oleh istrinya dan Narendra demi kepentingan pribadi mereka.
"Baik pa dan paman hati-hati, kalo Lona sudah senggang aku akan sempatkan menjenguk kalian." Seru Johan setelah mengantar mereka sampai jalur pengantar di tutup.
"Baiklah Yuk kita balik ke appartment." Ronald pun mengajak Lona dan Jeremy balik kembali ke kediaman mereka di Johanson Appartment Residence.
"Kak aku nitip barang-barangku aja, nanti aku pulang sendiri, aku janjian Ama Demian," pamit Jeremy pada Lona dan Ronald untuk janjian dengan Demian cowokkah atau Demian cewek?
"Ya udah kamu bawa acces key kakak kan? Jangan sampai lupa karena kakak nggak mau naik turun untuk menjemput kamu di bawah."
"Yeey susah amat sih kak, kak Ronald kan pemilik gedung itu, kalo aku lupa bawa access key kan tinggal telpon kak Ronald beres kan?"
"Ya udah hati-hati Jer, jangan suka buat Lona khawatir, kalo ada apa-apa telpon aku." Ucap Ronald menanggapi ucapan Jeremy tentang kegiatan baru yang belum pernah dia lakuka yaitu menelpon Johan.
"Hmm tapi kak, aku belum tahu nomer kakak," ucap Jeremy ragu-ragu sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Isshh gitu sok sokan mau menelponku makanya aku test aja kamu dengan meninggalkanmu sendirian tadi. Nih scan barcode WhatsApp aku." Ronald pun menunjukkan barcode WhatsApp nya agar dengan cepat akun WhatsApp mereka berdua tersambung.
"Oke deh, bye Tom aku pergi dulu."
"Eh tumben kamu senyum-senyum begitu, beneran Janjian Ama Demian cowok atau Demian cewek nih? Kalo emang bener kenalin cewek itu ke kita aku nggak mau kamu puny hubungan sembunyi-sembunyi Ama cewek asal kamu bisa tanggungjawab dan nggak main nyulik anak gadis orang seenak kamu. Pokoknya kenalin Ama kakak kalo kamu memang punya pacar Jer." Lona khawatir Jeremy akan di labrak oleh orang tua pacarnya kalo membawa anak gadis orang tanpa ijin.
__ADS_1
"Ih sejauh itu sih mikirnya, ya udah bye kak Ronald bye Tom."
"Bye."
Benar sekali kecurigaann Lona terhadap Jeremy yang akhir-akhir ini begitu dekat dengan sang pujaan hati ternyata diam-diam sering bertemu setelah pulang sekolah dengan dalih Kimberly yang sangat lemah dalam pelajaran Kimia dan Fisika ingin sekali diajari oleh sang pujaan hati yang merupakan pelajar berprestasi di sekolah internasional itu.
Setelah keluar dari pintu gate kedatangan Jeremy pun mencari dimana keberadaan gadis cantik yang sudah lama mencuri hatinya siapa lagi kalo bukan Kimberly.
"Hai, mama kamu udah berangkat, semoga beliau cepat di beri kesembuhan ya?"
"Hmm, amiin, makasih se mok."
"Aduuhh kok ikutan panggil se mok sih, jangan dong, kan aku malu, masa sih aku sese mok itu?"
"Lalu Jeremy pun melihat ke bagian belakang gadis cantik itu dan melihat bagian pan tat Kimberly lama."
Lalu Jeremy pun menyentuh tangan mulus nan lentik itu. Alhasil jantung keduanya pun berdetak begitu kencang.
Deg!
"Ahh ma maaf." Lalu Kimberly pun menarik lagi tangan lentiknya sambil keduanya pun salah tingkah.
Lalu tiba-tiba dari jarak dekat pekerja bandara yang memuat troli panjang pun hampir saja menabrak tubuh mungil Kimberly yang hanya setinggi dada Jeremy.
"Awas jangan menghalangi jalan." Teriak petugas bandara.
"Argghh!" Teriak Kimberly karena tubuhnya hampir terjatuh. Kimberly sampai memutar tubuhnya tak seimbang dengan gerak cepat Jeremy pun menangkap saja tubuh mungil itu sampai keduanya saling tatap dan saling terpesona. Namun dengan masih meninggikan egonya Jeremy pun melepaskan cengkraman Kimberly.
__ADS_1
Deg!
"Lepasin Mok, Trus kita mau belajar dimana?" Tanya Jeremy yang sekuat tenaga ingin menyembunyikan rasa sukanya pada Kimberly dengan mengalihkan perhatian keduanya yang sudah sama-sama menstabilkan detak jantung masing-masing yang ingin melompat dari tadi.
"Hmm di cafe dekat rumah aku gimana?"
"Ya terserah kamulah, aku kan cuma pengajar disini."
"Kenapa sih kamu tuh selalu nyolot Ama aku, sebenci itukah kamu, ya okay aku emang butuh kamu buat ngajarin aku, sampai aku rela ngejemput kamu dari rumah aku ke sini yang jaraknya lumayan aku rela bermacet-macetan, 3 jam aku mengantri di tol, kamu tuh tega banget sih." Kimberly gadis yang terlahir dengan sendok emas dari lahir yang selalu di manja oleh orang tuanya tak pernah sekalipun kesulitan saat mendapatkan sesuatu.
Hubungannya dengan Arsen sang kekasih yang sudah di tunangkan denganya sedari usia Kimberly bayi dan Arsen berumur 3 tahun ini pun tak pernah sekalipun menerima bentakan dan teriakan dari orang terdekatnya. Hidupnya yang seperti putri membuat tingkah Kimberly suka seenaknya sendiri terhadap sekitarnya.
Namun sikapnya bisa berubah 180 derajat saat dihadapkan dengan pemuda tampan pujaan hatinya sekaligus kakak kelasnya ini. Kimberly berubah menjadi gadis yang manja dan cengeng dan penurut agar Jeremy yang dingin dan kaku juga melunak padanya. Namun sepertinya hal itu tidak akan mudah karena sebenarnya Jeremy juga di kejar-kejar dan sudah di teror oleh sang kekasih dari lahir Kimberly yaitu Arsen.
Arsen ketua geng motor yang sangat di takuti di sekolah internasional itu pun mulai memata-matai gerak-gerik kekasih sepihaknya itu dengan menyuruh anak buahnya.mengikuti kemanapun Kimberly pergi. Kimberly yang belum tahu bahwa gerak geriknya di ikuti itu pun semakin ingin dekat dengan Jeremy tanpa mengindahkan perasaan cemburu Arsen yang semakin memuncak padanya.
Bahkan sekarang pun penguntit suruhan Arsen sudah nampak dengan tanggap meneropong gerak gerik Kimberly dari kejauhan. Lalu Jeremy pun melepas topinya untuk di kenakan di kepala gadis cantik itu dan menarik tangan mulus gadis cantik itu agar tidak nampak oleh sang penguntit.
"Maaf Se mok gimana kalo kita belajar di cafe bandara aja, karena kalo belajarnya di cafe yang kamu maksud waktu kita akan habis dijalan, yuk." Jeremy pun membawa Kimberly untuk menyelinap diantara kerumunan penumpang yang mengantri di tempat itu sampai si penguntit tidak terlihat lagi.
"Kamu ngapain sihh? Kok kayaknya nggak fokus."
"Mok dengar aku tahu kamu udah punya pacar, dan pacar kamu itu sangat posesif. Sekarang pacarmu itu sepertinya menyuruh orang untuk membuntutimu."
Deg!
To be continued
__ADS_1