
"Umurku sekarang 30 tahun kenapa Jer ada masalah dengan usiaku?"
"Ohh nggak kak aku kira kakak seumuranku?"
"What?! kamu delapan belas tahun Jer, kamu kira aku masih berumur 18 tahun dan berani melamar kakakmu begitu?"
"Iya kak, maaf kalo aku salah paham selama ini, baiklah aku akan mengajak mama tinggal di appartment kakak, tapi kalo mama ternyata nggak mau aku harus gimana kak?"
"Biar mama aku yang memberinya pengertian, hmm sebenarnya kenapa aku menyarankan agar kamu dan mamamu pindah ke appartment Lona karena aku rasa mama kalian sedang sakit, sakit yang parah yang dapat mengakibatkan kematian, jadi sebaiknya mama leb."
"Apa?!" Lona pun berteriak sampai sebagian pengunjung cafe itu menoleh ke arah mereka bertiga.
Jeremy yang sudah mengetahui tentang kabar buruk itu melalui hasil pemeriksaan yang tertinggal di kamar Shinta tempo hari karena Shinta lupa untuk menyimpannya kembali. Jeremy yang mengerti bahwa Shinta menderita penyakit kanker itu pun langsung menundukkan kepalanya karena merasa bersalah mengapa dirinya tidak menggunakan berita penting ini pada kakaknya Lona.
Jantung Lona seakan berhenti berdetak melihat kenyataan di depan mata betapa mama yang sangat sangat di sayanginya kini harus menderita penyakit yang entah penyakit apakah itu.
"Ma maafkan aku kak aku nggak berani ngomong ke kakak kalo mama sakit," Jeremy pun tak kuasa menahan air matanya, maaf aku memutuskan bekerja karena mama sakit kangker."
"Hiks hiks antarkan aku pulang Jo, pulang ke rumah mama, sekarang!"
"Jerr, aku harap kamu benar-benar menurut pada kakakmu resignlah hari ini juga Hmmm? jangan buat Lona kecewa, mintalah kebutuhanmu semuanya kepadaku mulai detik ini juga, aku antar kakakmu dulu." Johanpun menepuk saja pundak tegap calon adik iparnya itu. Lalu Jeremy dengan air mata yang bercucuran tanpa henti membuat pengunjung cafe yang rata-rata ada untuknya tuh mendekat dan memberinya tisu.
"Kamu nggak apa-apa kan? kamu yakin kamu baik-baik aja?" tanya salah satu pengunjung cafe itu yang ternyata adalah Kimberly.
"Bawa aku pergi dari sini, aku mohon bantu aku sekali ini saja."
"Oke, aku bantu kamu keluar dari sini tapi kamu harus menurut padaku, pakai kaca mata hitamku ini, dan lepas apron kamu, lalu aku tutup kepalamu pakai cardigan aku ya, Ayoo aku gandeng tangan kamu ikuti aku." Jeremy yang nggak sanggup untuk mengatakan berhenti pada manager cafenya saat ini karena keadaannya yang tidak memungkinkan untuknya berbicara lagi. Matanya yang sudah sembab karena tangisan yang mengalir tanpa henti membuatnya tak akan sanggup untuk berpamitan sekarang.
Namun tersiarnya kabar bahwa Jeremy adalah adik kandung dari artis terkenal sudah cukup membuat kepergian Jeremy tanpa pamit kepadanya dapat di maklumi. Bahwa kedatangan tamu penting tadi agaknya membuat atasan Jeremy di cafe itu tadi berfikir bahwa Jeremy tidak di perbolehkan lagi bekerja untuk waktu yang tidak di tentukan. Sedih ya? pasti atasan Jeremy akan sedih bila Jeremy keluar dari sana.
Pastinya sumber penglaris yang membuat cafe mereka ramai mendadak pergi meninggalkan cafe itu begitu saja. Namun mereka tidak mau berurusan dengan sang kakak juga nantinya apabila mereka melarang-larang Jerry resign dari cafe itu.
__ADS_1
Sesampainya di luar cafe, Jerry yang masih tertunduk dan menangis pun di bawa Oleh Kimberly ke mobilnya untuk menenangkan diri.
"Maaf aku nggak tau lagi harus menyembunyikan kamu kemana, karena rata-rata gadis pengunjung cafe itu datang kesana untuk nyamperin kamu."
...Seperti gue kan, jauh-jauh gue Dateng ke cafe itu gara-gara pengen banget ketemu ama elo, idola gue sejak gue jadi murid baru di Dreamy Internasional School....
Batin KImberly bergemuruh.
"Trimakasih dan maaf udah ngerepotin, aku pergi dulu." Jeremy pun melepas lagi cardigan Kimberly yang masih menempel indah di kepalanya dan kaca mata yang masih terpasang sempurna di matanya. Lalu Kimberly pun mengusap pipi Jeremy yang basah tadi dengan tisu yang ada di mobilnya.
"Cukup! terimakasih aku pergi!"
"Eits aku antar aja, aku nggak tega kalo ninggalin kamu dalam keadaan yang nggak jelas seperti ini. Katakan dimana rumahmu?"
"Tapi aku bawa motorku, Trimakasih aku sangat menghargai bantuan kamu, maaf aku benar-benar harus pergi."
"Baiklah okay fine, aku nggak akan maksa kamu tapi apa kamu yakin? kamu bisa bawa motor sport kamu itu dalam keadaan kayak gini? Aku takut kamu nanti kenapa-napa di jalan, please menurut sekali ini aja biar aku antar kamu, hmm kalo kamu gak percaya, aku tadi diikuti ama bodyguard aku biar dia yang bawa motor kamu ke rumah kamu tapi ijinkan aku nganterin kamu sampai rumah biar akunya bisa tidur nyenyak nanti, ya ya?" Kimberly pun memaksa dengan mengatakan hal yang tidak pernah di duga sebelumnya oleh Jeremy. Jeremy pun mendengar kata-kata Kimberly dengan menunduk dan mengusap sendiri sisa air mata di ujung matanya.
Kemudian sambil masih tertunduk Jeremy pun mengangguk anggukkan kepalanya tanda setuju dan mau mengikuti apa kata Kimberly.
To: Jumi
Jum gue anterin doi dulu ya? elo naik taxy aja tar gue ganti deh, tanggung nih kayaknya gue dapet rejeki nomplok deh, walau kayaknya doi gak sadar kalo gue ini adik kelasnya yang selama ini selalu mengagumi pesonanya dari kejauhan.
Jumi
Yeee tega Lo ya! tapi gue ikut seneng. Kalo menurut gue sih dia taulah kalo itu elo, siapa yang nggak tau kalo elo Kimberly, siswi tercantik di Dreamy high school hah? kalo dia nggak tau pasti dia hidup di jaman purba pake kaca mata kuda pula.
Me
Hmmm gak tau juga deh, tapi beneran dari tadi tuh doi kaya orang linglung nggak tau kanan dan kiri, pandangannya kosong dia cuma nunduk doang dan gue nggak berani negur juga.
__ADS_1
Jumi
Ya udah anterin doi dulu, elo dapet salam dari Tulus aja.
Me
Iyee Lo juga tar kalo naik taxy, dapet salam dari Tulus juga deh, bye
Jumi
Bye jangan lupa tar telpon gue kalo urusan Lo am doi kelar
Me
Iyee bye
Jumi
Bye juga
🌟🌟🌟
"Rumah kamu dimana? boleh tau alamatnya?"
Jeremy kemudian memasukkan saja alamat rumahnya dengan mengetikkan alamat itu ke dalam layar DVD yang sudah dilengkapi dengan GPS di dalam mobil mewah Kimberly.
Setelah Kimberly melajukan mobilnya sesuai dengan yang di arahkan oleh GPS itu. Mereka berdua tampak diam. Karena saking nervousnya Kimberly pun akhirnya membuka obrolan dengan Jeremy yang dingin dan kaku memperlakukannnya.
"Maaf tapi kamu mau denger lagu apa? Kamu ngerasa panas nggak sih?"
"Nggak usah basa basi deh, tujuan kamu dateng ke cafe tadi juga kayak cewek lain kan? Supaya bisa ketemu ama aku?"
__ADS_1
DEG
To be continued