
...Heidelberg University Hospital Germany...
"Bagaimana perasaanmu setelah di kemo?"
"Ugh sakit Sur sakit sekali, sakit banget." jawab Shinta sambil memejamkan matanya dan mengerutkan keningnya.
"Seandainya bisa sakitmu dibagi denganku, aku rela menggantikan posisimu Ta."
"Apa itu berarti masih ada pintu maaf untukku? tanya Santi sambil memungut helai demi helai rambutnya yang rontok.
"Yah, pintu maaf selalu terbuka untukmu San aku tidak benar-benar marah padamu, apalagi keadaanmu yang semakin parah seperti ini, bagaimana bisa aku tega memperpanjang permasalahan yang sudah tamat sejak tujuh tahun yang lalu. Aku berharap kamu bersemangat untuk sembuh San ingat anak kita akan segera menikah.
Apakah kamu tidak ingin melihat lucunya saat cucu-cucu kita nanti lahir kedunia? melihat betapa menggemaskannya mereka saat berlarian kesana kemari.
Melihat mereka menarik-narik tangan kita untuk berguling-gulingan di rerumputan sungguh hal yang sangat ingin kuhabiskan bersama denganmu. Maka dari itu bertahanlah untukku untuk kita semua untuk cucu cucu kita kelak bertahanlah Ta, hiks, hiks." ucap Surya dengan air mata yang sudah mengalir dari pelupuk matanya. Shinta pun perlahan-lahan tertidur karena efek dari kemoterapi yang menyakitkan tadi pagi membuatnya bereaksi lemah setelah disuntikan obat pereda nyeri di dalam cairan infusnya.
Surya yang sudah 2 hari 2 malam sangat susah untuk memejamkan matanya di karenakan pikiirannya yang di penuhi dengan perasaan tidak mau kehilangan wanita yang paing di bencinya sekaligus yang paing di cintainya di muka bumi ini. Kemudian dia pun menghidupkan dan memutar apikasi mu sik di ponselnya untuk menenangkan pikiran kalutnya ketakutannya yang terdalam bila nanti harus kehilangan Shinta untuk selama-lamamya.
Kemarin engkau masih ada di sini
Bersamaku menikmati rasa ini
Berharap semua takkan pernah berakhir
Bersamamu
Bersamamu
Kemarin dunia terlihat sangat indah
Dan denganmu merasakan ini semua
Melewati hitam-putih hidup ini
Bersamamu
Bersamamu
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
Semoga tenang kau di sana
__ADS_1
Selamanya
Aku s'lalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
S'moga tenang kau di sana
Selamanya
Oh-wo-oh
Kini sendiri di sini
Mencarimu tak tahu di mana
S'moga tenang kau di sana
Selamanya
Aku s'lalu mengingatmu
Doakanmu setiap malamku
S'moga tenang kau di sana
*
*
*
...Ting.. tong.. Ting.. tong.....
...Cekk.. klek.....
"Ihh lama banget ngebukainnya, ngapain aja sih lo?"
"Sabar Napa kak!"
"Aahhh gue tahu kenapa Lo lama bukain pintu, itu siapa yang gigit leher Lo hah? Lo nyembunyiin cewek di dalem ya!"
...DEG...
__ADS_1
"Apaan sih kak jangan ngaco deh, ada-ada aja kakak nih, cewek siapa sih?"
"Udahlah sayang, tar abang-abang seblaknya keburu pulang, ayuk," ucap Johan sambil memberi isyarat pada jeremy dengan mengacungkan jempol tangan kanannya tanda memberi dukungan pada calon adik iparnya itu, bahwa Johan akan selalu berada di belakangnyanuntuk mendukungnya.
"Ya udah sinih manain kunci motor lo! gue pengen banget makan seblak."
"Hah?! sejak kapan kakak jadi suka seblak?"
"Nih yang disini nih yang pengen seblak Jer, calon ponakan kamu nih yang pengen makan seblak."
"Hah jadi kakak hamil? wow selamat ya kak Ronald pasti kakak seneng banget? gitu kok kak Lona nggak mau langsung nikah ama kak Ronald, tunggu apalagi coba?"
"Heh itu bukan urusan lo! Nggak usah ikut campur anak kecil, belum cukup umur!"
Hmm kak.. kak.. kak Lona nggak tau aja gue kan udah bisa memproduksi anak kecil, apalagi sang pujaan hati sudah datang dengan kerinduan yang sudah tidak tertahankan lagi, ah nggak nggak apa sih yang udah gue pikirin, gila ya, gue emang udah gila karena cinta yang membara sampai menusuk ke dalam persendianku. Dan kenyataan bahwa kak Lona tidak setuju membuat hati gue pedih banget anjj iirr!
Gerutu Jeremy dalam hatinya.
"Yee ya udah tar cepet balikin kuncinya besok pagi buat berangkat ke sekolah, aku ada ujian jadi harus berangkat pagi-pagi banget."
"Iya iya bawel!" pertengkaran antara kakak beradik itu tak jarang membuat Johan geleng-geleng kepala bagaimana tidak suasana kericuhan keduanya yang begitu berisik hingga membuat kekosongan hidupnya selama puluhan tahun kini terbayarlah sudah. Sungguh kehidupan Johan sangatlah lengkap sekarang. Johan pun tersenyum bahagia begitu nyaman dan damai.
"Yeee kakak tu yang bawel! semoga kak Ronald menghadapi tingkak kakak yang nyebellin, apapun yang terjadi kak Ronald harus kuat ngadepin kak Lona ya kak, akhirnya si bawel nemuin panwangnya juga!"
"Eh sembarangan kalo ngomong sini lo! dasar adik kurang ajar!"
"Pfttt hahahhaha kabuuur ahhh, kak Ronald nitip si bawel ya, yang kuat ya kak, nasib gini amat yak! punya calon istri bawelnya kebangetan, dalam hati kak Ronald!"
Blam!
"Udah ah yuk Lona, masih aja tingkah kamu kaya anak kecil sayang! biarkan Jeremy istirahat besok pagi dia kan harus sekolah."
Johan yang sangat mengerti mengapa Jeremy buru-buru menutup pintu appartment di karenakan Jeremy sedang menyembunyikan Kimberly di dalam kamarnya. Johan yang sejak tadi malam bisa mendengarkan dengan seksama percakapan antara Arman dan Kimberly yang akhirnya berakhir dengan Arman mengantakan saja gadis mungil nan cantik itu untuk menemui pujaan hatinya. Sungguh tersiksa memang jika semuda itu sudah tidak bisa berekspresi dengan baik dikhawatirkan mereka berdua akan semakin nekat bertemu dengan sembunyi-sembunyi mencuri kesempatan.
Setelah itu Lona dan Johan pun menuruni appartment itu melalui pintu liftt yang menuju basement penghuni appartment. Lalu Lona pun dikagetkan dengan penampakan mobil sport dengan plat nomor cantik dengan inisial nama yang sangat familiar sekali di tellinganya. Mobil itu pun juga mobil yang sama dengan mobil yan pernah mengantarkan Jeremy pulang ke rumah lama Lona tepat sehari sebelum keberangkatan Shinta ke Jerman untuk berobat. Inilah yang di kawatirkan Alona bahwa Jeremy akan melewati batas jika sudah jatuh cinta apalagi dengan Kimberly yang notabene sudah di jodohkan dari lahir oleh orang tuanya dan pastinya nantinya akan sulit sekali bagi Jeremy untuk menembus pertahanan keduanya.
"Ada apa lagi? ayo ah nggak usah mikir yang nggak-nggak?"
"Nggak bisa sayang aku harus balik ke atas pasti gadis ini sedang bermalam di appartment Jeremy sekarang, aku harus memberinya perhitungan, apa dia mau kalo Jeremy meregang nyawa lagi gara-gara ulahnya!"
Deg!
To be continued..
__ADS_1
...Hai hai zeyeng ippiiee yang ippiiee kasihi yuk beri vote coment kopi dan bunganya untuk Johan dan Lona, ditunggu zakat dan dukungannya untuk novel ini. Yuk kalo ada yang mau gabung di grup chat di persilahkan chat pribadi ke otor mamaciihhh mmmuuah...