
🏠Rumah Alona
Masih di Ruang Keluarga kediaman Lona.
"Mah pah ijinkan Ronald menanggung biaya berobat mama ke Jerman mah pah, dan tolong jangan di tolak lagi Lona!" ucapan Ronald yang begitu tiba-tiba membuat Lona terkaget kaget dan menariknya untuk masuk kedalam kamarnya.
Blamm!
"Sayang tidak aku nggak mau terus terusan ngerepotin kamu? Ya tuhan Apa kata dunia kalo seluruh hidup Lona ternyata bergantung pada kekasihnya?"
"Lona please aku tulus, lalu untuk apa aku menyimpan uang yang begitu banyak kalau bukan ku habiskan untuk keluargaku? Keluarga istriku kan keluargaku juga, sampai kapan kamu mau mengakuiku sebagai milikmu kalo kamu nggak milikin apa yang aku miliki, please sayang jangan lagi menolakku, terimalah aku tulus," lalu Lona pun mengalah karena Johan sangat bersikeras agar Lona tidak menjadikan kesulitan hidupnya sebagai beban yang di pikul sendiri.
Mereka berdua pun saling berpelukan karena tak kuasa menahan air mata yang mengucur deras di pipi kekasih cantiknya itu. Lona pun luluh tak berdaya juga terharu, ternyata di setiap kesulitan yang menimpanya tidak lupa Tuhan menyelipkan kemudahan dan mukjizat untuk menyelesaikannya. Keduanya pun keluar dari kamar Lona dengan mata Lona sudah sembab dan eyelinernya meluber kemana-mana
"Yak kaka kaya hantu kalo begitu, serem deh!" ucap Jeremy meledek Lona kebiasaan keduanya yang selalu bertengkar jika bertemu.
"Hey awas kamu ya, sini kamu! Dasar adik tak tahu diuntung udah bagus disuruh belajar aja, eh malah kerja serabutan, ihhh udah lama aku nahan mau ngehajar nih anak!" sambil mengambil tongkat baseball milik Jeremy, Lona pun dengan sekuat tenaga mengejarnya. Sepuluh menit kemudian pun Lona dan Jerry masih betah berputar-putar saling beradu mulut satu sama lain. Johan yang melihatnya dengan senyuman kebahagiaan, dengan adanya kekasih cantiknya di sampingnya kini hidupnya sudah lengkap, tidak monoton seperti sebelumnya.
💗
__ADS_1
Sementara itu..
"Ronald itu anak yang baik Sur aku sudah mengetestnya bahkan hutang-hutangku ke Rentenir tempo hari yang sudah mengambil alih seluruh hidupku untuk membayarnya di tutupnya hanya daengan sekejap mata. Aku jadi tenang juka suatu saat nanti di panggil oleh sang pencipta.
"Yah aku juga sependapat denganmu, dan tolong jangan bicara lagi seperti itu, maaf kalo aku ikut campur tapi menurutku aku masih berhak berpendapat karena aku juga ayah dari mereka berdua."
"Sebenarnya apa yang ingin kau katakan tolong jangan lagi memulai pertengkaran denganku, aku tahu perpisahan kita dulu karena ketamakanku, mungkin karena hal itu, tuhan memghukumku dengan memberiku penyakit seperti ini. Aku menyesal Sur, sangat menyesal, sekarang aku ingin meninggal dengan tenang dan damai, aku sudah cukup bahagia dengan keadaan ini, kamu juga bethak bahagia Sur, setelah lama kita berpisah kulihat kamu masih betah menyendiri, aku kira lelaki sepertimu pasti tidak susah mencari pendamping hidup apalagi wanita yang lebih muda dan lebih segar.
"Cukup jangan dulu bicara seperti itu, sebaiknya kamu pikirkan lagi tawaran Ronald untuk membiayai pengobatanmu ke luar negeri walau akhirnya pun nanti ternyata pengobatan itu nggak berhasil setidaknya kita sudah berusaha dan juga berdoa untuj kesembuhanmu Shinta."
Setelah berdiskusi selama satu jam lamanya Shinta dan Surya kemudian memanggil saja Ronald, Lona dan juga Jeremy agar berkumpul di ruang keluarga kembali. Posisi Lona lah sekarang yang meminta perlindungan dari Johan. Ternyata proses kejar mengejar tadi dengan Lona sebagai pengejar kini berbalik dengan Jeremy yang jadi pengejarnya.
Karena ternyata Lona diam-diam memperhatikan gerak gerik adik tampannya yang sepertinya sedang memagalami puber untuk pertama kalinya. Yah Lona tadi ternyata memperhatikan kalo Jeremy di dekati oleh seorang gadis cantik selepas Lona pergi meninggalkan adiknya itu dengan kondisi mata sembab karena menangis.
"Yah curang kamu Tom, kamu cari perlindungan ya ama kak Ronald."
"Iya dong, sayang peluk, wleee, enakan juga punya pacar, salah sendiri sok gengsi nggak mau ngakuin perasaan jadi jomblo menahun kan, hahhaha." Lona pun tertawa kegirangan kala Jeremy di buat mati kutu olehnya.
"Eitss sudah-sudah nggak kakak nggak adik dua-duanya sama saja nggak ada yang mau kalah, ya beginilah Ronald kondisi rumah kalo ada nih Tom and Jerry, semua jadi berantakan kaya kandang tikus." ucap Surya sambil memegangi pinggangnya lalu memungut barang-barang yang sudah berjatuhan di lantai akibat perang bratayuda yang di lakukan kedua kakak beradik itu.
__ADS_1
"Sudah-sudah ayo sini mendekatlah kalian bertiga mama mau bicara. Baik mama akan mengabulkan permintaan Ronald untuk berobat tapi dengan satu syarat," ucap Shinta pada Surya, Ronald, Alona dan juga Jeremy.
"Apa itu mah?" Tanya Lona dengan raut wajah yang tidak karuan saking khawatirnya.
"Menikahlah dengan Ronald, dengan begitu mama akan pergi berobat dengan tenang, menurutlah nak Lona, ini permintaan mama yang terakhir, kalo kamu menolak ya sudah apa boleh buat mama pun menyerah, mama nggak mau berjuang lagi, lagian mama juga nggak mau merepotkan anak-anak mama, pasti biayanya sangat mahal, sudahlah mama sudah ikhlas kok, dengan begitu mam.."
"Cukup Ma, okay, okay aku sadar aku egois aku sudah berkali-kali menolak lamaran Ronald sejak seminggu kita pacaran aku kira waktunya terlalu singkat untukku mengenalnya lebih dekat, aku kira aku masih butuh waktu untuk saling menapaki diri satu sama lain, huuu, kesampaian kan nikah cepetnya, ighh puas ya kamu akhirnya berhasil buat aku nerima lamaran kamu, tapi kan skripsiku bekum selesai sayaaaang, ighh pengen aku cubit lama hidung kamu biar lepas aja, gemes deh." dengan berat hati Lona pun akhirnya mau menikah dengan Johan dalam waktu dekat.
"Ya sudah kita menikah Lona, maka dengan menikah kamu tidak lagi segan untuk menggunakan juga uangku, uangku adalah uangmu Lona aku nggak mau ada bantahan lagi sayang please Lona, jangan menolak lagi please."
"Yah nggak mungkin juga nolak pesona kamu kan akunya, hmppffhhh, hmppffhh."
"Heyyy anak kecil dilarang menonton area tujuh belas plu s." sungguh pasangan yang tak tahu tempat Surya dan Shinta pun hanya bisa menggeleng-nggelengkan kepalanya saat kedua pasangan bucin itu berciuman mesra di depan Jeremy. Surya dengan sigap menutup mata adik tampan Lona itu agar tidak mupeng.
"Hmmpphhh, terimakasih akhirnya aku nikah juga yeeeeyy." Johan pun mengangkat Lona ala bridal style dan mengungkungnya di dalam kamar Lona.
"Tuh belum juga resmi udah bolak-balik bikin ponakan gue."
"Eitss jangan di tiru ya awas kamu, kalo sampe ketahuan begitu begitu," ucap Surya dengan menjewer kuping Jeremy lama.
__ADS_1
"Aduhh papa nih sakit pah awww, yang enak-enak siapa yang kena hukuman siapa?" Jeremy pun jengah dengan menggosok-gosok telinganya yang memerah karena jeweran Surya.
...To be continued...