
🏠Rumah Lona
Keesokan harinya
Masih di tempat tidur yang sama Lona yang masih betah membenamkan kepalanya di dalam dekapan hangat sang monster tampan.
"Hmmm sayang Onal kok berdiri lagi ini ngapain nyo dok nyo dok apem aku lagi, nggak capek ."
"Eh istri yang baik harus menuruti permintaan suami yanb satu itu, sayang ayoo?"
"Pinggang ama punggung aku mau jebol Sayang, ugh masih sakit banget," keluh Lona saat Johan meminta jatahnya lagi
Lalu..
Tok..tok..tok..
Lona Ronald yuk sarapan dulu, kalian nggak lapar abis buat ponakan buat Jeremy semalaman."
...BLUSH...
Wajah Lona dan Johan pun seketika berubah merona.
"Mamah tu lucu ya, kita mandi dulu yuk sayang baru sarapan, oiya ini udah jam 8 pagi kamu nggak ngantor?"
"Yah kantor udah jalan sendiri tanpaku Lona, jadi aku cuma telpon telpon aja, kenapa? Mau lanjut sampe sepuluh ronde pun aku masih kuat kok, mau bukti?"
"Igh sayang yang dibahas kok itu mulu sih? Mending kita sikat gigi dulu trus makan, aku laper, ayukk sikat gigi aja dulu."
"Yuk, tunggu ini ada apa disini, hmmmppffhh."
"Sayang nakal isshh nggak ada abis-abisnya orang nggak ada air asinya juga kenapa kamu tuh doyan banget nge nyot pu ting akuh?"
"Kebiasaan baru hehe, cantiknya kalo sewot gitu siniihh, hmmppffhh."
"Isshh sayang!!"
Kemudian kedua anak manusia yang sedang di landa gai rah yang membara itu pun melesat kedalam kamar mandi untuk mencuci muka dan menyikat gigi bersama. Lalu keluarlah mereka berdua ke ruang makan setelah Johan meminjam kaos milik Jeremy yang lumayan pas juga di badannya karena badan Jeremy yang sedikit lebih kurus darinya.
" Hmmmm sepertinya enak Mah," Ucap Johan dengan menelan ludahnya kasar
__ADS_1
...GLEG...
"Makanlah Ronald, Lona ambilkan calon suamimu makanannya, mama mau balik ke kamar mama dulu, mama ngerasa sedjkit pusing," keluh Shinta sambil memegangj ujung pelipis matanya sendiri.
"Bentar Ronald antar mama, yuk pelan-pelan ma."
Kemudian setelah memastikan Shinta beristirahat dan berbaring di kamarnya Johan pun segera menghubungi William untuk mencarikan dokter spesialis kangker umtuk memeriksa segala sesuatunya, terutama kesiapan Shinta untuk melakukan perjalanan ke luar negeri
"Sayang ayo makan, tapi aku mau di suapin," Ucapnya manja
"Sinih, aaaaa" Johan pun menyuapi Lona seperti anak kecil.
"Terus sekarang buah nya, suapin tapi pakai mulut," pinta Lona lagi.
" Kamu sengaja menggodaku ya, Hmmmm," tangan Johan menggelitik pinggang kanan kiri Lona
Lalu Lona pun berdiri dari kursi meja makan itu dan
"Ahahahaha Lona pun berlarian menuju Kamarnya tadi di lantai 2,"
Sesampainya dikamar..
Dilucutinya semua pakaian Lona sampai pakaian dalamnya tidak ada yang tertinggal satu pun.
Dilihatnya lekat dibenamkan kepalanya disana di tempat va gi na nya bersemayam dan di gundukan bukit gunung Merbabu, dengan pucuk pink yang selalu membuatnya gemas
Dari atas bawah bahu membahu kepala Johan mengelilingi tiap jengkal tubuh Lona, tidak tersisa sedikitpun tanda polkadot pun sudah ditinggal kannya di bagian sekeliling gunung kembar tadi.
Inilah akibat terlalu lama menahan memiliki kekasih jelmaan binatang membuat Lona harus siap sewaktu-waktu untuk melayani keduanya yaitu menuntaskan hasrat yang menggebu-gebu seperti orang kesetanan dan saat lembah hutan gundul milk Lona sudah banjir karena kenikmatan yang tiada tara itu.
Giliran Onal yang mengetuk pintu hutan gundul yang terlebih dahulu sudah permisi, dan banjir nya permukaan gua di hutan gundul tersebut tanda Onal di persilahkan masuk ke sarang basahnya.
...Jle bb...
Suara saat Onal melesat masuk, dia sudah bergerak maju mundur cantik mencari kenikmatan hakiki, kenikmatan surga dunia yang tak ternilai.
Diangkatnya tubuh Lona di hadapkan nya ke dinding kamar sederhana namun nyaman itu, Onal pun permisi masuk dari belakang tetapi dengan lubang lembah yang sama, maju mundur cantik lagi dan lagi.
"Enak sayang?" tanya Johan sambil masih dengan nafas yang memburu.
__ADS_1
"Hmmm harder harder Jo faster faster!!" perintah Lona yang merasa keenakan kalo Onal pun menghujam dengan lebih cepat.
Mereka berganti gaya lagi kali ini dengan Lona membungkukkan tubuhnya sehingga separuh tubuhnya menghadap ke lantai dan bagian belakang siap di masuki dari belakang, Onal pun juga akhirnya Maju Mundur dari belakang berkali-kali
"Yes yes oh no," saking nikmatnya Sampai celoteh Lona membuat Johan tersenyum
"Kamu semakin menggemaskan sih gadis nakal Hmmmm Hmmmm."
Akhirnya mereka bersamaan mendapatkan pelepasannya lalu Johan menjatuhkan tubuh polosnya di samping Lona dengan kepala yang bertumpu di atas pa yu da ra Lona.
"Oh ya mama kapan berangkat sayang?" tanya Lona sambil memakai lagi br a dan celana da lamnya yang tadi berserakan di lantai setelah di pungutnya satu persatu.
1 jam kemudian setelah keduamya mandi bersama.
"Aku takut kondisi mama akan semakin buruk jadi besok mama akan aku berangkatkan bersamaan dengan William dan anaknya. Aku juga sudah menghire (mempekerjakan) dokter penyakit dalam untuk menjaga mama selama 18 jam perjalanan nanti William yang mengurus segala sesuatunya disana."
"Sayang aku ada jadwal pemotretan besok jadi aku nggak bisa ikut nemenin mama, tapi kalo aku udah free temenin kesana ya Jo?"
"Siap tuan putri."
"Baiklah aku akan packing keperluan mama dulu," ucap Lona bergegas pergi meninggalkan kekasih tampannya itu yang sudah terlihat begitu mempesona walau memakai baju Jeremy.
💕
...Bandara International Soekarno Hatta...
"Ronald aku titipkan Lona dan Jeremy padamu, padahal mama ingin sekali menyaksikan kalian menikah terlebih dahulu tapi sepertinya kesehatan mama sudah nggak bisa di toleransi lagi, yuk peluk semua anak-anak mama jaga kesehatan kalian jangan bertengkar dan jangan nyusahin, jangan lupa sekali waktu periksalah rumah jelek kalian ini, jangan keenakan tinggal di Appartment ya Jer."
"Udah mama ngaak usah kebanyakan pikiran, mama harus happy, anak-anak biar Ronakd yang jaga ma," sementara Alina dan Johan tak henti-hentinya menangis karena tidak sampai hati melepas Shinta pergi sendiri hanya diawasi oleh William dan Dokter jaga yang di pekerjakan Johan sementara saat perjalanan saja.
"Hiks,, bye,, mama sayang kalian semua hiks,, hiks,," salam perpisahan Shinta yang terakhir sambil mengusap air matanya yang mengalir duatas kursi rodanya.
"Hiks,, bye mama," Alona dan Jeremi yang masih enggan melepas pelukannya karen masih tak rela berpisah dengan ibu kandungnya yang tercinta.
"Tunggu! Aku akan ikut menemanimu selama berobat di Jerman."
...Deg!...
...To be continued...
__ADS_1