
Setelah Bu Irma mendapatkan surat-surat dan dokumen pribadi anaknya dan Sultan, ia segera bergegas ke rumah pak RT untuk memberitahukan tentang pernikahan anaknya.
Adzan magrib berkumandang di perkampungan lereng gunung karang.
Karena merasa tak enak dengan warga, Sultan dan teman-temannya pun melaksanakan solat berjamaah di mesjid, meski selama ini mereka sudah jarang bahkan hampir tak ingat dengan solat kecuali di suruh oleh ibu mereka.
Setelah Solat Magrib, mereka segera bersiap untuk melaksanakan proses pernikahan antara Maymunah dan Sultan.
Meski mereka hanya nikah Sirri, Maymunah tetap di rias dengan memakai baju kebaya dan hiasan diatas hijabnya.
Maymunah duduk termenung di dalam kamarnya, meski di sekelilingnya ada banyak orang yang sedang menghiasnya, hatinya tetap merasa hampa.
Ia sama sekali tak menyangka, ia akan menikah dengan cara seperti ini.
Ia merasa berdosa karena telah memilih pernikahan palsu ini.
Andai ia punya pilihan lain, ia pasti akan memilih jalan lain.
Tapi saat ini hanya ada dua jalan yang harus ia pilih, di penjara atau kawin kontrak dengan Sultan.
Kalau ia memilih di penjara, maka bukan hanya dia yang akan menderita, tapi kedua orang tua dan adiknya juga akan merasakan penderitaan. Selain mereka akan bersedih melihat Maymunah dipenjara, mereka juga akan kebingungan dalam mencari nafkah, karena Maymunah adalah tulang punggung mereka, apalagi saat ini ayah Maymunah telah sakit parah dan tak mampu lagi bekerja.
Dengan alasan itu, Maymunah memilih untuk menuruti Sultan, tapi dia tetap tak tau apa keputusannya itu salah atau benar.
"Ya Allah, ampuni hambaMu, hamba tidak tau keputusan ini salah atau benar ya Allah.." Lirih Maymunah dalam hatinya.
Airmatanya kini mulai membasahi makeup nya.
"Neng, kenapa neng menangis? " Tanya ibu tukang Rias yang sedang merias Maymunah.
"Gak apa apa, Teh. Mae cuma inget abah dan ema."
"Oh, gitu.. Iya sih, kalau orang mau nikah dan nanti kita akan ikut suami, pasti akan sedih."
Maymunah mencoba mengukir senyum dan menyembunyikan luka di hatinya.
Karena rumah Maymunah terlalu sempit, aqad nikah akan dilaksanakan di Majlis ta'lim. Majlis yang biasa dipakai untuk pengajian ibu-ibu di kampung.
Di dalam Majlis itu terlihat Sultan dengan teman-temannya duduk dikerumuni warga kampung.
Di depan mereka, terlihat bapak Lurah dan RT serta beberapa pejabat kelurahan lainnya telah hadir.
Meski tubuhnya lemas, pak Muhammad memaksakan diri untuk tetap hadir dipernikahan anaknya, karena Maymunah adalah anak pertamanya.
Ini adalah pertama kalinya pak Muhammad akan menikahkan anaknya.
Maymunah yang kini sudah berusia 26 tahun, baru menemukan jodohnya.
"Sultan, apa kamu sudah siap dengan semua ini?. Ini terlihat seperti pernikahan sungguhan. Gimana kalau Maymunah akan menuntutmu untuk memberinya hak sebagai istri beneran, bukan cuma istri kontrak ?"
__ADS_1
Tanya Faisal pada Sultan dengan berbisik.
Deg..
Sultan yang kini sedang nervous dan tak tau apa yang sebenarnya ia lakukan, hanya mampu tersenyum kecut.
"Sudahlah, ini urusanku. Aku sangat menginginkan wanita itu, jadi apapun yang dia inginkan akan aku lakukan " Jawab Sultan, dengan berbisik juga.
"Bagaimana kalau dia memintamu untuk menikahinya secara resmi dan memintamu memberitahu ibumu?" Kini giliran Fahad yang bertanya.
"Sudahlah, sebaiknya kalian diam. Aku sudah terlanjur di sini. Aku akan menikahinya seperti yang dia inginkan. Yang penting sekarang aku akan menikahinya dan mendapatkannya.
Masalah setelah aku nikah, aku akan pikirkan nanti.
Yang penting, aku mendapatkan dia seutuhnya dulu." Jawab Sultan.
"Sultan, ta'al hina!" ( Sultan tolong kesini) Pinta pak kiyai yang kini telah hadir.
Sultan segera mendekat kedepan pak Muhammad dan pak kiyai.
Pak Muhammad duduk dengan didampingi warga lain yang memegangi beliau agar mampu duduk.
"Apa anda sudah siap, Sultan?" Tanya pak kiyai dengan bahasa arab fasihnya.
"Na'am, in sha Allah " Jawab Sultan mantap.
Dengan pelan, pak Muhammad mengulurkan tangannya yang langsung disambut oleh Sultan.
"Ya Sultan bin Ahmad, ankahtuka wa zawwajtuka Makhtubataka Maymunah binti Muhammad, ala mahri khomsa gram dzahab wa 10 malayin rupiah naqdan."Ucap pak Muhammad dengan lancar meski suaranya terdengar agak lemah.
Sultan dengan cepat menjawab aqad yang sudah diucapkan itu.
"Qobiltu nikaha watazwijaha ala mahri almadzkur halan " Sultan menjawab dengan sekali ucap.
Bagaimana saksi? Sah?..
Tanya Pak kiyai pada para saksi.
"Sah .." Jawab mereka serempak.
"Alhamdulillah..Sekarang adalah saatnya membacakan perjanjian dan menjelaskan tentang hak dan kewajiban suami istri, tapi ini dalam bahasa indonesia, nanti saya terjemahkan ke bahasa arab. Sebaiknya
pengantin perempuannya suruh masuk sekarang!" Titah pak kiyai.
Maymunah dengan dituntun ibu dan adiknya mulai memasuki ruangan.
Sultan menoleh kearah Maymunah.
Deg...
__ADS_1
Jantung Sultan terasa mau lompat ketika melihat wajah Maymunah.
Bagi Sultan, Maimunah itu terlihat bak rembuĺan purnama yang keindahannya sangat sempurna.
"Ma sya Allah, istriku memang benar-bnar cantik " Gumamnya dalam hati sambil terus memandangi Maymunah sampai duduk di sampingnya.
Maymunah mencoba menatap Sultan.
Kini muncullah ide dalam benaknya.
"Saya akan merubah sedikit perjanjian yang tertulis di sini " Ucap Maymunah tiba-tiba.
Seketika Sultan langsung menoleh.
"Sultan, jika dalam waktu enam bulan kamu gak bisa membuatkan surat nikah secara resmi dan mendaftarkan pernikahan kita di dua negara, maka saat itu akan jatuh talaq satu untukku, apa kau setuju?"
Sultan terperanjat mendengar perkataan Maymunah, tapi ia terpaksa menyetujuinya.
" Satu lagi, aku akan melarangmu melakukan sesuatu, dan jika kau melanggarnya, maka talaqmu jatuh. Bagaiman? Apa kau setuju?" Tambah Maymunah.
Sultan kelihatan ragu, tapi ia tak bisa menolak permintaan Maymunah, akhirnya ia menandatangani perjanjian itu.
"Aduh, apa lagi yang dia rencanakan ni? tapi aku gak bisa menolak..hmm" Gumamnya dalam hati, sambil tetap nyengir melihat kearah istrinya.
Setelah selesai membacakan perjanjian pranikah. Sultan di suruh memakaikan cincin pernikahannya ke jari Maymunah.
"Sultan, atiha bosah hilwah !" Seru Faisal dan Fahad dalam bahasa Arab.
Maymunah dan Sultan refleks menoleh ke arah Faisal, wajahnya memerah menahan malu mendengar perkataan Faisal yang menyuruh sultan menciumnya.
"Akiid"(tentu) Jawab Sultan dengan senyum sumringah seraya memegang pundak Maymunah hingga membuatnya terperanjat.
Maymunah mendongak dan memandang Sultan dengan pandangan tajamnya.
Sultan bergidik ngeri melihat mata tajam Maymunah.
Tapi ia tetap memberanikan diri mencium Maymunah.
Cup...
Sultan mendaratkan ciuman kilatnya pada Maymunah yang tertunduk seketika.
Deg deg deg..
Debaran dada Maymunah terasa semakin tak bisa dikendalikan.
"Ahggkhghh kenapa pria ini yang memberi kecupan pertama untukku.
Pria menjengkelkan yang hanya memikirkan syahwatnya," lirihnya dalam hati.
__ADS_1